Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]

Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]
Chapter 17


__ADS_3

Malam itu langit mendung. Sinar bulan yang remang-remang bersinar di kegelapan, menghadirkan suasana kelam. Seorang gadis terduduk di depan cermin, menyisir rambutnya dengan hati-hati.


Wajahnya yang kusam terpantul di cermin yang setengah bagiannya sudah retak, menampilkan bayangan abstrak. Matanya bengkak dengan kantung mata yang besar dan hitam bertenger di bawahnya. Sudah beberapa hari ia seperti ini—mengurung diri di kamar. Tak mau keluar dan tak mau makan. Hidupnya hanya sebatas kamar sendiri.


Beberapa hari ini, ia mulai tak tenang akan seseorang yang selalu menghubunginya dengan panggilan-panggilan aneh. Ia bisa gila jika ini semua terjadi berkepanjangan. Bahkan saat ini saja ia sudah bisa dibilang gila.


Orang asing itu selalu menelponnya di waktu yang sama. Mengatakan hal-hal tentang kematian lalu memutuskan sambungan itu secara sepihak. Berhari-hari ia dihantui ketakutan. Membayangkan dirinya akan mati secara tragis. Itu sangat menakutkan.


Gadis itu menggeleng pelan. Ia tidak boleh takut. Jika dia takut, semua orang akan mati. Tapi dirinya tak sanggup berbuat banyak dengan kondisi yang sudah melemah ini. walau ia selalu berpikir ancaman itu hanyalah sekadar ancaman kosong, namun tetap saja batinnya selalu terpukul setiap kali mengingat hal itu.


Ia pernah berpikir bahwa ini hasil kerjaan teman-temannya, yang ingin mengerjai dia karena telah lama absen. Namun ia salah, ini bukanlah sebuah permainan seperti April Mop atau permainan kejutan biasanya. Inilah kenyataannya. Ia mungkin sedang di ambang kematian sekarang.


Kini waktu menunjukan hampir pukul 2 dini hari. Ia belum bisa tidur sebelum memastikan panggilan itu tak berulang lagi. Terus-menerus, setiap hari ia melakukan hal yang sama. Walau gadis itu ingin memblokir nomor tersebut, tetap saja itu usaha yang gagal. Nomor itu selalu bisa menelponnya lagi, dan jika ditelpon kembali maka nomor itu tak lagi aktif.


Lima menit lagi tepat pukul 2 dini hari. Jantungnya berdebar kencang. Keringat mulai mengalir membasahi pelipisnya. Pandangan matanya was-was menatap ke layar hitam hapenya.


Jarum detik terus bergerak, namun jarum menit seakan berhenti bergerak. Tangannya menyatu di depan dada. Ia semakin berharap agar panggilan itu tak lagi datang.


Namun ia salah. Apa yang diharapkan tidak terjadi sama sekali.


Matanya bergetar ketakutan. Tubuhnya pun bergetar hebat. Tangannya terulur menyentuh benda pipih yang bergetar itu. Lagi-lagi panggilan dari orang tak dikenal.


“S-siapa kamu?” tanyanya terbata-bata.


Dari seberang sana hanya tersirat keheningan. lalu tanpa diduga, suara yang seperti sambungan yang terputus-putus terdengar di telinganya.


“ … matilah.”


PRANG!!!


Benda pipih itu terlempar ke dinding. Tubuhnya merosot ke lantai. Ia bersimpuh sambil menangis. Ia meraung-raung, berteriak seperti orang gila.


Lirihan itu lagi. Lirihan penuh kebencian itu terdengar lagi. Ia takut ….


“Ema! Ema!”


Wanita yang berdiri di luar itu mengetuk pintu kamar Ema dengan keras. Mendengar anaknya berteriak histeris langsung membangunkan dirinya dari tidur.


Faris berjalan tergesa menghampiri Alana yang sudah berderai air mata, sambil mencoba terus memanggil anaknya. Pintu itu didobrak paksa oleh Faris. Alana langsung berlari menghampiri Ema yang terduduk di lantai. Anaknya itu terlihat kacau dengan rambut yang berantakan. Hasil setelah ditarik-tarik.


Alana memeluk putri semata wayangnya dengan erat. Membelainya dengan kasih sayang guna menenangkannya. Ema hanya menangis sesegukan tanpa mau berucap sesuatu untuk menjelaskan situasinya.


