![Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]](https://asset.asean.biz.id/oh--my-uncle---on-going-revisi-berjalan-.webp)
Dering ponsel yang panjang membuatku mau tak mau harus menghentikan sejenak kegiatanku. Di layar ponsel yang menyala, terlihat jelas id caller si penelpon. Aku segera menjawab panggilan itu. Suara Uncle yang rendah menyapa indra pendengaranku.
“Matkul kamu sudah selesai? Uncle tunggu di parkiran fakultas Ekonomi.”
Panggilan itu segera kumatikan sepihak tanpa menunggu Uncle selesai bicara. Mataku melirik jam di pergelangan tanganku yang sudah menunjukan pukul lima sore. Tergesa-gesa aku membereskan semua kerjaanku, dan bergegas pergi menuju tempat parkir fakultas Ekonomi.
Jarak dari perpustakaan fakultas Teknik yang begitu jauh tak membuatku memelankan laju lariku. Napasku tersenggal-senggal. Dari pandangan mataku mobil Uncle sudah terlihat jelas. Walau masih harus berlari kencang saat mendekatinya. Hal ini kulakukan agar tak ada yang mencurigaiku. Hidupku penuh dengan rahasia.
Kubuka pintu mobil dengan kasar dan menutupnya sama kasarnya, hingga suara dentuman keras terdengar mengejutkan dua makhluk hidup di dalamnya. Kusandarkan tubuhku yang lelah di kursi, sambil mencoba menormalkan napasku yang masih naik-turun tak beraturan.
“Halo, Erika,” sapa Bu Alana dari tempat duduk depan. Aku tersenyum tipis menanggapinya. “Halo juga, Bu,” balasku.
Tanpa basa-basi lebih lanjut lagi, mobil yang dikemudikan Uncle keluar dari lahan parkir. Di perjalanan aku hanya terdiam. Berusaha untuk tak mempedulikan dua makhluk hidup yang sedang berbagi cinta di depan sana. Mataku terputar malas. Aku sungguh tak dianggap di sini.
Jika saja aku tahu akan pulang bersama seperti ini, aku lebih memilih berangkat sendiri ke tempat tujuanku. Aku hanya bisa tersenyum miris saat melihat mereka berbagi kasih dan sayang, sedangkan aku hanya berusaha tenang agar aku tak berkata kasar untuk menyuruh mereka berhenti. Mereka itu sadar ada aku nggak, sih? Sangat mengesalkan.
Bertambah lagi hal yang kubenci. Aku benci pulang bertiga seperti ini.
Jika saja bukan karena toko buku baru itu, aku juga nggak berniat berada di situasi seperti sekarang ini. Situasi yang malah membuatku berkecil hati untuk memperjuangkan Uncle. Semakin kulihat kemesraan mereka, semakin ingin aku berada di tengah-tengah mereka dan berteriak sekerasnya bahwa aku masih berada satu tempat yang sama dengan mereka. Setidaknya mereka sadar situasi dikit atau apa gitu. Ini malah terlihat seperti aku bukanlah hal yang wajib diperhatikan.
__ADS_1
Sialan mereka! Bikin muak aja.
Bu Alana adalah pacar dari Uncle jauh sebelum aku datang ke sisi Uncle. Dilihat dari sisi manapun, pihak yang bersalah adalah aku. Waktu membuatku hadir di saat yang salah. Waktu juga yang membuatku merasakan hal tragis. Waktu juga yang menghadirkan rasa nyaman yang teramat nyaman pada diriku. Waktu juga yang membuatku sakit hati.
Jadi, yang punya banyak salah di sini adalah waktu. Dia pihak yang paling bersalah di sini. Sedangkan aku hanyalah korban dari permainan antara takdir, nasib, dan juga bersama campur tangan waktu. Mereka semua bersalah padaku. Aku benci mereka, tapi tak pernah bisa kutolak permainan mereka. Walau ingin rasanya merangkai hidupku sendiri tanpa diganggu-gugat oleh pihak manapun.
Tapi itu hanyalah angan. Impian banyak orang yang tak akan pernah terwujud sampai mati sekalipun. Hidup ini sungguh menyedihkan.
Perlahan mobil yang dikendarai Uncle memelankan lajunya dan menepi tepat di depan toko buku baru. Bergegas aku turun dari mobil dan mengucapkan. basa-basi tak berharga sebelum akhirnya mobil itu melaju, dan menjauh dari pandanganku.
Kini tinggal-lah aku sendiri. Bu Alana dan Uncle sudah pulang. Mengingat mereka yang pulang berdua membuatku merasakan sesak di dada. Bu Alana adalah alasan kenapa aku selalu ditinggal sendiri. Aku tak membenci dosen cantik itu. Tapi bagiku, hadirnya adalah masalah untukku. Dia yang menyebabkan jarak antara aku dan Uncle tak pernah lebih dari keponakan dan pamannya sendiri. Tentu saja, aku selalu mengharapkan yang lebih dari sekadar hubungan seperti itu. Tapi karena Bu Alana, semuanya terasa sia-sia.
