Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]

Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]
Chapter 27


__ADS_3

“Kalian dapat info kayak gitu dari mana? Foto itu nggak selalu  bisa jadi bukti kuat. Dan lagi, ngikutin orang itu kurang ajar banget tau nggak. Menakutkan lagi. Kalian jangan buat yang aneh-aneh, deh. Fokus aja ngerjain tugas besarnya dan tugas lainnya.” Erika mendumel kesal setelah Danto lagi-lagi membicarakan perkara yang sama di saat mereka sedang makan di kantin.


Mulut Danto dan Dinto terkatup rapat. Merasa sudah salah mengambil tindakan. Mereka juga sadar, apa yang Erika bilang benar adanya. Mengikuti orang atau menguntit adalah hal yang sangat kurang ajar bagi mereka yang berpendidikan. Belum lagi hal itu akan amat sangat menakutkan bagi orang yang diikuti. Rasanya menakutkan jika membayangkan di manapun kaki melangkah, di belakang kita ada orang yang juga menyamakan


langkah kakinya dengan kita. Membayangkannya saja sudah membuat Dinto bergidik ngeri.


“Kita nggak sadar pas ngikutin dia. Kita ngikutin dia juga nggak sengaja. Dan pas ngikutin dia kita dapat deh foto pertama.” Danto membela diri lalu dengan tampang lesu, namun jiwanya masih semangat penuh, dia mengeluarkan ponselnya dan menunjukan salah satu foto pada Erika.


“Foto ini juga dipotret tanpa sengaja dan juga ini baru diambil beberapa hari lalu.” Dinto menambahkan, ikut membela kembarannya juga dirinya.


Erika mengangguk pelan. Ia mengambil ponsel Danto untuk melihat dari dekat foto itu. Erika mengamati foto itu dengan teliti, hingga Danto dan Dinto pun menjadi deg-degan dengan sikap Erika—seperti seorang dosen pembimbing yang lagi ngoreksi tugas besar mereka.


“Dapat foto ini di mana?”


Danto dan Dinto seketika bernapas lega. Seakan baru saja keluar dari lembah kematian.


“Liat yang jelas dong! Dekorasinya aja udah menunjukan kalo itu cafe. Lo ini anak Teknik sipil yang doyan arsitektur apa bukan, sih!” seru Danto. Wajahnya menekuk kesal mengingat Erika yang tadinya memperhatikan dengan cermat foto yang ia ambil, namun malah menanyakan sesuatu yang sudah terlihat jelas.


Dinto hanya geleng-geleng kepala melihat Erika yang bersikap tak peduli sama sekali. Padahal Dinto tahu pasti, bahwa Erika dengan sekali lihat dekorasi tempat aja dia bisa tahu tempat apa itu. Baru liat batu nisan sama tanah aja dia udah tahu itu kuburan.


“Yah, gue juga tau itu. Yang gue maksud tempat ini ada di mana? Sepertinya gue pernah ke tempat ini ..….” Erika


memiringkannya sembari memperhatikan dengan lekat foto di depannya.


“Oh, itu cafe di pertigaan dekat jembatan itu. Nggak jauh dari kampus kok. Cuma butuh kurang dari sepuluh menit buat ke sana.” Danto menjelaskan.


“Di sana juga kita bikin pertemuan sama anak DKV, dua tahun lalu.” Dinto menambahkan.


Erika mengangguk. Kini ingatannya sudah jelas akan cafe itu. Dua tahun berlalu, namun interior cafe itu belum berubah sama sekali. Lekat-lekat pandangannya terarah terus pada foto itu.


“Dua tahun lalu kita gabung sama mereka buat proyek pertama kita, ya …...”


Kilas balik peristiwa itu terputar utuh di kepalanya. Canda-tawa dan gurauan menemani saat-saat perkumpulan mereka itu. Erika tak bisa menahan senyumnya. Saat-saat itulah ia pertama kali mendapatkan pekerjaan dan mendapatkan keuntungan pertamanya.


“Iya, waktu itu Rizky juga ikut. Sayang, dia belum dekat sama kita ya saat itu.” Dinto berucap pelan seakan juga teringat masa-masa itu.

__ADS_1


“Foto-foto itu didokumentasikan sama salah satu anak DKV. Dan anak itu juga yang jadi topik kita sekarang.”


Erika langsung mengalihkan tatapannya pada Danto yang terdiam setelah berucap. Seakan ingin membangkitkan rasa penasaran Erika.


“Dia Riko Regarstya,” ujar Dinto cuek. Memang berbeda dengan Danto yang selalu menahan-nahan sesuatu, Dinto lebih suka mengutarakannya dengan jelas.


Danto mendengkus tak suka. Ia menatap Dinto yang cueknya minta ampun, dengan pandangan kesal. “Jangan terlalu jelas gitu bisa, nggak. Nggak asik banget sih, lo,” protes  Danto. Dinto santai aja menerima protes Danto. Dia malah diam dan tak merespon apapun, namun malah kini bersitatap serius dengan Erika.


“Oh, intinya mereka semua bersangkutan gitu? Terus hubungan gue sama ini apa?”


Erika menatap mereka berdua bergantian. Danto memukul pelipisnya sedangkan Dinto malah mengembuskan napasnya pelan. Pembicaraan yang panjang sampai memakan waktu satu hari pun masih tak dimengerti Erika. Terasa sia-sia sudah berbicara serius dengan panjang lebar, sedangkan si topik utama malah tak sadar diri.


“Ck, Rizky nyatain suka sama lo. Artinya lo juga masuk hitungan di sini. Persegi cinta gitu.”