Apa yang terjadi di sini.

__ADS_1


*****


Sudah seminggu Erika tidak kembali ke rumah. Faris khawatir, namun karena tahu Erika bersama Desy, ia bisa sedikit merasa lega. Saat Erika tak kunjung pulang, masalah di rumah semakin banyak.


Ema di bawa ke psikolog, untuk mengkonsultasi keadaannya. Ema di-diagnosis menderita Depresi Mayor, yang mengharuskannya untuk ikut terapi.


Faris kewalahan mengurus semua masalah ini. di satu sisi, Alana juga mendapat terror dengan telpon aneh. Di sisi lain, Ema mengalami depresi berat. Bingung dan pusing, ia tak tahu harus bagaimana lagi.


Apa Erika juga mendapatkan hal yang sama? Apa karena itulah dia pergi? Ah, Faris semakin bingung. Kepalanya serasa mau pecah memikirkan hal ini. Kenapa pernikahannya harus berjalan serumit ini? harusnya ia sedang menikmati indahnya masa pengantin baru. Namun apa yang dia rasakan sekarang? Tertekan, kebingungan, pusing, dan stres.


Sebelumnya ini tak pernah terjadi. Namun setelah pernikahan, semuanya tampak menjadi masalah. Erika yang mulai menjaga jarak dengannya, dan keluarganya yang sedang berada dalam bahaya.


Ah, sudahlah. Faris semakin pusing jika memikirkannya terus.


Tatapan Faris mengarah pada layar hapenya yang menyala. Pertanda ada yang menelpon. Ia segera mengangkat panggilan itu tanpa ragu sedikitpun.


“Ema baik-baik aja?” tanya Faris khawatir.


“Dia baik-baik aja, Mas. Mas yang santai aja ngajarnya, biar aku yang temani Ema ke psikolog,” jawab Alana.


Faris mengusap wajahnya kasar. “Aku bukan suami yang bertanggungjawab. Aku malu,” lirih faris. Ia menunduk dan menutup wajahnya dengan satu tangan.


Keluargannya sedang berada dalam masalah, ia merasa tidak becus menjadi suami. Membiarkan anak-istrinya kesakitan, sedangkan dia tidak tahu harus berbuat apa.


“Mas, kamu jangan berpikiran seperti itu. Sejak kapan kamu nggak bertanggungjawab. Mas jangan khawatir. Mari kita saling membantu. Mas yang semangat, ya. Sampai sini dulu, waktunya Ema konsul. Dah, sayang.”


“Dah.”


Faris meletakan hapenya di dasbor mobil. Ia menatap pantulan wajahnya di kaca. Tampak raut wajahnya kacau dan tidak bersahabat. Ia turun dari mobil lalu berjalan masuk ke gedung fakultas Ekonomi.


Riuh suara canda-tawa mahasiwa-mahasiswi terdengar memenuhi lantai pertama. Kebanyakan dari mereka sibuk bergosip, dan yang menjadi topik utamanya adalah Erika—keponakannya.


Faris hanya bisa menghela napas pelan, ketika terang-terangan mendengar banyak orang sibuk menjatuhkan Erika dan mengomentari segala hal tentang keponakannya itu. Namun herannya, Erika malah terkesan baik-baik saja seperti orang yang hidup tanpa masalah.


Faris iri, pada Erika yang masih bisa tersenyum. Walau Faris yakin, Erika punya banyak tanggungan berat yang tak ia ketahui.


Mengingat Erika membuat ia kembali terpikirkan masalah di rumah. Masalah yang awalnya hanya bermula dengan goresan di leher. Lalu setelahnya, semua menjadi seperti kesialan tiada akhir.


*****


Lain halnya dengan keluarga Uncle-nya itu, Erika malah nampak lebih baik setelah beberapa hari ia tak pulang ke rumah. Ia selalu berusaha menulikan telinga setiap kali mendengar sesuatu yang buruk tentangnya dari mulut orang lain.


Biarkan saja mereka berbicara tentang apa yang terlihat di permukaan. Mau dibilang dia perebut calon pacar orang pun ia tak peduli. Yang ia pikirkan hanya bagaimana menyelesaikan masalahnya. Tentang gosip tak menarik itu, biarkan saja berakhir dengan sendirinya.

