No Cheat Another World

No Cheat Another World
37 - Yang Terlemah


__ADS_3

"Hei hei hei! Jangan bilang...." aku tidak mampu mengucapkannya...


Karena monster pembawa belati tadi belum mati.


Bajingan itu!! Dia belum mati? Ughhh.. Aku yang terkena ledakannya saja jadi seperti ini... Dia yang bahkan aku taruh granat di kepalanya tidak mati? Kenapa monster seperti itu ada di lantai ini?!!


Aku masih tidak dapat mempercayai apa yang ada di hadapan ku. Tapi, aku harus segera sadar bahwa ini nyata, dan memikirkan langkah selanjutnya!


Dengan pemikiran seperti itu, aku berusaha melihat sekeliling, mencari berbagai macam barang yang tampaknya bisa aku gunakan.


?!!


Perasaan ku merasa bahaya, ketika aku menoleh ke samping kiri-


BRAAKKK!!!


"UAAGRHHHH!!!"


Aku tidak bisa menahan tubuhku yang terpental karena sebuah massa berat tiba tiba menghantam tubuhku.


Ya. Aku tahu apa itu. Itu Knight full armor yang membawa perisai, sedari tadi melindungi necromancer itu. Tapi melihat rekannya sekarat, mungkin dia mendapat tugas untuk mengulur waktu hingga pengguna belati itu kembali.


Aku tersungkur, bagai seonggok sampah yang terbuang berserak di pinggir jalan. Badan ku kini penuh rasa sakit, tapi aku masih bisa mencoba menahan itu.


BUAGHHH!!


Perutku ditendang Knight itu!!


"Ahhh... huhhh... gghhhraa...." aku mengeluarkan suara tidak jelas, ketika kesadaran ku agak menghilang, tapi aku masih berusaha menahan rasa sakit sambil bertahan.


Darah mengalir dari mulutku, yang kini membuka, meminta udara untuk masuk ke dalam paru paru ku.


Sakit! Setiap nafas yang aku ambil semuanya terasa berat.... Setiap gerakan yang aku buat rasanya ingin mematahkan tubuhku, menghancurkannya. Dan tanpa dibilang pun, aku sudah tahu beberapa tulang rusuk ku patah....


'Sangat menyakitkan, bukan?'


Huh? Suara apa itu?!! Tiba tiba ada sebuah suara yang bicara di dalam pikiranku!!


Serangan kembali datang, mengoyak ku dari kanan dan kiri. Tapi entah bagaimana, aku bisa menghadapi itu walau goyah.


'Sangat menyiksa, bukan?'


Lagi. Suara itu muncul kembali dalam pikiran ku. Setiap kali suara itu berbicara, aku merasa hatiku remuk, karena setiap kata kata nya bisa menembus ke dalam hati ku, melemahkannya.


Suara itu tidak terdengar seperti laki laki atau perempuan, juga tak terdengar tua ataupun muda. Itu benar benar netral, membuatku tidak bisa menebak apa pun tentangnya.


Tapi satu yang aku tahu. Setiap kali dia berbicara, sesuatu yang ada dalam jantung ku tertarik, seperti bara api yang semakin besar!!


'Kau yang seharusnya merupakan pahlawan, tapi justru dibuang dan harus tersiksa seperti ini...'


DEGG!!


Apa itu? Kenapa? Kenapa suara itu bisa tahu? Siapa disana? Apa yang dia katakan? Bagaimana mungkin dia bisa menghubungi ku?!!


'Aku bukan siapa siapa. Aku hanyalah pengamat'


Hah? Apa yang dia ucapkan?! Pengamat? Bukanlah itu adalah aku?


SRRIIINNNGG!!!

__ADS_1


Suara besi yang memekakkan telinga terdengar, ketika aku berusaha membelokkan perisai yang mencoba untuk menyerangku lagi. Tapi itu sangat berat, yang membuatku sedikit terlempar mundur ke belakang.


