![Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]](https://asset.asean.biz.id/oh--my-uncle---on-going-revisi-berjalan-.webp)
Satu-persatu bulir air mata jatuh membasahi punggung tangannya. Mengalir melewati pipi lalu jatuh. Tangisnya tanpa suara, membuat suasana kian sedih. Daripada menangis sambil meraung-raung nggak jelas, Rika lebih memilih diam tanpa suara. Hanya matanya yang bersuara, dengan air mata yang tak berhenti mengalir dari pelupuk matanya.
Pelayat datang silih berganti. Mengucapkan sepatah kata penenang lalu pergi meninggalkan. Sampai pada saatnya, tangisnya pun keluar tanpa suara. Liang lahat menjadi tempat terakhir ibunya beristirahat. Ketika liang lahat itu mulai tertutup oleh tanah menjadi saat-saat terakhir ia melihat ibunya yang tertidur dalam balutan kain kafan.
Waktu terasa cepat berlalu, semua yang ada sudah kembali pulang. Yang tersisa hanyalah dia dan sang kuburan, yang hanya ia tatap dalam kesunyian.
“Rika, ini ada titipan terakhir dari ibu kamu. Sabar, ya, semua ini hanya ujian. Mbak Sekar pergi dulu.”
Suara yang terdengar parau itu perlahan memudar tersapu angin. Kini dia benar-benar sendiri, berteman dalam sepi. Lagi-lagi air matanya jatuh dalam tangis sepi. Dadanya terasa sesak, seakan ia baru ditimpa ribuan beban yang menghantam tubuhnya. Rasa kehilangan ini, begitu tak bisa dipercayai oleh logikanya. Rasanya seperti sedang berada di mimpi tak berujung.
__ADS_1
Mimpi yang membawanya pada kesedihan mendalam. Hampa rasanya ditinggal orang terkasih. Apalagi itu adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki. Erika mengusap air matanya dengan kasar. Tatapannya jatuh pada sebuah kardus sedang yang berada di sisi kanannya. Kardus yang diletakan Mbak Sekar tadi. Kardus yang katanya peninggalan terakhir ibunya.
Tangannya yang pucat dan bergetar pelan, terangkat untuk meraih kardus itu. Saat sudah berada di depannya, ia langsung membuka tutup kardus itu. Ada banyak benda di dalam. Salah satunya amplop coklat yang berada paling pertama dari benda-benda itu, menarik perhatiannya. Diraihnya amplop itu dengan pelan. Erika membuka amplop itu tanpa ragu. Di dalamnya terdapat banyak kertas-kertas entah apa. Namun kertas bergaris dari notebook, yang kini sudah menguning di sebagian sudutnya itu menarik perhatiannya.
Matanya membaca satu-persatu baris surat itu. Setelah sampai di ujung kalimat, Erika kembali membaca ulang dari awal. Pikirannya bertanya-tanya akan maksud dari isi surat itu.
“Tinggallah dengan Pamanmu.”
“Dek, Rika, ada yang mau ketemu ibumu.”
__ADS_1
Suara Pak Tanto membuyarkan lamunannya. Ia bahkan baru tersadar, bahwa dirinya tak lagi menangis semenjak memikirkan keanehan surat dari ibunya.
Erika menoleh ke arah suara. Tubuhnya pun ikut berbalik. Di sana, tak jauh dari tempatnya duduk, ada Pak Tanto dan seorang pria. Erika terdiam saat Pak Tanto mulai melangkah mendekatinya lalu berkata, “Katanya keluarga Dek Rima, Bapak cuma antar saja ke sini. Bapak pergi dulu.” Lalu Pak Tanto pun menghilang dari hadapan mereka berdua.
Erika terdiam. Suasana sekitar mereka kembali hening. Pria itu menatapnya dari atas, lalu tersenyum penuh kharisma. “Ayo pulang, nggak baik berlama-lama di tempat orang yang sudah meninggal.”
Erika menatap heran pada pria asing itu, “ ... siapa?” tanyanya dengan suara sekecil semut.
Pria itu kembali tersenyum, kini dengan lebarnya. “Kamu udah lupa ternyata, padahal dulu saya sering gendong kamu waktu kamu masih kecil. Lama nggak ketemu, kamu jadi nggak ingat sama Paman sendiri.”
__ADS_1
Erika terperangah. Apa pria ini yang dimaksud ibunya? Apa benar? Erika masih tidak yakin dengan semua ini. Ini terlalu cepat baginya. Baru saja kabar duka menghampiri hidupnya, kini kabar bahagia pun ikut datang bertamu. Erika tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
Tangan pria yang mengaku sebagai pamannya itu terulur membelai pucuk kepalanya, tak lupa dengan wajah berhias senyum yang semakin menambah ketampanannya. Lagi-lagi Erika dibuat terpesona. Semoga ia kuat hidup bersama pamannya yang tampan ini.