Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]

Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]
Chapter 30


__ADS_3

Pagi ini, entah kenapa aku malah berakhir semeja dengan mereka bertiga. Kesunyian kembali menyergap kami, seperti sebelumnya. Keadaan ini membuatku makin tak suka bersama mereka.


Hatiku terasa berat semenjak bangun pagi ini. Kak Sely yang biasanya akan ribut-ribut setiap aku bangun, kali ini diam tanpa suara. Apa dia marah dengan apa yang aku ucapkan semalam? Tapi kenapa? Kenapa dia begitu?


Bukankah aku yang seharusnya marah-marah? Dia kan yang ninggalin aku sendiri saat aku masih mau bicara panjang lebar dengan dia. Aku tak mengerti kenapa Wanita itu jadi seperti itu.


“Erika?”


Eh, panggilan dari Uncle sontak membuyarkan lamunanku. Dia yang duduk di kepala meja menatapku penuh tanya.


“Kamu kenapa? Kok bengong saat makan?” tanyanya dengan nada lembut, seperti seorang Ayah yang mengkhawatirkan keadaan anaknya.


Aku tersenyum tipis lalu menatapnya, tapi tak lama aku langsung mengalihkan tatapanku ke arah piring.


“Nggak ada apa-apa kok, cuma lagi banyak pikiran aja,” kilahku.


“Kalo semester ini udah selesai, tahun depan kamu udah wisuda dong,” ucap Uncle tiba-tiba.


Lagi-lagi aku hanya tesenyum. Malas banget meladeninya. Gara-gara Uncle ungkit pasal wisuda, aku jadi ingat betapa banyak tugasku yang belum terselesaikan. Inilah realita kehidupan kampus yang ingin segera kuakhiri.


Ternyata, waktu berjalan cukup cepat. Sungguh tak kusangka, semuanya berlalu secepat ini.


Kak Sely dengar itu, kan?


Nggak lama lagi, aku, kita, akan bisa pergi dari sini.


Pikiranku kembali berkecimbung dengan hal lain. Ingin rasanya mendengar sahutan dari Kak Sely. Sayangnya, itu tak terjadi.


Suasana jadi hidup ketika Uncle mengungkit masalah wisuda. Bu Alana dan Uncle mengobrol seru tentang wisuda Ema, yang masih lama itu. Iya, Ema! Masa aku. Nggak mungkin, lah!


“Erika setelah wisuda mau kerja apa?” tanya Bu Alana setelah beralih dari Ema menjadi ke arahku. Untung masih dianggap, kalo tidak, ya sudahlah.


Tiba-tiba di meja makan ini diadakan sesi tanya jawab. Kuladeni saja pertanyaan dari Bu Alana. Padahal aku lagi tak ingin bicara, karena masih mau berkosentrasi dengan Kak Sely. Tapi, itu hanya sia-sia saja. Sama sekali tak ada respon darinya. Biarkan sajalah. Nanti juga kalo dia lelah, dia bakal ajak ngobrol.


Kak Sely kan makhluk ekstrovert. Nggak bisa jauh-jauh dari keributan.


“Mungkin bakal kerja di perusahan yang berjalan dibidang konstruksi,” jawabku cuek. Uncle dan Bu Alana memangut-mangut tanda mengerti. Sedangkan Ema, anak itu hanya menatapku datar.


“Kakak sejak kapan dekat sama Rizky?” tanyanya tiba-tiba dengan suara pelan. Dia yang duduk tepat di hadapanku itu menatapku lurus-lurus. Waktu di sekitarku seakan berhenti bergerak beberapa detik saking kagetnya aku dengan pertanyaan Ema.


Terlihat Bu Alana menyikut pelan Ema, hingga anak itu memalingkan wajahnya dariku dengan kasar.


Anak ini kenapa lagi, sih. Baru juga kita makan bareng setelah sekian lama, nih anak malah nanya orang lain. Bikin dongkol aja. Sial!


Kuembuskan napasku pelan. “Kok nanya itu tiba-tiba, ya? Hmm, kita udah kenal sejak dua tahun lalu, sama Riko juga udah kenal kok,” jawabku apa adanya. Dan entah kenapa, nama Riko malah dibawa-bawa. Aku kenapa sih!! Fokus dikit dong.


Ah, sial! Sial! Kesialan yang tiada akhir!


“Oh, iya!” Uncle berseru tiba-tiba membuatku sontak menatapnya, “Riko anak DKV yang dulu suka ngajak Ema jalan itu, kan?” lanjutnya. Uncle menunjuk anak tirinya itu dengan semangat 45’.


Ternyata mereka juga udah saling kenal.


“Tapi, dia udah nggak keliatan beberapa bulan ini sama kamu, ya. Apa dia tau kamu sakit?”

__ADS_1


Karena nggak tahu apa-apa soal ini, aku hanya diam dan menyimak saja. Jujur, aku juga penasaran sama hubungan Ema, Riko, dan Rizky. Walau sudah pernah mendengar garis besar hubungan mereka bertiga dari Rizky, tapi aku tetap saja penasaran. Sesuka apa Ema sama Rizky, sampai satu fakultas Sastra pun tahu tentang mereka.