'Fu fu fu. Aku tidak tahu bagaimana kau adalah seorang pengamat, tapi setidaknya aku adalah pengamat sebenarnya. Kau adalah bagian dari cerita, dan aku yang menikmati cerita tersebut.' jawab suara itu sedikit terkikik.


Aku terkejut dengan jawaban itu.


Aku? Aku menjadi bagian dari cerita? Kenapa bisa begitu?!! Bukankah aku adalah pengamat?!!


'Jangan terlalu sombong! Kau hanya karakter yang sudah memiliki peran untuk kau mainkan. Setiap orang memiliki peran masing masing. Dan peranmu adalah mati di sini!!' katanya melalui pikiran.


Aku? Peranku adalah mati?


Jadi, apa karena itu?


Karena itu, aku memiliki kemampuan paling lemah.


Karena itu, aku tidak bisa naik level, dan memiliki statistik awal paling rendah?


Apa karena itu, aku dibuang dan direndahkan??!!!


"Jangan bercanda!!" aku berteriak, tidak terima.


Hanya karena skenario seseorang, aku menjadi seperti ini? Dan seseorang itu menonton ku sambil tertawa menertawakan penderitaan yang aku rasakan seperti menonton film layar lebar?!!


"Jangan bercanda denganku, bajingan!!"


TRANGG!!


Aku berteriak, bersamaan dengan Knight perisai itu datang untuk menghantam ku dengan tangan besinya itu.


BAMMM!!


'Ha ha ha! Itu ekspresi yang bagus. Tapi sayang, bukan aku yang mengendalikan skenario itu. Aku hanya pengamat, dan kau mungkin sudah tahu itu.' suara itu terkekeh dalam benak ku.


Aku sedikit terganggu, ketika aku harus berfokus ke pertarungan, tapi tampaknya makhluk ini juga memberikan informasi yang bagus.


'Kau tahu? Kau lemah. Kenapa kau bergerak ke lantai dua dan merasakan lantai ini jauh lebih sulit? Itu karena kau lemah. Orang yang sudah berkali kali kembali ke lantai satu seharusnya bisa melewati ini dengan mudah.'


"Berisik!!"


'O ya??? Apa kau tidak ingin menerima kenyataan??'


"Berisik, bangsaddd!!!" aku berteriak, sambil mengalirkan sihir ke kaki, agar aku bisa melesat cepat untuk menghindari pukulan Knight ini. Tak lupa, aku segera mengambil Wind Dagger, menusuk kepalanya dengan belati ini dari atas.


Kali ini, aku tidak berhemat sihir, dan memberikan cukup banyak mana untuk Wind Dagger agar bisa membelah tengkorak besar yang keras itu.


TRANGG TANG TANGG!!!


Baju besi ghoul itu mulai jatuh, kehilangan keseimbangannya. Tapi aku ingat, Ghoul tidak akan mati jika tidak dihancurkan. Oleh karena itu...


BOOM!!!


Ledakan terjadi, ketika aku memasukkan batu sihir ke dalam rongga armor yang dipakai Knight itu. Aku tidak akan membuat kesalahan, dan menghabisinya kali ini. Aku tidak menghemat batu dihir, membuatnya hancur berkeping-keping.


Necromancer yang masih membuat ghoul ghoul kecil dan memerintahkannya terkejut melihat Knight nya yang berhasil dihabisi, tapi segera tenang dan memusatkan tenaga nya lagi.


Tampaknya dia berusaha untuk segera menyembuhkan pengguna belati, melihat itu bekerja padaku.


"Aku tahu, aku lemah!" aku berteriak, tersengal sambil berusaha berjalan ke pedang besar yang sempat aku lempar tadi.

__ADS_1


'Benar. Kau lemah. Kau tidak akan bisa bertahan lantai boss ini. Kau tidak bisa naik level, kau tidak memiliki senjata. Sesuai skenario, kau akan mati di ruangan ini, itulah kenapa kau sangat sulit untuk menang.'


