NIKAHKU ATAS TEKANAN

NIKAHKU ATAS TEKANAN
Tidak Pulang ke Rumah


__ADS_3

BAB. 8


Dengan hati-hati Reza pun menggendong Libia dan meletakkannya di atas kasur. Mereka pun kembali berc*uman.


Tiba-tiba Libia teringat pesan-pesan bundanya, "nak kamu adalah satu-satunya yang akan menjadi penompang ayah dan bunda, kamu harus move on nak, stop untuk berhubungan dengan laki-laki yang sudah berumah tangga". Pikiran Libia seakan dipenuhi oleh perkataan bundanya, bu shofie.


“Stop sayang tolong jangan lanjutkan” ucap Libia menghentikan Reza yang sedang mabuk oleh cinta buta.


Kenapa sayang?” Tanya Reza sembari masih melanjutkan aksinya.


Reza terdiam sejenak, dia masih bingung dengan keputusan yang akan dia ambil. Satu sisi dia sangat mencintai Reza, kekasih yang sudah lima tahun pacaran namun disisi lain bundanya kini sudah tidak merestui hubungan mereka, bahkan bundanya dengan tegas menyuruh Libia untuk move on dan melarang menjalin hubungan dengan seorang yang sudah berumah tangga.


“Sayang berhenti, cukup sayang”, ucap Libia sekali lagi.


Rezapun mendongak ke arah Libia dan menghentikannya.


“kamu kenapa sayang?” Tanya Reza kepada Libia.


“Aku tak ingin melakukan lebih dari ini semua” Jawab Libia yang tiba-tiba air matanya mengalir.


Libia lalu menyingkirkan tangan Reza. Libia segera bangun dan memperbaiki pakaiannya yang sempat terbuka.


“Sayang apa kamu marah padaku?” Tanya Reza kepada Libia.


Libia tidak menjawab pertanyaan Reza, dia tetap merapikan pakaian dan juga rambutnya.


“Maafkan aku karena telah melakukan hal yang tak seharusnya kita lakukan sebelum kita menikah”. Ucap Reza menyesali perbuatannya yang barusan dia lakukan terhadap Libia.


Reza dan Libia memang sudah pacaran lebih dari lima tahun, namun demikian hubungan mereka tidak pernah lebih dari sekedar peluk dan c*uman. Bahkan saat Libia sering menginap di apartemen Rezapun mereka tetap masih bisa saling menjaga apa yang belum menjadi haknya. Mereka tidak pernah tidur bersama dalam satu ranjang sebelumnya.


“Apa kamu akan menikahiku?” Tanya libia kemudian.


“Tentu saja aku akan menikahimu, saat masalahku sudah Selesai semua sayang”. Jawab Reza.


“Kapan?” Tanya Libia.


“Setelah kamu membuat seorang gadis kecil janda atau bahkan kamu malah akan menjadikanku sebagai istri keduamu?" Tanya Libia tegas.


“Sayang aku mohon, aku tidak pernah menghendaki hubungan kita seperti ini, aku tidak mau ini semua terjadi kepada kita” pinta Reza memohon.


“Maaf, kita tak bisa lagi melanjutkan hubungan ini, ini sudah sangat cukup menyakiti ku bahkan orang tuaku”. Ucap Libia.


“Tunggu sayang”, ucap Reza menghentikan langkah Libia.


“Apa lagi? Kamu bahkan belum menjawab semua pertanyaanku, itu artinya kamu sendiri belum tahu apa yang akan kamu perbuat kedepannya, kamu egois reza !! Kamu EGOIS Reza!!! Kamu hanya memikirkan perasaanmu saja tanpa pernah memikirkan apa yang aku rasakan saat ini”. Ucap Libia dengan wajah yang memerah disertai air mata. Libia mulai memanggil Reza tidak lagi dengan sebutan sayang.


“Tapi aku tidak pernah menghendaki ini semua sayang?”, protes Reza.


“sudahlah, aku tak mau berdebat denganmu. Semakin lama aku bersama akan semakin membuat hatiku remuk. Maaf ini memang bukan kita yang mau, tapi aku sudah tak mampu meredam sakit ini”. Unkap Libia dan mulai keluar meninggalkan Reza dalam apartemennya.


Lagi-lagi Reza mengejar Libia, hingga sampai di ruang tamu.


“Aku mohon, tolong jangan tinggalkan aku, aku sangat mencintaimu Libia” ucap Reza lagi. Kali ini Reza sampai bersujud memohon kepada Libia untuk tidak meninggalkannya.


