Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]

Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]
Chapter 4


__ADS_3

Desy menatapku penuh selidik. Serasa sedang berhadapan dengan ibu-ibu tukang gosip yang penasaran situasi terkini.


“Lo, lo beneran nggak tertarik sama Junior lo itu?”


Aku menggeleng tegas tanpa menatap matanya sama sekali. Yakin deh, ibu muda itu kini sedang berada dalam rasa penasaran yang tak terkira. Belum lagi dia pasti geram dengan kelakuanku yang acuh tak acuh padanya.


Berita itu tersebar cepat sekali. Dalam semalam aku jadi trending topic di kampus. Tapi sayang, kabar itu sama sekali tak menguntungkan untukku.


"Lo sadar nggak, kalo lo sekarang udah jadi bahan gosip seantero kampus?”


Kuanggukan kepalaku cepat merespon pertanyaan Desy. Siapa juga yang tidak sadar padahal namanya sudah ada di mana-mana. Memangnya aku tidak peka pada situasi?


"Terus, kenapa juga lo pergi tanpa menjawab kemarin?”


Aku mengedikkan bahu tak acuh. “Soalnya nggak penting,” ucapku santai tanpa beban hayati sama sekali.


"Gue tau itu salah. Tapi lo harus paham situasi dong. Ya kali gue mau nolak dia di depan banyak orang. Mau taro di mana muka gue sama dia.”


Desy mengangguk lalu menatapku prihatin. “Iyah juga. Tapi lo udah jadi bahan gosip di kampus. Harusnya lo bertindak dong, jangan cuma duduk diam aja.”


Kutarik gelas Desy yang isinya tinggal setengah. Saat-saat begini, nggak baik marah-marah. Bantuan es jeruk ini benar-benar berguna. Otakku jadi adem lagi. Memikirkan masalah ini malah semakin membuatku geram dan ingin marah-marah.


“Bisa-bisanya lo nikmatin minuman gue dengan tampang nggak peduli gitu. Padahal gue sendiri penasaran setengah mati tentang hubungan lo sama dia,” cibir Desy sambil berdecak kesal. Aku melepaskan tanganku dari gelas dengan pelan lalu beralih menatapnya. “Iyadeh, gue ceritain. Dari awal sampai akhir.”

__ADS_1


Entah karena tampangku yang tidak pernah serius, Desy malah menatapku heran. “Lo serius?” tanyanya memastikan.


“Make nanya lagi. Emangnya gue nggak seserius itu, ya. Padahal gue serius bilang gitu. Nggak percaya banget,” cibirku.


"Iyadeh, maaf. Ayo, sekarang cerita.”


Aku pun mulai bercerita kejadian kemarin. Walau sebenarnya aku enggan banget cerita tentang ini, tapi demi Desy aku cerita, deh. Aku emang sobat paling baik sejagad raya.


Bagiku kejadian kemarin itu tidaklah penting, dan tak perlu dipermasalahkan. Namun belum apa-apa, baru juga kelas pertamaku selesai, aku malah diseret ke kantin. Perlu digaris bawahi, aku diseret bukan dibawa baik-baik. Dan, aku terpaksa berada di sini.


"Dia stalker lo?” tanya Desy tak percaya. Aku hanya menggeleng, sedangkan Desy malah bergumam sesuatu entah apa.


“Lo harusnya udah nolak kehadiran dia dari awal-awal. Sikap lo itu kayak ngasih dia harapan. Sekarang lo malah gantung dia kek jemuran gitu. Dia juga butuh kepastian, Ka.”


"Gini, Des. Gue udah ngasih jarak antara gue sama dia. Tapi dia keras kepala banget, dan malah sok dekat lagi. Apalagi tampangnya yang lempeng tapi kelewat imut, bicara kasar sedikit saja bakal dikira lagi bully makhluk tak berdosa. Gue serba salah, Des,” jelasku.


Kupalingkan wajahku ke arah luar kantin. Oh, apa yang kulihat di sana. Betapa bahagiannya dua manusia yang sedang berbagi canda tawa dan sayang itu. Menatap mereka malah makin bertambah kesal. Kesal karena masih jomlo sampai sekarang. Huh, aku juga mau seperti itu, tapi sama siapa? Sama tiang listrik? Amit-amit deh, nggak akan. Aku masih waras untuk nggak menjalin hubungan dengan tiang listrik.


