Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]

Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]
Chapter 25


__ADS_3

Makan malam bersama setelah kejadian kemarin yang begitu membekas membuat semua yang di sana terdiam bisu. Hanya dentingan alat makan yang saling beradu. Erika memakan makanannya dengan


tak selera. Setelah kejadian kemarin itu, mereka tak lagi bicara. Tak ada yang mau menjelaskan apapun yang terjadi kemarin.


Erika diam akan kehadiran Sherly. Dan Faris pun diam akan kehadiran Sherly. Seperti yang Sherly katakan pada Faris, pria itu tak menyinggung soal Sherly sama sekali. Tanpa dia ketahui, Erika pun sedang menyembunyikan hal yang sama.


Alana pun sama halnya dengan mereka berdua. Wanita itu hanya diam menikmati makanannya. Walau dia ingin sekali membicarakan masalah kemarin. Di pikirannya berkelebat banyak pertanyaan.


Apa tujuan Sherly hadir di tengah-tengah mereka?


Sherly itu apa?


Apa dan mengapa Sherly dibunuh?


Kenapa Faris dan Erika ada di sana?


Lalu, sejarah keluarga ini seperti apa?


Alana ingin tahu semuanya tentang keluarga ini. Sebagai orang lain yang baru saja masuk ke keluarga ini, Alana merasa tidak tahu apa-apa. Pacaran bertahun-tahun pun tak membuatnya merasa bisa tahu segalanya tentang suaminya itu. Seakan sia-sia saja waktu selama itu terbuang tanpa tahu hal yang penting seperti ini.


Alana mendengkus pelan lalu menatap Faris. “Mas, masalah kemarin gimana? Bukannya harus dijelasin sekarang, ya?” Alana melontarkan pertanyaan tiba-tiba membuat Faris terpaku pada tempatnya. Ia terdiam lama membuat suasana menjadi bisu tanpa ada yang berbicara.


Erika pun hanya menunggu dengan tenang. Namun lain halnya dengan Alana, dia menjadi tak sabaran. Jika saja Faris dan Erika bisa melihat sebelah kakinya yang terus bergoyang, tentunya mereka akan menyadari betapa tak sabarannya Alana.


Suasana berubah tak nyaman. Faris yang tak tahu harus bicara apa hanya terdiam tanpa mengatakan sesuatu. Erika melirik bergantian mereka berdua. Faris berpaling menatap Alana tanpa suara.


“Kita bicara ini lain kali saja ya, sayang. Erika mungkin masih belum sehat secara mental.” Faris tersenyum.

__ADS_1


Erika mengerutkan dahinya tak suka. “Aku nggak sakit mental, ya! Kalo nggak mau jelasin ya, nggak usah sampai bilang aku nggak sehat secara mental dong!” tukas Erika kesal. Bisa-bisanya Uncle-nya berbicara hal sensitif seperti itu. Erika tak menyangka bahwa Uncle-nya berpikir seperti itu tentang dia.


“Jahat banget sampai bilang kayak begitu. Memangnya Uncle tau kalo aku ini sakit mental?” Erika bertanya kasar. Mempertanyakan bagaimana sikap Faris yang berlebihan. Merasa sudah salah ucap Faris pun jadi terdiam. Bodoh, di saat-saat seperti ini dia malah mengungkit pernyataan sensitif itu.


“Nggak, bukan gitu Rika ..… kamu jangan salah paham dulu,” ucap Faris lirih. Ia mencoba mengambil kembali kepercayaan Erika padanya. Namun Erika malah menatap sarkas padanya.


“Salah paham gimana? Aku ngerti kok maksud Uncle apa. Aku juga sadar aku punya—“


“Kamu punya sakit mental.” Alana menyela ucapan Erika. Tanpa rasa bersalah sama sekali Alana menatap Erika dengan dagu terangkat tinggi. Alana tidak takut dengan kata-kata kasar Erika. Yang ada di pikirannya saat ini adalah mengatakan yang sebenarnya.


“Kamu sakit mental. Kamu seperti orang gila. Kamu punya kepribadian ganda! Kamu gila Erika!” Alana berseru keras dengan pandangan yang lurus menatap Erika. Faris gelagapan melihat Alana yang


sudah berlebihan. Pria itu berdiri tiba-tiba dari duduknya. Ia meraih tangan Alana dan menarik paksa wanita itu pergi dari sana. Meninggalkan Erika yang terdiam dengan wajah tak suka.


Alana menyadari perubahan dalam sikap Faris. Wanita itu berusaha melepas cekalan tangan Faris yang kuat menggenggam pergelangan tangannya, namun sia-sia saja semua usahanya itu. Dengan kasar Faris menutup pintu kamar mereka dan menghempaskan tubuh Alana ke dinding.


Alana meringis pelan saat punggungnya menghantam dinding dengan keras. Pasti akan ada lebam di punggungnya. Belum sempat Alana mengajukan protes akan sikap Faris, dia langsung dibuat bungkam dengan pandangan Faris yang tajam.


