Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]

Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]
Chapter 19


__ADS_3

Bagi kebanyakan orang, sahabat adalah sosok penting dalam hidup. Saling percaya adalah kunci untuk tetap berada dalam satu lingkaran. Tapi bagi Riko, sahabat  itu orang yang paling berpotensi menjadi musuh. Apapun yang terjadi, pada dasarnya pertemanan itu hanya berisi


timbal balik antarsesama. Tak ada yang murni dari hati. Selalu saja ada maksud tersembunyi.


Buktinya Rizky. Teman masa kecilnya, sekaligus sahabat yang paling ia percayai layaknya saudara sendiri. Namun malah berakhir dengan pengkhianatan. Menusuknya dari belakang dan malah bersenang-senang dengan ‘pacar’nya.


Riko memang tidak mempunyai bukti fisik akan hal itu. Tapi matanya menyaksikan sendiri bagaimana Ema dan Rizky yang terlihat bersenang-senang di belakangnya. Marah dan kesal dirasakannya saat itu. Bagaimana tidak, saat itu Ema masih berstatus sebagai pacarnya, namun malah bersenang-senang dengan orang lain. Apalagi orang lain itu adalah Rizky, sahabatnya sendiri.


Riko selalu berharap, sebagai sahabat, Rizky dapat mengerti apa yang ia mau. Namun keadaan berubah buruk saat Ema mengakhiri hubungan mereka. Ia pun berakhir dengan patah hati.


Kini luka lama yang harusnya ia kubur dalam-dalam malah terus-terusan dibuka lagi. Siapa lagi kalo bukan Rizky, sahabatnya, yang malah datang ke rumahnya tiap hari. Riko menatap tak suka pada sosok Rizky yang duduk di kursi di sampingnya.


“Ngapain lo kemari?” tanya Riko malas.


“Kalo lo kemari cuma nanya gue sehat apa nggak, lebih baik lo pulang aja. Gue nggak nerima teman bang**t soalnya,” ujar Riko sarkas.


Rizky terdiam dan hanya tersenyum. “Kalo gitu gue pergi, deh. Kayaknya lo lebih sehat dari yang kemarin,” ujarnya lalu tersenyum dengan lebarnya.


Riko mengeram. Raut wajahnya berubah kesal. “Lo niat minta maaf nggak, sih! Pergi sana. Jangan datang lagi. Males gue ngeladenin lo.”


Riko berdiri dari duduknya dengan tampang kesal dan masuk ke dalam rumahnya lalu menutup pintu dengan kasar. Rizky hanya terbengong melihat kelakuan Riko yang baginya sungguh aneh.


Di dalam Riko  malah menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal. Jika Rizky berniat meminta maaf padanya, dia pasti sudah memaafkannya. Namun setiap kali datang, bukannya meminta maaf dan mengakui kesalahan, Rizky malah selalu hanya menanyakan keadaannya. Nggak ada pembicaraan tentang rasa bersalah atau sejenisnya. Riko kesal dengan hal itu.


Riko membiarkan Rizky di luar. Dia tak peduli sama sekali.


*****


Mobil Rizky melaju membelah jalanan yang sudah sore. Selepas kuliah ia langsung mampir ke rumah Riko—sahabatnya—terus-menerus, seperti dulu. Biarpun Riko masih marah padanya, Rizky tetap masih diterima di sana. Walau selalu berakhir dengan mendengar Riko mengusirnya. Bagi Rizky, Riko itu teman satu-satunya, sahabatnya. Namun karena kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka, hubungan mereka menjadi renggang.


Tapi itu bukan berarti Rizky menyurutkan niatnya membantu Riko. Karena Rizky tahu, semarah apapun Riko padanya, dia tak akan pernah membenci Rizky. Dia hanya sedang kesal, karena kisah cintanya berakhir tragis. Susah move on lagi.


Nada dering yang panjang dari hapenya membuat Rizky menepikan mobilnya di tepi jalan. Layar ponsel yang menyala pertanda ada yang menelponnya.


“Halo, Kak Desy. Ada apa?” tanyanya langsung.


“Boleh lo mampir ke rumah? Ada yang mau gue bicarain,” ucap Desy serius.


