![Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]](https://asset.asean.biz.id/oh--my-uncle---on-going-revisi-berjalan-.webp)
Sial!
Ini hari tersial bagiku. Bukannya mau membuat masalah mereda, aku malah menambah masalah baru. Ditambah lagi aku sudah mempermalukan diriku sendiri. Rasanya ingin menghilang saja dari bumi. Sungguh memalukan.
Dan sialnya lagi. Aku malah dikerumuni semut merah yang entah sebanyak apa. Gara-gara Rizky nih, makanya aku harus begini. Kalo bukan lagi menghindar juga aku nggak mau berbuat begini.
“Aw! Ish, gila sakit banget.” Aku meringis sambil menjauh dari tempat kuberdiri. Setelah kurasa semut-semut itu telah bersih dari tubuhku, aku langsung pergi dari tempat itu. Berlama-lama di sana tidak akan baik untuk diriku. Geli banget lihat semut-semut yang tiba-tiba keluar dengan banyaknya.
Seakan-akan mereka ingin memangsaku hidup-hidup. Lebay memang, tapi begitulah yang kurasakan.
“Erik!”
Langkahku terhenti dan berbalik menatap Danto yang berlari-lari mendekatiku. Pandanganku mencari-cari sosok paling kuhindari. Ternyata dia tidak membawa si penganggu.
“Ada yang nyari lo. Ikut gue, yuk.”
Tanpa persetujuanku Danto langsung menarikku entah ke mana. Aku meringis saat cekalan tangan Danto terasa kuat mengengam tanganku.
“Tangan gue sakit, Dan. Pelan-pelan, dong! Emangnya yang nyari gue siapa, sih.”
Danto tak menghiraukan ucapanku sama sekali. Sia-sia aku bicara padahal napasku saja sudah mulai tidak teratur.
Kami berlari cukup jauh. Hingga berlari-lari di tangga perpustakaan. Dia mau bawa aku sampai mana, sih. Kakiku sudah lemas dan tidak sanggup berlari jauh lagi.
Saat sampai ke anak tangga yang entah ke berapa aku menyentak tanganku dengan kasar, hingga terlepas dari cekalan Danto. Pundakku naik turun. Napasku memburu. Aku tak bisa berucap apa-apa lagi. Rasanya mau mati saja.
“Kita hampir sampai, Rik. Dikit lagi kok.”
Aku mendelik ke arah Danto. “Lo mau liat gue mati di sini? Lo pikir gue kuat lari sejauh itu? Mikir dong kalo mau ngajak gue lari-lari ….”
Sial, aku berucap panjang lebar tapi tidak di dengarkan Danto sama sekali. Ia malah berjalan menjauh ke pojok dan mulai menelpon seseorang. Beberapa saat kemudian terdengar gemuruh entah apa dari atas.
Aku melongo tak percaya melihat siapa yang berdiri di ujung tangga.
“Kakak diapain sama Kak Danto?” Rizky bertanya khawatir sembari melangkah mendekatiku yang terduduk. “Ohh, gue ngerti. Jadi, Danto, lo bakal berurusan sama gue nanti,” tukasku masih dalam posisi duduk.
Danto nyengir kuda sambil menatapku. “Hehe, kalo gitu gue pergi dulu!” serunya Lalu pergi begitu saja meninggalkan aku berdua dengan si penganggu. Orang yang paling ingin kuhindari malah berada di sini. Danto sialan!
“Kak Erika baik-baik aja?” Rizky bertanya lagi. Aku malah ingin memukulnya kali ini. sudah jelas-jelas aku nggak baik-baik aja. Pake tanya lagi.
__ADS_1
Aku tak lagi mengubrisi dia, dan sedang berusaha untuk berdiri. Demi apapun yang aku benci, aku ingin mengutuk Danto sekarang. Semoga dia kesandung batu atau apalah itu. Aku benar-benar dibuat kesakitan oleh dia.
Aku kesakitan hanya untuk Rizky? Hah, tak bisa dipercaya. Rencana Danto benar-benar berhasil mempertemukan kami.
“Kak, a-aku bantu, ya.”
Rizky melangkah ragu mendekatiku yang masih saja berusaha berdiri tegak. Tanganku berpegangan di dinding, agar menjaga keseimbanganku. Kutatap dia dengan pandangan tajam, dan itu membuat langkahnya terhenti sebelum mendekatiku.
“Gue baik-baik aja. Gue pergi.”
Tak perlu menunggu Rizky berucap aku langsung mengangkat kakiku ingin pergi. Namun saat melangkah turun, lututku bergetar hebat. Tanganku tak bisa lepas dari dinding, jika tak ingin jatuh.
Terdengar juga langkah pelan dari belakang. Ternyata dia masih saja ingin mendekatiku.
“A-aku bantu.”
Kurasakan tangannya melingkari pinggangku. Wajahnya tepat di sampingku. Dari pandanganku terlihat jelas wajahnya merona malu. Dia tahu merasa begini juga. Imutnya.
