No Cheat Another World

No Cheat Another World
- 32 - Benda Berguna


__ADS_3

Aku tidak tahu apa yang aku rasakan sekarang. Apa ini? Hampa? Sepi? Sedih? Tidak, mungkin semua dari itu. Pasalnya, sudah lama aku sudah tidak berbicara dengan orang lain, dan aku bertemu dengan Fei saat itu. Bagaimana aku tidak merindukan untuk berbicara dengannya?


Yahh, aku sadar, itu tidak mungkin. Jadi mari kita kembali ke kenyataan, dan mencoba bertahan hidup lebih lama yang bisa aku lakukan...


Dengan demikian, aku butuh satu hari untuk mengangkut barang barang penting dari rumah itu, membawa nya ke rumahku.


Itu sebenarnya cukup sulit, karena buku yang ditinggalkan oleh party mereka sangat banyak. Aku yakin mereka pasti memiliki [Space Magic] di sisi mereka.


"Bukankah rumahku jadi cukup sempit sekarang? Yahh, aku tidak menduga ini akan terjadi..." kata ku sambil berkacak pinggang, melihat aku yang dikelilingi buku tag bertumpuk dan barang barang yang menutupi pandang ku.


Aku butuh rak, dan mungkin akan membuatnya nanti.


"Baiklah, aku punya banyak agenda yang harus aku lakukan, jadi aku harus mulai mengerjakannya sedikit demi sedikit." kataku, sambil mencoba sedikit merapikan tempat ini.


Pertama, senjata. Ada berbagai macam senjata yang ditinggalkan Fei, seperti pedang besar, panah, pisau pedang biasa, dan lain lain.


Aku sudah terbiasa menggunakan pisau, jadi mungkin aku akan mengambilnya. Dan aku butuh sebuah senjata yang bisa memotong dengan baik, tapi juga bisa menusuk dengan sama baiknya.


Pedang biasa mungkin akan bagus, tapi akan sulit untuk ku mengendalikan mata pedang dengan satu tangan. Rapier? Tidak, itu sangat sulit.


Yahh, persetan. Aku hanya akan mengambil belati saja.


...[Storm Dagger> Meningkatkan kemampuan sihir Angin dan Air pengguna sebanyak 2]...


Itulah alasan utama aku memilih belati ini.


Dengan panjang total 55 cm, dengan bilahnya 40 cm itu tidak akan menghalangi ku untuk bergerak, dan sangat cocok untuk aku yang menyerang dengan teknik hit and run.


Untuk pelindung, aku tidak tahu akan memakainya atau tidak.


Yang aku lihat hanya armor tebal, yang bahkan menutupi hingga seluruh tubuh. Itu berat. Sangat berat. Aku tidak akan bisa memakainya..... Tapi jika memodifikasi nya sedikit, aku yakin bisa memakai bagian dada dan lengan saja?


Yahh, itu urusan nanti.


Waktu ku sekarang hanya sekitar satu hari lebih, sebelum malam menjelang. Ketika malam, aku tidak akan bisa bersantai seperti ini, jadi lebih baik aku mempersiapkan malam datang.


Aku juga bertanya tanya, apakah aku bisa mendapatkan penambahan status dengan memakan daging yang sudah matang? Aku menantikan ini.


Tapi sementara itu, aku membutuhkan api.


"Aku masih harus menjelajah, kah?" tanyaku pelan, menyiapkan diri.


Setelah itu, aku akhirnya memutuskan untuk menjelajah, sambil mengumpulkan herbal yang akan berguna.


Ku akui, lantai bagian ini sangat luas. Aku belum tahu betapa luas keseluruhannya, tapi sampai sekarang, aku bahkan belum menemukan ujung lain dari lantai ini.


Pertama tama, aku akan mencoba mencari tangga. Itulah kenapa aku mencoba berjalan ke arah berlawanan aku datang.

__ADS_1


"Huumm??" aku menggumam pelan, ketika aku melihat sebuah pohon besar yang menutupi dinding batu.


Aku meneliti pohon itu sedikit, sambil terus berjaga siapa tahu apa yang akan datang dan menyerang ku. Setelah memastikan sekeliling aman, aku bergerak untuk mendekati pohon itu, melihat lebih baik.


Ada lubang di batang pohon tersebut!


Penasaran, aku masuk, tetap dengan keadaan terjaga penuh dan bersiap siap.


?!


Ada sebuah pergerakan kecil di dalam, tapi pasti ada sesuatu di sana.


Dengan tenang, aku melangkah masuk, dan memperhatikan ada beberapa makhluk mirip manusia yang berdiri di sebuah batu.


Tidak, lebih tepatnya pintu batu.


"Mereka seperti menjaga sesuatu?" tanyaku heran.


Bentuknya seperti kesatria dengan perlengkapan full armor miliknya. Penjaga di bagian kanan membawa tombak, dan yang kiri memiliki pedang besar di belakang mereka.


Melihat pintu batu besar yang ada di belakangnya, aku bisa menebak bahwa dibalik pintu itu ada makhluk yang sangat kuat, atau mungkin boss di lantai ini.


Dan kemungkinan, tangga berada di ruangan itu.


"Untuk saat ini, lebih baik aku mundur terlebih dahulu. Aku tidak tahu bagaimana kemampuan monster itu, akan bijak jika aku menyiapkan diri sampai aku cukup kuat bisa bolak balik ke lantai bawah dengan mudah." kata ku pada diriku sendiri.


"Yahh, aku akan melakukan ini sampai sore. Dan segera kembali jika aku melihat sisi langit berubah menjadi oranye, kurasa?" aku menghela nafas pelan.


