![Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]](https://asset.asean.biz.id/oh--my-uncle---on-going-revisi-berjalan-.webp)
Erika menghela napasnya pelan. Ia turun dari taksi dengan pandangan terarah pada rumah berlantai dua. Setelah membayar ongkos taksi, ia berjalan mendekati pintu gerbang yang tertutup tapi tidak dikunci.
Ia melangkah masuk dengan perasaan penuh harap. Semoga ia tak lagi dibuat pusing di sini. Namun, itu hanyalah harapan yang mungkin tak akan tercapai. Pulang kemari juga bukan maunya. Jika bukan karena Uncle-nya yang memohonnya untuk pulang, dia juga tak mau pulang ke sini.
Tapi ini juga bagus, setidaknya Erika tak lagi merepotkan ibu hamil itu dengan segala keanehannya. Biar nanti Uncle-nya saja yang repot. Itu lebih baik.
Pintu rumah itu dibukanya pelan. Pandangannya langsung jatuh pada Uncle yang duduk di sofa dengan kepala tertunduk lesu.
“Erika pulang,” ucapnya datar.
Erika berjalan tak peduli melewati Uncle-nya. Baginya, Uncle sudah bukan lagi pamannya. Dia hanyalah orang asing yang tinggal seatap. Yah, seharusnya Erika berpikiran begitu sejak dulu. Tapi namanya juga takdir. Sudah tertulis dan tak bisa ditolak.
Apapun yang Erika rasakan saat ini, ia yakin ia tak akan lagi merasakan hal yang sama pada Uncle-nya itu. Bagaimanapun, ia sadar Uncle-nya tak akan bisa menjadi miliknya. Kenyataan yang cukup menyakitkan, namun sudah ia terima sekarang.
Erika membuka pintu kamarnya. Namun sebelum masuk, Erika berbalik dan menatap pintu kamar Ema yang tertutup. Anak itu kabarnya bagaimana, ya? Batinnya bertanya-tanya. Setelah pergi cukup lama, dan kembali karena berita mengejutkan, Erika akhirnya sadar bahwa keluarga Uncle-nya tak lagi berada dalam keadaan baik.
Apa mungkin Tuhan sedang memberinya peluang? Jika iya, Erika menolaknya. Sudah cukup dipermainkan waktu dan nasib, ia tak mau dipermainkan lagi.
“Uhuk! Uhuk! Seminggu nggak diberesin udah berdebu aja.” Erika terbatuk-batuk saat pintu kamarnya baru saja ia buka. Debu-debu yang bercampur dengan udara menyeruak menusuk indra penciumannya. Ia lalu melangkah mendekati jendela dan membukanya lebar-lebar.
Baru seminggu ditinggalkan, kamarnya lebih mirip gudang ketimbang kamar tidur. Ia mulai bergerak membersihkan kamarnya. Beberapa barang akan ia masukan kembali ke lemari.
Saat membuka pintu lemari, bau busuk menyengat tercium oleh hidungnya. Erika menutup hidungnya dengan satu tangan. Sambil mencoba menahan rasa mualnya ia mulai memperhatikan isi lemari. Mungkin saja ada yang salah di dalam lemarinya.
Namun belum terlalu lama memperhatikan, ia malah langsung berlari pergi dari sana. Di dalam kamar mandi Erika mencoba menenangkan perutnya yang mulai berulah. Cukup lama berdiam diri di dalam sana, ia akhirnya memantapkan niat untuk keluar.
Oke, gue siap ke tempat bau itu.
Kepalanya mengangguk pelan lalu perlahan melangkah keluar dari kamar mandi sambil menutup hidungnya dengan handuk kecil.
Baru seminggu ditinggal kamarnya sudah ada benda entah apa yang membuat kamarnya menjadi bau. Erika melangkah pasti menuju lemari pakaiannya yang sudah terbuka. Erika memandangi semua yang ada di dalam lemarinya dengan pandangan penuh tanya.
Tak mau membuang waktu lebih lama lagi Erika mengeluarkan semua benda yang ada di dalamnya satu-persatu. Mulai dari pakaian hingga kotak sepatu, ia keluarkan semuanya dari dalam sana. Saat memindahkan salah satu kotak sepatu, hidungnya mencium bau menyengat yang sangat dekat.
Pandangannya tertuju pada kotak sepatu di tangannya. Tanpa ragu lagi ia langsung membuka kotak sepatu itu. Apa yang ada di dalam sana membuatnya melongo. Ada kantong kresek hitam yang terikat mati. Di bagian bawahnya terdapat bercak merah yang sangat banyak.
“Darah?” tanyanya entah pada siapa.