Suara di dalam kepalaku itu menertawakan ku, memberikan ku satu kenyataan. Aku tidak bisa menentang itu, karena itu memang benar.


Berjalan kecil ke arah pistol ajaib, aku menyeret kaki ku untuk bisa bergerak sedikit demi sedikit.


Aku akui saja. Aku memang lemah.


Tidak bisa naik level, statistik di bawah rata rata, bahkan aku mungkin lebih lemah dari penduduk biasa di dunia ini. Dan aku yang seperti itu, mendambakan kekuatan besar untuk bisa keluar dari Dungeon ini.


Untuk bisa membalaskan dendam pada dewi sialan itu.


"Bukankah aku sangat sombong?" aku tertawa pelan...


'Yahh kau menyedihkan. Tapi melihat mu seperti itu benar benar membuatku merasa kasihan. Bagaimanapun, kau adalah pengamat. Melihat sesama pengamat seperti ini bagaimanapun, aku harus melakukan sesuatu. Kalau begitu, aku akan memberikan kekuatan ku agar kau-'


"Tidak perlu."


'Heh?'


"Aku sudah bilang tidak perlu, bukan? Apa kau tidak bisa mendengarnya?!" kataku meningkatkan nada suara.


'Tanpa kekuatan ku, kau akan mati, kau tahu?'


SWOOSSHH TRAANG!!!


Sebuah benda melayang di dekat leherku, berniat membunuh ku dalam satu serangan.


Kekuatannya tidak main main, karena bahkan desiran angin yang lewat bersamaan dengan suara dentingan tempat dimana belati itu menabrak, di balik pedang besar yang kupegang di tanganku sekarang.


Aku tahu, ini mungkin sebuah kesombongan untuk berpikir bahwa aku bisa mengalahkan boss lantai ini dengan kekuatan sekarang.


Tapi....


"Aku tidak akan menerima kekuatan apa pun dari mu. Toh kau akan membuatku menjadi bidakmu, kan? Aku tidak akan menjadi bidak siapapun lagi. Aku tidak akan menjadi karakter siapa pun lagi!" aku menarik nafas, mencoba tenang.


Dengan pedang besar di tangan kanan ku, aku mencoba mengalirkan tenaga yang tersisa untuk menghunuskannya.


Beberapa serangan datang, tapi aku entah bagaimana bisa bergerak untuk menghindari itu semua.


"Benar. Kau bilang aku akan mati disini, kan? Aku sudah dituliskan untuk mati disini, kan?" aku tertawa pelan membayangkannya.


"Kalau begitu, bukankah takdir dan semua yang terjadi di dunia ini sudah diputuskan? Itu bagus untukku, karena aku yang seharusnya pengamat justru terlibat dalam cerita utama. Bukankah ini berbahaya? Hei, bagaimana menurutmu?" kataku sambil tersenyum lebar.


Aku melompat tinggi, ketika muncul ghoul dari beberapa arah yang berusaha untuk mengambil nyawa ku. Tapi sayang, aku bergerak lebih cepat.


?!!


SRINGGGGG!!!!!


Suara keras memekakkan telinga terdengar, ketika pedang besar yang aku pegang bergesekan dengan sebuah belati pendek yang datang menerjang. Tentu, itu adalah pria pengguna belati yang kini mampu berdiri untuk menyerangku lagi!


Memutar tubuh, aku menggunakan pedang besar itu sebagai tumpuan. Dengan demikian, aku bisa membuat belati itu masuk terlalu jauh, memberikan celah untuk ku menyerang.


Dengan satu sayatan besar, aku berhasil melayangkan serangan ke arah pria belati itu, membuat tangan kanan nya kini menghilang.


Di saat itulah aku tertawa senang.


"BENAR!! JIKA ADA SEBUAH CERITA DI DUNIA INI..." aku tersenyum lebar sambil menahan diriku yang bergetar karena kesenangan.

__ADS_1


"Biarkan aku menghancurkan skenario itu dong!!" aku tertawa senang.


__ADS_2