Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]

Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]
Chapter 22


__ADS_3

“Ah ... gini, ya, penampakan rumah lo kalo siang, eh, pagi maksudnya.”


Faris terdiam masih dengan tampang kaget setengah mati. Orang yang seharusnya tak pernah ada, kini malah muncul di hadapannya.


“Erika? Jangan bercanda Erika. Uncle sedang serius,” tuntut Faris atas kelakuan Erika yang aneh itu. Ia masih tak percaya bahwa yang di hadapannya adalah orang itu.


Erika yang sedang memperhatikan sekeliling dapur itu menghentikan aksinya lalu berbalik dan menatap Faris dengan pandangan senang.


“Aduh, jangan kayak gini dong Faris. Lo kayak orang yang baru kenal gue aja, deh,” ujar Erika santai. Dia terkekeh pelan lalu melanjutkan memperhatikan isi rumah Faris.


Erika melangkah cepat pergi dari ruang makan, bahkan Faris pun tak dapat menahannya saking cepatnya Erika melewati dirinya.


“Gila, ini rumah lo waktu siang? Biasa aja. Tapi lumayan lah,” komentar Erika. Ia berdiri sambil pandangannya menyapu area sekitar ruang tamu yang sekaligus ruang keluarga. Faris yang berdiri di depan ruang makan dan dapur hanya bisa terdiam.


“Di mana Erika?” tanya Faris dengan nada pasrah.


Erika yang mendengar hal itu sontak berbalik. Ia menatap Faris tajam lalu dalam seperkian detik wajahnya


langsung berhias senyum lebar. “Gue pikir lo udah lupa sama gue. Hmm, Erika ya. Dia ada di situ, tuh.” Tangannya terangkat menunjuk ke arah belakang Faris. Faris ikut berbalik melihat apa yang ditunjuk Erika.


“Dia nangis di sana. Gara-gara lo tampar dia,” ucap Erika sendu.


Faris berbalik karena apa yang dia lihat hanyalah kosong, tak ada sosok Erika di belakangnya.


“Lo sih, pake nampar segala. Tuh anak jadi nangis, kan!” tukas Erika kesal. Ia menatap Faris yang terdiam dengan pandangan menusuk. “Andai lo mau dengerin dia baik-baik. Dia nggak bakal benci lo sebesar ini,” ucap Erika pelan dan penuh tekanan di setiap katanya.


“Apa yang kamu maksud?” tanya Faris masih saja setia berdiri diam di tempatnya.


Erika tersenyum miring lalu berbalik dan melangkah pelan ke sana kemari tanpa arah. “Lo harusnya sadar, bukannya lo juga tau kalo gue ini nyata?” Faris tak menjawab. Kini pandangannya jatuh pada Alana yang berdiri terpaku di depan pintu. Mereka saling menatap penuh tanya.


“Oh, bukannya ini istri lo?” tanya Erika kaget, plus dengan tampang senang.


Alana semakin terheran-heran. Pandangannya bergantian menatap penuh tanya Erika dan Faris.


Faris melangkah secepat kilat mendekati Alana namun terlambat, Erika sudah duluan menghampiri Alana. Langkah Faris terhenti di samping Alana, sambil menyaksikan bagaimana Erika memperhatikan Alana secara mendalam.


“Istri lo biasa aja ya kalo siang gini. Pas malam keliatan cantik tapi mungkin karena gelap kali, ya?” Erika menatap Faris di sampingnya dengan penuh tanya. Faris gelagapan, tak tahu harus berbicara apa. Erika kembali menatap Alana, karena Faris yang tak meladeni pertanyaannya. Matanya bermain-main memperhatikan Alana dari atas hingga bawah.


Faris tahu, dia tak boleh gegabah saat ini. Perempuan yang berparas keponakannya itu bukanlah Erika yang sesungguhnya. Faris semakin takut saat melihat ekspresi Alana yang terheran-heran.


“Erika kenapa, Mas?” tanya Alana heran.