Getaran singkat dari ponselku terasa pada pahaku. Kukeluarkan benda pipih itu untuk memeriksa notifikasi apa yang masuk. Tiba-tiba rasa kesalku terasa semakin meningkat. Kutatap isi pesan itu dengan pandangan tidak suka. Dilihat dari sisi manapun, yang mengirim pesan tidak berguna dengan nomor baru ini, siapa lagi kalo bukan si Rizky.


"Anak ini dapat nomor gue dari mana, sih. Main ngirim SMS nggak guna lagi,” ucapku jengkel. Kuperlihatkan isi pesan itu pada Desy, yang berhubung sudah penasaran sejak aku mulai kesal lagi.


“Wah, niat banget nggak, sih, dia ngejar lo. Tuh, coba lo lihat siapa yang lagi jalan kemari.”

__ADS_1


Aku tak peduli lagi dengan ekspresi Desy yang mengelikan. Kuarahkan pandanganku pada orang yang baru saja masuk. Demi semua hal yang kubenci, kenapa juga dia berjalan kearah kami dengan tampang lempeng.


“Hai, Kak Desy,” sapa Rizky.


Aku mendelik ke arah Rizky. “Eh, dari mana lo tau nama sobat gue? Stalker, ya,” tuduhku tanpa basa-basi lebih awal.


Aku meringis saat tangan Desy yang mungil memukul tanganku. “Ka, jangan main nuduh aja. Dia ini sepupu Revan, suami gue. Ya, jelas dia tau siapa gue lah.”


Aku berdehem pelan masih dengan tampang melongo tak percaya. Lima tahun sahabatan, tapi sepupu suami Desy aja aku nggak tahu. Lebih baik aku mulai menjaga mulutku yang tak berpendidikan ini sebelum berkata sembarangan. Bisa-bisa aku malah mendapat berita mengejutkan lagi. Entah selanjutnya siapa lagi yang menjadi korban dari mulut tak berpendidikan ini, mungkin bisa saja neneknya atau keluarganya yang entah sebanyak apa itu.


Sahabat macam apa aku ini!


"Oh, gitu,” ucapku seraya berusaha menutup ekspresi maluku. “Kalo gitu gue pergi dulu, Des. Mau nugas.”


Tak peduli mereka percaya atau tidak dengan ucapanku, yang penting aku pergi dulu dari kantin sekarang. Sudah cukup dibuat kesal, sekarang malah malu sendiri. Nggak jadi marah-marah, deh. Padahal aku sudah siap dengan semua kata-kata kasarku, tapi situasi ternyata nggak berpihak padaku.


Saat berjalan keluar, berpasang-pasang mata terasa mengikutiku dengan pandangan menusuk. Bohong jika bilang aku tidak risih. Memangnya mereka tidak ada kerjaan selain penasaran dengan kehidupan orang-orang? Sungguh tidak ada gunanya sama sekali mengurusi kehidupan orang lain.


Kini aku tak tahu harus ke mana lagi. Di mana-mana tatapan menusuk dan penasaran selalu ada. Bagai hantu penasaran yang sedang memantau perkembangan targetnya. Ah, lama-lama aku kesal dengan semua ini. Selama lima semester yang lalu hidupku adem-ayem. Tenang dan damai walau masih diganggu oleh si Rizky.


Namun, sekarang beda lagi. Dia terang-terangan mengajakku pacaran. udah gila si Rizky. Salah makan apa dia sampai berani begitu pada Seniornya sendiri. Yah, walau cuma beda satu tingkat, sih. Tapi, tetap aja, kan, aku itu lebih Senior dan tugas Junior itu menghormati kami.


Otak si Rizky itu sepertinya sudah korslet. Mungkin karena terlalu banyak makan garis yang ia gambar, otaknya jadi nggak waras lagi. Coba aja dia nanya perihal itu secara tenang dan tanpa ada banyak pasang mata yang melihat dan telinga yang mendegar. Jika itu terjadi, kan, saat itu juga akan kutolak dia secara baik-baik. Kalo masalah ini bagaimana mau menolak secara baik-baik. Jalan satu-satunya hanya pergi.

__ADS_1


Semakin rumit saja hidupku ini.


__ADS_2