![Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]](https://asset.asean.biz.id/oh--my-uncle---on-going-revisi-berjalan-.webp)
“Tapi kenapa kita harus cari keluarga aslinya? Kita kan bukan Detektif ataupun Polisi yang bisa menguak masa lalu orang-orang, Rik.”
Benar. Apa yang dikatakan Danto adalah hal yang benar. Aku tidak bisa menyalahkannya jika dia menolak mencari apa yang kumau. Aku terdiam, tak tahu harus berkata apa.
Apa aku harus menyerah di sini? Harusnya gitu.
“Yaudah. Lo santai aja.
Makasih udah cari tahu riwayat hidup anak ini.” Aku hanya bisa berucap sambil
tersenyum.
Kami saling mendiamkan. Danto dengan laptopnya, aku dengan pikiranku yang kacau.
Hatiku rasanya tak tenang. Seakan menyuruhku untuk harus tahu hal ini lebih dalam. Sebagian otakku bilang aku harus cari tahu, sebagiannya lagi mengatakan aku harus berhenti. Aku nggak tahu harus milih yang mana.
“Kak, aku harus pilih yang mana?”
“Kak! Kak Sely bangat, jawab dong—“
“Cari mati, ya.”
Tanpa aku sadari, senyum tipis terbit di bibirku. Rasanya ingin menangis haru saat mendengar sahutannya dari dalam. Bahagia rasanya bisa mendengar dia bicara lagi.
“Rika, nanti pulang cepat, ya? Ada hal penting yang mau gue bilang.”
Di kepalaku timbul banyak tanda tanya. Hal apa yang begitu penting itu? Sampai-sampai aku bisa merasakan setiap tekanan di dalam ucapannya itu. Aku tak menjawab lagi. Karena Danto yang berdiri mengalihkan fokusku. Pandangan heran dariku langsung mengerah ke arah Danto.
“Ke lab, Rik. Disuruh ngumpul sama yang lain.”
Aku mengangguk dan bergeras memasukan kembali barang-barangku ke dalam tas. Danto setia menungguku dengan sabar. Ohh, teman yang nggak perlu dipertanyakan lagi kesetiannya.
Ngumpul-ngumpul adalah hal wajib bagi kami yang beberapa bulan lagi akan sikripsi—tapi masih lama. Doakan aja semua agenda kampus bisa selesai sesuai waktu. Jika tahun depan belum bisa wisuda, aku masih punya setahun untuk mengulang dan wisuda di tahun depannya lagi.
Tapi, itu nggak akan terjadi saat aku sedang bekerja keras memperjuangkan kelulusanku. Namun masalahnya, apa kerja keras itu akan terbayar sesuai dengan apa yang kuharapkan?
*****
“Wihhh! Yang jadi hot trending juga datang ternyata. Rik, minta tanda tangan dong!”
Tampang datar langsung kusuguhkan bahkan sebelum masuk ke dalam lab ketika mendengar suara menganggu dari dalam. Ridho dengan candaan garingnya itu menatapku penuh minat. Seperti seorang Reporter yang penasaran dengan kebenaran berita yang ada.
Dan benar saja, dia langsung menghampiriku dengan semangatnya.
“Rik, Rik! Lo beneran pacaran sama Junior kita?”
Wt*, inginku pukul Ridho sekarang ini. Berita dari mana lagi itu, ya Gusti.
Aku cuma bisa tepuk jidat sambil menatapnya datar dan duduk di tempat kosong yang ada. “Lo dapat info gila itu dari mana lagi, sih?” tanyaku malas.
Tiba-tiba, semua orang menjadi penasaran dengan berita tak benar yang dibawa Ridho itu. Buset dah, siapa orang pertama yang bilang aku pacaran dengan Rizky, sih! Sial.
__ADS_1
“Lo beneran pacaran?” tanya Senior Kafka—orang yang gagal wisuda tahun kemarin—dengan tampang penasaran.
“Nggak nyangka cewek satu-satunya kita akhirnya bisa pacaran juga,” ucap Edan sok bangga.