***


Kastil Kerajaan Suci Gran Khea...


Sudah hampir satu bulan berlalu untuk pelatihan yang diberikan para Ksatria untuk membuat para manusia dunia lain terbiasa dengan dunia ini, dan bisa bertarung dengan layak.


Kini mereka mulai menunjukkan kemampuan mereka yang benar benar ada, karena dukungan status dan pelatihan Ksatria.


Bahkan para Rank-C saja sudah cukup mampu untuk membuat prajurit Kerajaan kewalahan, tidak terbayang kemampuan para Rank-S.


Leon Albarich dan Shia Sakanada.


Mereka berdua adalah Rank-S yang sangat terlihat perkembangan dari pelatihan pelatihan ini.


Mereka sudah mampu untuk bermain imbang dengan para Ksatria yang baru datang, atau dengan salah satu Ksatria veteran.


Memang, mereka belum bisa dibandingkan dengan kepala atau wakil Ksatria, tapi kemampuan mereka terlihat bersinar terang.


Itu membuat sedikit kericuhan tentang para murid yang sekarang sudah bisa bertarung, dan merasa senang karenanya. Mereka sedikit sombong, dan mengajak bertarung satu sama lain, atau bahkan memandang rendah orang yang pernah mereka kalahkan dulu.

__ADS_1


Sebaliknya, Chiyo adalah seorang penyembuh. Statistik miliknya sejak awal cukup rendah, kecuali stat Sihir yang yang bisa dibilang tinggi. Tapi dia sudah berusaha untuk berlatih, dan meningkatkan level skill penyembuhnya ke level yang lebih tinggi.


Dan saat itu, sekarang mereka sedang dikumpulkan dalam satu ruangan, persis setelah makan malam.


"Halo, Chiyo. Halo, bu Leona! Sudah lama tidak bertemu!!" teriak Shia sedikit histeris sambil memeluk Chiyo, tampak ingin menangis.


"Shia, aduhh... Kau seharusnya bisa menjaga sikapmu sedikit. Ayolah.." kata wanita yang ada di sebelahnya.


Dia adalah wanita dengan katana panjang di pinggang nya, dengan tangan kirinya selalu memegang ujung gagang katana tersebut bagaikan takut kehilangannya. Tapi bisa terlihat, dia adalah ahli pedang yang sangat mumpuni dari itu.


Sosok yang terlihat tegas namun juga terlihat lembut. Tapi tangan nya yang kuat bahkan terlihat lebih keras dari beberapa tangan laki laki.


Dia adalah Shindou Arima.


"Tidak apa, Shindou. Aku sudah agak terbiasa. Aku juga mengerti." jawab Chiyo dengan senyum.


"Yahh, itu adalah hal yang bagus. Dia akhir akhir ini selalu merengek karena beberapa kali kalah dari ku. Padahal sudah aku bilang tidak apa, tapi dia tetap saja merengek." kata Shindou.


"Umm, aku mengerti. Dia menangis hanya karena kalah dalam latihan? Itu cukup menyedihkan!!" kata Chiyo memberikan tanggapan.


Mendengar itu, Shia ingin menyangkal, hanya saja apa yang dikatakan Chiyo juga tidak salah.


"Tapi, kau bahkan bisa menang melawan Shia, bukankah kau luar biasa, Shindou? Secara statistik, Shia bahkan lebih kuat darimu." kata Leona yang memasuki percakapan sambil sedikit menghibur Shia.


Sementara itu, Shindou yang mendengar itu menggengkan kepala, dengan wajah tegas.


"Kemenangan ku terhadap Shia dalam hal ilmu pedang sudah pasti. Tapi jika Shia dan aku mengerahkan segalanya, aku tidak yakin bisa bertahan melawannya." jelas Shindou sambil tersenyum pelan.


"Ahh, kau sangat yakin dengan kemampuan pedang mu, bukan?" pancing Chiyo.


"Jelas. Saat ini, aku bahkan bisa bertarung dengan Leon jika aku mau, dan mereka bahkan belum pernah memegang pedang sebelum ini. Shia terkadang berlatih bersama ku, jadi dia bukanlah amatir." jawab Shindou dengan percaya diri.


Itu sedikit membuat Chiyo terkejut, tapi dia senang dengan jawaban Shindou. Sementara itu, Leona tampan memiliki pikiran yang jauh.


Suasana menjadi tegang sesaat, sebelum akhirnya Chiyo memberikan senyum cerah.


"Jika ada orang sekuat kau dan Shia di sekitar ku, aku pasti akan merasa lebih aman! Karena, kau tahu? Aku hanya memiliki sihir penyembuhan, dan kekuatan menyerang ku juga tidak baik." suaranya semakin menghilang.


"Aku tidak keberatan, jika itu kalian. Jika itu Leon, aku jelas akan menentangnya. Yahh, begitulah aku." kata Shindou dengan nada sedikit kesal.


Mendengar itu, Leona sedikit menarik nafas sesaat, sebelum mengangguk.


Leona terlihat mengerti sesuatu, sebelum menengok ke arah Chiyo. Chiyo tampan mengerti, tapi hanya diam bagai memberikan keputusan terakhir pada Leona. Dan itu hanya bisa membuat Leona menarik nafas panjang....


"Hufft, baiklah. Shindou, apa kau memiliki keberatan dengan Leon sebelumnya?" tanya Leona dengan nada penasaran.


Shindou tersentak sesaat, menatap dengan penuh tanda tanya.

__ADS_1


__ADS_2