![Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]](https://asset.asean.biz.id/oh--my-uncle---on-going-revisi-berjalan-.webp)
Kutatap nyalang wajah-wajah penuh tuduhan di depanku ini.
“Rika nggak merasa bersalah sama sekali,” desisku.
Kedua makhluk itu malah makin menatapku penuh selidik. Seakan keasalahan yang kulakukan itu benar adanya. Aku saja tidak merasa membuat masalah akhir-akhir ini, sekarang malah dituduh macam-macam.
“Rika nggak tau alasan kalian berbuat kayak gini. Tapi tolong, jangan menuduh tanpa bukti. Bisa, kan?”
Mereka terdiam. Bahkan Uncle yang tak pernah menuduhku selama aku hidup bersamanya pun bungkam tanpa suara. Tidak ada pembelaan sama sekali. Mau membela diri sekeras apapun, aku tetaplah pihak bersalah di sini.
“Kamu cuma nggak sadar, apa yang kamu perbuat itu adalah kesalahan.” Bu Alana berucap.
Kutegakan kepalaku. Mataku menatap lurus mata sendu Bu Alana. “Atas dasar apa aku buat hal itu? Itu nggak menguntungkanku sama sekali. Berhentilah menuduh tanpa bukti. Memangnya Bu Alana punya bukti apa, sehingga menuduhku kayak gini?”
“Ema buktinya. Keadaan dia memburuk akhir-akhir ini.”
Aku mencebik kesal. “Memangnya aku peduli.”
Bu Alana kembali diam dan kini malah menunduk. Pandanganku beralih pada Uncle yang terdengar berdehem sebentar tadi.
“Ini masalah serius Erika, jangan bercanda.”
Mulutku terkatup rapat. Saat sedang marah, Uncle akan menyebut namaku dengan jelas. Bukan Rika, tapi Erika. Dan jika dia benar-benar marah, maka dia akan memanggilku dengan nama lengkap.
Hatiku rasanya sesak melihat Uncle yang juga ikut memojokanku. “Oke, jadi kalian mau apa dari Erika?” tanyaku tiba-tiba. Aku kembali mengadahkan kepala dengan tegak.
Aku nggak boleh terintimidasi dengan tindakan mereka.
“Ayo, mana bukti kalian yang bisa memberatkan aku!”
Aku mulai menekan mereka. Kini situasi berbalik menjadi aku yang memojokan mereka. Faktanya kan sudah jelas. Aku nggak salah sama sekali.
“Nggak ada bukti, kan—“
“Tapi Rika, kamu lihat sendiri bagaimana keadaan Ema. Dia terpuruk karena kamu
mengambil miliknya,” ujar Bu Alana lirih setelah memotong ucapanku. Dasar tidak
tahu diri! Sudah memotong ucapan, kini malah menuduhku.
Lagi-lagi tuduhan tanpa bukti.
“Lah, apa yang kuambil dari dia? Bukannya dia yang malah ngambil yang aku punya.”
Mulut Bu Alana terbuka saking kagetnya mendengar ucapanku.
“Erika, jaga bahasa kamu!”
Aku tersentak dengan bentakan Uncle. Oke, aku tak lagi merasa ini patut dipermasalahkan. Aku tertawa pelan melihat tingkah mereka, yang kelewat lebay untuk masalah sepele ini.
“Ahh, kalian urus saja masalah kalian. Tuduhan kalian ngaak mendasar sama sekali.” Aku mengeleng pelan lalu berdiri dari dudukku.
“Erika ada kuliah pagi ini. Lain kali, jika ingin menuduh, tolong siapkan bukti yang konkrit,” pintaku sambil tersenyum dan berbalik meninggalkan mereka berdua.
Namun, aku kemudian berbalik lagi.
__ADS_1
“Ah, iya. Dan Uncle, tolong urus keluarga Uncle dengan lebih baik.”
Seulas senyum terbit di wajahku. Aku melenggang pergi dari sana dengan suasana hati yang penuh emosi. Rasanya darahku mendidih dan amarah seakan menguasaiku. Bisa-bisanya melayangkan tuduhan yang tak ada buktinya itu.
Memangnya aku salah jika Ema tidak mau makan! Memangnya aku salah jika anak satu itu tak keluar dari kamarnya! Apa aku bersalah jika IPK nya turun! Jelas-jelas yang salah itu anaknya sendiri. Kenapa menyalahkanku.
Apa aku juga bersalah, jika orang yang menyukaiku juga disukai oleh dia?
Kenapa aku yang selalu salah?
*****
“Lesu banget.”
Aku tersenyum simpul mendengar penuturan Desy. “Seperti yang lo lihat. Gue juga manusia yang bisa lelah dengan keadaan.”
Napasku berembus berat. Kepalaku tertunduk lesu menatap ke arah mangkuk bakso yang masih sisa setengah.
“Gue udah dengar dari Danto. Soal masalah lo dengan anak Sastra. Lo nggak pa-pa digituin? Lo baik-baik aja, kan?” Desy bertanya dengan nada khawatir.
“Gue baik-baik aja.” Aku tersenyum meyakinkan.
Nggak! Gue nggak baik-baik aja!
“Lo yakin? Gue rasa lo jangan terlalu mikirin hal ini. Biar bagaimanapun, lo nggak ada salah sama sekali dengan anak paman lo itu.”
Hanya Desy yang mengatakan hal itu padaku. Sejak tadi yang kudengar hanyalah suara penuh tuduhan dan kebencian.
