No Cheat Another World

No Cheat Another World
- 24 - Kandidat Baru


__ADS_3

Latihan yang dilakukan oleh para kesatria dilakukan untuk 2 minggu, dan beberapa sparing sampai mereka semua benar bener yakin dengan kekuatan yang mereka sendiri.


Dan menurut jadwal, mereka semua akan keluar untuk berlatih membunuh monster dalam waktu satu bulan setelah mereka dipanggil ke dunia ini.


Semua itu terlihat seperti disiapkan oleh para kesatria, padahal pada dasarnya, Chiyo yang merencanakan itu dengan bantuan kemampuan adaptasi nya yang luar biasa. Dan dengan itu, dia memiliki akses yang berbeda kepada para kesatria.


Ditambah dengan Chiyo yang merupakan "Priest", membuatnya lebih mudah mendekati orang lain.


Dia saat ini mengawasi yang lain sambil terus memberi Shia informasi, dengan dalih berlatih untuk meningkatkan sihir.


"Hei, Chiyo. Bagaimana keadaan mu disana?" tanya Shia saat bertemu dengan Chiyo, dan Leona dalam pertemuan kecil mereka.


Ini adalah pertemuan yang rutin mereka adakan, untuk membahas apa yang akan mereka lakukan selanjutnya, seraya melaporkan hasil kerja masing masing bagian yang mereka urus.


"Aku baik. Dan seperti yang aku kira, aku mudah mendapat posisi di barisan kesatria. Bagaimana dengan mu, Shia?" jawab Chiyo yang menanyai balik.


"Yahh, aku juga cukup baik. Latihan ku berjalan lancar."


"Apalagi aku sudah sering bermain kendo saat sekolah dulu, jadi mengayunkan pedang benar benar bukan masalah untukku. Yang jadi masalah adalah mental ku sekarang. Untuk monster biasa, aku tidak apa. Tapi kalau yang keluar monster serangga, itu akan jadi masalah, sungguh...." lanjutnya sambil sedikit bergidik ngeri.


"Yahh, benar. Aku tidak bisa membayangkan ada seekor kecoa yang luar biasa bes-"


"JANGAN KATAKAN ITU!!!" teriak Shia seketika, seraya menutup wajah, menangis.


"A-ahh. Baiklah. Jangan menangis. Aku minta maaf... Aku tidak akan mengungkit itu lagi... Oh ya! Bagaimana dengan keadaan Bu Leona di sana, apakah ada sesuatu yang berubah? Bagaimanapun, tugas nya adalah yang paling berat..." kata Chiyo seraya mengalihkan perhatian.


Shia masih terlihat pucat, sambil menengok pelan ke arah Leona.


"Ughh.. Tolong aku... Mencari murid yang benar benar peduli sepertinya agak sulit, jadi aku belum menemukan satupun dari mereka..." jawab Leona sambil sedikit terpuruk.


Chiyo tersenyum, seperti sudah menduga itu.


"Yahh, aku tahu, itu tidak mudah. Tapi mau bagaimana lagi. Itu adalah tugas yang hanya bisa ibu lakukan, karena hanya ibu yang paham karakteristik anak anak di kelas kami. Dan yahh, itu adalah tugas yang tidak mungkin bagi kami." jawab Chiyo berusaha menghibur Leona.


Leona sedikit bangun dari meja, mencoba mengelap air mata nya yang keluar setelah memikirkan bagiannya yang tak kunjung memberi tanda selesai.

__ADS_1


"Yahh, itu yang jadi masalahnya. Aku cuma tahu sifat mereka sebelum pindah kemari. Dan aku akui, mereka semua berubah. Aku seakan tidak mengenal mereka lagi." kata Leona dengan sedih.


Chiyo mengangguk.


"Tapi, apakah ibu sudah memiliki sosok yang sedang ibu awasi? Kalau kalau kami bisa membantu." tanya Chiyo lagi.


"Humm, benar. Ada beberapa yang menarik perhatian ku, sejujurnya." jawab Leona sambil menarik benda seperti buku dan bolpoin, yang terlihat seperti buku catatan.


"Tunggu, Bu Leona! Ibu bisa membawa diary ibu ke dunia ini?!!" teriak Shia menyela.


"Ini terbawa karena saat itu ada di saku ibu. Dan aku bersyukur karenanya." jawab Leona singkat.


"Oke. Orang yang menarik perhatian ku. Yang pertama. Dari murid laki laki, ada dua yang sepertinya cocok. Yang pertama, Gorou Yamakane. Dia adalah atlet judo, oleh karena itu, badannya tinggi besar, juga kepribadian nya lurus. Aku yakin dia merasakan kejanggalan juga disini." kata Leona mulai bercerita.


