Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]

Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]
Chapter 15


__ADS_3

“Udah baikan?”


Aku tersentak dengan pertanyaan tiba-tiba dari seseorang yang baru saja masuk tanpa permisi. Ia duduk bersila di seberangku yang hanya dibatasi meja—setelah meletakan nampan berisi buah di meja.


Aku yang duduk berselonjor di sofa malah terlihat kikuk sekarang. Aku mengangguk pelan sambil berdehem.


Desy menatapku dengan seulas senyum tipis menghias wajahnya. “Gue ada kabar buruk dan berita buruk. Lo mau dengar yang mana?” Ia bertanya dengan semangatnya.


Napasku berembus pelan. Di antara kedua hal yang dia bawa, tidak ada baiknya. Pilih salah satu pun tidak akan menguntungkanku sama sekali. Itu sudah jelas bukan.


“Ayo, mau dengar yang mana dulu,” serunya malah tambah semangat. Aku mendengkus lalu menatapnya sekilas sebelum kembali menatap lurus ujung kakiku. “Berita buruk aja, deh,” ucapku enggan.


“Berita buruknya lo jadi terkenal seantero kampus.”


Aku mengangguk paham. Itu sudah pasti, tak perlu dipertanyakan lagi. “Lalu, kabar buruknya?” tanyaku sambil menatapnya penasaran.


“kabar buruknya lo dipanggil sama Pak Syamsul. Taulah kenapa.” Desy berujar sambil mengerling aneh ke arahku. Sikapnya ini seakan-akan tidak mempermasalahkan apa yang terjadi tadi siang di kantin. Padahal tadi, dia terlihat sama kacaunya denganku.


Aku melenguh pelan sambil memalingkan wajahku dari tatapan menggelikan Desy. Ibu hamil itu, kenapa juga dia harus berpura-pura tersenyum di depanku begitu.


“Gimana rasanya dipeluk di depan banyak orang?” tanya Desy masih dengan tampang orang yang nggak paham situasi. Desy nggak sebodoh itu untuk tidak memahami situasi yang sudah jelas ini.


Jelas-jelas dia tahu bagaimana suasana sekarang. Namun, berhubung aku sedang sedih dia jadi ikutan menghiburku. Jadi merasa bersalah.


“Nggak ngerasa apa-apa. biasa aja,” ujarku datar.


Reaksi yang ditunjukan Desy malah berlebihan dari yang seharusnya. Dia tersenyum seperti orang gila. Walau aku yakin hatinya ikutan sedih melihat keadaanku yang seperti ini.


“Lo senyum-senyum gitu udah kayak orang gila tau, bikin merinding aja,” cibirku. Bibirku berdecak sebal karena Desy yang nggak berhenti tersenyum penuh makna ke arahku.


Dia apa-apaan coba. Menyebalkan.


“Merinding karena sentuhannya. Aw! Sweet banget.”


Wajahku tertekuk kesal. Apa yang dikatakan Desy tadi tak kuladeni sama sekali. Gara-gara Desy, aku jadi kepikiran hal tadi. Hal paling memalukan yang terjadi di kantin. Entah berapa banyak suara jepretan kamera yang terdengar, tak lagi bisa kuhitung saat itu.


Bisa dibilang, sepanjang semester ini atau hingga tahun ajaran ini berakhir, aku akan jadi trending topic terlama. Nggak ada yang bisa dibanggakan dengan ini.


“Segitu bencinya lo sama Rizky?”


Desy tiba-tiba bertanya memecah keheningan di antara kami. Kupalingkan wajahku menatapnya tanpa berucap.


“Nggak ada salahnya membuka hati lo untuk seseorang. Daripada terpaku pada satu objek yang tak mampu lo miliki.”


Kami sama-sama terdiam. Saling bertatapan dengan suasana hati yang berbeda.

__ADS_1


“Lo nggak akan pernah bahagia jika lo seperti ini. Lo akan terus terpuruk dalam keadaan. Gue harap lo punya kesadaran yang tinggi akan kesalahan yang lo buat ….” Desy menarik napasnya sebentar, lalu menatapku tajam dan menusuk.


“Kalo lo masih betah berada dalam lingkaran masalah, tetap kayak gini aja. Keputusan ada di tangan lo, Ka. Mau berubah atau nggak.”


Desy berdiri pergi tanpa menatapku sama sekali. Napas berat berembus dari mulutku setelah mendengar bunyi pintu yang ditutup.


Hah, ini cukup rumit. Aku ingin semua ini cepat selesai. Tapi tidak ada yang selesai sama sekali, bahkan malah lebih buruk. Entah apa yang aku pikirkan saat menerima pelukan sukarelanya.


Yang kurasakan saat itu hanyalah kenyamanan yang tak terkira. Perasaan menenangkan yang menyenangkan. Ah, aku yakin ada yang salah dengan otakku ini. Semua yang ada di otakku tak lagi berjalan semestinya.


Aish! Memikirkannya saja sudah membuatku ingin memukulnya. Malah tambah kesal.


Mataku perlahan tertutup. Masih dalam posisi yang sama, aku berusaha memikirkan ucapan Desy yang lebih mudah dipahami tapi sulit diterapkan.


Berubah itu gampang untuk diucapkan, tapi untuk dilakukan itu adalah hal yang paling sulit. Aku nggak tahu harus mulai mengubah yang mana. Apa perilakuku? Hidupku? Penampilanku? Apa yang harus aku ubah?


Apa aku harus mengubah duniaku ini? Aku tidak tahu. Bodo amat. Semakin memikirkannya semakin membuatku pusing.


