No Cheat Another World

No Cheat Another World
51 - Lantai Empat


__ADS_3

"Umm, apa saja yang harus aku bawa yahh, mungkin yang paling penting adalah pakaian tebal dan makanan yang banyak, serta persediaan kalau aku harus bermalam di tempat yang tidak karuan." aku berbisik pelan pada diriku sendiri.


Karena lantai empat adalah adalah neraka es, aku harus menyiapkan semuanya lebih baik.


Beruntung aku menemukan monster beruang dengan nama "Boar" di lantai tiga, dan berhasil mendapatkan kulit mereka yang tebal. Aku akhirnya bisa menemukan solusi untuk masalah pakaian di lantai empat nanti.


Tidak hanya itu, daging beruang ini juga memberikan peningkatan Attack yang cukup signifikan, jadi aku dengan senang hati memakannya.


Oh ya. Untuk hasil kemarin melawan kadal raksasa yang berapi api itu, aku mendapatkan cukup banyak batu sihir dan dagingnya juga aku manfaatkan dengan sebaik mungkin.


Daging mereka memberikan tambahan stat MP dan Attack yang tinggi. Seperti dari yang aku duga dari makhluk paling sulit yang pernah aku temui!!


Dan baiknya lagi, aku mendapat skill [Fire Magic] hingga level 3, jadi aku bisa menembakkan beberapa serangan api yang cukup mematikan!!


Berkat itu, aku yakin tidak perlu kesulitan jika ingin membuat api di sana. Hanya perlu jentikkan jari dan api akan langsung tersedia!!


Untuk masalah makanan juga tidak ada masalah. Karena sapi sapi neraka itu selalu memasok makanan untuk ku. Dan aku selalu memanggang makanan secara rutin. Jadi [Inventory] ku juga mulai penuh dengan stok makanan matang yang hangat, bahkan cukup untuk menghidupi ku selama seminggu.


Aku juga menemukan beberapa hal yang menarik selama mengumpulkan bekal.


Yang pertama, [Inventory] yang levelnya semakin meningkat, akan semakin sedikit pula MP yang dibutuhkan. Itulah kenapa aku sekarang sedang berusaha untuk menaikkan levelnya.


Kedua, aku akhirnya memahami. Bahwa sebenarnya semua orang memiliki semua atribut sihir, tapi itu sangat sulit untuk dikuasai jika tanpa skill magic tertentu.


Sebagai contoh, sekarang aku tidak memiliki skill [Water Magic] tapi aku bisa membuat air dengan sihir ku berkat latihan khusus.


Yahh, itu sangat sulit, jadi aku akan menunda untuk mempelajari sihir lain.


Yang terpenting sekarang adalah, bagaimana cara aku bisa bertahan di lantai empat nanti.


Aku jelas membutuhkan pondok di sana, jadi aku mungkin harus membuat rumah baru.


Tapi, yahh.... Kita tidak akan tahu sebelum berangkat ke sana.


"Kalau begitu, baiklah! Saatnya kita berangkat!!" aku berteriak pada diriku sendiri, berusaha untuk menyemangatinya.


Dengan demikian, aku melangkahkan diri untuk membuka pintu ke lantai empat.


?!!


SWOSSHHHH

__ADS_1


Rasa dingin yang mencekam langsung datang menghampiri ku, padahal ini belum benar benar sampai di lantai empat itu sendiri.


Di depan ku ada lorong gelap yang menanjak, seperti biasa itu adalah tangga.


Tak menghiraukan bagaimana dingin itu menyerangku, aku terus berjalan maju, mulai mendaki untuk menuju ke lantai empat.


Baiklah... Ini masih mudah untukku!!


***


"Jadi ini, lantai empat??" aku terdiam sesaat, ketika aku melihat hamparan neraka putih yang ada di hadapan ku.


Salju, salju, es, es, dan salju yang bisa aku lihat di sekeliling.


Jujur saja, ini jauh lebih mengerikan daripada lantai tiga yang berbentuk lautan lava. Di sini suhu nya hampir minus, yang bisa membuat aku terkena penyakit dingin yang serius. Seperti Hipotermia.


Selain itu....


"Badai salju tak kunjung berhenti, kahh?" tanyaku lagi.


Aku sudah sampai di lantai ini sejak tiga jam yang lalu, dan masih menunggu di balik mulut gua yang lebih aman.


Di depan ku tak kunjung berhenti badai salju yang lebat, membuat jarak pandang kh berkurang jauh. Sangat sulit untuk mengelilingi kawasan ini saat badai, jadi aku memilih untuk menunggu dan berdiam diri.


Humm, mungkin saja ini adalah siklus tertentu, seperti siang dan malam di lantai dua. Bisa jadi begitu.


