
Aku tidak tahu harus berkata apa sekarang.
Informasi yang aku dapat semua sangat berguna, dan akan membantu ku dalam melewati semua masalah yang ada di depan.
Tapi, melihat sosok Fei yang rapuh di hadapan ku, aku tidak yakin bisa melakukan itu sekarang.
"Umm, bagaimana mengatakannya..." ahhh, bodohnya aku, kenapa aku harus berbicara di suasana suram dalam hening ini?! Apakah bisa aku menarik lagi perkataan ku? Tidak bisa, kan?!! Bagaimana ini...!!!!
"K-kau su-sudah melakukan yang terbaik. Tak perlu mencemaskan berbagai hal, kau sudah melakukan hal yang benar." kataku.
Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia memandangku dengan matanya yang melebar.
Hei hei hei! Tolong katakan sesuatu! Jangan buat suasana nya menjadi canggung... Ahh, aku harus mengatakan beberapa kata lagi...
"Yahh, begini. Walaupun semua orang yang ada di dunia itu memusuhi mu, aku tidak akan sekali pun membenarkannya. Aku akan selalu berada di pihakmu, begitu. Jika aku keluar nanti, aku tidak akan membiarkan satu orang pun yang bicara buruk tentang mu lolos, oke!!" kataku tersenyum sambil memberikan ibu jariku.
Fei masih terdiam, melongo menatapku dengan tatapan sedikit terkejut.
Tapi setelah cukup lama, ekspresi kosong nya menghilang, dan muncul garis senyum di bibirnya yang kecil.
"Begitu. Kau akan selalu di pihak ku, kah? Umm. Itu bagus. Ya. Benar." ucapnya pelan sambil tersenyum tipis.
"Ya. Kau benar, Ryoka. Aku sudah mengingat nya!! Aku sudah melakukan yang terbaik, dan sudah melakukan hal yang benar, kan? Kalau begitu..." kata katanya entah kenapa membuatku menahan nafas.
"Bolehlah aku beristirahat?" tanya nya, tetap dengan senyum di wajahnya.
Ahh, begitu.
Seharusnya aku tahu. Seharusnya aku mengerti. Dia tidak seharusnya disini. Walau memang memiliki perasaan dan pikiran, itu hanya sementara. Dan itu tidak selamanya. Aku bahkan tidak tahu, apa yang dia katakan akan benar benar diingatnya.
Dengan kata lain, dia hanyalah sesuatu yang tidak nyata.
"Saatnya aku bangun dari mimpi ini, kah?" tanya ku pelan, pada diriku sendiri.
"Humm? Apa kau tadi bilang sesuatu?" Fei bertanya penasaran.
__ADS_1
"Tidak. Tidak ada. Aku hanya berkata, bahwa itu berarti ini perpisahan, bukan?" tanya ku sambil mengulurkan tangan, menawarkan sebuah jabatan tangan.
Dia melihat tangan ku, lalu ke wajahku.
"Tidak. Aku tidak mau." katanya seraya sedikit memalingkan muka.
Aku sedikit terpukul dengan itu, sungguh! Tapi baiklah. Aku tidak apa! Aku tidak sakit hati! Aku tidak akan menangis! Sial! Diriku! Tahan air mata ini!!
Tidak memperhatikan, aku merasa bayangan hologram itu mulai maju, dan tampak semakin nyata. Sihir yang aku rasakan juga semakin padat, dan tampaknya semakin kompleks di sana.
"Aku tidak mau hanya berjabatan tangan dengan mu." bisik nya di telinga ku.
?!!
Perasaan hangat di telinga ku, juga getaran yang dihasilkan oleh bibirnya... Itu semua terasa nyata!!
Tak terasa, aku melompat mundur, memegang telingaku. Sampai aku sadar, bahwa sosok yang ada di depan ku kini tidak lagi berbentuk hologram, dan bahkan menapak ke tanah. Tapi aku tahu, sihir yang ada di sekitar ku semakin padat.
"Aku tidak ingin hanya berjabat tangan. Maafkan aku, Ryoka. Tapi....." sosok itu berjalan mendekat. Entah kenapa aku bisa merasakan getaran setiap kaki nya yang datang, mendekatiku.
