Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]

Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]
Chapter 32


__ADS_3

 


 


“Dan!” panggil Dinto tiba-tiba, setelah motor yang dibawa Danto terparkir rapi di parkiran fakultas Teknik.


Danto menoleh, menatap penuh tanya adik kembarnya itu.


“Lo duluan aja ke kantin. Gue masih ada urusan, nanti kalo udah selesai baru gue nyusul lo ke kantin,” ucap Dinto terburu-buru sambil melihat layar ponselnya. Danto semakin dibuat heran saat adik kembarnya itu pergi setelah menyuruhnya ke kantin duluan. Namun setelahnya, dia tak peduli lagi. Toh, bukan urusannya juga.


Dinto terburu-buru berlari ke arah gedung fakultas Teknik. Matanya memindai area luar gedung. Tak ada, sosok yang ia cari tak ada di mana pun. Sama halnya dengan di luar, dalam gedung fakultas Teknik pun tak nampak batang hidung Rizky yang dia cari-cari.


“Sh*t, baterainya mau habis,” umpatnya pelan seperti bergumam. Dengan tekad yang kuat Dinto berlari menaiki anak tangga hingga sampai di kelas yang sering dipakai para Junior. Walau sebenarnya, semua kelas bisa dipakai angkatan mana saja.


Para Junior yang melihat aksinya itu hanya memandangnya penuh tanya. Tak bisa dipungkiri hal ini sangat aneh bagi yang sudah mengenal Dinto. Senior yang terkenal kalem dan tidak tergesa itu kenapa bisa jadi seperti ini? Tentunya aksi Dinto ini akan menimbulkan banyak opini publik.


“Kak Dinto, cari siapa?” tanya seseorang di antara keramaian kelas. Aksi Dinto terhenti seketika, tubuhnya berhenti di depan pintu sambil menatap tajam si penanya. Napasnya memburu, efek dari naik tangga sambil lari. Bahkan mengucapkan sepatah kata pun susah sekali untuk keluar.


“I—tu, Rizky di mana?” tanyanya terbata-bata. Semua orang yang ada di dalam sibuk memperhatikan sekitar, namun Rizky nihil sosoknya.


“Tadi katanya dia mau ketemu sama anak Sastra—“


Bahkan sebelum ucapan itu selesai, Dinto sudah tancap gas dari sana. Sekali lagi anak itu seperti berlari sambil kerasukan. Menapaki tangga seperti orang yang lupa daratan. Entah alasan apa yang membuatnya mencari Rizky seperti itu, tak ada seorang pun yang tahu.


Dengan napas memburu Dinto berlari tanpa akhir. Walau sudah sampai di fakultas Sastra—tempat orang yang ia cari—lagi-lagi sosok itu tak ada di manapun. Hanya ada Ema and the geng. Tanpa ragu Dinto langsung menghampiri cewek satu itu.


“Eh.” Dengan tampang kaget ia menatap Dinto yang bercucuran keringat.


“Adiknya Danto, kan?” tanya Ema memastikan.


Dinto mengangguk, lalu menjawab, “Lo lihat si Rizky?”


Kening Ema berkerut mendengar pertanyaan Dinto namun setelahnya ia mengangguk. “Udah pergi lima belas menit yang lalu.”


“Pergi ke mana?” tanya Dinto penasaran.


“Lo kenapa sih, nyari dia lagi? Bukannya kalian lagi marahan—“


“Bukan urusan lo. Jawab aja tu anak ada di mana,” pangkas Dinto. Ema yang mendengar hal itu seketika bungkam. Bibirnya berdecak sebal sambil melirik Dinto dari ujung matanya—menatap sinis Dinto.


“Ke kafe di perempatan,” jawabnya acuh tak acuh.


Dinto kembali sibuk. Dia meninggalkan rombongan itu. Kepalanya celingak-celinguk seperti mencari seseorang. Saat sudah menemukan apa yang ia cari, dengan semangat 45’ tangannya mengacung tinggi di udara.


“Eza! Woi! gue nebeng bareng lo ke kafe di perempatan, ya!” teriaknya seraya berlari tergopoh-gopoh menghampiri cowok bertubuh gempal yang sedang duduk di atas motornya. Cowok bertubuh gempal itu hanya diam seakan mengiyakan apa yang Dinto mau. Tanpa peduli setan, helm yang ada di motor sebelah pun ia ambil. Sungguh, di saat kritis Dinto jadi tak tahu malu.