Kucuma bisa memandangi mereka dengan tenangnya. Danto pun sama halnya.
Tunggu! Danto cuma diam? Dia sehat?
Kusikut Danto pelan dan membuatnya menatapku penuh tanya.
“Lo kenapa? Sakit? Badan lo nggak enakan? Lo baik-baik aja, kan? Kalo badan lo nggak enakan, mau ke UKS, nggak? Gue yang—“
“Ssst, gue baik-baik aja. Banyak amat pertanyaan lo,” bisiknya diselingi kekehan kecil. Aku tersenyum tipis menangapi bisikannya itu. Walau tersenyum, hatiku tetap tak nyaman dengan keadaan ini.
Danto menjadi diam adalah hal tak biasa. Aku memang bukan orang paling peka di muka bumi, tapi untuk perubahan kecil gini aja aku juga pasti sadar. Dia kenapa? Itulah pertanyaan yang timbul di pikiranku.
Ah, sudahlah. Bukan urusanku juga.
“Woi! Woi! Ngegosipin cewek bar-bar satu ini sampai sini aja. Kita ngumpul bukan buat ngegosip, tapi mau bicarain tugas-tugas kita—“
“Gue setuju dengan Kak Wawan! Dabest lah Kak!” seruku nggak ada sopan-sopannya. Kuacungi dua jempol untuknya dengan semangat yang berkobar-kobar. Pokoknya, cuma Senior satu ini yang otaknya masih waras di kelompok belajar kami ini.
“Yaelah, baru cuma ngegosip berapa menit, Wan! Santai aja kali. Erik juga semangat banget, padahal kan ngegosipin lo itu asiknya luar biasa. Bwahahahahahha!!!”
Tawa yang mengelegar membuat urat-urat di tanganku muncul akibat terlalu kuat mengepalkan tangan. Sabar. Karena inilah mereka suka menjadikanku bahan gosip. Karena aku gampang marah. Sial, nggak satu-dua kali aku dipermainkan oleh mereka.
Malas meladeni mereka, aku malah menatap ke sana kemari dan berakhirlah dengan hanya memperhatikan mereka. Hitung-hitung mencoba mengendalikan emosi saat berhadapan dengan teman bang*at. Tapi … ada yang kurang
“Oh, iya. Bocah kalem itu ada di mana?” tanya Ridho lalu sepersekian detik dia langsung beralih menatap Danto, “Adik lo ke mana, Dan?”
“Nggak tau. Udah gue telpon tapi nggak diangkat, SMS juga nggak dibalas” ujarnya sendu.
"Mungkin lagi nongkrong," ucap Edan mencoba tetap berpikir positif.
Danto menggeleng, "Mana ada orang nongkrong sampai berjam-jam," tukas Danto.
Tiba-tiba otakku merangkai semua benang kusut yang menyergapku beberapa saat lalu itu. jadi, diamnya tadi itu karena adiknya pergi entah ke mana? Gila, jika Dinto sialan itu datang bakal kubantai habis-habisan karena bikin Kakaknya khawatir.
“Lo udah tanya ke orang-orang yang lo kenal?” Danto mengangguk menjawab pertanyaanku.
“Oke, belajar kali ini kayaknya ditunda dulu beberapa saat. Kali ini kita bantu cari Dinto.”
Semua orang mendengar instruksi Kak Wawan. Ponsel dan segala media untuk mencari informasi digunakan buat mencari keberadaan Dinto. Danto pun tak tinggal diam, dia sibuk menanyakan perihal adiknya ke semua koneksi yang dia punya.
Aku pun tak bisa tinggal diam. Kukeluarkan laptop legendarisku itu dan mulai mencari info terbaru dari teman-teman yang kupunya—walau sedikit, yang penting tanya-tanya lah. Sapa tau ada yang tahu keberadaan si setan dua.
Si setan dua ini kenapa pakai menghilang, sih. Kan semuanya jadi sibuk—ralat, sibuk sekali. Kak Wawan dan Kak Kafka tampak yang paling khawatir. Wajar sih, mereka kan, paling tua di sini. Tugas yang di atas adalah melindungi yang bawah. Karena itulah mereka sangat khawatir.