"Yang kedua, Arka Kuraikara. Arka berasa dalam satu grup yang sama dengan Gorou. Dia terlihat tidak peduli dengan apa yang terjadi pada kelas, dan hanya memperhatikan dari jauh. Padahal nyatanya dia melakukan banyak hal di belakang, tanpa sepengetahuan teman teman nya."


"Mereka berdua berkelompok, dan mungkin sama dengan kita. Mereka adalah orang yang merasakan kejanggalan pada Dewi Atla." jelas Leona panjang lebar.


Yang lainnya mendengarkan baik baik, sambil sesekali mengangguk pelan.


"Lalu, bagaimana dengan yang wanita?" tanya Shia sedikit tidak sabar.


"Mungkin kalian sudah tahu ini, tapi aku akan menjelaskan. Kandidat selanjutnya adalah Shindou Arima."


"Yeah!"


"Sudah kuduga."


Shia sedikit melompat senang, sedangkan Chiyo tersenyum, sambil agak menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Tapi tepat setelah itu, Leona menunduk, sedikit murung. Tampaknya dia memikirkan sesuatu. Chiyo segera menyadari itu, dan bertanya apa yang terjadi pada Leona tiba tiba.


"Tidak, aku hanya memikirkan sesuatu yang kasar dalam pikiranku. Jangan hiraukan." jawab Leona cepat.


"Yahh, sudahlah! Katakan saja! Jika kau terus memendamnya, akan tumbuh jerawat di wajah mu loh, bu Leona!!" ucap Shia ditambah sedikit bercanda.

__ADS_1


Leona memikirkan sesaat, lalu tersenyum.


"Aku memang tidak pernah bisa melarikan diri dari bujukan kalian..." katanya.


"Baiklah. Maaf jika aku terdengar agak tidak sopan. Tapi aku memiliki sedikit ketakutan, atau mungkin dugaan yang tidak berdasar pada Shindou. Bisa jadi, dia akan memilih di pihak Dewi." lanjut Leona sambil memegang dagu, menatap yang lain dengan wajah bermasalah.


"Heh? Kenapa?"


"Yaahhh, jika disuruh menjelaskan..." Leona menggaruk kepalanya pelan, lalu mengambil buku catatannya


"Shindo Arima berasal dari keluarga pemilik Kenjutsu yang sangat hebat, dan juga rasa keadilan yang kuat. Bagaimana mengatakannya... Saat ini, kita dihadapkan dengan pilihan melawan Dewi atau menyelamatkan dunia."


"Jelas, menyelamatkan orang orang yang ada di dunia ini merupakan keadilan yang baik, karena bagaimanapun, nyawa orang banyak lebih berharga dari beberapa orang saja." Leona mulai menggambar sesuatu.


"Selain itu, jika kita mengalahkan Dewi dan kembali ke dunia kita, jelas akan terjadi sesuatu yang buruk di dunia ini, bukan? Dan kita pergi begitu saja. Jelas, rasa keadilan Shindou tidak akan membiarkan itu begitu saja." jelas Leona panjang lebar.


Leona memberi ilustrasi seseorang yang berada di depan timbangan, yang menggambarkan beberapa orang dan bola mirip bumi.


Segera, ruangan menjadi sedikit berat.


"I-itu benar. Kenapa aku tidak pernah memikirkannya... Padahal seharusnya aku adalah temannya yang terdekat saat ini..." kata Shia sedikit terpuruk.


"Tidak apa!" teriak Chiyo tiba tiba, di tengah keheningan.


"Heh?"


"Tidak apa, sudah ku bilang!!" teriak Chiyo sekali lagi, dengan nada yang lebih jelas.


"Begini. Aku membuat pahlawan Shia bukan karena tanpa alasan. Tentu, aku juga membantu orang orang yang ada di dunia ini. Yang salah hanyalah Dewi, tapi orang orang di dunia ini tidak." cerita Chiyo.


"Jadi, kita akan mencari cara untuk pulang sambil membantu orang orang di dunia ini. Bukan begitu?" sahut Shia cepat, memberikan kesimpulan.


"Benar sekali." Chiyo tersenyum.


"Begitu... Dengan begitu, kita juga bisa mengenal lebih luas dunia ini, sambil mencari cara untuk kembali, atau rencana Dewi. Bahkan kita juga bisa mencari cara untuk mengalahkannya! Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui, bukan?" tambah Leona yang memberi penjelasan.

__ADS_1


Chiyo mendengar itu mengangguk senang, dan sedikit kagum dengan kecepatan berpikir mereka.


"Benar. Ayo kita bersihkan dunia ini, lebih tepatnya!!" kata Chiyo sedikit bersemangat.


__ADS_2