Matanya memandang penuh tanya benda itu. Erika bangkit dari tempatnya dan melangkah menuju nakas lalu mengambil sarung tangan kerja di laci. Setelah mendapat apa yang ia cari, Erika kembali ke tempat awalnya tadi.
Dibukanya kantong itu dengan hati-hati, hingga apa yang ada di dalamnya dapat terlihat. Melihat isi di dalam kantong itu membuatnya merasa mual. Tanpa menunggu lagi Erika langsung berlari kencang manuju kamar mandi. Isi perutnya terbuang sia-sia di toilet. Erika membersihkan mulutnya dengan air.
__ADS_1
Matanya menatap bayangannya dengan serius. “Sejak kapan benda itu ada di sana? Apa gue dikerjain, ya?”
Erika mulai bertanya-tanya. Lalu sekali lagi ia menatap bayangannya dengan serius. “Apa mungkin gue dikerjain? Tapi sama siapa?” Semua ini semakin membuatnya harus berpikir keras menjawab semua pertanyaannya di otaknya.
“Nggak mungkin, kamar gue kan selalu gue kunci. Dan yang punya kunci kamar gue ya, cuma gue sama Uncle.”
Kepalanya menggeleng kuat. “Nggak, nggak mungkin Uncle.” Ia terus menggeleng, mengusir pikiran anehnya itu.
Erika kembali menatap dirinya di cermin. Pandangan mata yang serius itu saling bersitatap.
“Lalu siapa?”
Yang pastinya bukan orang luar.
*****
Erika melangkah turun dari kamarnya. Setelah hampir berjam-jam membersihkan kamar, perutnya mengamuk minta diisi. Apalagi tadi ia sempat memuntahkan semua isi perutnya.
Suasana rumah semakin hening. Bahkan ia dapat mendengar suara langkah kakinya sendiri. Ada banyak orang di rumah, namun rasanya hanya ada dirinya di sana. Keadaan ini terlalu sepi untuk rumah yang dihuni empat manusia.
Bahkan di meja makan pun tak ada apapun. Di kulkas pun hanya ada bahan masakan, tidak ada satupun makanan sisa. Erika menarik napasnya lalu mulai membuat sesuatu untuk dirinya makan. Makan siang kali ini hanya telur dadar untuk dirinya sendiri.
Iyah, dia sendiri. Memangnya untuk siapa lagi. Rumah ini kosong-melopong tak ada penghuni. Terasa sia-sia sudah pulang kemari. Namun kepulangannya itu juga yang mempertemukannya dengan bangkai entah apa di lemarinya. Bangkai yang wujudnya saja sudah tak bisa dijelaskan bagaimana bentuknya.
Erika menggeleng mengusir pemikirannya yang masih saja terpaku pada bangkai itu. Erika akan berusaha melupakan kejadian tadi, tapi itu bukan berarti ia melupakan rasa penasarannya. Dia harus mencari tahu siapa yang melakukan hal aneh itu padanya.
Ini kejadian aneh menurutnya. Ketimbang dibilang ia sedang dikerjai, lebih baik dikatakan ia sedang diteror.
Oh, my God! Diteror? Oleh siapa?
Oke, Erika memang punya banyak musuh yang siapa saja di antara mereka bisa melakukan hal ini. Setelah ia terlibat dengan Rizky, semuanya seakan menjadi masalah baginya. Kini, di antara sebanyak apa orang yang membencinya itu, ada orang yang mungkin bisa melakukan hal ini padanya. Erika bergidik, mengingat ada banyak orang yang punya kesempatan untuk mencelakainnya.
Mengingat ia dibenci banyak orang, segala kemungkinan aneh terlintas di pikirannya. Di zaman yang serba modernisasi ini, segala hal bisa saja dilakukan. Entah hal baik atau buruk, semuanya bisa dilakukan.
“Makan apa?”
Erika tersentak dan sontak menatap ke arah suara. Faris melangkah mendekatinya dan berdiri menhadapnya.
“Telur goreng,” jawabnya acuh tak acuh. Erika berdiri dari kursinya dan berjalan menuju wastafel sambil membawa peralatan makannya untuk dicuci. Padahal dari pandangan Faris, di piring Erika masih tersisa banyak makanan.
Faris yang melihat itu hanya menatap heran punggung Erika.
__ADS_1
“Kamu kenapa? Akhir-akhir ini kamu aneh. Kamu tidak pulang ke rumah. Seperti sedang menjaga jarak,” ucap Faris pelan. Ia menarik kursi lalu duduk. Matanya tak lepas dari punggung Erika.