__ADS_1


Kini kehidupan kampusnya mulai kembali damai. Walau masih berhias gosip tak sedap. Tanpa kehadiran Rizky, semuanya jadi semakin baik. Walau kadang Erika tak peduli, saat Rizky selalu memperhatikannya dari jauh.


“Ky, jangan cuma natap dari jauh aja. Maju, bro. Dekati dia.” Danto terus-terusan mengingatkan Rizky.


Rizky mendengar apa yang Danto katakan. Namun ia kembali teringat akan janjinya hari itu. Seperti yang Erika harapkan, Rizky melakukannya. Sedikit tak rela karena harus menjauh dan hanya bisa memandang dari kejauhan. Tapi biar begitu, Erika kini tampak lebih baik ketimbang ada Rizky di dekatnya.


“Eh, Ky. Orang lagi ngomong malah bengong sendiri,” dumel Danto.


“Maaf, Kak. Lagi mikir sesuatu.”


Danto tersenyum lalu mengangkat tangannya dan mengacak rambut Rizky gemas. Setelahnya ia  lalu bertopang dagu di meja kantin sambil menatap dalam Rizky.


“Anak seimut ini malah ditelantarin si Erik. Kalo gue jadi cewek, gue pasti mau sama lo.”


Tangan Danto sekali lagi kembali mengusap rambut Rizky. Cowok itu tampak risih dengan perlakuan Seniornya, namun tetap menerimanya dengan lapang dada. Takut jika penolakannya berujung pada perasaan Danto yang tersinggung.


“Lo mau gue bawa Erik ke sini, nggak?” Danto bertanya dengan semangatnya.


Senyum tipis tersungging di bibir Rizky. Matanya menangkap sosok Erika yang baru saja melewati depan kantin.


“Nggak usah, Kak. Nanti bikin Kak Erika makin menjauh. Biar saja aku di sini, dia di sana.” Rizky berucap lirih sambil menatap Erika yang kini berlalu dari pandangannya.


“Ky, semua keputusan ada di tangan lo. Apapun pilihan lo, akan ada risiko yang harus lo ambil. Pikir baik-baik, Ky. Maju atau mundur, semua lo yang tentuin.”


Danto mengangguk menyetujui apa yang diucapkan Dinto—kembarannya itu. Rizky lagi-lagi hanya menampilkan senyum. Walau ingin maju sedekat apapun, situasi akan memaksanya mundur. Apa ia menyerah saja? Seharusnya tidak. Semuanya sudah berjalan sejauh ini. Sia-sia jika menyerah.


Tapi, apa dia siap menanggung semua risiko jika bersikeras untuk maju? Rumit sekali hubungan mereka berdua.


Dilain sisi, Erika sedang berusaha untuk tak jatuh pada pesona Rizky. Cowok itu seakan-akan ada di mana-mana. Memperhatikannya dari jauh, dan Erika sadar akan hal itu. Risih tapi dia biarkan saja. Yang penting, selama jarak di antara mereka selalu ada, dia akan berusaha untuk tak mempermasalahkan sosok Rizky yang selalu ada.


Kini semuanya tampak lebih baik dari sebelumnya. Walau sering terbangun dini hari, ia tetap segar dengan bantuan Desy. Desy merawatnya dengan baik, seakan sedang mengurus putri tunggalnya.


“Ka, lo baik-baik aja?”


Erika menatap heran Desy yang tiba-tiba bertanya padanya.


“Lo keliatan khawatir. Ada masalah?”


Ia tidak yakin dengan dirinya sendiri. Sungguh, apa yang Desy katakan sepertinya salah. Namun ia tersadar satu hal, dia bahkan tak mengerti dirinya sendiri.


Perubahan-perubahan yang terjadi semuanya di luar kendali. Tak terasa dan terjadi begitu saja. Kadang ia merasa bahagia, kadang pula bercampur dengan benci dan amarah. Tak lagi bisa disebut baik-baik saja.


“Nggak pa-pa. Cuma keingat ada tugas yang belum gue selesaiin.”

__ADS_1


Desy hanya tersenyum lalu mengangguk tanpa bertanya apa-apa lagi.


__ADS_2