Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]

Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]
Chapter 13


__ADS_3

Langkahku terhenti di depan rumah. Sebuah mobil sedan yang sangat kukenali terparkir rapi di samping mobil Ema. Iya, mobil Ema, yang mana anak tirinya Uncle. Jujur saja aku iri dengan Ema. Dia mendapatkan segalanya, sedangkan aku? Apa yang aku dapatkan.


Yang kutahu, aku hanya mendapat seorang paman, itupun angkat. Jauh berbeda dengan Ema, dia mendapatkan segalanya. Kasih sayangnya seimbang. Dia punya ayah dan ibu. Sedangkan aku, aku tidak punya mereka berdua. Bukan tidak punya, tapi tidak lagi punya kedua hal itu.


Sosok ayah saja aku tak tahu seperti apa dia. Hanya sosok ibu yang selalu teringat di kepalaku sewaktu-waktu.


Ah, sudahlah. Kepulangan Uncle lebih menarik ketimbang membicarakan masa lalu dan rasa iri. Sebesar apapun rasa iri itu, tetap saja bukan perasaan yang harus dikembangkan. Itu akan menjadi pedang bermata dua bagiku sendiri.


“Uncle, Rika pulang!” teriakku sambil berlari masuk ke rumah. Kosong. Tak ada orang.


“Uncle.” Kini aku berteriak dengan suara rendah. Semangatku yang 45’ tadi hilang seketika. Tak ada yang menyenangkan sama sekali dengan malam ini. Pulang-pulang sudah disuguhkan pemandangan yang sama lagi. Padahal rumah ini dihuni oleh empat manusia di dalamnya.


Ini lebih mirip kuburan ketimbang rumah.


Langkahku lesu saat berjalan. Wajahku datar, sedatar dinding kamarku. Bodolah. Peduli amat dengan keadaan.


“Dia nggak kenapa-napa, kan?”


Langkahku terhenti di depan pintu kamar Uncle. berhubung kamar Uncle dekat tangga, jadi sebelum naik tangga aku harus melewati kamar mereka yang biasanya sunyi. Tapi kini pembicaraan aneh terdengar dari dalam. Membuat mau tak mau aku terpaksa berhenti. Udah terlanjur penasaran.


“Aku nggak yakin dengan keadaan sekarang. Tapi kami berdua, aku dan Ema berada dalam bahaya.”


Suara Bu Alana terdengar bergetar. Rasa penasaranku semakin membuncah setelah mendengar ada kata ‘bahaya’ di ucapannya. Kupasang pendengaranku dengan baik, agar bisa mendengar lebih lanjut pembicaraan mereka.


Sudah seperti tukang nguping aku ini. Gara-gara Danto, sih. Aku jadi penasaran sama kehidupan dua makhluk hidup itu.


“Kamu istirahat aja dulu. Aku yang akan buat makan malam. Jangan terlalu khawatir.”


Mendengar hal itu aku langsung ngacir dari sana sesaat sebelum Uncle keluar dari kamarnya. Aku mengusap dadaku setelah masuk ke kamar dengan aman.


Setelah selesai berberes seadanya, aku turun dan membantu Uncle menyiapkan makanan. Setelah makanan telah tersaji, dua orang yang tak ada kostribusi sama sekali dalam membuatnya malah hanya duduk bersama menikmati makanan.


Senang banget anak dan ibu ini. Kirain gue sama Uncle pembantu apa. Sialan.


“Gimana bulan madunya, Uncle?” tanyaku memecah keheningan yang tak menyenangkan ini.


Uncle tersenyum sambil memandangi Bu Alana, yang juga tersenyum membalas Uncle. mereka berdua seperti sedang berkata tanpa suara padaku bahwa “Bulan madu kami sukses berat.” Kira-kira seperti itulah.


Aku hanya tersenyum dan keadaan kembali hening tanpa ada yang berbicara.


“Ekhm, Rika.”


Kutengadahkan kepalaku menghadap Uncle. raut wajahnya berubah serius dengan sedikit keraguan.


“Ya,” jawabku.

__ADS_1


Uncle meletakan sendoknya di piring, hingga dentingan sendok yang beradu dengan piring terdengar keras di antara keheningan ini.


“Kamu tau dengan masalah Ema?”


Kutatap Uncle dengan penuh tanya. “Masalah apa?” tanyaku penasaran. Perasaan Ema kelihataan baik-baik aja dari penglihatanku. Yah, walau nggak dekat-dekat banget sama dia, tapi menurutku dia kelihatan baik-baik aja, tuh. Kelihatannya begitu, tapi kayaknya tidak.


“Rika, kamu beneran nggak tahu Ema lagi kena masalah?” tanya Bu Alana lirih.


Aku mengedikan bahu tak acuh. Apa aku harus tahu semua masalah Ema? Dia siapaku memangnya?


“Rika.” Uncle membentakku hingga membuatku tersentak. Aku sontak menatap Uncle lalu beralih ke Ema di sampingku. Cih, dia memalingkan wajahnya dariku.


“Sudahlah, Ma. Nggak usah dibahas lagi, jadi nggak nafsu makan, nih,” ujar Ema. Ia lalu berdiri dengan kasar hingga menimbulkan decitan tak menyenangkan antara kursi dan lantai keramik. Dia ngapain, sih.


Aku hanya bengong menatap kepergian mereka satu-persatu. Napasku berembus berat keluar dari mulut. Aku masih berusaha sabar dan memaklumi keadaan. Walau nyatanya, aku pihak bersalah di sini.


Setelah menyimpan makanan sisa di kulkas dan mencuci peralatan makan, aku akhirnya bisa meninggalkan ruangan ini.