Sosok itu, bukan. Fei datang dengan tangan terbuka, menuju langsung ke arah ku.
Fei, dia memelukku.
Aku sedikit, tidak. Sangat terkejut dengan itu. Jujur saja aku sempat membeku selama beberapa detik.
Tapi....
"Tidak. Tidak merepotkan, sungguh. Kau memperkuat sihir yang kau miliki, hanya untuk mewujudkan tubuh mu menyerupai aslinya, kan? Dan aku yakin, itu sangat sulit." aku berbisik, seraya menggerakkan tangan ku untuk membalas pelukannya.
"Kepekaan sihirmu bertambah! Yahh, begitulah. Ada sebagian ingatan yang datang, yang membuatku sadar bahwa aku sudah tidak ada di dunia ini. Oleh karena itu, aku ingin melakukan ini, mungkin?" jawabnya.
Aku membelalakkan mata mendengar itu.
"Tunggu, benarkah?! Kukira-"
__ADS_1
"Jangan bergerak!!" Fei menahan tubuhku yang berusaha melepaskan pelukannya, ketika aku berusaha bertanya apa yang dia maksud dengan "tidak ada di dunia ini".
Dengan demikian, aku tidak bisa bergerak, dan hanya menurut.
"Aku yakin aku sendiri sudah mati sejak lama. Dan yang datang hanya sebutir ingatan. W-walau begitu, jiwa ku masih tertahan di sini, sehingga belum pergi untuk bereinkarnasi. T-tapi kau datang, membuatku lebih tenang untuk pergi. T-terima kasih." kata Fei sedikit bergetar di suaranya.
Tidak kuat menahan, aku hanya bisa mengambil nafas, tersenyum.
"Tidak, aku hanya seseorang yang lewat saja. Justru aku yang terbantu olehmu. Kau adalah penyelamat hidupku. Bahkan setelah kau tidak ada di sini, kau tetap menjadi pahlawan, kan?" aku menepuk punggungnya pelan, menenangkannya.
Tak butuh waktu cukup lama, untuk menghentikan isak tangis pelan Fei, yang kini berubah menjadi senyum.
Dia melepas pelukannya, dengan mata yang terlihat basah, tapi tetap dengan senyum di matanya. Sekilas, aku melihat sebuah glitch kecil, mungkin tanda sihirnya yang sudah berada di batas maksimal nya.
"Terima kasih, Ryoka! Aku yakin kita akan kembali bertemu!!" katanya, menggenggam kedua tangan ku.
"Yahh, begitulah. Tapi aku tidak menyarankannya cepat cepat, karena bisa jadi aku belum keluar dari Dungeon ini, kau tahu?" aku tertawa pelan.
"Aha ha ha! Itu benar juga!"
Dia mulai memudar, dan tanganku yang digenggam nya mulai menembus jari jarinya.
"Ah benar! Kalau bisa, jangan terlalu banyak menyerap batu sihir, Ryoka. Aku tak tahu bagaimana kau melakukannya, tapi itu bukanlah hal yang baik. Tapi aku yakin, kau pasti tahu itu." dia berkata sedikit berteriak.
"Ahh, kau sudah tahu, kah?"
"Kalau itu, jelas. Yahh, itu sudah terjadi sejak awal, jadi jangan khawatir." dia hanya nyengir tidak jelas.
"Kalau begitu, ini sebagai hadiah perpisahan dari ku.." ucapnya sebelum tiba tiba dia berubah menjadi pecahan cahaya, dan akhirnya terbang seperti kunang kunang bercahaya, dan melebur bagai debu yang tertiup angin.
Sebagian cahaya itu masuk ke tubuh ku, membuat ku merasakan dada ku sedikit ringan.
"Terima kasih, Ryoka!" aku mendengar suara samar, tapi cahaya di hadapan ku sudah hampir hilang.
...{Mendapat skill: [Lonely Heart]. Efek\= Meningkatkan Resistensi terhadap Miasma}...
__ADS_1
Aku mendengar sebuah pemberitahuan di telinga ku, dan tertawa.
"Bahkan sampai akhir, kau tetap melakukannya, kan?" aku menutup mata, menyatukan tangan, berdoa untuknya.