Nada Desy yang serius membuat Rizky seketika menjadi serius juga. Namun itu tidak membuat raut wajahnya yang datar hilang—kata Erika ‘tampang lempeng’.


“Oke, Kak,” jawab Rizky.


“Eh, sama sekalian beli nasi goreng dua, ya. Eh nggak, beli tiga deh,” tambah Desy sambil berseru semangat. Di seberang sana Desy nyengir kuda sebelum akhirnya mematikan panggilan itu. Dia melirik seseorang di balik punggungnya.


Desy menggeleng melihat Erika yang sangat santai menikmati waktunya berbaring di tempat tidur, sambil memainkan hape pula.


Desy duduk di kursi belajarnya menghadap Erika. “Ka, lo nggak ada kerjaan?” tanya Desy merasa heran dengan Erika yang tadi tiba-tiba mau mampir ke rumahnya. Padahal baru saja kemarin ia pergi dari rumah ini untuk kembali ke rumah Uncle-nya.


“Hm?” tanya Erika tak acuh. Pandangannya sibuk dengan ponselnya. Bahkan Desy tak dipedulikannya sama sekali. Berselancar di dunia internet memang lebih menyenangkan ketimbang dunia nyata yang melelahkan.


“Lo tau Lexie Xu?” tanya Erika tiba-tiba.

__ADS_1


Desy mengerutkan keningnya heran. “Hah, apaan, tuh? Tiba-tiba nanya begituan. Lo aneh banget, Ka,” cibir Desy. Ia masih terus menatap Erika. “Lo makin ke sini makin aneh aja. Lo sehat, Ka?” tanya Desy penasaran.


Erika mendengkus lalu memiringkan tubuhnya dan menatap Desy. Setelah melihat raut wajah Desy yang berubah kesal ia kembali menatap ponselnya lagi. Seakan-akan tidak peduli sama sekali.


“Novelnya seru. Mystery-Thriller. Bunuh-bunuhan lagi. Lo punya keinginan buat bunuh orang nggak?”


Desy semakin dibuat heran memikirkan tingkah laku Erika yang kian hari kian berubah dan semakin aneh. Itu semua membuat Desy yakin, Erika memang tidak sehat.


“Lo beneran nggak sehat. Apa-apaan dengan sikap lo ini. lo aneh banget, kayak orang lain tau. Mau bunuh orang? Memangnya lo mau bunuh siapa? Si Rizky?” tanya Desy kasar. Lama-lama dia lelah dengan sikap Erika ini. tak tahu lagi harus bagaimana meladeni Erika.


“Bukan.” Erika menjawab santai. Lagi-lagi tak peduli dengan Desy yang kini geram dengan sikapnya.


“Terus siapa?” tanya Desy sambil menahan suaranya agar tak berteriak di sini.


“Nggak tau,” jawab Erika tak acuh. Ah, Desy harus semakin bersabar dengan sikap Erika.


“Gue hanya lagi senang aja. Lo jahat banget bilang gue nggak sehat. Aneh lah, apalah.” Erika berucap sendu tanpa memalingkan wajahnya dari layar hape sama sekali.


Desy mengembuskan napasnya pasrah. “Lo beneran nggak sehat, Ka. Besok kita ke psikolog. Kayaknya lo butuh terapi.”


“Gue udah bilang, gue sehat! Lo denger nggak, sih!!” bentak Erika yang tiba-tiba langsung mengubah posisinya menjadi duduk. Tatapannya menusuk Desy, penuh amarah dan rasa kesal. Napasnya pun memburu tak karuan.


Desy tersentak. Ia hanya bisa diam, menunggu perubahan emosi Erika yang selanjutnya. Di pikirannya hanya ada kebingungan. Bingung dengan keadaan Erika yang seakan punya kepribadian ganda. Erika lebih mirip anak remaja labil, yang tak bisa dikendalikan.


Desy hanya menghela napas. Erika meraup wajahnya dengan kedua tangannya. Gumaman entah apa terdengar dari Erika.


“Maaf. Maaf ... maaf, Des,” lirih Erika.


Ranjang yang berderit menandakan Desy ikut bergabung di sana. Desy memeluk Erika sambil tangannya mengusap pelan punggung Erika.