Alana mencebikan bibirnya kesal. “Aku memang nggak tau apa-apa! makanya itu aku buat semuanya jelas! Seharusnya kamu dukung aku, bukannya malah bikin kek gini. Kamu pikir aku suka diginiin?! Demi keselamatan apanya, cih!” Alana mencibir tak suka. Ia terang-terangan mengatakan perasaannya. Alana tak menyukai sikap Faris yang melarangnya melakukan ini-itu setelah kejadian kemarin.


Alana tidak mengerti di mana letak salahnya. Bukannya yang dia katakan pada Erika itu hal yang benar? Erika itu


gila, jelas sekali dari kejadian yang terjadi kemarin. Tak perlu berpikir banyak untuk menyimpulkan sikap Erika itu. Dia itu gila. Begitulah yang Alana pikirkan.


Faris melangkah mundur, memberi jarak di antara mereka. Lalu tubuhnya berbalik membelakangi Alana. Sekilas kepalanya melirik singkat Alana lalu tertunduk lesu.


“Kamu nggak tau betapa salahnya ucapan kamu tadi—“

__ADS_1


“Salah darimana, Mas! Aku bilang gitu demi membuat semuanya jelas!” sela Alana dengan suara naik satu oktaf.


“Kamu mau buat semuanya jelas atau kamu mau liat betapa sadisnya Sherly membunuh kita di sini? Kamu mau mati sia-sia di sini?” Faris berbalik menatap sendu Alana. Kepalanya terasa pening memikirkan semua ini. Baru saja tadi keadaan terasa lebih baik. Namun semuanya hancur. Hancur karena ucapan Alana. Faris hanya bisa berharap semoga keponakannya itu tidak merasakan kebencian ataupun marah lagi. Atau semuanya bakal kacau.


“Mati sia-sia? Memangnya siapa yang berani buat begitu? Siapa, hah! Erika?! Dia itu hanya anak kuliahan. Untuk kamu yang pria dewasa dia bukanlah tandingan kamu. Kalo dia mau bunuh kita di sini juga dia pasti bakal masuk penjara.”


Faris menggeleng pelan mendengar ucapan Alana yang teramat percaya diri itu.


“Aku nggak salah, kan? Memangnya dia berani bunuh pamannya sendiri?”


Faris diam. Dia berbalik membelakangi Alana lagi. Kini dirasanya Alana melangkah mendekatinya. Tangan Alana yang mungil menyentuh pelan pundak Faris. Tak ada respon. Faris bergeming di tempatnya.


“Kamu nggak perlu khawatir. Mau dia Erika atau Sherly sekalipun, dia nggak bakal berani buat bunuh kita.”


Walau Alana berucap seperti itu untuk menenangkan dirinya, namun Faris tak bisa merasa tenang. Dia tahu betul bagaimana sikap Sherly. Yang dia harapkan di sini hanyalah pengertian dari Alana. Apa dia salah mengharapkan pengertian dari istrinya sendiri? tidak, kan.


Faris tidak tahu harus bagaimana. Apa ia harus menceritakan masa lalu yang kelam itu? Lalu membuka luka lama lagi? Baru memikirkannya saja Faris sudah merasa takut. Ia tak mau menanamkan rasa takut pada siapapun. Hanya cukup dia saja yang rasa. Serta Erika.


Tangan Faris terulur menyentuh punggung tangan Alana. “Sherly itu ..… berbeda dengan yang lainnya. Dia nggak punya perasaan. Sherly selalu punya cara untuk membunuh. Segala cara akan dia gunakan untuk itu.” Faris menatap lekat Alana. Keduanya menjadi serius. Digenggamnya tangan Alana dengan kuat, lalu menarik pelan Alana untuk duduk di tepi ranjang.


Alana yang merasa heran pun hanya bisa terdiam melihat raut wajah Faris yang serius. Ia tak berkata apa-apa, bahkan saat sudah duduk pun Faris masih terdiam beberapa saat.


“Erika memang terlihat seperti tidak tahu apa-apa dan tidak mengerti sama sekali. Namun tau tidak, sebenarnya Sherly itu Alter Ego dari Erika.” Faris berucap lirih. Raut wajah Faris yang serius terpampang jelas di depan Alana.


Alana masih terdiam. Dia tak bersuara, dan hanya menunggu ucapan Faris selanjutnya. Dia mendengar dengan serius.


“Bagi Erika, Sherly adalah orang paling berjasa dalam hidupnya. Bagi Erika, Sherly itu nyata dan ada pada dirinya. Untuk Erika, ini bukan pertama kalinya dia dibilang gila. Kamu tau kenapa Erika marah ketika aku bilang dia nggak sehat secara mental?”

__ADS_1


Faris menatap lama Alana yang menggeleng.


“Karena ibunya pernah mengatakan hal serupa,” lanjut Faris pelan.


__ADS_2