Libia tak bergeming sedikitpun, hatinya pedih, air matanya semakin mengucur deras.

__ADS_1


“Aku sudah sangat rapu Reza, tolong jangan buat aku lebih sekarat lagi karna cintamu, aku mohon…biarkan aku pergi dan tak pernah mengganggumu lagi” ucap Libia .


Libia pun mengelus rambut dan mengecup kening Reza. Reza terlihat sangat frustasi dengan keputusan Libia.


Libia pun berlalu pergi meninggalkan Reza. Dia berlari sambil terus menangis.


“Aaaakkkkk….!!’ Teriak Reza sambil meninju sofa yang terletak di ruang tamu.


Tubuh Reza lunglai tersender di sofa tak berdaya. Rambutnya kusut tak terurus.


“Apa yang harus aku lakukan” ucap Reza berkata sendiri.


Aku tidak mungkin menceraikan Anis, sedangkan papa masih lemah di rumah sakit. Dan pastinya mama pun tidak akan menyetujuinya. Batin Reza.


Reza pun akhirnya tertidur lemas di sofa ruang tamu apartemennya. Jam sudah menunjukkan pukul 20.00. Reza bangun dan berpindah ke kamar. Malam Ini dia berniat untuk tidak pulang ke rumah. Dia butuh waktu untuk menerima kenyataan pahit yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya.


Kring…kring….Handphone Reza tiba-tiba berbunyi, tertulis dilayar “rumah mama”. Reza pun mematikan panggilan itu.


Tidak lama kemudian handphone nya berdering kembali dengan nama pemanggil yang sama. Hal itu terjadi berulang kali. Sampai Akhirnya Reza mengangkat telfon itu.


“Halo” kata Reza dengan suara lemas.


“Halo den, aden dimana sekarang? Kenapa belum pulang den?" Tanya seseorang disana yang tak lain adalah mbok Ipah, ART setianya.


“Saya tidak pulang mbok, malam ini ada lembur di kantor” Jawab Reza bohong.


“Apa aden lagi sakit? Tanya Mbok Ipah khawatir.


“Enggak mbok saya hanya kecapekkan” Jawab Reza kepada Pengasuhnya sejak kecil.


Ada perasaan khawatir dalam hati mbok Ipah saat mendengar suara Reza.


“Ya sudah ya mbok aku masih banyak kerjaan” ucap Reza tak memperdulikan lagi nasehat mbok Ipah.


(Di rumah keluarga Herdiawan)


Anis masih sibuk dengan lembaran-lebaran buku pelajaran. Besok dia ada ulangan harian matematika. Pelajaran matematika adalah pelajaran yang paling digemari oleh seorang Anis. Bahkan dia beberapa kali pernah mengikuti ajang cerdas cermat mewakili sekolahnya dikota itu. Namun malam ini Anis terlihat tidak fokus Berkali-kali dia membolak-balik bukunya tak mengerti.


“Aduuuh koq aku jadi begini si gak ngerti-ngerti sama soal ini” kata Anis


Akhirnya Anis menutup bukunya dan membaringkan tubuhnya di Kasur.


Dia teringat kejadian siang tadi saat melihat adegan yang berada tepat di hadapannya. Hatinya begitu pedih. Pikirannya pun mulai bergentayangan kemana-mana.


Ternyata wanita tadi adalah pacarnya, cantic banget, dan keliatan tulus. Aku tidak ada apa-apa jika dibandingkan dengannya. Aahh,,, apa kejadian tadi artinya orang tua itu akan menikahinya? Dan sampai sekarang pun orangtua itu belum terlihat lubang hidungnya. Batin Anis.


Anis pun mengambil handphone dan melihat jam, dilihatnya saat ini ternyata sudah menunjukkan pukul 20.30.


Jangan-jangan dia sedang mempersiapkan untuk menceraikan aku, aku jadi janda dong, janda SMA.


“Ibu, bapak….Anis gak mau jadi janda bu..”, ucap Anis berkata sendiri.


Saat ini hatinya benar-benar terasa sangat sedih. Anis merasa terluka melihat apa yang terjadi tadi siang, ditambah malam ini orang yang kini menjadi suaminya, yang dia lihat bersama wanita lain tadi siang tidak pulang kerumah.


Anis Segera menelfon Ibunya bu Rusmi, karna saat ini hanya ibunya lah yang mampu menenangkan hatinya.

__ADS_1


“Halo bu” kata Anis.


“Halo sayang, kamu sehat disana nak?” Tanya bu Rusmi.


