No Cheat Another World

No Cheat Another World
- 5 - Dungeon


__ADS_3

Tes tes tes tes....


Terdengar suara tetesan air yang terus menerus jatuh di atas sebuah batu. Aku juga merasakan beberapa air menggenang di sekitarku.


Ugh... Dingin....


Aku mengeluh dalam pikiranku. Tapi, rasa sakit yang ada di seluruh tubuhku masih terasa.


Badan ku agak mati rasa, mungkin akumulasi dari rasa sakit yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Rasanya seperti dipukul oleh benda tumpul, yang mematikan saraf yang ada di tubuhku.


Tidak, rasa sakit ini, kesadaran ini! Ini adalah sebuah bukti bahwa aku masih hidup! Dan ketika aku berhasil menggerakkan tanganku, aku sadar bahwa aku belum kehilangan apapun.


Fakta bahwa aku di buang ke dalam Dungeon sepertinya tidak berubah. Tapi, masih memiliki anggota tubuh saja sudah membuatku senang.


Setidaknya, aku tidak akan mati hingga aku membalaskan dendamku!


Pada Dewi, bukan. J*lang itu. Aku pasti akan membunuhnya! Persetan dengan apakah dia Dewi, atau dengan Raja Iblis! Aku yang akan mendapatkannya dan membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri! Setelah itu, aku akan pulang ke Bumi!!


Pikiranku bergejolak penuh dengan amarah.


Sekali lagi, aku tersadar bahwa ini adalah dunia lain. Aku hingga ingin membunuh yang lain, adalah bukti bahwa pola pikirku juga sudah terpengaruh oleh pernyataan itu.


"Kalau begitu, mari kita lakukan seperti dulu. Aku akan menyingkirkan semuanya. Siapapun, yang mencoba menghalangi ku." kataku sambil mencoba berdiri.


"Yahh, sebelum itu, aku harus bisa keluar dari sini terlebih dahulu." bisik ku pelan.


Tubuhku sakit semua, badan ku juga berlapis lumpur tak karuan di sana sini. Seragam yang sebelumya kupakai kini juga mulai lusuh, terkena air yang tadi aku rasakan.


Gelap.


Aku tidak bisa melihat apapun. Tapi manusia sangat baik dalam hal beradaptasi. Aku pasti bisa melihat beberapa saat lagi setelah terbiasa. Selain itu, disini cukup dingin. Mungkin karena pakaianku yang terkena air, atau udara yang lembab.


"Untuk pertama, mari cek sekitar." kataku.


Aku berjalan, menuju ke arah dimana suara air menetes itu berasal. Aku hanya mengandalkan indra pendengaran ku karena mataku hanya melihat beberapa bayangan gelap. Selain itu, aku juga tidak bisa merasakan tembok di sekeliling, dan aku juga tidak mau berjalan merangkak.


Agak sulit hingga sering terjatuh, tapi ini masih di level baik baik saja.


Suara tetesan tadi semakin keras, dan aku juga mendengarnya semakin banyak. tanah di sekitar juga semakin lembut, mungkin karena ada sebuah mata air disini.


??


Kakiku menginjak sebuah kolam, mungkin. Sepertinya ini adalah tempat dimana semua air itu berkumpul, kah? Aku berusaha memejamkan mataku sesaat, dan setelah hitungan ke 15 aku membukanya.

__ADS_1


"Yahh, begini lebih baik." mataku telah terbiasa dengan kegelapan ini. Aku bisa melihat cukup jelas, sampai ke titik dimana aku bisa berlari tanpa takut terjatuh sekarang.


Aku melihat sekeliling, dengan sedikit takjub.


"Inikah, Dungeon?!" kataku pelan, terperangah.


Di sekitarku hanya ada gua dengan batu alami yang membentuknya. Ada kolam yang mengalirkan air melalui sungai sungai kecil, yang asalnya tidak aku ketahui dari mana. Yahh, selama itu bisa diminum, maka tidak masalah.


Aku sedikit terkejut bahwa Dungeon disini terbentuk lebih seperti gua, bukan ruang bawah tanah yang berbentuk ruang ruang, seperti yang ada di banyak novel fantasi.


Yahh intinya, masalah air sudah terpenuhi. Selanjutnya adalah makanan. Apa yang harus aku makan disini? Dan juga, ini adalah Dungeon. Jadi jelas ada monster. Bagaimana aku menjaga diri jika monster datang?


Yahh, itu harus dipikirkan. Tapi untuk saat ini...


Aku mengambil sebuah batu pipih lebar, dan satu batu panjang yang runcing di ujungnya. Setelah aku pastikan, aku mempu menulis di atas batu pipih itu.


"Bagaimana kalau aku membuat peta terlebih dahulu? Aku akan membuat base di sekitar sini." aku mengangguk pada diriku sendiri.


Mulai hari itu, aku memulai diriku untuk memetakan Dungeon tersebut. Awalnya aku agak kesulitan, dan kembali setelah beberapa jam sekali. Tapi setelah 2 hari disini, aku sudah bisa berjalan beberapa jam untuk memetakan.


Aku juga sudah membuat sebuah gua untukku tinggal, dengan cara menggali dinding yang tampak empuk dengan sebuah batu. Awalnya hanya cukup untukku berjongkok dan meringkuk, tapi sekarang sudah bisa membuatku tidur telentang di dalamnya.


