![Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]](https://asset.asean.biz.id/oh--my-uncle---on-going-revisi-berjalan-.webp)
Rasanya akhir-akhir ini aku jadi aneh. Perasaanku bercampur aduk. Antara bahagia, sedih, benci, marah, kesal, semuanya beradu dalam kepalaku. Yang bisa kulakukan hanyalah tetap tenang agar semuanya normal kembali.
Kutatap sekilas wajah Desy di depanku ini. Perasaan campur aduk ini sungguh tak nyaman. Tapi aku tetap harus bersikap biasa saja di manapun itu.
“Gue bawa info menarik," seruku tiba-tiba.
Desy menatapku penasaran. “Info apaan. Lo sama Rizky udah jadian?”
Aku mendelik ke arahnya. “Bukanlah! Jangan ungkit hal itu lagi. Jadi kesal tau dengar namanya disebut-sebut,” ketusku.
Aku bersedekap sambil menyandarkan
punggungku di sandaran kursi. “Mereka mau nikah.”
Desy melotot kaget ke arahku. “Kapan?” tanyanya masih dengan tampang kaget.
“Nggak tau, belum ditentuin,” ucapku jujur.
Yaiyalah jujur. Tapi masalahnya bukan jujur atau tidak. Saat menceritakan perihal ini pada Desy, entah kenapa aku malah merasakan hal tak terduga.
“Nanti kalo udah ada kepastian, lo orang pertama yang gue undang.”
“Hah? Emangnya itu nikahan lo!” seru Desy.
“Maunya gitu.”
Desy terbelalak mendengar ucapanku yang kelewat santai. Tapi aku malah biasa saja. Bukan, tapi lebih ke arah meredam perasaan aneh yang kurasakan ini.
Apa orang lain juga merasa bahagia saat membenci sesuatu?
__ADS_1
*****
"Eh, Des. Apa gue bilang. Lo orang pertama yang gue undang,” bisikku setelah menyikutnya pelan.
Desy melirikku tajam. Tajam banget sampai akupun dibuat bungkam. “Sstt, diam Ka. Orang lagi ijab Kabul di sana,” ucap Desy sambil berbisik.
Wajahku tertekuk kesal. Apa-apaan, sih, Desy. Aku cuma berbisik, itupun pelan banget. Ini kan, pernikahan Uncle yang adalah pamanku, masa aku tidak diperbolehkan bicara sama sekali. Gatal banget mulutku kalo nggak bicara hal yang membangakan bagiku.
"SAHHH!”
Kepalaku mendogak karena kaget dengan seruan Pak Penghulu. Kulihat Bu Alana mencium tangan Uncle dan Uncle mencium pelipisnya lalu bergumam sesuatu. Jelas banget dia sedang berbicara karena bibirnya yang terus bergerak.
Mungkin tentang rencana selanjutnya setelah pesta ini berakhir.
Ah, tak bisa dipungkiri lagi betapa terpukulnya aku. Tapi biar begitu, aku masih merasa sedikit bahagia. Melihat kejadian ini sendiri membuat dadaku sesak, namun tak semua. Kini nggak ada lagi kesempatan. Semuanya sudah berakhir. Tak ada yang perlu diperjuangkan.
Aku mengambil makanan yang disajikan. Setelah selesai mengambil semua makanan yang terlihat enak, kepalaku celingak-celinguk mencari sosok Desy yang mungil. Aha! Dia ada di sana, bersama suaminya. Untung Kak Revan tinggi hingga aku bisa melihat keberadaan mereka.
Kuhampiri mereka berdua dengan tampang tidak peduli. walau sebenarnya aku iri setengah mati. Saat orang lain pergi ke nikahan seseorang dengan pasangan, aku malah sendirian tanpa pasangan. Jadinya sepi, tapi aku menikmati saja.
“Des, menurut lo malam pertama sakit nggak?” tanyaku tiba-tiba.
“Eh, paham situasi dikit dong kalo mau nanya begituan. Yang lain bisa dengar tau,” ujarnya kasar.
Aku hanya meringis saat Desy malah menatapku horor. “Yah, gue kan cuma nanya. Lo kasar banget bilangnya.”
“Iya deh, gue salah ngebentak lo,” ucap Desy pelan.
“Gimana perasaan lo sekarang, Ka?”
__ADS_1
tanya Desy.
Senyum miris terbit begitu saja di
bibirku. “Yah, seperti yang lo lihat sekarang. Gue bahagia ..”
Kata-kataku terhenti. Aku dan Desy bersitatap penuh keheranan.
Aku bahagia?
Atas dasar apa coba?
Tiba-tiba semuanya malah jadi kacau di dalam kepalaku. Saling bertabrakan ke sana kemari. Kepalaku pening hingga membuatku mengerutkan dahi.
“Lo kenapa, Ka?” tanya Desy. Suaranya yang terdengar khawatir berdengung di telingaku. Lalu dengung panjang seperti lebah terasa menusuk indra pendengaranku.
Apa yang terjadi padaku?
“Ka, jawab pertanyaan gue.”
Suara Desy malah semakin membuat dengungan itu kian keras. Aku hanya menatap kosong tepi meja. Tak tahu lagi bagaimana harus menghilangkan dengungan menyakitkan ini.
Jantungku mulai berdebar-debar kencang. Napasku pun menjadi tak beraturan. Suara Kak Revan yang membantuku sadar dari kondisi ini pun hanya terdengar sayup-sayup. Sekarang telingaku, kepalaku, dan tubuhku terasa dipenuhi sesuatu yang aneh.
Aku nggak ngerti dengan situasi ini. Ini membingungkan sekaligus … menyenangkan.
Ya, rasanya menyenangkan. Saat telingaku mulai terbiasa dengan suara dengungan itu hingga aku tak lagi mendengar suara apapun. Seakan pendengaranku lumpuh seketika. Sesuatu di dadaku terasa meletup-letup menghasilkan sensasi aneh. Pikiranku kosong dan hampa.
Lalu semuanya gelap. Yang terakhir kuingat adalah bayangan hitam entah apa.
__ADS_1