Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]

Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]
Chapter 5


__ADS_3

“Tumben bangun cepat."


Suara rendah Uncle menginterupsiku. Aku hanya tersenyum lalu menarik kursi dan duduk di depannya. Uncle menyingkirkan ponselnya lalu menatapku.


“Gimana hubungan kamu sama dia?” tanya Uncle tiba-tiba. Sendok yang berisi nasi goreng gagal meluncur ke dalam mulutku. Kuletakan kembali sendok itu ke piring.


“Rika nggak sedang menjalani hubungan dengan siapapun.”


Raut wajahku yang semula biasa saja kini berubah dongkol. Memangnya aku sedang menjalani hubungan dengan siapa? Si Rizky itu? Ck, kabar itu memang menyebar dengan cepat bagai angin yang berembus membawa pergi debu-debu.


“Oh, soalnya kamu jadi topik hangat yang dibicarain yang lain. Dengar-dengar kalian bakal jadian, jadi Uncle cuma nanya aja.”


Hal inilah yang tak kusukai dari Uncle. Dia yang tak pernah menanggapiku dengan serius. Makanya, aku tak bisa mendekatinya di luar batas status keponakan. Dinding penghalang kami itu nyata adanya. Dan dinding itu tercipta oleh status kami. Sial juga harus menyukai paman sendiri.


“Nggak dekat apalagi jadian. Mereka itu cuma berasumsi yang nggak penting. Cuma bisa berpersepsi dengan apa yang terlihat di permukaan.”


Kesal dan kesal. Mana mungkin aku pacaran di saat rasa sukaku malah sedang dibawa orang di depanku ini. Apalagi orang terdekatku malah percaya gosip murahan seperti itu. Menurutku, untuk saat ini aku lebih mengutamakan pendidikan. Saat aku sudah mengenakan toga dan mendapat gelar ST, nah, saat itu baru aku mau mengjungkirbalikan dunia juga tak jadi masalah.


Sekarang ini mana mau. Yang aku mau hanya perasaanku terbalas. Tapi bodoh banget, mau berusaha sedekat mungkin tetap aja ada penghalang. Belum lagi Uncle yang terus menjalani posisinya sebagai paman dengan baik. Dia tak pernah sekalipun melihatku sebagai perempuan.


“Lalu, gimana keadaan kamu di kampus?” tanya Uncle setelah keheningan yang beberapa saat tadi setia menemani kami berdua.


Kuembuskan napasku pelan. “Buruk. Tugas menumpuk. Digangguin terus. Sangat menganggu,” kataku tanpa minat sama sekali. Nasi goreng yang masih tersisa banyak kini tak lagi kumakan. Nafsu makanku terangkat semua dan tak tersisa lagi.


Meninggalkan nasi goreng yang masih banyak, aku memilih untuk pergi kuliah. Dengan tampang jutek pengen nonjok orang. Berhubung mood-ku sedang jelek, aku tak berbicara banyak. Aku melenggang pergi dan berlalu dari hadapan Uncle.


*****


Derap langkah kaki Desy yang tidak beraturan terdengar di sepanjang jalan yang kami lalui. Aku tak sengaja berpapasan dengannya di depan gapura, jadi kuajak saja dia sekalian.

__ADS_1


“Hari ini lo ada matkul?” tanyaku seraya memelankan langkah kakiku. Dia melirik padaku sekilas lalu balik menatap ke depan.


“Ada, tapi cuma satu.” Aku mengangguk mendengar jawabannya.


“Bagus, deh. Lo beruntung. Gue ada dua matkul hari ini.”


Desy tersenyum. “Yang semangat. Gue duluan,” ucapnya sebelum berjalan masuk ke arah gedung fakultas Ekonomi. Aku melanjutkan langkahku ke gedung fakultas Teknik dengan kepala tegak. Aku nggak merasa terintimidasi sama sekali dengan tatapan yang sudah mengikutiku beberapa hari ini. Biar saja mereka menatapku hingga bola mata mereka keluar, aku nggak peduli sama sekali.


“Cieee …! ada yang nungguin, nih,” goda Danto yang berdiri dekat kelas yang akan kami pakai. Aku bodo amat dengan sikapnya. Suaranya yang khas itu menyambutku di depan kelas.


“Gue yang jomlo kayak gini bisa apa,” ucapnya sok melankolis.


"Cuma bisa nangis di pojokan,” lanjut Dinto yang mulai ikut nimbrung. Kuputar bola mataku malas. Ada-ada aja dua kembar usil ini. Siapa lagi jika bukan Danto dan Dinto yang salah satunya tukang gosip.


Riuh suara tawa terdengar rendah memenuhi sekitarku. Pasti mereka juga mendengar ucapan Danto. Apalagi dua objek yang sedang dibicarakan ada di sini. Lebih tepatnya, aku dan Rizky. Mulai, deh, mereka bertingkah.


Wajah Danto berubah memelas seperti kucing minta makan. Pengen kupukul wajah yang sok imut itu. “Sapa dikit, kek, sebelum masuk. Say hai gitu,” pintanya sambil mengerling aneh.


