No Cheat Another World

No Cheat Another World
- 14 - Cobaan dan Perkembangan


__ADS_3

Suara pintu yang terbanting keras, memperlihatkan sosok Leon dsn kawan kawannya yang bersama dengan banyak wanita yang cantik dan anggun, dengan berbagai macam kecantikan. Ditambah lagi, meraka terlihat seperti bangsawan.


"Maaf aku terlambat, Dewi. Aku sedikit harus bermain main dengan mereka para bunga dahulu." ucap Leon sambil digandrungi beberapa wanita.


"Kyahh, Leon ini..."


Sementara Leon bermesraan dengan para wanita bangsawan, tidak sedikit orang yang terganggu dengan itu, dan ada juga yang memandangnya dengan iri.


"Beraninya kau! Kau sedang berada di depan Yang Mulia Dewi loh!! Berikan kesopanan mu padanya!!" seorang Ksatria berteriak pada Leon, tapi seketika jatuh ke lantai, dengan tubuh yang terbakar.


GRAHHHHGGHH


Teriakan yang menggema berasal dari Ksatria tersebut, yang berjuang untuk hidupnya di batas kematian yang mendekat. Semua mata merinding melihat sosok Leon, yang dengan mudah memanggang Ksatria itu menjadi debu.


"Beraninya kau bicara lancang padaku, dasar serangga tlol! Aku tidak menghormati kalian, aku hanya menghormati Dewi yang sudah memanggil ku ke dunia ini!!! Sadarlah pada posisi kalian!!" teriak Leon marah.


Tidak ada yang berani menyangkal, bahkan beberapa orang tampak mengalihkan pandangannya dari prajurit yang terbakar.


"Leon!" suara sang Dewi menggema.


Dia berjalan mendekat, dan melihat Leon seperti sedikit marah, tapi menampilkan wajah yang penuh kasih sayang.


"Aku senang dengan loyalitas mu, tapi kalau bisa jangan bunuh mereka dengan mudah. Biar aku yang menjatuhi hukuman untuk mereka." kata Dewi dengan tenang, tapi penuh dengan tekanan.


"Ahh.. Hufft. Baiklah baiklah. Aku akan menahan diri ku agar itu tidak terjadi lagi." jawab Leon sedikit mendengus kesal.


Seisi ruangan kembali menjadi hening, sebelum Dewa Atla membalikkan badan ke arah Shia.


"Jadi begitulah. Aku sudah melihat kekuatan hati dari Leon, sang pahlawan. Dia tidak ragu menyingkirkan musuh di hadapannya. Aku bisa mempercayakan teman teman mu padanya." katanya.


"Jadi, apakah kau bisa melakukan hal yang sama?" lanjut Dewi Atla pada Shia, dengan senyum menggurat.


Shia yang mendengar itu merasa ingin muntah, tapi bagaimana lagi. Itu akan menjadi tindakan yang sangat tidak sopan di hadapan Dewi.


"A-apa apaan dengan sikap itu! Itu bukan menyingkirkan musuh, itu hanya menyerang tanpa pandang bulu dan rasa kasihan! Aku tidak akan menjadi seperti itu! Tapi jika untuk membunuh musuh yang akan menyakitku atau teman teman ku, akh tidak akan ragu untuk bergerak!!" jawab Shia dengan yakin.


Dewi yang mendengar itu tertawa pelan, lalu menjentikkan tangannya pelan.


GROAHHHGGGH!!!


Sebuah lubang hitam terbuka di hadapan Dewi, dan dari dalamnya, muncul sebuah monster yang mirip dengan slime, bagaikan merangkak ke luar, itu bergerak dengan cara yang menjijikkan.

__ADS_1


"Ahh! Itu adalah monster [Mimic] yang pernah muncul di ibukota waktu itu!" teriak Rina dengan cepat, tampak mengingat sesuatu.


Sang Dewi tersenyum pelan.