Ting!


Bunyi notifikasi yang masuk di ponselnya membuat Desy melepas sejenak pelukannya pada Erika. Ia meraih benda pipih yang ada di atas nakas itu, lalu melihat notifikasi apa yang masuk. Dia membacanya dengan serius, lalu setelah selesai ia berbalik dan menatap Erika sejenak.


“Ada yang datang. Gue buka pintu dulu, ya.”


Erika mengangguk tanpa menjawab. Desy melangkah pergi dari sana, dan bergegas untuk membukakan pintu bagi tamunya.


Rikzy berdiri di depan pintu yang tertutup, dengan tangan yang penuh oleh beberapa kantong kresek berisi pesanan Desy—istri dari sepupunya.


Pintu terbuka dan menampilkan sosok Desy dengan senyum simpul. Ia hanya mengambil pesanannya tanpa berucap lebih dulu—secara paksa—pada Rizky lalu menatap mata hitam kelam itu dengan singkat.


“Erika lagi nggak baik, nanti aja kalo ada kesempatan dan dia udah baikan, baru gue telpon lo.”


Lalu pintu pun tertutup tanpa sepatah katapun sempat terucap dari mulut Rizky. Ia hanya terdiam di tempat, dan menatap bingung ke pintu yang tertutup.


“Kak Erika?” tanyanya tak percaya sambil terus menatap pintu yang tertutup di


depannya itu.


Walau Erika ada di dalam, bagaimana mungkin ia bisa masuk. Mereka mungkin tak bisa bertemu lagi. Rizky sadar, janjinya pada Erika harus ia pegang dan tak boleh ia ingkari. Walau yang ia pertaruhkan untuk memenuhi janji itu adalah perasaannya sendiri.

__ADS_1


Rizky berbalik dan melangkah pergi. Di pikirannya ia bertanya-tanya maksud Desy menyuruhnya datang lalu berbicara tentang kesempatan. Apa itu berarti Desy ingin membuat mereka bertemu? Tapi kenapa?


Rizky bingung memikirkan maksud Desy itu, juga tentang Erika yang sedang tidak baik. Apa itu karenanya? Jika benar, Rizky merasa bersalah sekali. Belum bertemu dengannya saja, Erika sudah berulah begitu. Apalagi jika mereka berdua benar-benar bertemu. Entah dia akan dimaki-maki atau mungkin malah dibacok di dalam sana, ia juga tak mengerti. Erika terlalu rumit untuk dimengerti.


Ah, seharusnya sejak awal Rizky tidak mendekati Erika. Mau bagaimana lagi, ia mendekatinya juga karena suatu alasan. Lalu entah bagaimana malah membawanya pada perasaan yang tak bisa dipungkri. Rasanya berdebar-debar dan sensasi aneh yang terus mengelitik dadanya jika berdekatan dengan Erika. Bukannya inilah yang orang sebut dengan rasa suka?


Rizky terduduk diam di dalam mobil. Pandangannya terarah pada atap mobil. Sambil berpikir ia harus berbuat apa nanti. Tak berselang lama ia akhirnya mengambil ponselnya lalu mengetik sesuatu dan setelah selesai, ia pun melajukan mobilnya pergi dari sana.


*****


“Lo udah mendingan?” tanya Desy yang baru saja masuk kamar. Matanya menatap heran Erika yang kini malah berbaring sambil bermain ponsel dengan seriusnya. Tak ada lagi perasaan sendu yang tadi. Tak ada lagi rasa kesal yang seperti tadi. Dia kini sudah kembali ceria dengan terus-terusan tersenyum.


Erika mengangguk tanpa menjawab. Pandangannya hanya fokus pada ponsel di tangannya. Ia terus saja dibuat tersenyum dengan apa yang ada di dalam sana. Baru ditinggal beberapa menit saja Erika sudah mengalami perubahan besar dari emosinya.


Mengingat emosi Erika yang labil, Desy tak mengatakan bahwa ia mengundang Rizky tadi. Tadinya ia ingin mereka bertemu, namun Desy sadar mereka berdua seharusnya tak dipertemukan. Walau sebenarnya Desy ingin sekali meluruskan masalah antara Erika dan Rizky. Tak bisa dipungkiri, Desy lebih penasaran dengan masalah Erika dan Rizky ketimbang masalah emosi Erika yang labil.


