
Pedang besarku ditangkis!!
Tidak hanya itu, aku juga merasakan hawa bahaya yang mengincar leherku. Tak hanya satu, aku merasakan beberapa hawa bahaya yang mengincarku!!
Sial... Aku tidak menduga hal ini akan terjadi. Apa yang harus aku lakukan?
Jika aku meneruskan, aku yakin bisa membunuh necromancer ini. Tapi, aku akan terkena serangan beberapa musuh yang tidak aku ketahui seberapa kuat serangan mereka.
Tidak ada perasaan ingin membunuh dari mereka, jadi kemungkinan serangan mereka tidak akan membunuh ku.
"Kalau begitu!!"
?!!
Aku bergerak, menangkis pedang di hadapan ku, sambil membuat itu sebagai tumpuan untuk aku bisa melakukan lompatan, membuat tubuhku berputar dan melayang jauh.
Tapi sebagai hasilnya, aku terpelanting oleh beratnya pedang besar di tangan ku, dan berguling beberapa kali di lantai ruangan yang keras.
Aku membuat keputusan yang berbeda di akhir tadi. Mempercayai insting ku, aku yakin ini adalah serangan yang berbahaya, yang mengharuskan aku menghindari serangan itu dengan berbagai cara.
Dan saat aku melihat ke tempat aku melayang sebelumnya, itu membuatku bersyukur sudah menghindar.
Sebuah panah melesat melewati ruangan yang seharusnya ada kepala ku disana!!
Dan tidak hanya itu, berbagai pedang yang tajam, beberapa belati menusuk ke udara tempat seharusnya beberapa organ vital ku berada.
Sungguh, aku bersyukur sudah mengikuti insting ku untuk melompat dan menghindari serangan tadi. Walau ini kedua kalinya, aku tetap akan bersyukur dengan itu. Karena jika tidak, aku jelas tidak aka bertahan lagi di dunia ini.
Tapi....
"Serangan mereka jelas memiliki maksud untuk membunuhku, tapi mereka tidak memancarkan keinginan membunuh dari serangan mereka? Ini sangat kontradiktif." kata ku sambil melompat mundur, berusaha mengambil nafas.
Terutama pemanah, aku mencoba mencari keberadaannya. Karena jika tidak ditangani lebih dulu, jelas dia akan membuatku repot.
KEAK KARK KRAKK
Beberapa suara tidak mengenakkan terdengar dari kegelapan, dan aku segera meningkatkan kewaspadaanku.
"Itu adalah..." aku menggumam pelan, ketika makhluk itu menunjukkan keberadaannya.
Makhluk tersebut adalah tengkorak dengan berbagai bentuk disana. Ada yang menggunakan armor kulit tipis dengan belati dan pedang kecil di tangannya, ada juga sosok besar membawa armor besi dengan pedang besar yang mengerikan.
Di belakang mereka ada sosok dengan jubah dan tongkat, mungkin penyihir.
Sementara itu, aku sadar bahwa pemanah yang mengincarku sedang mengamati kami semua dari sebuah tempat yang tinggi di ruangan tersebut.
Aku hanya bisa terdiam.
"Itu... Bukankah itu party yang sangat sempurna dan seimbang disana?!! Ahh, aku lupa kalau kau adalah boss di lantai ini. Sungguh menyebalkan. Apakah itu adalah Necromancy?! Itu mengerikan, sungguh!!" aku berteriak, mengumandangkan ketidakpuasan ku.
Tapi jelas, itu tidak akan direspon oleh party kerangka yang ada di hadapan ku. Bahkan tengkorak berjubah yang bersembunyi di belakang mereka bergerak seakan mengejek.
__ADS_1
"Bajingan itu... Ahh, melihatnya saja sudah cukup untuk membuatku kesal... Aku sangat ingin meremukkan tengkorak bodohnya itu, sungguh...." kataku sedikit menggeram marah.
Aku menoleh ke belakang, memastikan satu hal.
Pintu sudah ditutup, dan aku yakin aku tidak bisa mendobrak pintu itu sekuat tenaga, jelas. Yang aku bisa hanyalah mengalahkan boss lantai yang ada di hadapan ku sekarang.
Baiklah. Saatnya aku fokus terhadap satu itu saja.
Dan juga, aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku sedari tadi tidak menggunakan sihir dengan seluruh kemampuan, jadi mungkin ini saatnya aku serius dengan bajingan satu ini.
DORR!!
Tanpa ragu, aku mengambil pistol ajaib, menembakkan peluru nya ke arah ghoul pemanah yang berada di tempat tersembunyi di atas kami.
Dia adalah sosok yang tidak bisa aku jangkau dengan serangan biasa, dan pasti akan menyulitkan aku nantinya. Tidak hanya itu, dia juga sudah berpindah tempat dari terakhir aku melihatnya, jelas akan merepotkan mengurusnya nanti.
Aku melempar pedang besar ke atas sekuat tenaga, membuatnya berputar di atas untuk beberapa detik. Sementara itu, aku mengambil Wind Dagger di pinggang, dan bersiap.
DRAKKK!!
Bersamaan dengan jatuhnya pedang besar yang aku lemparkan, aku bergerak maju untuk mencoba mencari celah yang bisa aku gunakan untuk menyerang.