Ema, sialan! Gara-gara dia semua masalah ini terjadi.
“Gue rasa, sudah saatnya gue liburan.”
Kuangkat tanganku tinggi-tinggi di atas kepala guna meregangkan tubuhku ini. Setelahnya, aku menyandarkan tubuhku ke belakang.
“Yah, sebelum lo gila, lo memang harus liburan.” Desy mengangguk lalu tersenyum mengejek padaku.
“Khawatirin aja diri lo sendiri. Jagain tuh, ponakan gue. Awas sampai kenapa-napa.” Aku mendelik ke arahnya. Si Desy malah bodo amat, nggak peduli sama sekali.
“Mau nginep di rumah nggak? Kak Revan lagi nggak di rumah.”
Jari-jemariku terkatuk-katuk di meja. “Boleh, tuh. Sekalian gue juga mau pinjam komiknya dia. Pelit banget sih suami lo itu, dia nggak mau ngasih pas gue pinjam.” Aku berucap pelan di kalimat terakhir. Harus waspada, ada banyak pasang telinga yang
mendengar. Jangan sampai ucapanku itu di dengar oleh orang lain.
Bisa jadi bahan gosip lagi, deh.
Miris banget sih, hidupku. Rasanya mau tertawa saja.
“Ka, lo jangan senyum-senyum gitu dong!” seru Desy yang membuatku kaget. Aku tanpa sadar malah tersenyum senang dengan jalan pikiranku sendiri.
Apa orang lain juga merasa senang saat memikirkan takdir hidupnya yang menyedihkan? Ataukah hanya aku saja?
Menertawakan takdir itu lebih baik ketimbang meratapinya dan menyalahkannya terus-menerus.
“Hah, yang penting kan gue nggak murung lagi.”
__ADS_1
Kutarik napas panjang sambil mengadahkan kepalaku ke atas. Rasanya rileks sekali tubuhku.
“Gue kayaknya emang butuh liburan,” gumamku lalu menutup mata sambil mencoba meredam riuh ramai suara di kantin.
Bayangan akan keadaanku terlintas di kepala. Semalam aku malah berkata kasar pada Uncle. Harusnya aku tidak melakukan hal buruk seperti itu. Aku seperti orang lain saja.
“Mau pergi nonton nggak?”
Mataku refleks terbuka. Tak perlu berbalik untuk memastikan siapa pemilik suara itu. Karena aku tahu siapa itu.
“Cih, lo lagi. Penganggu, ngapain lo di sini?” tanyaku tanpa berbalik sama sekali.
Beberapa saat berlalu dan si penganggu itu tak mau membuka suara. Jengah dengan tingkahnya aku berbalik dan menatapnya tajam. “Gue nggak suka diginiin. Keberadaan lo nggak diterima di sini. Lo bisa pergi?”
Dari pandanganku aku bisa melihat matanya yang tajam itu perlahan berubah sendu. Air wajahnya pun sama halnya.
Aaarrggghh! Aku nggak tahu lagi dengan semua ini.
“LO NGERTI NGGAK SIH! GUE MAU LO PERGI DARI SINI BRENGS*K!” ucapku setengah berteriak.
Napasku memburu. Aku yakin kini wajahku sudah semerah tomat. Rizky bergeming di tempatnya. Dia masih tetap diam, namun raut kecewa jelas terpancar di wajahnya.
Sudah terlanjur bersalah, lebih baik bersikaplah seperti pembuat masalah. Lupakan imej baik atau apalah itu. Gue nggak peduli lagi!
“Kenapa nggak jawab? Lo nggak punya telinga buat dengar, hah? Pergi lo dari sini, LO NGGAK DITERIMA DI SINI! DENGAR NGGAK SIH!”
Pundakku naik turun, dan napasku memburu. Aku mendelik ke arahnya yang masih saja berdiri diam menatapku sendu.
Aku benci tatapannya!
Aku benci kehadirannya!
Sial!
Sial!!!
Kurasakan sakit pada jemari tangan kananku, yang masih setia meremas sandaran kursi dengan kuat. Di belakangku ada Desy yang setia mengusap punggungku sambil bergumam kata-kata penenang.
Aku tahu, aku sudah di luar batas sekarang. Perasaanku tak bisa kukendalikan sama sekali. Walau sekarang masih lebih baik ketimbang dulu.
Tapi tetap saja, aku nggak bisa mengendalikan diri saat ini. Rasanya perasaanku bercampur aduk, di pikiranku hanya ada perasaan ingin pergi dari situasi ini. Aku tidak mengerti apa yang kulakukan ini.
Seperti di luar akal sehat, dan tak terjangkau oleh diriku sendiri. Seakan-akan ini bukanlah diriku. Perasaan ini, seperti bukan dari diriku.
“Kak Erika. Jangan marah.”
Kepalaku hanya bisa tertunduk dalam. Ucapan Rizky hanya terdengar seperti harmoni rusak di telingaku. Jantungku berdetak keras. Rasanya mau meledak saja. Rasanya mau marah-marah dan membunuh dia di sini.
Perasaan itu, kembali menguasai diriku.
“Jangan marah. Kak Erika harus tenang.”
Namun suara yang tadi kupikir adalah harmoni rusak itu, malah terasa seperti mantra magis yang membuatku perlahan tenang. Tubuhku malah terdiam saat tangan kokoh itu merengkuh tubuh gemetaranku di pelukannya.
Pelukannya nyaman. Senyaman pelukan ibu saat aku berada di posisi sekarang.
__ADS_1
Aku sepertinya sudah gila.