“Ka, makan nasi goreng, yuk,” ajak Desy tanpa beranjak dari depan pintu, menatap lurus Erika yang berbaring.


“Hah? Dari siapa? Lo order tadi?”


Desy gelagapan tak tahu harus berkata seperti apa. ia hanya mengangguk kaku tanpa berucap sesuatu. Tapi melihat senyum Erika yang jelas mengatakan bahwa anak itu sedang bahagia, Desy bisa bernapas lega. Untungnya Erika tidak bertanya apa-apa lagi dan hanya mengangguk.


“Bentar, gue balas wa dulu.” Erika berucap tanpa sekalipun memandang Desy walau sejenak. Asiknya berselancar di dunia internet apalagi mengobrol dengan Danto dan Dinto—yang baru dia sadari sedikit menyenangkan itu—ternyata lebih seru ketimbang melakukannya di dunia nyata.


Senyum Erika tak lepas dari bibirnya. Namun sebuah notifikasi masuk langsung membuat senyumnya memudar. Rahangnya mengeras dan tatapan matanya menatap lurus ke depan. Tanpa pikir panjang lagi benda pipih itu dilempar dengan sekuat tenaga dan melesat dengan kekuatan tinggi menghantam dinding.


Suara keras yang terdengar menghantam dinding membuat Desy tersentak kaget. Ia memandang Erika dengan takut. Tubuhnya sedikit gemetaran karena melihat Erika yang menatap entah apa di depannya dengan pandangan penuh kabut amarah.


“Gue benci dia, Des!! Gue benci!!!”


Erika berteriak keras, membentak apapun di depannya itu. Pandangan Erika kosong menatap ke depan. Tangannya yang tak memengang apa-apa meremas rambutnya sendiri—menyalurkan emosi. Matanya terpejam erat. Merasakan debaran-debaran kuat yang membuat dadanya sakit, namun entah kenapa terbesit sedikit rasa menyenangkan di sana.


“Lo, lo kenapa, Ka? Jangan buat gue takut,” lirih Desy terbata-bata. Jujur saja Desy takut jika Erika mulai hilang kendali dan malah menjadi seperti ini.


Desy ingin menghampiri Erika, namun pandangannya malah tertuju pada ponsel Erika yang terpelanting menyedihkan di lantai. Layarnya retak dan menyala-mati karena mengalami kerusakan parah.


Desy melihat dengan teliti. Di dalamnya terdapat nama Rizky serta pesan yang baru datang beberapa saat lalu itu.


Ah, Erika menyimpan nomor Rizky ternyata. Desy baru tersadar akan hal itu. Kini tatapannya beralih pada Erika yang tampak lebih menyedihkan ketimbang ponselnya sendiri.


Tubuh Erika yang gemetar dipeluknya dengan sayang. Walau masih sedikit takut dengan Erika, namun Desy percaya Erika tak akan menyakitinya. Erika kan baik.


“Tenang, Ka. Kendaliin diri lo. Gue ada di sini, jangan takut. Tenang, ya,” ucap Desy


menenangkan Erika.


Erika memeluk erat tubuh Desy. Menenggelamkan kepalanya di pelukan Desy. “Ma, maaf … udah buat lo takut ...,” lirihnya pelan yang lebih mirip gumaman.


Desy mengangguk lalu membiarkan Erika menenangkan dirinya dalam pelukannya. Dalam hati Desy bersyukur karena Rizky tak jadi bertemu dengannya. Dia tak bisa memikirkan apa yang akan terjadi pada Erika jika bertemu dengan Rizky. Dalam keadaan seperti ini saja Erika sudah tampak seperti akan membunuh orang, bagaimana mungkin dia bisa bertemu dengan Rizky. Yang ada anak itu malah semakin memperparah keadaan Erika.


Desy binggung harus bagaimana. Di satu sisi ia ingin membantu Erika, tapi di sisi lain Erika mempunyai masalah dengan emosinya. Inginnya Desy tahu lebih dalam dengan Erika, namun Erika tak pernah terbuka akan hidupnya pada dia. Seakan sedang menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2