GROOAGGGHHHH!!!
Bagaikan marah, makhluk necromancer itu mengacungkan tangannya, mengarahkan itu padaku seperti menyuruh para prajuritnya untuk datang dan menyerangku!!
Bola api, pilar batu, bahkan ada petir yang menyambar!!
"Sial, sungguh sial. Kenapa aku bisa ceroboh seperti itu!! Mage itu sungguh merepotkan!!" aku menggeram pelan, sambil melempar batu ajaib kecil, yang bisa aku gunakan untuk membuat tabir asap.
Itu akan membingungkan mereka untuk sementara, ketika aku bergerak mendorong tubuhku dengan angin dan melesat melalui bebatuan dan penjaga yang melindungi mage di barisan paling belakang.
"[Wind Blow]!!" aku mengucapkan nama sihir, dan membuat pusaran angin kuat melapisi tinju ku, membuatnya memiliki daya ledak saat mengenai target.
Dengan demikian, ghoul mage itu berhasil aku ledakkan sekali serang!!
Necromancer di sana tampak terkejut melihat itu, tapi tetap memberikan perintah untuk para anak buahnya agar maju dan mengeroyok aku yang kini berada di tengah.
"Ugh... Dia akan selalu memanggil bantuan, kah? Kalau begitu, pertarungan jangka panjang akan semakin menyulitkan ku.... Dan pasti semua orang yang ada di situasi ini berpikir..." aku menghela nafas, kembali menyiapkan sihir.
"Kalau aku harus menghabisi Necromancer itu duluan, kan!!" aku mencoba meledak, menendang tanah dan didorong angin ke kecepatan yang bahkan aku tidak menduga nya!!
TRANGG!!
"Hnnhgghh?!!" aku terkejut, ketika serangan ku mengenai sebuah benda yang keras.
"Oi oi oi! Mau seberapa curang kau?!!" aku berteriak ydiak terima, ketika di hadapan ku muncul seorang Ksatria full armor dengan perisai besar di tangannya!! Dan tidak hanya itu, ada satu lagi makhluk dengan belati di tangannya, dan penampilan yang bahkan membuatku bergidik saat menatapnya!!
Sial!! Jika seperti ini, dia tidak akan bisa dikalahkan!!
Aku memutar otak, seraya melompat dan memberikan sihir, untuk membantu ku mundur lebih jauh. Beberapa pedang diarahkan pada ku, tapi aku lebih terampil dan mampu menangkis atau menghindari serangan yang setengah hati itu.
__ADS_1
Tapi, masalahnya bukan disitu.
?!!
Insting ku merasakan bahaya, ketika aku berusaha untuk mengubah tubuh ku untuk berbelok ke samping.
SWOSSSHHH!!
Pria dengan belati yang aku lihat melindungi necromancer itu datang untuk membunuhku!!
Siall!! Apakah dia memanfaatkan celah yang aku berikan saat mengurusi cecunguk lain yang dibuat necromancer? Bukankah berarti dia juga memiliki kecerdasan?
Tapi kupikir itu bukan saat yang tepat untuk berpikir, karena...
TRANGG!!!
Serangan belati nya hampir mengenai ulu hati ku!!
Aku berhasil menahan dan membelokkan serangan barusan mengandalkan refleks dan perasaan yang sudah meningkat karena berada di Dungeon ini, tapi aku tidak yakin jika harus menahan serangan yang sama seperti beberapa kali lagi!!
Sebesar itulah perbedaan kekuatan antara kemampuanku dengan monster di Dungeon ini.
Benar! Pistol ajaib?! Ahh! Aku lupa kalau itu jatuh karena serangan mage tadi!! Kalau begitu, bom batu sihir? Tidak! Jaraknya terlalu dekat, aku tidak bisa meledakkan dia tanpa luka!
SRASSHH!!
"Aarghh!!!" belati itu berhasil menggores lenganku, memberikan gambar garis panjang yang cukup untuk membuat tanganku banjir akan darahku sendiri.
Sialan sialan sialan sialan!!
Bisa bisanya aku ceroboh di saat saat penting seperti ini?!! Aku harusnya tidak membuat masalah sedikit pun!!
Aku sudah kehilangan tangan kiri ku, kehilangan tangan kanan ku akan membuat hidupku sulit untuk kedepannya. Dan juga, aku baru saja disembuhkan barusan, jadi untuk rasa sakit seperti ini....
"Aku jelas bisa menahannya!!" aku berteriak, mencoba melempar batu ledakan ke arah monster itu.
BOOMMMM!!!
Ledakan cukup besar terjadi di hadapan ku, dan aku tanganku kujadikan tameng dari panas nya api yang berusaha membakar tubuhku. Tentu, api itu membakar tanganku, tapi itu aku manfaatkan untuk membakar luka di tanganku, agar luka panjang itu tidak lagi terluka.
"Hahh, hahhh...." mengambil nafas panjang, aku berusaha menguatkan diri, melihat sekeliling yang menjadi terang karena ledakan tadi.
KRTAAKKK!!
?!!
Aku segera menoleh, ke arah kobaran api yang paling besar.
"Hei hei hei! Jangan bilang...." aku tidak mampu mengucapkannya...
Karena monster pembawa belati tadi belum mati.
__ADS_1