Pandanganku tak bisa berhenti menatapnya. Bahkan kurasakan kakiku tak lagi bergerak. Entah aku beg* atau gimana, aku malah sibuk menatap wajahnya—yang baru kusadari terlihat sangat halus dan bersih. Bulu matanya yang lentik dan bola matanya yang hitam kelam, menambah kemisteriusannya. Ah, kenapa aku baru menyadari hal ini?
Tanganku terangkat tiba-tiba, membelai wajahnya. Aku bahkan tak bisa menolak pesona si penganggu ini. jari telunjukku bergerak turun menyusuri tulang hidungnya yang tinggi. Dan berakhir di bibirnya yang merah.
“Kak?”
Aku tersentak mendengar suara Rizky. Tanganku yang berada di depan bibirnya, sontak saja membuatku kaget bukan kepalang. Apa yang aku lakukan ini, sih. Memalukan.
Aku gelagapan dan tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba, tanpa sadar aku melepaskan diri darinya dan malah bergegas pergi. Namun aku melupakan satu hal. Kakiku yang gemetaran.
Hilang keseimbangan dan berakhir jatuh di atas beton yang keras. Sial, tulangku terasa remuk seketika. Apalagi kurasakan sakit yang tak terkira pada pergelangan tangan dan kakiku.
Dari belakangku terdengar derap langkah kaki Rizky. Dia jongkok di sampingku melihat sebentar dan dalam sekali gerakan aku sudah berada di gendongannya.
SITUASI APA LAGI INI!! AAARRGGHHH!!
Sial!
*****
“Kaki dan pergelangan tangan kamu terkilir ringan. Beberapa hari kedepan jangan terlalu membebani mereka dengan hal-hal berat. Istirahatlah dengan cukup. Ibu tinggal dulu,”
__ADS_1
Aku hanya mengangguk pelan begitupun dengan Rizky. Iya, Rizky si penganggu. Setan tiga yang ingin kuhindari. Tapi takdir malah mempertemukan kami di sini. Semuanya karena Danto, si setan satu dengan rencana busuknya itu.
Bu Diska melongok kepalanya dari balik tirai. Rupanya dia belum bisa menjauh dari kami. “Eh, Rizky! Ibu minta tolong kamu jagain Erika, ya,” ucap bu Diska sambil tersenyum lalu pergi.
Rizky hanya tersenyum tanpa berucap sesuatu. Aku pun hanya tersenyum—senyum paksa. Siapa juga yang mau dilindungi sama dia. Maunya malah dia jangan dekat-dekat sama aku.
“Ky,” panggilku. Ia menatapku tapi aku malah tak berani menatapnya. “Soal kemarin, juga tadi pagi, maaf ya.” Aku menarik napas panjang. Sial, padahal kesalahanku tidak besar, tapi aku malah merasa bersalah sekali dengannya.
Aku menatapnya ragu-ragu. Ia hanya tersenyum tanpa berucap sepatah katapun. Aku ragu dia memafkanku. Yah, walau aku rasa kesalahanku tidak fatal banget, tapi mungkin bagi dia itu kesalahan besar. Kenapa perasaan manusia rumit sekali, sih? Jadi susah dimengerti, kan.
“Ky, kenapa lo suka banget nempelin gue?” tanyaku kini lebih santai. Kusandarkan punggungku sambil melihat mata hitam kelam itu.
“Kenapa? Bukannya gue benci lo, tapi gue benci dengan sikap lo. Emangnya lo suka kalo lo ditempelin mulu sama gue?”
Risky mengangguk. “Suka.”
Mataku terbelalak. Aku nggak tahu harus berkata seperti apa lagi. “Yah ... kalo itu sih ….”
Aku mengaruk tengukku yang tidak gatal. Jawabannya blak-blakan sekali. Jadi speechless.
“Aku dan Ema, nggak ada hubungan sama sekali. Dia mantan Riko. Mereka putus gara-gara aku.” Rizky berucap pelan. Hampir seperti mengumam.
Aku hanya memperhatikan dia yang kini kembali terdiam. Aku berdehem lalu berkata, “kenapa lo cerita permasalahan lo ke gue? Gue nggak peduli, asal lo tau itu.”
Risky mengangguk. “Aku tau. Tapi aku cuma mau Kakak tau kenapa Kakak jadi dibenci di rumah.”
“Lo tau soal gue dan Ema?” tanyaku kaget. Ia lagi-lagi mengangguk.
Aku tak lagi bertanya soal apapun lagi. Aku hanya diam dan diam, tak tahu lagi harus berbuat seperti apa.
“Lo tau, gara-gara lo kehidupan gue jadi berantakan.” Ia mengangguk mendengarku berucap lirih. Napasku rasanya tercekat di tenggorokan. Sekuat tenaga aku menahan diri agar tak memukulnya di sini.
“Maaf …,” lirihnya.
Aku mendengkus kasar. Mataku menatapnya dengan nyalang. Rizky hanya menunduk menatap entah apa di bawah.
“Gue nggak butuh maaf lo. Gue cuma butuh lo jangan dekat-dekat gue lagi. Gue lelah diginiin terus. Lo hanya membawa masalah sama gue. Gue mohon satu hal sama lo ...” Aku menarik napas panjang lalu menatapnya dengan memohon.
“ ... jauhi gue,” lanjutku.
__ADS_1