Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]

Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]
Chapter 29


__ADS_3

Dulu, saat aku masih seorang Sherly Asteria, orang-orang melihatku sebagai makhluk paling jahat di bumi. Mereka seakan tak bisa melihat beberapa kebaikan—yang mungkin aku lakukan—dan menuduhku jahat hanya karena kesalahan kecil saja. Dunia rasanya sudah tak berada di pihakku. Padahal sebelum itu, aku sangat beruntung dan sangat dipercaya. Namun si setan itu, ia menyatakan tipu muslihat entah apa sehingga persepsi orang-orang berubah padaku. Termasuk Erika.


Saat-saat paling berat adalah saat-saat di mana aku disalahkan olah keluargaku. Mulai dari kakak iparku sendiri, hingga fitnah dari si setan yang berwujud sebagai kakakku itu. Hidup ini seperti sebuah permainan. Mengajakku bermain sebuah permainan bernama ‘siapa duluan yang menyelamatkan Erika’. Tentu saja, aku menerima tantangan dari permainan itu.


Tapi, permainan itu malah membawaku pada hal yang membuat reputasiku hancur seketika. Mereka mengartikan apa yang kulakukan itu adalah sebuah kesalahan. Sayangnya, apa yang mereka lihat itu tidaklah benar. Apa salahnya aku membuat seseorang menjadi kuat, dan seseorang itu adalah keponakanku sendiri. Asal kalian tahu, ayahnya alias kakakku sendiri itu malah menyukai anaknya sendiri. Bisa dibilang, dia jatuh cinta pada perempuan yang mirip dengan istrinya.


Gila bukan?


Percaya atau tidak, dia itu gila. Memang seharusnya aku tak mengatai orang mati seperti itu, karena aku juga sama gilanya.


Jika diingat-ingat lagi, sudah banyak hal gila yang kubuat. Mulai dari masa kecil yang hanya coba-coba saat itu, hingga dewasa dan coba-coba itu menjadi hal nyata. Kira-kira, jika dijabarkan semua itu adalah rencana membunuh kakakku sendiri.


Kegilaan pertama yang aku buat: nyusun rencana pembunuhan untuk kakakku sendiri pada usia sebelas tahun. Ini pertama kalinya aku berani menyusun rencana secara spesifik tentang pembunuhan, dan itu sangat mendebarkan. Tapi, dipikir-pikir lagi aku masih terlalu muda untuk melakukan hal itu. Akhirnya, itu hanya menjadi sebuah tulisan tak berarti dari anak SD. Rencana pertama gagal direalisasikan.


Kegilaan kedua: wow! Aku akhirnya bisa melukainya saat itu. Walau hanya sebatas goresan dengan silet, namun itu malah meninggalkan bekas yang masih melekat hingga dia dewasa. Awalnya, aku ingin menusuknya dengan gunting, dan membuatnya mati dalam sekali tusuk. Tapi aku sadar, kekuatan anak sekecilku itu bisa apa. Dia memang tidak mati, tapi setidaknya dia memiliki bekas luka di tangan kanannya.


Kegilaan ketiga: ini kegilaan paling tak terduga yang terjadi tanpa rencana. Setelah berdebat panjang mencari solusi di antara argumentasi tak berujung, akhirnya kami bertengkar hebat. Demi seseorang, demi Erika dan masa depannya, aku melawan kakakku sendiri. Singkatnya, aku menusuknya—setelah sekian lama akhirnya tercapai juga apa yang selama ini hanya jadi rencana—namun, dia balik menusukku tak kalah dalam—plot twist tak terduga bagiku. Aku mati semudah itu, disaksikan Erika—kematian paling buruk bagiku—dan juga Faris. Sebelum napasku putus, ternyata si setan sudah kabur karena tusukkanku tak terlalu berefek padanya. Dan adik satu-satunya Erika, yang namanya tak ku-ketahui itu, ikut terbawa bersama si setan.


Saat itu, aku menyesal karena sudah menusuknya. Seperti apa yang sudah kuterka sejak lama, dia tak akan mati dengan tenagaku yang selemah itu. Aku menyesali semua hal yang terjadi dalam satu hari itu. Menyesali semuanya dan kematian itu adalah hal yang pantas aku dapatkan setelah gagal dalam melindungi Erika.


Tapi itu dulu, sebelum aku menyaksikan hal tak terduga hari ini. Wajah yang kukira tak bakal kusaksikan lagi, namun malah terpampang jelas di depan mataku—maksudku di depan mata Erika. Ternyata dia masih hidup. Sungguh hal yang tak terduga. Kupikir, aku tak akan bertemu dengannya. Dia membuatku kembali mempertanyakan sesuatu.


Jika anak itu masih hidup, bukankah si setan itu juga masih hidup?


