![Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]](https://asset.asean.biz.id/oh--my-uncle---on-going-revisi-berjalan-.webp)
Pagi yang cerah menyambut Erika yang kini terlihat lebih segar dari luar, namun dalamnya sekacau kapal pecah. Tak henti-hentinya Erika mendengar celotehan Sherly dari dalam. Mengatakan hal-hal tak berguna semenjak dia bangun hingga sekarang. Dan kebanyakan dari semua yang diucapkan wanita itu adalah kata-kata kasar yang tak baik untuk didengar siapapun.
Mereka sudah berbicara sebelumnya, dan membuat perjanjian. Selama Sherly belum tidur, dia harus tetap di dalam sana. Walau Sherly bersikeras ia akan tetap di dalam asalkan Erika memperbolehkannya mengobrol. Karena Erika yang tak ingin telinganya panas dengan segala kata-kata kasar Sherly, akhirnya mau tak mau ia setuju saja. Dan semuanya berakhir seperti ini—Sherly yang selalu mengajaknya bicara namun dia mendiamkan
saja dan fokus berjalan.
Dari arah belakang Erika, Danto berlari tergopoh-gopoh dengan pandangan tertuju pada Erika. Saat sudah mendekati Erika, Danto memukul keras pundak Erika hingga gadis itu terkejut bukan main.
“Sial, ngagetin aja.” Erika berucap lalu mengusap dadanya pelan dengan sebelah tangan. Danto hanya nyengir. Sedangkan Sherly di dalam sana tertawa terbahak-bahak.
“Gitu aja kaget,” cibir Sherly yang hanya bisa didengar Erika. Erika tak merespon cibiran Sherly, dan malah bersikap semestinya agar tak ada yang curiga. Bisa-bisa dia malah dikatain gila seperti yang pamannya, sobatnya dan
istri pamannya bilang.
Ah, ketidaksukaannya terhadap perkataan itu tentunya punya alasan. Seperti halnya orang lain, Erika juga tak suka jika orang terdekatnya—terutama keluarga—melihatnya sebagai orang aneh yang perlu dimasukan ke RSJ.
“Dantooo! Lo kalo lari jangan kenceng-kenceng dooong!! Gue, gue nggak kuat bang*at!” seruan Dinto yang baru
saja datang entah dari mana dengan napas terengah-engah menarik perhatian mereka berdua. Dalam hitungan detik tawa Danto langsung mengelegar menertawakan Dinto yang kelelahan mengejarnya.
“Ini efeknya kalo lo nggak pernah lari-lari karena ketahuan curi mangga tetangga. Makanya, kalo orang manggil buat olahraga tuh ikut, bukan mangkal di kasur terus.” Danto berujar sendu sambil mengusap kepala Dinto yang tertunduk di sampingnya.
Erika menatap heran mereka berdua. Tangannya terulur membantu Dinto agar bisa berdiri tegak. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Dinto langsung meraih tangan Erika. Saat sudah bisa berdiri tegak,
walau napasnya belum benar-benar teratur dia bisa melihat bagaimana ekspresi Danto yang terlihat mengejek.
“Kalian berdua dari mana, sih, sampai harus lari-lari kek gini. Memangnya lo berdua segitu rindunya sama gue, ya?”
“Hah? Rindu?” Danto membelalak tak percaya. “Lo nelantarin tugas besar kita sehari, Rik. Lo pikir tugas itu bakal selesai sendiri.”
Erika menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Baru sehari dia tak masuk saja, sudah ada banyak hal yang terbuang sia-sia. Ia menyesal tapi mau bagaimana lagi. Dia nggak akan bisa kosentrasi jika masuk dalam keadaan mata bengkak. Setidaknya saat ini, matanya sudah kembali seperti semula.
“Kemarin Danto mau ke rumah lo. Dia yang ngajak tapi dia nggak tau alamat lo. Seharian kita berdua di jalanan nyari rumah lo.” Dinto melirik Danto di ujung matanya. Mereka cengar-cengir seperti anak kecil yang tak tahu kejamnya dunia.
“Ngapain nyari gue sampe segitunya? Kalian nyari gue buat ngajakin nugas atau hal lain?”
Erika menatap mereka penuh selidik.
“Rizky, dia sebenarnya nggak yakin dengan perasaan dia sendiri.” Dinto mengutarakan yang sebenarnya secara terang-terangan. Danto melongo tak percaya. Sedangkan Erika hanya membulatkan mulutnya berbentuk 'O'.
__ADS_1
“Din! Lo ngapain ngomong blak-blakan gitu. Harus dijelasin pelan-pelan dulu dong! Kalo gini kan Erika jadi nggak ngerti.”
“Apanya yang harus dijelasin, Dan. Tinggal bilang yang sejujurnya nggak usah pake bicara panjang lebar.” Dinto membalas ucapan Danto.
Kini Erika lebih tertarik pada Dinto ketimbang Danto. Dia mendekati Dinto lalu menatap lekat Dinto.
“Bilang aja semuanya, Din. Lo nggak perlu dengerin si setan satu.”
