Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]

Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]
Chapter 6


__ADS_3

“UAS jadi jalan minggu depan. Kamu udah siap, Erika?” tanya Bu Alana sok akrab.


Aku mengangguk dan menatapnya dari samping. “Udah—” Perlahan suaraku memelan tertahan di tenggorokan. Aku sadar nada yang kugunakan akan terdengar ketus dan itu tidak akan menguntungkanku saat ini.


Walau begitu, Bu Alana tetap tersenyum. Tapi aku yakin, di dalam hatinya ia pasti berpikir yang tidak-tidak.


Pulang bersama lagi. Saat-saat paling kubenci, ya, saat bersama Bu Alana. Kali ini aku tak singgah ke mana-mana, dan akan ikut pulang sampai rumah bersama Uncle.


Mencoba meredam rasa tak suka, aku menutup mata dan menyandarkan tubuhku ke belakang. Perlahan terasa mobil yang dikendarai Uncle memelan dan berhenti.


Aku membuka mataku untuk memastikan ada di mana kami bertiga. Bu Alana keluar dari mobil sambil mengucap say goodbye yang tak kunjung selesai. Kupalingkan wajahku ke arah lain. Kutatap sebuah rumah bercat orisinil alias warna campuran semen dan pasir, alias tanpa cat. Mulutku terbuka karena merasa terpana dengan pemandangan ini. Gayanya saja yang kelas atas, tapi rumahnya tak sebagus gayanya.


Mataku terus memperhatikan rumah itu, berusaha untuk mengalihkan fokus dari mereka berdua, yang rasanya tak menganggapku ada.


Ingin sekali aku marah-marah pada Bu Alana. Cuma berpisah saja pake acara say goodbye yang tiada akhir.


Pintu rumah yang terbuka menarik perhatianku. Seorang cewek berpakaian biasa, lebih terkesan sederhana, keluar dari rumah itu. Wajahnya berhias senyum dan baru kusadari, senyum itu untuk Bu Alana dan Uncle.


Sudah saling kenal rupanya, batinku.


Setelah suara pintu mobil yang tertutup pertanda say goodbye itu telah selesai. Uncle pun melajukan mobilnya pergi dari tempat yang entah ada di mana itu.


*****

__ADS_1


Pagi ini, entah setan dari mana aku hanya sendirian. Uncle tiba-tiba pergi tanpa bicara terlebih dulu, hanya secarik kertas yang tertempel di kulkas. Katanya dia ada urusan mendadak dan harus pergi saat itu juga. Yah, aku jadi sadar diri. Aku bukanlah proritasnya.


Aku mulai memasak sarapanku sendiri. Hingga makan sendiri. Beberapa hari ini, Uncle terus pergi tanpa kembali. Meninggalkanku sendirian di saat-saat aku ingin berada dekat dengannya.


Bagaimana mau melancarkan jurus mendekatinya, jika dia saja tak berada di tempat yang sama denganku. Namun ketika sudah berada di tempat yang sama, aku tetap saja tak bisa mendekatinya.


Dinding pemisah itu nyata adanya.


Kupaksakan diriku memakan sarapan yang kubuat tadi. Namun nafsu makanku keburu raip entah ke mana sebelum sarapan habis. Jadinya, aku pergi ke kampus tanpa menyelesaikan sarapan.


Kali ini sabtu terakhir sebelum UAS, senin besok. Banyak yang datang di saat-saat begini. Entah mengumpulkan tugas atau sekadar meminta materi pada teman yang pandai.


Kulangkahkan kakiku dengan ringan. Walau banyak pasang mata selalu mengikutiku ke mana-mana. Sudah berminggu-minggu berlalu namun gosip tentangku masih saja berlanjut. Dengar-dengar aku mendapatkan predikat cewek yang suka mengantung perasaan orang, terlebih lagi itu adalah Juniorku sendiri.


Saat berjalan menuju kelasku, sosok paling menganggu sudah terlihat dari pandanganku. Oke, kali ini abaikan aja, toh dia juga nggak perlu diperhatikan. Betah banget, tuh anak mangkal bareng Seniornya. Apalagi sama dua kembar usil. Paling dekat, deh, sama si Rizky.


Aku masuk ke kelas tanpa peduli dengan tatapan semua orang. Ingin sekali kucongkel bola mata mereka yang selalu memandang ke arahku itu. Bisa nggak, sih, sehari aja aku diperlakukan seperti biasa. Mereka sama aja dengan yang lain. Punya teman yang nggak peka sama situasi itu menyebalkan.


Duduk di kursi dengan tenang itu bagaikan keinginan yang tak pernah terwujud. Belum apa-apa juga si Rizky udah nongol tepat di depanku. Malas banget mengangkat wajah sekadar melihat tampang tak berdosanya. Jadi, dia teracuhkan olehku.


Walau begitu, tubuhnya tetap bergeming dan tangannya terulur memberikan sesuatu berbentuk kotak. Semacam hadiah.


“Apaan, nih?” tanyaku sambil menatapnya.

__ADS_1


“Hadiah,” ucapnya singkat.


Tanganku memegang kuat hadiah itu. “Iya, gue juga tau. Terus lo mau apa ngasih gue ini. Ulang tahun juga nggak. Ambil lagi!” ketusku.


Risky tetap terdiam tanpa suara. Hanya sorot matanya yang tak berhenti menatapku. Aku mendegkus kasar dan meletakan kembali hadiah itu dengan kasar ke meja. Tanpa perlu banyak bicara aku langsung minggat dari sana.


Bodo-lah sama rasa penasaran semua orang yang melihatku keluar kelas dengan tampang emosi. Aku berjalan menjauh dari gedung fakultas dan malah berakhir di perpustakaan yang cukup sepi seperti biasanya. Kuambil tempat duduk paling ujung dan duduk berdiam diri di sana.


Buku yang kuambil dari rak tadi kubaca dengan serius. Serius sekali. Sampai keseriusan itu pecah karena suara langkah kaki. Kepalaku bergerak ke sana kemari. Mencoba mencari dari mana asal suara itu. Saat mataku tak menemukan sesuatu yang aneh, aku kembali berdehem.


Mungkin hanya salah dengar.


Setelah meyakinkan diri sendiri bahwa itu bukan masalah. Aku kembali fokus dengan buku bacaanku itu. Namun lagi-lagi, suara seperti langkah kaki terdengar di telinga. Entah berasal dari mana akupun tak tahu.


Aku berdiri. Karena penasaran akan suara itu aku mencoba mencarinya. Tubuhku bergerak pelan dan ringan di antara rak buku yang tinggi. Semakin dekat dengan ujung perpustakaan, suara langkah kaki yang beradu semakin jelas. Aku pun mulai melihat-lihat situasi dari celah rak buku.


Deg


Jantungku mencelos. Tubuhku menegang kaku di tempat. Dan pandanganku malah berhenti pada satu objek. Mataku terasa panas dan kepalaku juga seketika pening.


Apa yang kulihat ini tak pernah terbayangkan olehku sedikitpun. Bagaimana bisa aku malah melihat pemandangan menyedihkan ini. Rasanya jantungku baru saja ditikam oleh sebilah pisau. Sakit banget.


Kulepas pandanganku dari mereka dan berbalik. Mataku menatap kosong ke depan. Suara peraduan mereka semakin jelas dan keras. Bahkan mereka tak menyadari ada aku yang tak sengaja mendengar dan melihat. Rupanya aku sudah tidak ada kesempatan lagi. Menyerah sajalah.

__ADS_1


__ADS_2