Kakiku melangkah pelan menapaki satu-persatu anak tangga. Dari sini aku sudah mendengar seperti teriakan dan bentakan memenuhi rumah ini. Semakin mendekat ke atas semakin jelas suara yang kudengar.


Brak!


Suara besar dari belakang punggungku sontak membuatku berbalik. Aku gagal masuk ke kamar, tapi malah mendapati tontonan menarik.


Di depan kamar Ema, Bu Alana dan dirinya sedang terlibat adu mulut. Mulai deh, drama keluarga berantakan malam-malam begini.


Saat tatapan kami bertabrakan, dia malah menatap balik padaku dengan pandangan mengerikan. Lalu entah setan dari mana dia langsung menutup pintu dengan kasarnya. Aku yang berada jauh dari mereka saja kaget mendengar suaranya, apalagi Bu Alana.


Aku menatap pintu kamar Ema dengan pandangan sedih. Kasihan pintu itu. Dibuka dengan kasar, ditutup pun dengan kasar pula.


Tanganku bergegas membuka pintu kamarku sesaat sebelum Bu Alana berbalik. Untungnya dia tidak menyadari keberadaanku. Bisa bahaya kalo ketahuan nguping. Hancur sudah reputasiku yang biasanya tak peduli dengan keadaan.


Namun lagi-lagi, aku seperti ini karena Danto.


Kubuka sedikit pintu kamarku beberapa senti, untuk memberiku celah guna mengintip. Dari pandanganku, wajah Bu Alana lesu banget. Raut wajahnya nggak baik. Ia terlihat lelah dan sedih juga sedikit takut.


Kasihan sekali keluarga aneh itu.


Sudahlah, aku tak mau lagi memikirkan mereka. Pintu itu kembali kututup. Kuhampiri meja belajarku. Berniat untuk mengerjakan tugas.


Namun semua itu gagal, karena dering telpon menganggu malah terus mengelegar tak henti-hentinya.


Dengan enggan aku berdiri mengambil benda pipih itu di atas nakas. Melihat id caller si penelpon membuatku tak mood menjawabnya. Tapi tetap saja kujawab, setelah dering panjang yang kesekian kalinya.


“Lama banget jawabnya. Lumutan nih, gue nungguin lo angkat,” ujar Danto kesal.

__ADS_1


Aku mencebikan bibirku pelan. “Ngapain lo telpon gue? Malam-malam lagi. Mau ngegosip apa lagi lo,” tukasku kasar.


Dia ini menganggu sekali bagiku. Nggak di kampus, nggak di rumah, si setan satu ini lebih menganggu dari siapapun. Beda dengan setan dua yang lebih kalem dan masih sadar diri. Tapi tetap aja, mereka


berdua sama-sama menganggu.


“Rik, lo bener banget. Lima jempol deh buat lo.”


Aku menggeleng. “Bodoh, lo cuma punya empat jempol. Beg* banget, sih, jadi orang,” cibirku.


“Lo mau ngegosip apaan, sih. Bisa dikatakan sekarang, nggak. Kalo nggak gue matiin, nih.”


Danto terdengar meringis pelan di sana. “Jangan dong! Lo jahat banget ngancem gue terus. Gue cerita sekarang,” ucapnya lesu. Ia pun bercerita panjang lebar, tak lupa segala spekulasi aneh yang ia bicarakan.


Aku mendengar tanpa minat sama sekali. Panjang dan lama. Telingaku mulai terasa panas mendengarnya berceloteh entah apa.


“Dan lo tau siapa yang gue ceritain tadi?” tanyanya tiba-tiba.


“Nggak tau,” ucapku cuek karena memang aku nggak tahu.


“Ish, gue udah ngomong panjang lebar masa responnya cuma segitu. Jahat banget nggak, sih. Untung gue ganteng,” gerutunya yang makin nggak jelas. Apa hubungannya dia ganteng sama topik pembicaraan sekarang ini? Nggak ada, kan. Iya, Danto nggak jelas orangnya.


“Lo beneran nggak tau siapa yang kita bicarain sekarang ini?” tanyanya memastikan dengan suara bergetar. Dia pasti merasa sia-sia sudah mengajakku bergosip.


“Nggak,” jawabku mantap.


Danto mengeram, lalu mengembuskan napasnya kasar. Dia pasti sedang mencoba untuk sabar. Semangat Danto!


“Kita lagi ngomongin lo dari tadi, Rik. Lo udah jadi trending di mana-mana. Apalagi di fakultas Sastra. Dan lo tau kenapa lo terkenal banget di sana?”


“Nggak.”


“Lo jadi terkenal karena ngerebut orang yang disukai salah satu anak sastra,” lanjut Danto dengan suara serius.


Aku menatap lurus-lurus ke depan. “Oh,” kataku singkat.


“Iya! Terus lo jadi di benci sama satu fakultas Sastra!” seru Danto semangat sekali.


“Lo senang gue jadi dibenci orang?” tukasku.


“Eh, bukan gitu, Rik! Erik, dengerin gue du—“


Panggilan itu kuakhiri sepihak. Peduli setan dengan Danto yang mengatakan aku jadi terkenal atau apalah itu. Aku malah jadi kepikiran dengan masalah ini. Ini tidak mungkin mereda sendiri.


Ah, gara-gara si Rizky penganggu itu, masa-masa kuliahku tak lagi mulus. Dijauhin malah tambah dekat. Udah nolak berulang kali sampai bertindak kasar, dia tetap saja tak mau pergi. Maunya dia apa, sih! Apa aku harus menerima dia?

__ADS_1


NGGAK AKAN!! MEMANGNYA AKU SUDAH GILA!!!!!!!


__ADS_2