__ADS_1


Faris tak memperhatikan Alana apalagi mendengarkan pertanyaan Alana. Di matanya hanya ada sosok Erika yang


tersenyum miring. Lalu tanpa diduga, ia tertawa keras. Alana semakin dibuat heran dengan sikap Erika.


“Dia nggak tau siapa gue, Ris! Astaga, kalo gue tau lebih awal gue malah nggak bakal lepasin dia dari awal. Lo sih, kenapa nggak kasih tau gue ke dia." Erika berseru riang lalu disusul tawa sumbang yang aneh.


Tawa sumbang itu perlahan memelan dan hanya terisi keheningan. Alana pun masih heran dengan keadaan ini. Erika melangkah menjauh dari Alana, dan begitu sudah ada jarak antara Alana dan Erika, Faris langsung mendekap Alana ke pelukannya.


“Apa-apaan ini! Kalian berdua kenapa sih—“ Faris tiba-tiba membekap mulut Alana dengan tangannya. Matanya memandang Erika dengan takut.


“Ah, istri lo penasaran tuh. kayaknya gue harus ceritain sesuatu deh. Hmmm … mulai dari mana, ya ….”


Erika mulai menimbang-nimbang harus mulai dari mana. Jari telunjuknya terkatuk-katuk di dagunya. Faris tak berani bersuara. Ia hanya terus mempekap mulut Alana. Walau sedari tadi Alana terus berusaha melepaskan diri.


“Ssstt … jangan berisik, sayang,” bisiknya di telinga Alana. Alana yang mendengar itu malah semakin geram. Ia penasaran dengan semua ini, tapi Faris malah menyuruhnya diam.


“Sshh, aw!” Faris meringis kesakitan saat Alana menginjak kakinya. Hal itu menarik perhatian Erika yang sedang berpikir. Faris melotot ke arah Alana. Namun Alana tak peduli dan malah semakin mengambil jarak dengan Faris.


Ia menatap kesal mereka berdua, Erika dan Faris. “Kalian ngapain sih! Mas juga ngapain pake nutup mulut aku segala. Erika! Masih pagi juga sudah aneh-aneh. Bikin pusing aja,” dumel Alana dengan kesalnya.


Habis sudah, Faris tak tahu harus bicara apa. dia hanya menatap takut pada Erika. Pandangannya terdiam dan terpaku pada sosok keponakannya itu.


“Anak itu ngapain sih? Suaranya juga aneh ...,” gumam Alana yang masih bisa didengar Faris dan Erika.


“Oh, baiklah. Gue akan ceritain siapa gue sebenarnya.” Senyum miring tersungging di bibirnya. Ia menatap Faris dengan tatapan meremehkan.


“Gue, Sherly Asteria ... sampai sini ngerti, kan?” Ia tersenyum dengan lebarnya, hingga matanya menyipit memandangi dua orang yang ia kenali itu.


Mereka terdiam. Perempuan yang menyebut namanya Sherly itu melangkah menuju sofa dan duduk di sana. Ia memiringkan kepalanya ke samping. “Kalian nggak lelah berdiri? Duduk aja. Cerita yang gue persembahkan bakal panjang. Kalian bisa kelelahan kalo berdiri terus,” ujar Sherly dengan intonasi khas wanita dewasa. Suaranya berbeda dari suara asli Erika. Dan itu membuat Alana heran bukan main.


Faris yang mendengar ucapan Sherly langsung bergegas duduk tanpa pikir panjang. Ia tahu pasti, bagaimana sosok wanita dengan paras Erika ini.


“Oke, dengar ya, gue cerita. Hmmm, semuanya bermula karena dia ….”


Dan kisah lama pun mulai diceritakan kembali.


*****


Orang-orang melihat mereka sebagai keluarga harmonis dengan dua anak yang cerdas. Anak pertama adalah perempuan, sedangkan anak kedua yang lahir dua tahun setelah anak pertama adalah laki-laki. Bagi keluarga yang memiliki dua anak berbeda jenis kelamin seperti ini adalah hal yang membahagiaakan.