"Benar. Ini adalah monster yang pernah menyerang kota. Memang, ini hanyalah monster lemah, tapi aku menyimpan nya untuk berjaga jaga jika membutuhkannya. Yahh, memang aku membutuhkannya sekarang...." kata Dewi dengan senang.


Sekali lagi, dia membuka sebuah portal hitam, dan mengeluarkan sebuah benda mengkilap yang cukup panjang, sebuah pedang.


TRANGG!!


Pedang itu dilempar, dan mendarat di kaki Shia.


"Sekarang, bunuh monster itu." ucap Dewi.


Shia sedikit terkejut, tapi dia mengambil nafas pelan, sebelum akhirnya menguatkan diri, menunduk untuk mengambil pedang itu.


("Ini semua untuk Ryoka dan yang lain!!") batin Shia berteriak yakin.


?!!


"Ryo... ka?!!!" tanya Shia tidak percaya.


"I-ini se-seharusnya tidak m-mungkin!!" kata Shia dengan terbata bata. Tangannya sedikit bergetar, tapi dia menggelengkan kepalanya lagi, berusaha kuat.


"Kenapa? Cepat bunuh monster yang ada di hadapan mu!!" desak Dewi.


Shia ada dalam konflik sekarang. Monster yang ada di hadapannya sangat mirip dengan Ryoka Kushida. Sosok yang membuatnya berani menentang Dewi dengan kata katanya, dan membuatnya membenci Dewi itu sendiri.


Pikiran dan tubuhnya tahu, bahwa itu adalah monster. Tapi, hatinya tidak membiarkan untuk melukai sosok itu.


("Itu hanyalah monster! Yakinlah, diriku!") teriak Shia dalam hatinya.


Setelah memantapkan pegangannya pada pedang yang dipegang dengan kedua tangannya, Shia menguatkan diri, dan mengangguk yakin.


SRASSHHH!!


Sebuah teriakan kecil yang tertutup oleh suara membelah yang dilakukan Shia, menandakan Shia yang sudah berhasil membunuh monster itu dengan sekali serang.


...[Exp didapatkan: 5.379]...


...[Anda naik level!!]...

__ADS_1


Suara mekanis aneh terdengar di telinga Shia, tapi dia tidak terlalu menghiraukan nya.


"Fu fu fu! Itu adalah hasil yang bagus! Dan seperti yang aku duga, kau memang benar benar kuat, Shia! Yahh, dengan begitu, sepertinya aku akan menyerahkan apa yang kau inginkan, Pahlawan Shia!" sambut Dewi Atla sambil bertepuk tangan, mendekat dan mengelus kepala Shia.


Tidak menunggu lama, hampir semua orang kecuali kelompok Leon bertepuk tangan, setelah menyaksikan demonstrasi kekuatan tersebut.


("Apa ini? Apakah aku benar benar kuat? Tidak. Aku pasti cukup kuat untuk melindungi semua teman teman ku. Benar. Alasan kenapa aku memiliki kekuatan yang hebat, tak lain adalah untuk melindungi yang lain dari cengkeraman mereka yang akan memanfaatkan teman teman ku!!") pikir Shia, melihat ke tangannya yang masih menghunus pedang.


("Aku mendengar sesuatu tadi, apa itu?") pikir Shia, sebelum dia membuka panel status seketika.


Status:


Nama: Shia Sakanada


Ras: High Human


Title: Hero


Class: Fighter, Mage, Assasin


Level: 2


HP: 175


MP: 80


ATT: 40


AGI: 20


DEF: 13


INT: 17


Skill: [Body Enchantment]


("Itu meningkat!") batin Shia kegirangan melihat penambahan angka di statusnya sekarang. Itu adalah satu hari setelah dia dipanggil ke dunia ini. Dia jadi tidak bisa membayangkan apa yang dia lakukan jika fokus untuk meningkatkan levelnya.


Saat ini, dia memiliki tujuan baru. Untuk menjadi lebih kuat dengan cara apa pun, untuk melindungi semuanya.


"Aku akan menantikan masa depan, Pahlawan Shia!" kata Dewi dengan senyum di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2