Andaikan dia masih hidup, aku akan membunuhnya dengan benar kali ini. Dendam yang tak kunjung padam ini, haus akan darahnya. Inilah misi baruku.


*****


“Kak Sely,” panggil Erika.


Aku menoleh ke arahnya. Dia Nampak sendu saat menatapku, tapi tak lama dia kembali menatap ke depan. Aura kesedihan begitu terasa mengalir di tubuhnya.


“Kakak itu apa?” tanya Erika tiba-tiba. Aku tidak mengerti kenapa dia harus menanyakan perihal yang sama setelah sekian lama kami bersama.


“Gue?” tanyaku seolah masih ragu dengan pertanyaannya. Padahal aku tak ragu sama sekali, hanya memastikannya saja—seperti yang dilakukan banyak orang.


“Gue …..? Menurut lo gue itu apa?”


Pandanganku beradu dengan pandangan Erika yang keheranan. Ia mengadah ke atas, menatap langit malam yang ada di luar jendela kamarnya.


“Seperti yang kutahu, Kakak itu hanya ilusi. Benar, bukan? Tapi, mengapa sosok Kak Sely begitu nyata?” tuturnya dengan pelan.


Aku tak menjawab, dan hanya menyimak Erika dalam diam. Biarkan saja dia berkeluh kesah padaku. Daripada orang lain, aku lebih mengenal Erika luar dalam. Manusia ini begitu rapuh, serapuh kerupuk.


“Beberapa orang mengkategori aku gila. Wajar sih, orang berpikiran begitu. Tapi aku kan, nggak gila,” Nadanya berubah sendu, “Aku itu nggak gila. Jujur aja, selama ini aku tau Kak Sely banyak berkonstribusi dalam mengendalikan emosiku.”

__ADS_1


Tanpa sadar aku malah tersenyum kecil. Tentu saja apa yang dia bilang benar adanya. Aku berkonstribusi besar dalam emosinya. Semua yang kulakukan adalah demi Erika. Apapun yang terjadi, perasaan benci harus tetap ada di hati kecilnya itu. Dia harus tetap membenci, agar aku selalu ada. Membenci segala hal yang kubenci, termasuk adik tingkatnya itu.


Imut dan manis, aku mengenal seseorang yang punya sikap seperti itu. Dan seseorang itu, yang akhirnya menyakiti Erika. Erika kecil yang malang, sungguh nasib baik tak berpihak padanya saat itu.


Karena itulah, aku akan selalu ada di dalam dirinya bersama kebencian ini. segila-glanya aku, aku tak akan pernah menyakiti Erika. Dia itu keponakan perempuanku satu-satunya, dan yang pertama tentunya. Memang Erika tak bisa disamakan denganku yang kotor ini. Tapi Entah mengapa, aku merasakan tekad membunuh yang kuat dari sepenggal jiwanya ini.


Tekad ini membuatku bisa abadi di sini.


“Kak,” panggil Erika.


Wajahku sontak menoleh ke arahnya. Wajahnya yang datar memandangiku lamat-lamat. Aku bergumam pelan


merespon panggilannya. Anak itu tampak sedikit tenang saat melihat responku. Mungkin dia berpikir aku tidak mendengarnya. Tapi memang benar kan, aku tidak benar-benar mendengarkannya.


Aku memang bukan makhluk yang baik.


“Aku ingin tau, alasan Kak Sely ada di sini,” Dia menekan dadanya pelan, “Dan malah mempermainkan perasaan aku.”


Jujur, ini pertanyaan bodoh yang sudah kudengar sejak dulu. Namun, Erika tak mengingatnya sama sekali. Walau tak ingat, dia tetap menanyakan hal yang sama. Alam bawah sadarnya bekerja dengan baik ternyata.


Aku mulai berpikir sejenak. Memikirkan apa yang harus kukatakan untuk menjawab rasa penasarannya ini.


“Uhm, gue nggak suka liat lo jadi cewek lemah yang cuma modal air mata. Makanya itu, lo harus jadi cewek kuat.”


Sejenak wajahnya tampak tak berminat, namun tak berselang lama dia malah terkikik pelan.


Otak dan emosi manusia memang paling gampang untuk ditipu. Asalkan mulut ini bisa mengatakan hal yang diinginkan oleh si penanya, semua masalah bisa selesai. Emosi Erika tentu saja terlihat jelas dari wajahnya, yang begitu menyiaratkan keingintahuannya. Dan yang paling pasti, dia ingin mendengar sesuatu yang baik.


“Oh iya,” sontak dia menatapku, akupun ikut menatapnya. Wajahnya berubah sendu, “Bicara air mata, aku jadi ingat kejadian tadi. Kejadian aneh menurutku.”