Kasih sayang yang didapatkan kedua anak itu seimbang. Mereka tumbuh besar di keluarga yang ‘bahagia’ itu. Saat

__ADS_1


sang kakak sudah menginjak usia remaja, parasnya yang cantik dan menarik membuatnya memiliki daya tarik tersendiri.


Erika Ristiana, adalah nama sang kakak. Sedangkan nama sang adik ... tidak diketahui. Bagi Erika, keluarga adalah segalanya. Namun segalanya itu, yang ia pikir sempurna tanpa celah, malah punya celah besar yang tak ia sadari.


Awalnya, hanya sekadar gosip. Ayahnya senang menganggu anak remaja terutama cewek. Yang ada dipikirannya saat mendengar itu hanyalah. Ah, mungkin karena ayahnya ingin mengetahui seperti


apa pergaulannya.


Pikiran anak yang baru memasuki usia remaja memang sangat polos.


Tak ada salahnya Erika kecil berpikiran seperti itu. Apalagi ia juga tahu, Ayahnya sering menjemputnya di sekolah dan menyambutnya pulang dengan senyuman. Kebahagiaan yang tak terkira baginya.


Apa yang bisa dipikirkan anak remaja labil seperti Erika kecil? Yang dia tahu hanyalah, Ayah adalah sosok Hero dalam hidupnya.


Waktu berlalu cepat, Erika kecil tumbuh sebagai remaja yang cantik. Wajahnya selalu berhias senyum. Banyak yang tertarik padanya. Dia diajarkan untuk selalu bersikap baik. Adiknya pun sama. Mereka berdua tumbuh sebagai remaja yang memiliki tampang bagus.


“Erika, Ayah mau bicara sama kamu.”


Erika yang saat itu sedang belajar bersama adiknya hanya menoleh tanpa suara. Ia tersenyum menatap ayahnya lalu mengangguk. Erika berpaling pada adiknya sebelum ia berdiri. Sang adik hanya mengangguk, menyetujui kakaknya pergi. Nanti juga kakaknya bakal kembali, sepertinya begitulah yang adiknya pikirkan.


Erika mengikuti ayahnya itu dari belakang. Dari kamar anaknya, mereka berjalan menuju kamar orang tuanya. Erika tak pernah berpikir sama sekali. Bahwa yang ia masuki saat itu adalah tempat serigala berbulu domba hidup.


*****


“Cerita apa ini Sherly?”


Sherly melirik tajam Faris yang ada di depannya.


“Gue nggak suka ada yang motong ucapan gue. Lo, kalo nggak tau apa-apa diam aja, dan dengarkan,” tegas Sherly.


Alana yang mendengar ucapan Sherly malah terkekeh pelan. “Kamu bicara apa sih, Erika. Kamu lagi latihan main drama, ya? Kalian lucu banget.” Dari hanya kekehan kecil, kini ia tertawa semakin kencang.


Faris memandang tak percaya pada Alana. Ah, bagaimana Faris harus menghentikan semua ini.


“Alana. Diam kamu!” bentak Faris yang seketika membuat tawa Alana berhenti. Matanya tampak bergetar karena


kaget dengan reaksi suaminya yang kelewat serius.


Faris beralih menatap Erika, ah tidak, menatap Sherly was-was.


“Gue nggak ragu bunuh orang, Ris. Dengan sekali hantam aja, kepalanya bisa gue pecahin di meja ini,” ujarnya sembari tersenyum simpul menatap Faris. Telapak tangan Sherly menyentuh meja kayu itu dengan sapuan pelan. Senyumnya semakin lebar hingga membuat matanya semakin menyipit. Senyum simpul tanpa nyawa. Senyumnya tak berarti kesenangan. Senyum yang membuat Faris menjadi teringat. Siapa yang dulu hampir membunuh kakak angkatnya.

__ADS_1


__ADS_2