Aku selalu salut dengan teman-temanku ini. Solidaritas dan kebersamaan ini sungguh membuatku terharu. Walau kadang sering bikin kesal, tapi mereka teman dan patner yang sangat baik. Teman yang jarang kudapatkan di dunia pergaulan lainnya.
Tak ada yang membeda-bedakan. Semuanya sama rata. Solidaritas itu tanpa batas. Kami menjunjung tinggi kesetiaan dan solidaritas dalam kebersamaan. Itulah yang membuatku merasa selalu aman bersama mereka.
__ADS_1
Memang nggak salah lagi aku masuk ke sini.
“Danto! Adik lo terakhir dilihat lagi di depan fakultas Sastra!” teriak Ridho.
“Oke, gas ke sana sekarang—“
“Tapi sekarang nggak ada lagi,” lanjut Ridho dengan kesantaian yang tiada tanding.
Kak Kafka langsung diam dan duduk kembali dengan tampang lempeng pura-pura nggak dengar. Kami yang melihat itu terkikik geli dengan tingkah Kak Kafka yang pura-pura nggak tahu apa-apa. Padahal dia tadi terdengar semangat banget mau ke fakultas Sastra.
“Perbarui informasi kalian terus, ya.” Kak Wawan mengingatkan. Kami mengangguk serentak.
“Wan,” panggil Kak Kafka. Kami yang mendengar itu ikut memandangi Kak Kafka. Yang dipanggil siapa, yang nimbrung siapa.
“Dinto lagi jalan ke sini.”
Semua orang terdiam beberapa saat, namun tak lama leguhan-leguhan lega terdengar bersahut-sahutan.
“Untung nggak ilang,” ujar Kak Kafka.
“Dia udah besar, kenapa kita khawatir? Dia pergi ke mana juga bukan urusan kita,” sambung Ridho yang malah dapat hadiah besar sebuah pukulan menyakitkan di kepalanya dari Kak Wawan.
“Kakaknya khawatir, bang*at. Kita sebagai teman harus saling membantu. Kalo lo ilang juga nggak bakal gue cariin,” ujar Kak Kafka yang langsung membuat Ridho terdiam kayak kucing gagal minta makan.
Kualihkan pandanganku ke Danto. Raut wajahnya masih memancarkan aura khawatir.
“Tenang, Dan. Adek lo baik-baik aja kok,” ucapku berharap dia bisa sedikit tenang.
“Oh, iya, Dan! Adek lo kenapa sampai hilang kontak dengan lo gitu? Lo tau kenapa?” tanya Ridho yang ada benarnya juga. Fokus kami langsung terkumpul ke Danto.
“Nggak tau, tapi gue tiba-tiba khawatir—“
“Jadi kembar bisa bagi persaan, ya!”
PLAK!
Satu tamparan sukses dilayangkan Kak Kafka ke punggung Ridho.
“Danto lagi ngomong, Do. Jangan main potong gitu aja,” ucapku sedikit kesal dengan apa yang Ridho lakukan.
“Mulut lo kelewat lancar, mau gue kasih pelajaran dikit ke mulut lo itu?” tambahku penuh tekanan. Tatapan horor dan menusuk kulayangkan untuk Ridho.
“Eh, sudah. Jangan marah-marah, Rik.”
Karena Kak wawan sudah menengahi kami, aku akhirnya berhenti dan kini diam. Kami semua diam tanpa bicara. Dengan tenang semua menunggu kedatangan Dinto ke ruang lab. Dari apa yang kulihat, yang paling khawatir adalah Danto.
Dia memang manusia yang nggak bisa mengontrol segala hal. Mulai dari suaranya, sampai raut wajahnya sendiri. Saat dia khawatir begini aku ingin sekali menenangkannya. Seperti yang selalu Ibu lakukan padaku.
Dan, seperti yang Kak Sely lakukan padaku.
Ah, sepertinya kali ini aku nggak bisa pulang cepat. Maaf, Kak.
__ADS_1