Otakku berusaha keras memikirkan kejadian apa yang berhubungan dengan air mata. Mulai dari air mata bangun pagi sampai air mata karena bersin. Jadi, kejadian mana yang Erika maksud? Bentar … aura kesedihan tiba-tiba memenuhi situasi sekarang ini.


Gadis kecil ini, apa yang begitu dia sedihkan …? Memang anak yang malang.


“Kakak juga lihat, kan?” tanyanya cepat seakan sedang menekanku untuk menjawab ‘iya’.


Emosinya selabil pengidap keperibadian ganda. Dalam sepersekian detik wajahnya bisa berubah dari antusias jadi sendu atau sedih. Reaksi tubuh Erika yang masih belum kumengerti sampai saat ini. Maklum, aku bukan psikolong ataupun ahli mikroekspresi. Aku hanyalah aku, Sherly Asteria—untuk sekarang.


“Memangnya lo lihat apaan sampai nangis gitu? Kucing jatuh ke selokan? Anjing makan pinang? Kera main kelereng?—“


“BUKAN!” teriaknya kencang. Untung aku duduk agak jauh dengannya. Jika tidak, mungkin telingaku akan berdengung beberapa kali karena suara dengan  frekuensi besar menerobos masuk gendang


telingaku. Kecil-kecil tapi suara anak ini boleh juga. Bikin takut aja.


“Bukan itu …,” lirihnya terdengar sedih. Sedih sekali, sampai seperti perasaan kehilangan yang teramat dalam. Aku terdiam tanpa kata. Memberi ruang untuk Erika agar dia bisa bersuara.

__ADS_1


“Kejadian tadi pagi, di jalan … anak DKV,” ucapnya terbata-bata. Lama-lama Erika seperti tidak stabil dalam hal apapun.


“Bagaimana mungkin, aku nangis cuma karena dia …?”


Benar juga. Kejadian pagi tadi kenapa bisa terlewat.


“Mungkin mata lo kelilipan kali. Nggak usah mikir macam-macam, deh.”


“Tapi aku nangis loh, Kak—“


“Kalo nangis memangnya kenapa? Lo mau salahkan siapa? Lo mau bilang kalo lo nangis karena dia? Dan lo penasaran alasan nangisnya apa? udahlah, ketimbang lo ngurusin air mata lo yang jatuh beberapa saat lalu itu, lebih baik lo bikin tugas. Biar nilai lo bagus dan cepat lulus. Supaya kita bisa keluar dari sini.”


Mungkin sudah kelewat batas. Tapi cuma ini yang bisa menghentikan Erika untuk bertanya lagi.


“Seperti yang udah kita rencanain. Lo masih sanggup tinggal di sini?” lanjutku, lalu menghilang dari sana.


Bilang saja aku pengecut yang lari di akhir pertarungan. Meninggalkan Erika dengan segala pertanyaan anehnya yang berkelebat di kepalanya itu.


Aku tertekan dengan perasaan ini. Bisa merasakan perasaan Erika setiap saat bisa menjadi hal baik, bisa juga buruk. Kali ini sepertinya buruk untukku.


Kenapa?


Kenapa setelah sekian lama hal ini dipertanyakan lagi?


Berhentilah Erika ….


“Aku ini siapa? Rasanya seperti baru terlahir ke dunia ….”


Kumohon, berhentilah ….


“Amnesia Lakunar, kata dokter gitu. Mungkin memang seperti itu, makanya banyak hal yang terlupa ….”


Ah, sial. Dia tak mendengarkanku.


“Aku di masa lalu seperti apa, ya?”


Perasaan Ini mengangguku. Semakin Erika mempertanyakan masa lalunya, semakin aku tersiksa di dalam raganya. Menyimpan sebagian memorinya itu memang tak baik untuk diriku. Ini membuatku ingin membunuh diriku. Jika aku hilang, apa hidupnya akan bahagia?


PS:


*Maaf atas kesalahan yang terjadi di bagian ini sebelumnya. Bagian ini sudah diubah sepenuhnya. Kesalahan lainnya akan diubah semaksimal mungkin dengan revisi berjalan (termasuk bagian cerita lainnya).


*Harap tidak menunggu update terbaru. Karena menunggu itu nggak menyenangkan. Mau menunggu juga silakan, jika tidak sanggup jangan menunggu.


*Harap jangan terlalu berekspetasi terlalu tinggi dengan cerita ini. Sebab ceritanya mungkin akan jauh dari harapan pembaca. Jika merasa tidak senang dengan alurnya, buat saja cerita sendiri yang sesuai dengan harapan kalian.

__ADS_1


*Kritik dan saran diperlukan. Silakan kritik.


*Terima kasih untuk yang mau baca dan like cerita ini. Semoga kedepannya bisa rajin update. Dimohon jangan menunggu.


__ADS_2