Bibirku berdecak sebal lalu menatap si Objek Pertama dengan kesal. “Ngapain lo di sini. Pergi aja sana. Menganggu,” ucapku sarkas. Kulepas cekalan tangan Danto dengan kasar lalu masuk ke kelas. Tak ada yang bersuara. Semuanya tenang dan hening. Seakan sedang terkesima dengan ucapanku tadi.


Dan, sudah dipastikan akulah pihak jahat di sini.


Matkul pertama tak berlangsung terlalu lama, begitupun matkul kedua. sebelum jam makan siang, kelas sudah selesai. Biasanya, di hari sabtu seperti ini dosen tak akan mengajar dalam waktu yang lama. Ini weekend, bukan hari biasa. Semua orang butuh liburan. Sama halnya dengan mahasiswa. Kami kan, juga manusia.


Berhubung aku sedang tidak mood dan sedang kesal akibat kejadian tadi pagi, Desy mengajakku pergi ke kantin.


“Nggak semangat banget lo,” ujarnya. Aku hanya menatapnya sekilas lalu beralih ke jus jeruk yang nikmat—milik Desy tentunya.


“Lo kayak orang udah bosan hidup tau. Loyo banget,” komentarnya. Kutekuk wajahku lalu mengedik kepala ke arah seseorang. “Tuh, liat. Dia ada di mana-mana. Menganggu pemandangan banget nggak, sih,” ujarku kesal. Desy terkekeh lalu menatapku penuh arti. Tatapan matanya membuatku geli. Tak perlu ahli mikroekspresi untuk membaca wajahnya sekarang ini. Jelas banget apa yang sedang dia pikirkan.

__ADS_1


"Lo natap gue kayak orang lagi berpikir yang bagus-bagus,” dumelku karena merasa tak nyaman dengan tatapan Desy.


“Benci jadi cinta, loh.”


Aku bersedekap lalu menyandarkan tubuhku di sandaran kursi. “Gue nggak benci dia, ya,” ujarku ketus.


“Kalo gitu lo suka dong sama dia,” tukas Desy. Napas berat keluar dari mulutku. Lelah jika beradu mulut dengan Desy. Yang ada nggak selesai-selesai jadinya.


“Serah lo mau mikir apa. Intinya gue nggak suka dia, dan gue juga nggak benci dia. Gue hanya merasa terganggu dengan kehadiran dia. Macam hantu aja, ada di mana-mana. Nggak kesal gimana, coba.”


"Kalo gitu lo nggak usah liat dia aja, gampang kan,” saran Desy yang malah bisa bikin aku makin sengsara.


“Udah gue usahakan, tapi gagal. Dia, sih, ada di mana-mana. Menganggu.”


Kekehan kecil keluar dari mulut Desy. Aku menatapnya tak suka. Bisa-bisanya dia tertawa saat sobatnya sedang kena musibah. Memangnya lucu jika orang yang tidak ingin kita lihat malah ada di mana-mana? Nggak, kan. Yaiyalah, nggak! Lucu dari mana coba. Aneh banget jalan pikiran Desy. Nggak bisa dimengerti.


Keheningan mulai menerpa kami. Tak ada yang berbicara. Desy sibuk dengan ponselnya dan aku sibuk menghabiskan sisa minumannya.


"Hai, Rika.”


Aku mendongak saat mendengar sapaan dari suara yang sudah familiar banget. Revan, Seniorku sekaligus suami Desy, berdiri menjulang tinggi di sisi kiriku.


“Eh, Senior. Des, pergi sana udah ditungguin, tuh,” ucapku dari Revan beralih ke Desy. Desy hanya tersenyum lalu bangkit dari duduknya. “Gue duluan, ya, Ka. Bye.”


Aku tersenyum pada Desy sebelum dia berbalik dan berlalu bersama suaminya. Tinggallah aku di sini sendiri. Di kantin yang tak terlalu ramai. Saat memandang kepergian Desy, mataku menangkap sosok yang paling bisa membuatku kesal. Ya, dia adalah Rizky. Si makhluk tak tahu diri yang selalu ada di mana-mana.


Di manapun mataku memandang, di situlah aku selalu menangkap sosoknya. Rizky di gedung fakultas, perpus, kantin, dan di bumi. Keberadaannya sungguh menganggu ketenangan emosiku. Jika bisa, aku ingin berdiri sekarang dan menyuruhnya agar pergi menjauh dari pandanganku. Tapi mana boleh begitu, jika aku menyerangnya tanpa alasan, tentu saja semua orang akan berpikiran buruk padaku.


Yah, walaupun akhir-akhir ini aku sudah dicap buruk, sih. Tapi, aku nggak mau lagi menambah kesan buruk. Satu aja aku sudah dibuat kesal, apalagi lebih dari satu. Yang ada aku malah sibuk marah-marah. Hancur deh, imej baik-baikku.

__ADS_1


__ADS_2