“Rik, Lo—“
“Rizky dia lebih brengsek dari yang kita kira.”
Oke, sekarang Danto pun terdiam mendengar penuturan Dinto. Erika pun sama halnya. Ia terdiam dan
memperhatikan Dinto dengan lekat.
“Rizky itu …...”
Ucapan Dinto tergantung di udara. Terhenti begitu saja. Matanya tak lagi fokus pada dua orang di depannya
itu. Pandangannya tertuju pada orang yang kini tengah melangkah masuk ke dalam gedung fakultas Teknik. Melihat diamnya Dinto yang bikin heran, Danto pun mengikuti arah pandangan Dinto. Selanjutnya Erika pun melakukan hal yang sama.
Dinto melirik sekilas Erika yang terdiam memperhatikan dari jauh apa yang dilakukan dua orang itu.
“Rizky dan Viena, mereka terlibat cinta segitiga dengan anak DKV.” Dinto menjelaskan di belakang Erika.
Danto pun mengangguk membenarkan ucapan Dinto. “Riko Regarstya, mantan Viena. Mereka putus gara-gara tak lagi saling suka. Lalu ada yang bilang kalo Viena cinta mati sama Rizky.” Danto melanjutkan sambil melihat Erika yang terdiam di sampingnya.
Erika mengangguk karena masalah ini sudah diketahuinya jauh sebelum Danto dan Dinto mengatakannya. Dia berbalik lalu menatap bergantian mereka berdua.
“Rizky itu cowok brengsek yang suka mainin cewek. Gue sampai turun lapangan buat dapatin foto ini.” Danto
dengan semangatnya mengeluarkan ponselnya dan menunjukan apa saja yang ia dapatkan setelah riset panjangnya itu.
Foto-foto Rizky yang entah dengan berapa banyak cewek modis pun terpampang di depan Erika sekaligus Dinto
yang ikut curi lihat.
“Bisa saja itu keluarganya. Jangan curiga dulu.”
__ADS_1
Danto mengibas satu tangannya di udara. “Jangan curiga gimana. Ini jelas-jelas dia dekat sama cewek yang gayanya aja sudah bikin orang panas-dingin ngeliatinnya.”
“Curiga tapi nggak gitu juga kali. Itu urusan dia, ngapain juga kalian urus.” Erika berujar santai lalu mendengkus pelan.
Erika tak mau berpikiran buruk pada Rizky. Walau di dalam sana Sherly terus-terusan membenarkan setiap ucapan si kembar itu. Erika ingin membentak Sherly agar diam. Dia sama sekali tidak bisa fokus jika Sherly terus berbicara tanpa henti di dalam sana.
Hah, Erika hanya bisa terdiam dan menghela napas pelan. Tak tahu harus meladeni yang mana.
“Rik, kita di sini buat ngasih tau lo. Kalo cowok yang suka deketin lo itu nggak sebaik tampangnya.” Danto terlihat pasrah dengan sikap Erika yang seakan tak mau mendengarkan apa yang dia bicarakan.
“Berarti lo berdua deketin dia buat cari tau kehidupannya gimana, kan?”
Erika tersenyum pahit melihat tampang kedua temannya yang terdiam ini. tak perlu berkata apa-apa lagi Erika pun sudah tahu bahwa apa yang dia bilang adalah benar.
“Kalian dari awal nggak niat berteman dengan dia, ya? Kalian kenapa setega itu, sih.”
Erika menggeleng tak percaya.
“Awalnya nggak niat, tapi lama-lama kami niat berteman kok sama dia. Tapi dianya yang hancurin kepercayaan kita,” bela Dinto.
“Ah, sudahlah. Rumit banget sih pertemanan kalian. Masuk kelas, yuk. Masih pagi juga udah ngegosip.”
Erika berbalik dan berlalu dari sana. Meninggalkan Danto dan Dinto yang hanya terdiam bisu, lalu ikut melangkah di belakang Erika. Tanpa sadar jantung Erika berdetak cepat dan itu membuat Sherly mengejeknya setengah mati.
“Lo sakit jantung? Jantung lo kayak orang abis lari marathon tau.”
“Nggak nyangka perasaan lo jadi campur aduk gitu.”
“Hmm … gue penasaran siapa orang terakhir yang bakal lo pilih.”
“Jangan-jangan, lo bakal milih si imut itu.”
Sherly tertawa terbahak-bahak dengan ucapannya sendiri. Erika tak mengerti lagi harus berbuat apa pada Sherly. Mau berkata kasar, tapi Sherly lebih tua darinya. Jadi yang bisa ia lakukan adalah mengatakan hal sewajarnya.
“Kak Sely bisa diam, nggak. Pening kepalaku dengar bacotan Kakak.”
“Bacotan gue berharga tau. Kalo nggak ada gue, lo bakal kesepian. Iyah, gue diem sekarang.”
Erika bisa melihat wajah sherly yang tertekuk kesal di dalam sana. Ia hanya tersenyum dan kembali fokus untuk melangkah, sebelum ada yang menyadarinya bengong sendiri di saat berjalan.
__ADS_1