“Wow, baru kali ini gue dengar ada persegi cinta.”


Seseorang yang baru saja datang dan menyela di antara mereka pun langsung jadi pusat perhatian mereka bertiga.


Ketiga orang itu hanya menatap cowok yang berdiri itu dengan pandangan heran.


menatap tegas pada sosok cowok yang lebih muda darinya itu.


“Hai, Kak Erika!” sapa Riko yang tak peduli dengan ucapan Danto. Dia tersenyum lebar lalu mengangkat telapak tangannya ke samping.


Erika mendelik heran tapi nggak lama-lama. Semua orang kini mengenalinya karena gosip murahan itu. Dan kini, si bahan gosip sedang berhadapan dengan salah satu partikel pendukung gosipnya. Yah, siapa lagi kalo bukan Riko si anak DKV.


“Sorry, nih, kita nggak nerima tamu tambahan apalagi tamunya nggak tau etika yang baik dalam mengobrol. Lo boleh pergi sekarang.” Erika mengusir halus tanpa nada emosi ataupun kesal sama sekali. Dia tersenyum simpul saat berucap. Bahkan sikapnya itu pun membuat Danto dan Dinto melongo tak percaya.


“Rik! Apa-apaan sikap lo ini. kayak bukan Erika aja, deh,” ujar Danto lalu tertawa pelan. Riko dan Erika hanya menatap heran kelakuan Danto yang aneh itu. Erika tidak berbuat sesuatu yang lucu, namun kenapa Danto malah tertawa? Erika tak habis pikir dengan kelakuan Danto yang aneh bin ajaib itu.


Erika tak peduli pada Danto dan kini ia mengarahkan tatapannya pada Riko—yang masih setia berdiri walau sudah diusir.


“Lo kemari bukan karena nggak sengaja, kan? Gue yakin lo pasti punya alasan lain.”


Riko menjentikkan jarinya mendengar perkataan Erika. Dia tersenyum simpul. “Yap! Kak Erika benar banget. Gue ke sini bukan karena nggak sengaja, tapi memang sengaja kok.” Lalu duduk di samping Dinto seenaknya.

__ADS_1


“Gue dengar kalian lagi asik gosip, dan gue dengar juga kalo kalian lagi gosipin Rizky dan gue.”


Danto langsung mendekatkan wajahnya ke telinga Erika, lalu berbisik, “Apa dari tadi orang-orang pada dengar pembicaraan kita?” Namun bisikan itu masih bisa didengar yang lain. Bahkan Dinto pun harus tepuk jidat karena kelakuan Danto. Sudah jelas-jelas suaranya sebesar toa masjid, dikecilin bagaimanapun juga tetap kedengaran—Danto kan nggak bisa mengontrol nada bicaranya.


“Yah, itu benar Kak. Dari awal semua pembicaraan kalian kedengaran. Makanya, karena gue merasa terpanggil jadi


gue hadir di sini. Gibahin orang nggak baik kalo di belakang orangnya. Lebih baik di depan langsung gini. Lebih enak.”


“Lebih enak dari mana. Lo ada di sini malah bikin suasana jadi keruh,” sindir Danto.


“Gue ke sini buat tanya satu hal.”


Inilah inti pembicaraan yang ditunggu-tunggu Erika sedari tadi. Ia tak berani menyela di saat-saat ia sedang malas, jadi dia biarkan saja telinganya mendengar semua bacotan tak berharga mereka. Tampangnya kini berubah serius.


“Mau tanya apa?” tanya Dinto datar, sedatar tembok Berlin.


Riko terkekeh pelan melihat ketidaksabaran yang ada pada tiga orang ini. ia menunduk sebentar lalu kembali menatap ke depan.


“Apa sodara gue ada di sini?”


Rasa heran pun tak terelakkan lagi. Mereka bertiga hanya berbagi pandangan heran pada satu sama lain. Dinto


menggeleng kepalanya pelan. Ia menatap heran Riko yang santainya ngelewatin kesantaian Erika. “Sodara lo? Iya, dia ada di sini!” serunya kasar lalu berdiri sama kasarnya. Erika yang ada di sampingnya pun dibuat kaget karena Danto yang berdiri tiba-tiba.


“Nih! Ini sodara lo. Orang nggak tau diri yah berarti dia ini.” Jari telunjuk Danto mengarah tepat di wajah Riko. Dengan kasarnya ia menunjuk-nunjuk wajah Riko seperti itu. Peduli setan dengan pandangan orang. Kini Danto sedang kesal karena gangguan satu ini.


Riko hanya tersenyum. Seakan dia tak merasa bersalah sama sekali. Erika mengangkat tangannya dan mengusap


punggung Danto agar tenang. Dinto tak bisa berbuat banyak karena dia tidak tahu harus berbuat apa. Yang bisa dia lakukan hanyalah mengamati.


“Santai aja kali. Gue cuma nanya sodara gue aja lo ngegas amat.”


Dan, tak perlu kata pamit lagi Riko langsung pergi dari sana. Riko tersenyum puas merasa aksinya sudah berhasil. Di balik punggung Riko, Danto hanya bisa mendengkus kasar.


Hah, tak habis pikir Danto mengingat sikap para Junior yang tak lagi punya rasa menghormati Senior. Berbuat seenaknya namun tetap menunjukan sikap baik. Bagaimana dia tidak geram dengan mereka saat sikap seenaknya ditutupi dengan sikap sopan yang berlebihan.

__ADS_1


Hah, Junior jaman sekarang memang susah dimengerti.


__ADS_2