No Cheat Another World

No Cheat Another World
- 33 - Persiapan party


__ADS_3

"Hufft, baiklah. Shindou, apa kau memiliki keberatan dengan Leon sebelumnya?" tanya Leona dengan nada penasaran.


Shindou tersentak sesaat, menatap dengan penuh tanda tanya.


"A-apakah aku sangat terlihat seperti itu?" tanya Shîndou sedikit tergagap, tampak bingung.


"Yahh, itu cukup untuk membuat aku dan Chiyo tahu tentang apa yang kau pikirkan. Selain itu, kau dari tadi membahas Leon dengan nada sedikit tidak suka, Shindou." jelas Leona dengan senyum di wajahnya.


Mendengar itu, Shindou hanya bisa bernafas lega.


"Aku benar benar sangat mudah dibaca, kan?" katanya.


"Jangan lupa bahwa aku adalah gurumu, Shindou! Aku memperhatikan apa yang kau lakukan, loh!!" jawab Leona dengan yakin.


Shindou mengangguk pelan mendengar itu.


"Aku mengerti. Mungkin tidak apa mengatakannya pada kalian, bukan?" Shindou mulai bercerita.


"Sejak awal, aku tidak suka bagaimana dia berkelakuan di dunia ini. Dan sekitar satu bulan lalu, ketika kita bertemu di aula. Dia terlihat sangat berbeda dengan ketika dia di Bumi." wajah Shindou terlihat geram.


"Bagaimana mengatakannya, dia jadi lebih arogan. Mungkin karena sejak di Bumi, aku sudah tidak menyukai nya. Tapi kesombongan nya meningkat setelah tahu dia adalah salah satu yang terkuat disini."


"Dan yang paling penting, dia dikelilingi banyak wanita. Yang jujur saja, membuat ku risih." kata Shindou mengakhiri ceritanya, sambil memandang jauh.


Dia melihat ke arah grup Leon, yang ramai teman sekelas atau bahkan orang orang dari dunia ini. Wajahnya terlihat jijik, dan sedikit memandang rendah. Dan dari tatapan tajam itu saja sudah cukup untuk membuat Shia dan yang lain bahwa Shindou memang serius.


Dan memang, sebagian besar dari kelompok itu adalah wanita, dan dengan segala cara merayu Leon agar menyukai mereka.


"B-baiklah. Aku mengerti itu, Shindou. Itu baik, karena kami memang tidak bisa menerima itu." kata Chiyo sedikit gemetar.


"Sebenarnya aku ingin kita satu kelas bekerja sama untuk mengalahkan Raja Iblis dan kembali ke dunia kita, tapi tampaknya ada yang tidak mengharapkan itu..." bisik Leona pelan.


Mereka semua tertunduk, terlihat lelah dan sedih juga.


Pelatihan yang diberikan tidak terlalu keras, tapi melelahkan mental. Mereka yang terbiasa dengan kehidupan modern akan langsung tidak betah dalam waktu 1-2 minggu.


Sementara itu, Shia dan Shindou sering berlatih sendiri untuk mendorong pertumbuhan mereka.


"Yahhh begitulah. Aku penasaran kenapa suasana agak berat disini, tapi kita tidak bisa selalu begini. Yang jadi pertanyaan, kenapa hari ini kita dikumpulkan di aula seperti ini?" tanya Shia mencoba mencairkan suasana.


"Ahh, benar. Aku juga sempat bertanya seperti itu." sahur Chiyo.


"Apakah masa pelatihan kita akan selesai?" tanya Leona.


"Bisa jadi. Kita hanya bisa menunggu." Shindou menjawab cepat.

__ADS_1


SREETT....


Sebuah gorden merah yang sejak tadi menutupi panggung terbuka. Dan bersamaan dengan itu, ruangan menjadi lebih gelap, dengan beberapa pencahayaan lampu yang menyorot ke bagian tengah panggung itu.


"Seperti theater." bisik Chiyo pelan, ingin tertawa.


"Diamlah!" marah Leona sambil sedikit menyikut Chiyo.


Dari belakang panggung itu ada sosok wanita yang luar biasa cantik. Sosok yang dipuja di negara ini, dan yang menjadi pusat dari semuanya, Dewi Atla.


Musik yang dimainkan oleh pemain belakang sangat indah, dengan campuran harpa dan biola, yang membuat suaranya elegan, cocok dengan wanita yang sedang berjalan di atas panggung itu.


"Selamat pagi, semuanya. Maaf mengganggu waktu kalian yang berharga." katanya membuka percakapan.


Segera, semua memusatkan perhatian mereka kepada Dewi itu. Dan bersamaan dengan itu, musik yang mengiringi berubah menjadi lebih lembut.


"Yahh, sepertinya ini tidak penting, tapi baiklah. Acara seperti ini, aku tidak membencinya." jawab Leon dengan senyum di wajahnya.


Banyak orang yang mengangguk, tanda setuju dengan itu.


"Kalau begitu luar biasa. Kerajaan ini akan dengan senang hati menyediakan beberapa hal untuk melayani anda sekalian. Karena bagaimanapun, kalian adalah pahlawan yang harus menyelamatkan dunia ini." kata Dewi, tetap dengan senyum sambil menekankan kata "harus".