1 hari pertama, aku berfokus untuk membuat base ku, dekat dengan mata air. Dan 2 hari selanjutnya, aku fokus untuk memetakan area ini.


Ugh... Tidak makan selama 3 hari, sulit. Bagiku yang sudah terbiasa hidup di zaman modern ini sangat sulit.


Aku sedang berjalan memetakan dungeon itu, sampai suatu ketika....


?!!


Sudut mataku merasakan pergerakan. Itu sangat sedikit, tapi aku tahu itu ada. Dan aku juga sudah mengasah indra ku sebaik mungkin, jadi aku yakin tidak ada kesalahan. Sudah cukup jauh aku berjalan dari base ku dan memetakan, tapi ini kali pertama aku menemukan kehidupan.


("Bagaimana ini? Mundur? Atau lawan?") tanganku sedikit bergetar, takut. Manusia cenderung takut pada sesuatu yang tidak mereka ketahui, begitu juga aku. Sebisa mungkin, aku tidak ingin melakukan sesuatu yang mengancam nyawa sekarang.


("Baiklah. Aku akan mengecek sebentar dan menilai apakah aku yang harus aku lakukan selanjutnya. Dan juga, jika itu berkeliaran di sekitar sini, akan berbahaya jika dia menemukan base ku.") kata hatiku berbisik yakin.


Aku berjinjit, berjalan sehingga tidak menghasilkan suara apapun. Sampai akhirnya aku tiba di balik sebuah batu, dan menemukan sesuatu.


("Monster. Bukan. Itu manusia. Dan dari bentuknya, dia agak gemuk. Humm? Kalau itu manusia, kenapa dia hanya diam dan tidak melakukan apapun? Tidur?") tanyaku dalam hati.l


Aku mendekat, dan melihat beberapa perlengkapan yang menyebar di sekitar tubuh pria itu. Ada juga beberapa sepatu yang di buang begitu saja.


Tunggu. Sepatu?!

__ADS_1


Aku sedikit mendekat, dan aku sedikit terkejut. Aku menahan mulutku, agar tidak ada suara yang keluar darinya.


Touya!!


Dia masih hidup sampai sekarang! Berarti, saat ****** itu mencoret nama Touya dari daftar, bukan berarti dia mati. Dia hanya membuat kita berpikir seperti itu, dan untuk keamanannya.


Begitu. Aku paham sekarang. J*lang itu menganggap kita lemah, dan tidak berdaya. Dia tidak memikirkan jika kita bertahan hidup dalam Dungeon ini, dan memikirkan bahwa kita mati.


Sombong. Sangat sombong... Sialan itu....


Aku tidak sengaja mengangkat sudut mulutku.


Aku tersenyum senang.


"Ini bagus. Dia tidak akan mengira jika aku keluar nanti, dan bergerak dengan kemampuan ku. Aku dikira mati, maka Ryoka sudah tidak ada. Dia tidak akan mencurigai itu lagi..." bisikku, masih dalam senyum.


Aku terduduk pelan, membelakangi Touya disana.


Mengapa dia bisa begitu tenang dan tidur begitu saja? Ini adalah Dungeon, loh! Bukan hanya itu. Dia juga terlihat baik baik saja. Apa dia sudah mendapat sumber makanan?


Dengan ratusan rasa penasaran, aku mendekat. Tapi tetap, aku berhati-hati. Bagaimanapun, Touya belum pasti musuh atau rekan. Jika itu tidak dapat dipastikan, aku akan menjaga jarak.


Humm??


Aku menemukan sebuah kantong besar, dan beberapa bungkus makanan berserakan di sekitarnya. Tidak hanya itu, ada sebuah batu bersinar yang menancap di tanah, berpendar mengedarkan cahaya yang terlihat menenangkan.


Di tanah, ada banyak barang. Salah satunya adalah kertas yang tertulis dalam bahasa kami. Aku sedikit bingung, tapi aku membacanya.


Singkatnya, kantong itu adalah perbekalan yang diberikan oleh wanita ****** itu. Isinya ada beberapa paket makanan dan minuman, beberapa set makan, dan senjata.


Ini cukup untuk bertahan selama seminggu lebih. Bahkan jika berniat berhemat, aku bisa bertahan 1 bulan, dengan catatan aku harus menemukan air bersih dan beberapa lainnya.


Tapi yang paling penting adalah senjata. Ugh... Hanya itu yang aku butuhkan sekarang. Kalau kalau ada hewan yang bisa dimakan, aku harus membunuhnya dan mengambil dagingnya.


Sampai saat ini, satu satunya yang bisa aku anggap senjata hanyalah batu yang aku tajamkan sendiri. Aku bahkan tidak yakin bisa membunuh diriku sendiri dengan itu.


Sepertinya aku tidak diberi perbekalan itu, mungkin karena aku mengatakan hal hal yang ada dalam hatiku di akhir saat aku akan di buang.


Toh kalau aku mendapatkan itu semua, aku tidak akan menggunakannya.


"Yahh, untuk sekarang... Hunn?!!!" aku merasakan sesuatu yang berbeda.


Ini adalah perasaan berbahaya yang aku belum pernah aku rasakan sebelumnya! Perasaan kematian ini, aku benar benar akan dibunuh hanya dengan memikirkan nya!

__ADS_1


"Apakah itu, monster?!!" tanyaku.


__ADS_2