Kalau kemungkinannnya seperti itu, aku lebih baik membawa kayu dari bawah untuk membangun pondok di atas nanti.


Tangga yang aku tempuh sangat pendek. Hanya sekitar 30 menit dari bawah, jadi aku bisa dengan mudah naik turun jika butuh sesuatu.


Karena tidak mungkin bagiku untuk menerobos badai, aku kembali ke lantai dua untuk menebang beberapa pohon, dan kembali. Semua itu membutuhkan waktu enam jam hingga aku kembali.


Sayangnya kekuatan sihir ku yang sekarang hanya mampu menahan kayu kayu ini dalam waktu enam jam lagi.


Dengan memikirkan hal tersebut, aku akhirnya memutuskan untuk membangun rumah langsung di atas sana.


Di tengah salju yang turun semakin lebat, aku berusaha untuk membangun rumah agar aku bisa berdiam di dalamnya. Tapi tampaknya, itu adalah hal yang cukup berat, karena salju ini sungguh menghalangi.


Aku harus membuat rumah benar benar di atas tanah jika aku tidak ingin rumah buatan ku hancur diterjang badai.


Pada akhirnya, aku berhasil mendirikan rumah di lantai itu setelah memakan waktu 5 jam pembuatan. Dan selama itu, badai salju belum berhenti sama sekali. Aku sedikit sedih terhadap kemampuan ku yang hanya membuat sekotak kecil ukuran 5×6 meter, butuh waktu yang sangat lama.

__ADS_1


Tapi sudahlah. Setidaknya aku punya tempat untuk berlindung dari badai salju.


Waktu yang panjang itu aku gunakan untuk membaca buku peninggalan Fei yang sangat menumpuk, karena aku sendiri juga luang. Yahh, aku mendapat banyak pengetahuan lebih dari buku buku ini, jadi aku dengan senang hati membacanya.


Semua berjalan cepat ketika aku menghabiskannya dengan tenang. Tak terasa, 5 jam lagi sudah berlalu dan badai salju kini telah berhenti.


Sepertinya ada siklus 12 jam badai salju di lantai ini, tapi aku tidak tahu apa yang akan menyambut ku setelah badai salju ini. Jadi untuk berjaga jaga, aku tidak akan berjalan cukup jauh dari gubuk ini.


SRET SRET....


Suara salju yang aku injak semakin dalam terdengar menenangkan diantara suara angin dingin yang semakin menusuk ini.


"Hufft. Dingin. Aku ingin mencari buku yang mengajarkan cara membuat pakaian yang benar kalau bisa. Ini sangat dingin." aku mengeluh pelan. Mungkin karena aku sudah mulai terbiasa dengan panas mengerikan di lantai tiga, jadi aku sangat kedinginan di lantai empat ini.


Aku ingin berbicara pada diriku sendiri saat ini untuk menghilangkan kebosanan dan ketidaknyamanan pada diriku, sungguh. Tapi itu bisa jadi mengundang beberapa hal yang tidak diinginkan, jadi aku akan berhenti.


??


"Pohon?" aku berbisik pelan, sambil bertanya heran.


Itu adalah benda yang menjulang tinggi, tetapi salju dengan beberapa hijau dsn coklat di balik lapisan salju itu.


Mirip pohon cemara, dan mungkin aku bisa memanggilnya pohon cemara mulai sekarang. Tapi itu jelas adalah sebuah pohon, dan aku yakin itu juga memiliki kayu yang kuat.


Dengan kata lain, disini pasti tersedia beberapa makhluk hidup lain.


Tapi kalau seperti itu, artinya aku bisa membangun sesuatu tanpa harus turun ke lantai dua. Walau basah, tapi aku yakin bisa mengeringkannya di lantai tiga.


"Baiklah, sekarang apa yang harus aku lakukan..." kataku pelan sambil menatap pohon itu.


Tidak hanya satu, ada beberapa pohon yang ada di depan ku. Tangan pengrajin ku gatal untuk menebang mereka semua, tapi aku menahannya untuk tidak melakukan itu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku membuat keributan disini.


SRAKK!!!


Suara sebuah semak yang dikenal oleh makhluk hidup terdengar, tapi cukup jauh terdengar. Aku segera merunduk, menyembunyikan diri ku dibawah salju.


Aku memakai bulu Boar yang coklat, jadi aku terlihat sangat jelas jika aku tidak menyembunyikan diri.


Tapi itu...


"Cukup kecil? Apa itu?" tanya ku bertanya tanya.

__ADS_1


Aku mengawasi sekitar, untuk memastikan tidak ada yang mengawasi ku. Namun aku bergerak untuk memastikan asal suara tersebut.


__ADS_2