Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]

Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]
Chapter 7


__ADS_3

Aku terduduk dengan tampang tak percaya di undakan tangga menuju ruang BEM. Kejadian tadi terus teputar-putar di kepalaku. Hatiku terasa sesak dan sakit saat kilas balik itu terputar di kepala. Aku tertampar oleh kenyataan. Apapun yang aku lakukan tak akan ada lagi kesempatan. Semuanya sudah berakhir.


Aku meraup wajahku kasar dengan kedua tanganku. Ingin rasanya menangis, namun aku terlalu menyesali suatu hal. Betapa bodohnya aku yang masih percaya dengan adanya kesempatan, padahal sudah jelas aku ini tak bisa berbuat apa-apa.


Mau berusaha sekeras apapun semuanya tak akan berjalan sesuai mauku.


*****


Hari minggu kali ini berbeda dengan hari minggu yang lainnya. Kali ini Uncle mengajakku duduk bersama. Sorot matanya serius namun ramah. Jelas sekali ada yang ingin dia katakan padaku.


Uncle berdehem pelan sebelum menatapku dengan lekat. “Kamu siap jika Uncle menikah?” tanya Uncle penuh kehati-hatian. Mungkin takut aku tersinggung.


Aku balas menatapnya penuh tanya. “Uncle mau nikah?”


Dia mengangguk.


Dan hatiku terasa sakit. Sadarlah, aku nggak ada harapan lagi.


“Kamu setuju, kan, kalo Uncle menikah?” tanyanya lagi dengan kehati-hatian yang luar biasa. Sorot matanya dari serius berubah menjadi penuh harap.


Aku terdiam. Merasa tercengang dengan sikap Uncle yang lain dari biasanya.


Aku harus jawab apa? Di satu sisi aku tak mau, di sisi lain aku merasa aku harus mau karena itu tugasku—melihat Uncle bahagia dengan pilihan hidupnya. Walau taruhannya aku bakal sakit hati.


Aku hanya mengangguk sambil memasang seulas senyum senang walau terpaksa. Uncle pun ikut tersenyum.


“Makasih Rika,” ucapnya dengan wajah bahagia.


Di antara kebahagiaan Uncle terselip aku yang sakit hati. Miris banget hidupku.

__ADS_1


*****


Malam ini Uncle mengajakku bertemu dengan Bu Alana. Aku ikut saja maunya apa. Tapi setelahnya aku merasa menyesal. Aku seharusnya tidak berada di sini. Keadaan ini membuatku tertekan. Melihat mereka bertiga bersenda gurau membuatku makin merasa menyedihkan.


Tapi ada untungnya juga aku datang. Aku malah dapat informasi menarik yang tak kuketahui selama ini. Ternyata oh ternyata, dia seorang janda beranak satu. Dan cewek yang kulihat waktu itu adalah anaknya.


Kukira mereka adik dan kakak. Rasanya terlalu berlebihan jika berasumsi mereka berdua adalah anak dan ibu. Tapi apa boleh buat, mereka adalah anak dan ibu.


“Kita akan tinggal bersama Erika setelah menikah,” ucap Uncle dengan pandangan terarah padaku. Tak lupa dengan senyum yang sedari tadi tak lepas dari wajahnya.


“Iyah, nggak pa-pa, Mas,” ucap Bu Alana. Aku terpana dengan ucapan Bu Alana yang yakin sekali. Apa dia beneran nggak apa-apa tinggal bersamaku? Aku kan, hanya orang lain. Bisa saja aku malah disiksa oleh mereka. Semacam ibu tiri yang nyiksa anak tirinya. Berlebihan memang berpikir seperti itu. Tapi bisa saja, kan. Punya tampang baik, belum tentu memiliki hati yang baik.


Tapi masalahnya, dia terlalu yakin dengan apa yang dia katakan. Bisa saja hatinya tak sejalan dengan mulutnya, kan. Aku harus bersiap jika hal itu beneran terjadi.


“Mikirin apa?” tanya Uncle yang langsung membuyarkan lamunanku.


“Ah, sial banget, sih,” runtukku setelah melihat pantulan wajahku yang memerah di cermin.


Aku membasuh wajahku dengan air lalu kembali menatap pantulan wajahku di cermin. Berada dalam jarak sedekat tadi saja sudah membuatku berdebar-debar. Wajah Uncle yang tampan dan dewasa itu masih terus terbayang di pikiranku.


Namun bayangan wajah Uncle yang tadi malah beralih ke bayangan wajah Uncle waktu kejadian di perpus itu. Ah, sial. Kenapa juga hal itu malah terlintas sekarang. Aku tak lagi merasa berdebar-debar, melainkan kesal.


Aku kembali ke sana. Ke tempat di mana kehadiranku terasa seperti sebuah kesalahan.


“Kenapa tiba-tiba pergi tadi?”


Mati gue! Gue lupa bikin alasan lagi. Bilang apa, nih ....


“Ng . itu, Rika kebelet dan harus cepat-cepat. Makanya langsung pergi gitu aja,” ucapku setelah berpikir sejenak. Untungnya Uncle hanya mengangguk tanpa bertanya lebih jauh lagi.

__ADS_1


Nggak jadi mati. Syukurlah.


“Makanannya dimakan, Erika. Jangan malu-malu.”


Apaan sih perhatiannya itu. Bikin mual ucapannya itu. Tanpa diingatkan juga aku udah sadar diri dari tadi. Pake bilang nggak perlu malu-malu lagi. Dari tadi juga aku nggak malu-malu, makan ya makan aja. Daripada terabaikan, lebih baik menikmati makan malam mewah yang jarang-jarang terjadi ini.


“Oh, iya. Ema kuliah ngambil Sastra, kan? Bukannya itu dekat dengan fakultas Teknik, ya,” ujar Uncle sambil menatapku.


“Tapi kalian nggak saling kenal, ya,” lanjut Uncle masih menatapku.


Oh, aku baru tahu cewek ini anak Sastra. Memang benar sih, fakultas Sastra dekat dengan fakultas Teknik. Tapi untuk apa mengenal orang yang tak ada hubungannya denganku. Sebagaian anak Teknik aja aku nggak kenal, apalagi anak luar jurusan. Kecuali Desy, aku sudah mengenalnya. Jadi dia tidak termasuk.


Aku menelan makananku dengan kasar. “Ngapain juga anak Teknik ke fakultas Sastra. Kita kan nggak ada hubungan apa-apa,” ujarku.


Uncle dan Bu Alana malah terkekeh. Padahal tidak ada yang lucu sama sekali dari apa yang kukatakan tadi. Aku menatap mereka heran.


"Yah, bukan gitu Rika. Kamu harus membuka lingkup pergaulan kamu. Jangan Cuma jalan terus dengan orang yang sama,” komentar Bu Alana. Dih, belum jadi apa-apa aja udah mulai ngurus kehidupanku.


Memangnya dia siapa!


Dia …  pacar Uncle ....


“Ngapain punya banyak teman kalo satu aja cukup, yang penting saling memahami. Daripada banyak, tapi cuma bisa saling beradu siapa yang paling baik. Buang-buang waktu,” ucapku.


Terdengar Uncle berdehem pelan. Yakin deh, dia sedang berusaha mengembalikan suasana. Gara-gara aku Bu Alana malah tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia pun sama kikuknya mendengar pernyataanku.


“Makan malam kita sampai di sini aja dulu. Ayo pulang.”


Kami semua berdiri dan bersiap untuk kembali. Suasana terasa canggung. Uncle pasti menyesal sudah membawaku bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2