Tanpa uluran tangannya, aku bukanlah apa-apa.
Jika waktu menginginkan Uncle pergi dari hidupku, biarlah aku menikmati sedikit waktu lebih lama dengannya. Sampai saat aku siap untuk Uncle pergi dari sisiku. Uncle teramat berharga bagiku. Yah, walaupun dia berharga tetap akan ada saat dia lepas dari genggamanku. Aku harus bersiap untuk saat-saat itu.
*****
Pukul sepuluh malam lebih aku sampai di rumah. Tak ada tanda-tanda kehidupan di dalam rumah saat aku memasukinya. Uncle belum pulang, mungkin ada urusan di luar. Atau, sekarang ini dia sedang bersama pacarnya itu. Kulangkahkan kakiku menuju meja makan dan meletakan sebungkus bakso yang masih hangat di meja. Lalu pergi dari sana menuju kamar dan membersihkan diri.
__ADS_1
Makan malam sendiri itu sudah biasa bagiku. Uncle selalu punya kesibukan entah apa di malam hari. Tiba-tiba ia bisa pergi meninggalkanku sendiri lalu pulang tak menentu. Rasa kesepian yang bersemayam di tubuhku mungkin sudah tertutup oleh rasa sukaku yang teramat besar pada Uncle. Apapun yang ia lakukan aku selalu memakluminya. Tak ada yang bisa kularang. Memangnya aku siapa? Aku kan, hanya keponakan angkatnya saja.
Pernah terpikirkan olehku untuk tak menerima uluran tangannya. Apa semuanya akan berubah? Mungkin, aku bisa sesuka hati merebutnya kapan saja jika kami tak terikat hubungan yang menyedihkan ini.
Aku memang menyedihkan. Sudah hampir hidup terlantar, dan kini sudah hidup bahagia, aku malah tak bersyukur sama sekali. Situasi menyebalkan.
Aku menyeruput kuah bakso setelah meniupnya sebentar. Hangatnya kuah bakso menyebarkan ketenangan pada diriku. Daripada terus-terusan memikirkan betapa kejamnya situasiku sekarang ini, lebih baik kunikmati saja bakso ini dengan tenang. Tenang dan sepi. Hanya dentingan sendok yang beradu dengan mangkuk, yang membuat malamku tak terasa terlalu sepi.
Setelah menyelesaikan makan malam, aku kembali ke kamar. Berniat melanjutkan tugas-tugasku yang terhenti sore tadi. Aku duduk termenung di depan meja belajar. Tugas-tugas itu seakan tak menarik perhatianku sama sekali. Hanya tatapan hampa kulayangkan pada tumpukan tugas-tugas itu.
Aku menggeleng, lalu mulai mengerjakan tugas-tugasku. Tak bisa dipungkiri, bayangan Uncle malah sibuk berputar-putar di kepalaku. Namun aku lagi-lagi menggeleng. Berusaha untuk menyingkirkan bayangan menganggu itu.
Aku mendengkus kasar. Pikiranku kenapa sih? Fokus dong! Nih tugas udah banyak aku malah berpikir ke mana-mana. Sial! Kenapa aku jadi kepikiran sama Uncle yang belum pulang. Kuusap wajahku kasar. Kutarik napas panjang lalu mengembuskannya dengan tenang. Setelah yakin pikiranku tak terbang ke mana-mana, tugas yang menumpuk mulai kuselesaikan satu-persatu.
Waktu terasa cepat sekali berlalu. Rasa kantuk dan lelah menyerangku tiada henti. Aku menguap lebar-lebar sambil berdiri dan meregangkan tubuhku yang terasa kaku. Tak terasa tengah malam sudah lewat. Kubaringkan tubuhku di kasur. Empuknya kasur terasa membelai lembut tubuhku. Mataku terasa berat, namun rasa khawatir yang menyerang tiba-tiba menghilangkan sebagian rasa kantukku.
Mataku terus fokus menatap langit-langit kamar yang remang-remang. Cahaya yang menyinari kamar hanya berasal dari lampu meja di samping tempat tidur. Lagi-lagi, pikiranku berkelana ke mana-mana. Uncle memang tak perlu diperhatikan, apalagi dikhawatikan. Dia adalah pria dewasa yang tahun depan sudah berkepala tiga. Sudah cukup dewasa untuk tahu menjaga diri sendiri.
Namun rasa itu tak bisa hilang begitu saja. Bukan tak mau hilang, tapi aku yang memastikan rasa itu tetap ada, agar aku yakin bahwa keberadaan Uncle masih kubutuhkan di sini. Di sisiku.
__ADS_1