"Humm. Aku juga mulai lelah dengan pelatihan ini. Kenapa aku harus berlatih seperti ini?" Leon mulai mengeluarkan keluh kesahnya.


"Lagipula, pelatihan ini sungguh tidak ada gunanya. Bukankah lebih baik aku menaikkan level dengan membunuh keroco keroco yang ada? Itu pasti jauh lebih menyenangkan?!" sambungnya.


"Itu tidak salah. Menaikkan level saat ini mungkin menjadi hal yang paling rasional untuk meningkatkan kekuatan mu." tanggap Dewi dengan senyum.


"Itu benar. Dan sebenarnya, kemampuan kalian sudah setara dengan prajurit kami, dan jika dihitung sebagai petualang, kalian sudah berada di peringkat C. Itu sudah cukup tinggi."


"Kami berniat untuk mendaftarkan kalian ke Hunter Guild, dan dengan demikian kalian bisa mengetahui dan melihat lebih luas masalah maslah monster yang menyerang di dunia ini. Itu juga cara untuk menjadi lebih kuat, jadi dia burung sekali lempar, bukan?" jelas Dewi itu.


Keadaan agak riuh, mendengar mereka akan melakukan beberapa petualangan. Mereka bersemangat untuk segera berangkat, dan bahkan beberapa dari mereka memikirkan beberapa rencana yang akan mereka lakukan.


PLOK PLOK PLOK!!


"Ya, tolong perhatiannya. Karena memang aku ingin menyerahkan beberapa tugas kepada kalian." ucap Dewi tetap dengan senyum walau bibirnya agak naik.


"Beberapa tugas?" bisik Chiyo menyipitkan matanya.


"Jujur saja, ada beberapa malah yang muncul di perbatasan, dan aku sangat kekurangan orang di sana. Jelas, aku ingin mengirimkan beberapa orang untuk berangkat kesana. Dan yang paling utama, kalian para Rank atas." jelas Dewi Atla.


Chiyo menghela nafas. Itu berarti sederhananya, mereka yang memiliki Rank di atas A akan dibawa ke tempat itu. Sedangkan Rank bawah dibiarkan begitu saja.


Dia tidak mengerti, kenapa membiarkan mereka yang memiliki Rank bawah, tapi Chiyo yakin Dewi itu memiliki rencana.

__ADS_1


"Oleh karena itu, aku harap kalian sudah memiliki party yang kalian sudah pasti di minggu depan. Ini penting. Dan tolong diingat, bahwa orang yang tidak mendapat party, sama dengan orang yang tidak dibutuhkan." tambah Dewi Atla dengan nada dingin.


Semua orang tidak perlu diingatkan, tidak perlu dikatakan secara gamblang lagi.


Mereka jelas mengingat sosok yang dibuang di hadapan mata mereka sendiri, dan jika mereka tidak bekerja cukup keras, mereka tahu, bahwa itu akan terjadi pada mereka.


Itu cukup untuk membuat hampir semua orang berkeringat dingin.


"Baiklah! Yang ingin ku katakan hanya itu, jadi kalian bisa kembali dan mempersiapkan banyak hal." Dewi Atla pergi dari atas panggung, di iringi tawa kecil serta lantunan musik yang sesuai dengan kepergiannya.


"Wah kita harus membuat party!"


"Itu benar. Dewi tadi agak menakutkan, bukan?"


"Yahh, itu demi kita juga."


"Jadi, bagaimana?"


"Sebisa mungkin aku ingin berasa di party yang kuat. Aku tidak ingin mati, juga monster yang dikalahkan party kuat pasti lebih kuat dan menyimpan lebih banyak keuntungan."


"Itu berarti, party Leon, kan?"


Segera, aula kembali menjadi riuh. Masing masing dari mereka merencanakan party yang akan meraka masuki, sambil menimang nimang.


DORRR!!


Sebuah ledakan keras menggema di aula yang luas itu, membuat semua orang segera terdiam dan melihat ke asal ledakan.


Di tempat semua orang mengalihkan pandangan, tampan Leon dengan bekas ledakan yang ada di sekitarnya, menatap yang lain dengan mata lelah.


"Kalian orang orang bodoh sekalian yang ingin masuk ke dalam party ku ke sini cepat! Kita pindah ruangan! Biar aku yang memilih dan menggunakan nyawa kalian yang tidak berguna itu." katanya.


Itu kalimat yang kasar, dan jelas merendahkan. Tapi cukup banyak yang menyambut itu dengan tawa dan menghampiri Leon segera, mengikutinya keluar aula.


"GNNHHGHH!!"


Suara gerakan rendah terdengar, dari sosok yang mengepalkan tangannya kesal.


"Shindou." Shia memanggil nama orang tersebut, seraya menggenggam tangannya dengan lembut, membuat kepalan tangan itu mulai melemah.


"Shia..." sosok itu, Shindou melemahkan tubuhnya, menarik nafas sebentar untuk menenangkan diri, menurunkan emosi nya.


"Aku mengerti perasaan mu, Shindou. Tapi kau harus menahannya. Tolong, sampai kita bisa keluar dari kastil ini. Walau itu tidak menjamin, tapi kita bisa lebih bebas disana." jelas Chiyo sedikit berbisik.


Shindou sedikit mengangkat alis, heran.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tanyanya.


"Yahh, kau lihat saja nanti...." jawab Chiyo dengan nada misterius.


__ADS_2