*****


Kuembuskan napas pelan sembari memperbaiki helaian rambut hitam legamku agar tertata rapi. Rambut sepunggung itu hanya kuikat seadanya—kucir kuda. Kutatap bayanganku di cermin besar, yang memantulkan diriku dari ujung kaki hingga rambut dengan pandangan serius.


Dari dalam cermin terlihat pintu kamar terbuka dan Desy masuk lalu menutupnya kembali. Kami saling membalas senyum di dalam cermin.


Dia menghampiriku lalu berdiri di sampingku. Pandangannya menyiaratkan kekhawatiran yang besar. Khas seorang ibu.


Tangan Desy terangkat memukul pelan pundakku. Aku menatap dia dengan heran. Anak ini ngapain, sih.


“Apa-apaan sih kata-kata lo itu. Lo bukan mau pergi berperang untuk membela Negara. Lo cuma kuliah aja, jangan lebay, ah!”


Tawa kecil keluar dari mulutku. “Mungkin karena gue terlalu semangat,” ujarku masih dengan tawa kecil.


“Gimana kalo semangat lo tiba-tiba patah? Dan nggak ada seorang pun di samping lo?”


“Gue bakal sambung kembali semangat gue sendiri,” kataku yakin.


Kami bersitatap lama, lalu tiba-tiba Desy memelukku. “Lo nggak sendirian di dunia ini. Ada gue, dan ada banyak orang di sekitar lo.  Lo cukup bersuara, dan dunia pun bisa ikut membantu lo.”


Aku tak lagi bisa menahan tawa. Tawaku pecah mendengar apa yang ia katakan. “Des, lo lucu banget tau.”


“Apanya yang lucu?” tanyanya heran.


“Masalah gue ya urusan gue. Dunia nggak perlu tau. Cukup gue aja. Lo gimana sih.”


Desy melepaskan pelukannya dan beralih menatapku yang tak berhenti tersenyum. “Yah, iya juga, sih. Tapi pokoknya lo nggak sendiri.” Lalu kembali memelukku lagi dengan erat.

__ADS_1


“Des.”


“Hm,” gumamnya.


“Makasih udah mau nampung gue di sini,” ucapku tak lupa dengan kekehan kecil di akhir.


“Lo selalu punya tempat di sini.”


Singkat namun mengapa sangat menyentuh. Ah, mataku tiba-tiba terasa panas. Tanpa perlu berkata apa-apa lagi aku melepaskan pelukannya dan ngacir dari sana secepat kilat.


Aku terduduk di sofa ruang tamu sambil mengenakan sepatu. Desy yang tadinya sibuk di dapur kini berdiri di dekat meja ruang tamu. Ia meletakan kotak makan di meja.


“Makan siang lo. Buat jaga-jaga, Seandainya lo nggak pergi ke kantin.”


Aku hanya mengangguk lalu pamit pergi tak lupa membawa serta bekal makan siangku.


Sepanjang perjalanan pikiranku hanya melayang-layang pada sosok Rizky. Karena dia, kehidupanku di kampus tak sedamai dulu. Nggak ada cara yang bisa membuat anak itu pergi dariku. Mentalnya sekuat baja.


Bagiku Rizky adalah makhluk penganggu namun tidak tercela. Dia seakan bersih dan suci. Seperti yang kudengar dari Danto—si tukang gosip—Rizky hanyalah anak teladan. Sisanya dia tidak tahu.


Napasku tertarik lemah. Kupandangi gapura kampus sebentar lalu melangkah masuk dengan pandangan terarah pada tanah. Tanpa teman rasanya aku tidak terlindungi. Semuanya terasa mengikutiku ke mana aku pergi.


Aku terus-terusan merasa khawatir hingga tanpa sadar menabrak sesuatu yang keras di depan. Tubuhku terhuyung ke belakang. Pertahananku tak lagi kuat dan aku akan jatuh. Namun itu hanya bayanganku yang tak ada benarnya.


Nyatanya ada tangan yang melingar di pinggangku dan menarik tubuhku mendekat. Napasku tercekat saat tiba-tiba diperlakukan seperti ini. Aroma tubuh yang tak asing dan detak jantung yang tak teratur membuatku sontak mengadah ke atas.


Entah untung atau buntung, yang menyelamatkanku barusan adalah si penganggu.


“Cih, main peluk-peluk lagi,” dumelku kasar seraya mendorong kuat tubuh si penganggu. Tak tahu diri memang. Sudah diselamatkan malah mendumel kasar.


“Kak Erika nggak pa-pa?” Nada khawatir terdengar dari ucapannya.


“Iya, makasih,” ucapku dan berlalu melewatinya.


Aku semakin cepat melangkah, saat suara langkah kaki yang khas malah terdengar


mengikutiku di belakang.


“Jangan bengong saat di jalan. Bahaya,” ucapnya tiba-tiba lalu tangannya mengacak rambutku.


Langkahku terhenti. Kutatap kepergiannya dengan datar, namun wajah yang kutatap sebelum ia berpaling itu malah berhiaskan senyum.


“DASAR BRENGS*K! APA-APAAN PAKE MEGANG-MEGANG SEGALA! LO MAU GUE MOTONG TANGAN LO ITU,  HAH!! RIZKY BRENGS*K! AAARRGGHH, SIALAN LO!!”


Aku mencak-mencak di jalanan. Seperti orang yang lupa daratan. Sumpah, demi apapun yang aku  benci, Rizky lebih menyebalkan dari apapun.

__ADS_1


Sial, aku malah jadi berdebar-debar dengan perlakuannya itu.


__ADS_2