Erika diam tak bersuara. Ia hanya mencuci peralatan makannya dengan mulut terkatup rapat. Hening beberapa saat, hanya suara air mengalir dari kran yang menemani mereka meramaikan suasana.
Faris mendengkus pelan lalu berdiri dan melangkah mendekati Erika. Dia berdiri tepat di belakang Erika, sambil berharap keponakannya itu berbalik sekadar menatapnya. Namun Erika bergeming. Tubuhnya terpaku. Ia tak sanggup untuk berbalik menatap Uncle-nya. Ia belum siap berada di situasi seperti ini. Bisa-bisa jika ia tak bisa mengendalikan dirinya, dan malah akan memaki-maki pamannya sendiri—walau bukan paman kandung, tapi tetap saja harus dihormati.
“Kamu kenapa? Kalo ada masalah, kamu bisa berbagi dengan Uncle.” Faris berucap lembut di balik punggung Erika.
“Uncle nggak perlu tau. Urus saja diri Uncle sendiri,” ujar Erika terkesan kasar dan tidak peduli sama sekali dengan Uncle-nya.
Erika berbalik berniat pergi dari sana—berhubung cuciannya sudah selesai—namun, pergelangan tangannya dicekal oleh Faris. Tubuhnya terhenti dan terdiam. Faris mengeratkan cekalannya pada tangan Erika. Ia tak mau membiarkan Erika pergi sebelum mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada keponakannya itu.
“Uncle bukan pajangan. Kamu adalah tanggung jawab Uncle. masalah kamu, masalah Uncle juga,” tegas Faris.
Erika membuang muka. Bibirnya berdecak sebal. “Terus, Uncle mau tau gitu. Dari pada ngurusin Rika, mending Uncle ngurus aja keluarga Uncle yang bar-bar itu,” cibir Erika.
“Cih, nggak usah pegang-pegang.” Tangannya melepas kasar cekalan tangan Faris. Faris hanya bisa terdiam melihat Erika yang membuat jarak di antara mereka berdua.
“Apa kamu nggak bisa lupain aja soal masalah Ema?” tanya Faris.
Erika berbalik, menatap nyalang Faris. “Udah terlanjur sakit hati, Uncle,” jujur Erika. Ia tersenyum, senyuman sakit hati.
“Jujur aja Uncle, Erika lebih senang hidup berdua dengan Uncle ketimbang dengan mereka.”
Faris menatap Erika. Mulutnya terbuka siap untuk berucap, namun Erika sudah duluan berkata, “Tanpa mereka, kita berdua lebih tentram. Uncle pasti sadar, akan jarak yang perlahan melebar di antara aku dan Uncle.” Erika menarik napasnya pelan. Dadanya terasa sesak dan matanya memanas, pertanda siap mengeluarkan air mata. Sekuat tenaga Erika berusaha menghalau air matanya agar tak jatuh. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan Faris.
“Maaf Erika,” lirih Faris. Kepalanya tertunduk dalam. Sedangkan Erika malah menatapnya dengan pandangan mencibir.
“Sudahlah. Minta maaf juga nggak ada gunanya. Semuanya udah terjadi. Mau menyesal juga nggak ada artinya,” ucapnya sarkas. Erika mengedikkan bahunya tak acuh lalu berbalik dan melangkah pergi dari sana.
Faris melangkah keluar menyusul Erika. Ia tak mau berdiam diri saja di sana. Faris berdiri di depan tangga. Matanya tak berhenti menatap Erika yang terus saja melangkah naik.
“Erika, Uncle mau bicara berdua sama kamu! Erika! Erika!”
Panggilan Faris tak dihiraukannya. Ia terus melangkah naik dan saat sampai di depan pintu kamarnya, ia kembali melihat ke bawah—ke arah Uncle-nya.
“Kapan-kapan aja, ya, Uncle. Rika lelah,” ucapnya pelan sebelum masuk ke dalam kamarnya.
Tubuhnya merosot di lantai setelah ia menutup pintu. Tenaganya terasa sudah terkuras semuanya. Apa yang ia katakan tadi, sungguh sudah di luar batas. Tapi mau bagaimana lagi, itu lebih baik ketimbang ia harus memaki-maki Uncle-nya.
Erika sungguh tak berdaya lagi. Ia duduk bersandar di pintu. Kepalanya mengadah ke atas, menatap langit-langit kamarnya.
__ADS_1
“Nggak akan ada lagi pembicaraan di antara kita berdua, Uncle,” lirihnya sebelum matanya mulai memanas dan tangis yang ia tahan sedari tadi tumpah begitu saja.
Kapan-kapan itu, mungkin tak akan pernah terjadi.