Sesuka apa dia ya, sampai gara-gara sukanya itu bikin aku tersiksa dengan gosip murahan ini. Sial, jika lama-lama begini terus bisa-bisa aku malah benci sama ni anak.


Ema terdiam sejenak, seakan sedang memikirkan sesuatu.


“Riko dan Ema udah putus. Namanya juga cuma cinta monyet.” Seharusnya Bu Alana tak menjawab pertanyaan ini. karena dia bukan Ema.


“Kamu suka Rizky, ya?”


Gotcha! Wajah speechless Ema


membuatku yakin sekali. Perihal ini, tak diketahui kedua orang tuanya.


Tapi kenapa raut wajahnya setakut itu akan sebuah pertanyaan biasa ini?


*****


Kampus ramai seperti biasa, dan gosip tentangku pun masih terdengar simpang-siur mengudara tanpa lelah. Suasana ini, mungkin sudah sedikit membuatku terbiasa. Tak ada lagi Desy yang menemaniku, membuatku harus terbiasa dengan keadaan.


Aku tak boleh berdiri di atas kaki orang lain. Aku harus berdiri dengan kakiku sendiri. Seburuk apapun situasiku, aku nggak boleh bergantung pada orang lain. Terlalu bergantung pada orang lain, akan membuatku tak menyadari betapa kejamnya dunia yang kupijak ini.


Mengingat Desy, langkahku jadi terhenti tak jauh dari gedung fakultas Ekonomi. Dia tak terlihat beberapa hari ini. Apa mungkin dia lagi cuti melahirkan?


Napasku berembus berat sembari kembali melangkah pergi dari sana. Sudah hampir waktunya ibu muda itu melahirkan, ya. Mungkin sebulan, atau dua bulan lagi akan ada anggota baru di keluarga kecil mereka itu.


Ketika mengingat Desy, hatiku masih saja terasa sakit. Apalagi mengingat kejadian tempo hari itu. Desy yang pergi tanpa suara, dan menghilang tanpa kabar. Aku jadi merasa bersalah dengan kejadian itu.


Meski sudah kusadari bahwa pemikiranku akan selalu salah, aku tetap bersikukuh dengan pikiran bodohku saat itu. Ah, sudahlah. Sekarang ini, mau menyesali juga nggak ada gunanya.


Teriakkan lantang yang khas mengudara entah dari mana membuatku mencari-cari ke sana-sini. Kepalaku melihat-lihat sekitar dengan cepat, mencari arah suara si setan satu itu. Sial, anak ini ada di mana, sih. Aku udah kayak anak hilang yang lagi cari orang tua aja.


“EH, ERIK! KANTIN, WOI! KANTIN!”


Teriakkan susulan datang lagi. Sial, kenapa nggak dari tadi si setan satu teriak sih. Menyebalkan.


Aku melangkah dengan tampang kesal ke arah kantin fakultas Teknik. Tatapan tajam langsung kulayangkan pada Danto, si setan satu yang teriak-teriak nggak jelas tadi. Tampangku semakin kesal saat melihat si setan satu ini sedang  duduk di pojok kantin sambil menikmati nasi goreng. Pantas saja tidak kelihatan, tempat duduknya aja ada di pojok.


BRAK!


Tanganku mengertak meja dengan sekuat tenaga hingga menimbulkan bunyi yang lumayan besar. Sendok yang dipegang Danto jatuh terpelanting ke lantai. Matanya menatapku kaget. Maklum, sudah terlanjur kesal dengan si setan satu ini dan tak bisa ditahan lagi. Jadilah meja ini menjadi sasaranku.


Bagaimana nggak kesal coba. Aku yang cari-cari dia di depan sana kayak orang hilang,  sedangkan ni anak malah asik makan nasi goreng dengan tampang tak berdosa. Inginku sentil ginjalnya.


“Lo ngapain sih Erik, bikin kaget aja,” ujarnya sambil memungut kembali sendok yang terjatuh setelah terbebas dari keterkejutannya.


“Berani-beraninya lo makan enak di sini setelah nelantarin gue di luar sambil nyari-nyari lo kayak orang hilang, hah!” ucapku penuh tekanan plus tampang horor pengen nelan setan satu ini hidup-hidup.


“Santai aja kali. Yang penting kan lo udah ada di sini.”


Ucapannya membuatku tersadar. Benar juga, aku kan udah ada di sini. Tapi aku tetap kesal dengannya. Berani beraninya dia membuatku seperti tadi. Memalukan.


“Duduk dulu,” Aku mengikuti apa yang dia bilang, “Udah baca apa yang gue kirim subuh-subuh buta tadi?” tanyanya sambil melahap nasi goreng dengan sendok baru.

__ADS_1


Keningku berkerut tanda tak paham. “Hah? Kirim apa? Paket?” tanyaku sembari melepaskan tas punggung dari punggungku, dan menaruhnya di kursi kosong sebelahku.


Danto tiba-tiba memukul pelipisnya dengan keras lalu menggeleng dengan raut wajah lebay.