“Anis kangen banget sama Ibu dan bapak Bu.” Kata Anis lagi yang tak kuasa air matanya sudah menetes di pipinya.


“Iya nak ibu paham apa yang kamu rasakan saat ini, hal itu wajar koq nak untuk seorang anak yang baru saja membangun rumah tangga”. Ucap bu Rusmi berusaha menenagkan putrinya.


“Apa ibu tidak bisa mengunjungi aku disini?” Tanya Anis lagi.


“Ibu dan bapak saat ini lagi di desa tempat bude Rita nak, Anaknya bude Rita, si Kiki mau menikah. Jadi bapak sama ibu bantu mempersiapkan keperluannya.


Rita adalah kakak kandung Bu Rusmi yang tinggal di desa, Kebiasaan di desa saat akan menikahkan anaknya adalah saling bahu-membahu untuk mengangkat hajatan secara bersama-sama dengan tetangga dan para kerabatnya.


“Ooh, kak Kiki mau menikah dengan siapa bu? Koq aku gak di undang?” Tanya Anis pada ibunya.


“Dengan temen SMAnya nak, namanya kalau gak salah Gilang. Ibu memang tidak menyuruh bude mengundang mu nak,,,ibu bilang Anis sedang bulan madu sama suaminya”. Ucap Bu rusmi kemudian.


Ternyata keluargaku mengira saat ini aku bahagia dengan pernikahanku, honeymoon seperti kebanyakan pasangan pengantin baru.” Huhhhft” Anis mendengus dengan kasar.


“Kamu melamun nak?”, Tanya bu rusmi yang tiba-tiba membuyarkan lamunan Anis.


“Ehh…iya bu kenapa?” Jawab Anis kaget.


“Ibu udah ngomong panjang dari tadi gak didengerin ya?” Tanya bu Rusmi.


“Maaf bu Anis tadi lagi liat cicak kejer-kejeran, ibu tadi ngomong apa bu?” kata Anis bertanya kepada ibunya.


“Iya calon kiki itu namanya Gilang nis, katanya mereka udah pacaran dari waktu SMA” ucap bu Rusmi melanjutkan pembicaraannya.


“Hhaa..kak Gilang kan waktu itu kuliah diluar negeri untuk pendidikan kedokteran bu?” Tanya Anis tak percaya kalau ternyata yang akan menikah dengan sepupunya adalah Gilang orang yang dulu sering main ke rumahnya sama kiki.


“Iya nak, dan sekarang dia sudah kembali ke indonesia dari dua tahun yang lalu. Malah sekarang sudah menjadi dokter dan bertugas di salah satu rumah sakit mewah katanya”.ucap bu rusmi menjelaskan.


“Hemmm…enak ya bu kak kiki bisa berkarir, dan menikah dengan seseorang yang mencintai dan dicintainya”. Ucap Anis dengan Lirih.


“Kamu kan juga sudah menikah nak “ ucap bu Rusmi.


“Tapi aku sama sekali gak tahu bagaimana suamiku bu, karakternya, sifatnya bahkan masalalunya aku gak tahu. Aku pun tidak tahu bagaimana nasib pernikahan ini nanti”. Jawab Anis sambil menangis.


“Anis sayang…sesuatu yang kamu anggap tidak baik sejatinya belum tentu itu tidak baik untu dirimu, dan juga sebaliknya sesuatu yang kamu anggap baik belum tentu itu baik untuk dirimu.


Saat ini kamu mungkin berpikir pernikahan kiki sangat sempurna, dia bisa menikah dengan laki-laki mapan yang dia cintai, hal itu belum tentu baik jika untuk dirimu nak.


Yang terjadi pada mu saat ini adalah yang paling baik untukmu, berpikirlah positif terus nak…jangan pernah melihat rumput tetangga lihatlah tanamanmu sendiri”, jelas bu Rusmi panjang lebar berusaha memberi pengertian kepada putrinya.


“Lalu.. apa yang harus aku lakukan bu?” Tanya Anis lagi.


“Taati suamimu, jika memang timbul masalah komunikasikan dengan cara baik” ucap bu Rusmi.


“Satu lagi, jangan pernah membantah perkataan suamimu, karna kamu sekarang adalah tanggungjawab suamimu nak”, lanjut bu Rusmi.


“Hemmm.. iya bu Anis akan berusaha, tapi Anis tidak bisa janji”. Ucap Anis.


Anis pun menutup Telfonnya karena malam semakin larut.

__ADS_1


__ADS_2