“Masih muda udah pelupa aja lo. Ya kirim file yang lo minta kemarin, lah! Riwayat hidup itu.”


“Ah, iya!” seruku tiba-tiba. Benar juga, kemarin kan aku minta dicarikan hal itu, tapi kenapa malah lupa sih.


Ah, masalah-masalah yang ada ini membuatku jadi makin kepikiran dan malah melupakan banyak hal—ralat, terlalu banyak hal yang terlupakan.


“Filenya mana?” tanganku terulur ke depan untuk menangih apa yang kuminta kemarin.


“Di kirim ke wa lo,” ucapnya santai juga ikut mengulurkan tangannya dan melakukan highfive denganku.


“Ponsel gue rusak,” ucapku malas karena jadi teringat kejadian memalukan, mengesalkan, dan penuh emosi


itu. Banyak hal yang kulupakan, tapi kenapa hal memalukan seperti itu masih tetap saja teriingat dan tidak terlupakan? Ingin sekali aku melupakan hal ini. Sialan!


“Hah? Rusak?” Aku mengangguk, “Kenapa?” tanyanya lagi dengan tatapan penasaran.


“Gue lempar,” ucapku dengan kemalasan yang tiada tara, namun berbeda dengan Danto yang malah memasang wajah kaget plus penasaran. Aku abaikan saja pandangannya itu, toh tidak penting juga.


Hah, pantas saja aku tak mendapatkan apa yang kumau. Ini juga salahku, aku yang telah merusak ponselku sendiri.  Seharusnya aku menyuruh Danto untuk mencetaknya saja. Dasar bodoh, runtukku dalam hati. Memang makhluk paling bodoh, ya aku sendiri.


“Jadi, gue kirim lewat email aja?” Aku mengangguk mengiyakan tawarannya itu. Dengan segera aku membuka tas dan mengeluarkan laptop legendaris yang sudah menemaniku selama empat  tahun lebih ini. Walau terkadang benda satu ini sering ngambekkan, namun dia tetap teman bergadangku yang paling kusayangi—soalnya mahal banget ni benda, kalo rusak kan sayang.


Penuh kehati-hatian yang sudah mendarah daging aku membuka benda ini. Dari monitor laptop pandanganku beralih ke Danto yang juga serius dengan laptopnya.


“Gue ke belakang dulu,” ucapku yang dibalas anggukkan pelan Danto.


Aku berdiri dan melangkah ke belakang, ke tempat di mana ada seorang manusia yang sudah bekerja keras membuat makanan enak di kantin ini.


“Bams yang tampan rupawan, jus jeruk satu sama password wifi-nya, ya,” teriakku dari depan pintu markas Bams. Laki-laki berumur empat puluh tahunan itu melongok kepalanya dari sekat yang membatasi tempat memasak dan tempat penyimpanan bahan makanan.


Laki-laki itu tersenyum lalu mengangguk dan membuat apa yang aku minta.


“Password-nya diubah terus ya setiap minggu,” ucapku sekadar basa-basi sembari menunggu pesanan.


“Iyalah Rik, biar yang nggak berkepentingan nggak perlu tau,” Bams  menyerahkan segelas jus jeruk dingin padaku dengan selembar kertas, “Nggak ada kelas?” tanyanya.


Aku mengedikkan bahu. “Nggak tau, baru datang tapi malah nyasar ke sini.” Bams mengangguk lalu membiarkanku pergi tanpa bertanya lagi.


Kuletakan jus jeruk di meja sembari duduk. Mataku menatap penuh tanya Danto. “Kita nggak ada kelas?” Dia lagi-lagi mengangguk tanpa suara. Masih saja sibuk bergelut dengan laptopnya itu.


“Anak itu kayaknya bukan dari keluarga itu, deh,” ucap Danto tiba-tiba. Aku yang baru saja selesai memasukan password wifi menatapnya terheran-heran.


“Anak angkat?” Danto mengangguk, “Kalo anak angkat, lo bisa tau keluarga aslinya nggak?”


Danto menelengkan kepalanya. Sepertinya sedang berpikir keras dengan apa yang kutanyakan tadi.


Aku cepat-cepat membuka website email dan membaca pesan dari Danto yang baru saja terkirim beberapa saat lalu itu. File dalam bentuk pdf itu tertata sangat rapi dan berurutan. Sayangnya, tak ada riwayat kelahiran yang kumau. Itu sebetulnya tidak mengherankan, namun aku malah jadi semakin penasaran. Aku ingin tahu lebih banyak dari ini.


"Lo pengen banget tau riwayat hidupnya?" Tatapan heran yang Danto layangkan padaku membuatku terdiam.

__ADS_1


Benar. Aku ingin tahu segalanya tentang Riko, yang mungkin bisa saja menjawab kejadian tempo hari itu. Namun aku tak bisa mengatakan hal seperti itu ke Danto. Bisa-bisa dia juga bakal men-capku aneh. Jadi aku hanya mengangguk tanpa mengatakan alasannya.


Untukku, refleks tubuh tak bernah berbohong. Mungkin air mata waktu itu, bersangkutan dengan hal-hal yang terlupakan. Mungkin saja.


__ADS_2