“Gue juga mau ke sana, tapi lo kok bisa tau gue mau ke sana?” tanya Eza si cowok gempal, penasaran.

__ADS_1


Dinto tersenyum miring, “Ya tau, lah! Lo kan kaya, nggak level makan di kantin. Udah, gas aja sekarang. Gue buru-buru, nih.”


Tanpa banyak bacot lagi, motor itu melenggang pergi keluar dari area kampus. Tak butuh waktu lama motor itu sudah sampai di parkiran kafe. Dinto bergegas turun meninggalkan helm dan teman nebengnya tadi.


Entah beruntung atau tidak, bukannya menemukan Rizky di kafe dia malah menemukan anak itu sedang berbincang dengan Desy di depan minimarket di seberang jalan. Tanpa basa-basi lagi, ia berbalik dan melangkah ke tepi jalan bersiap untuk menyeberang.


Kepalanya menengok ke sana kemari, memperhatikan area jalan sebelum menyeberang. Namun tatapannya sontak berhenti dan mengikuti arah mobil berkecepatan tinggi itu. tubuhnya bergeming, dan saat matanya tahu sasaran mobil itu malah semakin membuatnya tak bisa berbuat apa-apa.


“RIZKY!!”


Itu teriakkan terakhir Dinto sebelum akhirnya terdengar benturan amat besar dari depan minimarket, yang seketika menutup suaranya itu. lalulintas menjadi tak terkendali, orang-orang mulai berkumpul karena suara besar itu. tanpa pikir panjang Dinto berlari ke arah dua temannya itu.


“Ky! Des!” panggilnya di antara kerumunan itu, namun suaranya tertutup ramai riuhnya suara kepanikan warga yang mulai berkumpul.


“Ky!” teriak Dinto.


Rizky yang sedang berusaha berdiri dibantu warga itu menoleh, mendapati wajah khawatir Dinto. Keadaan di sana begitu kacau. Mobil yang menambrak mereka itu menyeret beberapa motor yang terparkir. Membuat sebagian tubuh Rizky tertimpa motor yang jatuh, sedangkan Desy malah terseret mobil bar-bar itu.


Para warga mulai mengamankan si supir mobil bar-bar itu, sedangkan yang lainnya hanya menyimak kejadian yang terjadi. Kebanyakan yang hadir bukannya membantu malah merekam kejadian terkini dengan kamera ponsel. Sungguh kelakuan warga Plus Enam Dua yang tak patut ditiru.


“AMBULANS MANA, WOI!! ADA BUMIL ALAMI PENDARAHAN, NIH!!” teriak seseorang cewek yang memangku Desy.


“ADA MOBIL YANG MAU BAWA IBU INI KE RUMAH SAKIT NGGAK!” teriaknya lagi.


“ADA!” sahut seseorang dengan suara kencang.


Tubuh Desy yang terkulai lemas dipenuhi bercak merah membuat dirinya tampak begitu menyedihkan. Rombongan itu mengangkut cepat tubuh Desy, dan memasukannya ke mobil untuk dibawa ke rumah sakit terdekat.


“Mas, keluarganya kan? Masuk Mas!” ajak seorang pria berbadan besar bak gangster,  yang tugasnya menyupir mobil. Namun tubuh Rizky tak bergerak. Ia hanya menggeleng dan terdiam.


“Kak Erika,” gumamnya lalu menatap Dinto dengan tatapan bodohnya.


Dinto yang geram akhirnya menunduk sedikit agar posisinya bisa melihat ke dalam mobil.


“Bang, mau ke rumah sakit mana? Nanti saya sama teman saya yang nyusul. Ini nomor ponsel saya, kalo udah sampai boleh telpon saya?” kata Dinto sambil menyerahkan selembar kartu nama abal-abal miliknya.


Dari dalam sana tangan seorang perempuan terulur mengambil kartu nama itu.


“Gue telpon harus dijawab, ya! Nggak jawab artinya cari mati,” ucap si perempuan kasar sebelum mobil itu melaju pergi dari sana.


Tak lama keduanya ikut pergi meninggalkan kerumunan yang semakin lama semakin ramai. Bermodalkan mobil Rizky mereka berdua tancap gas dari sana. Terlihat dari arah berlawanan mobil polisi melewati mobil yang mereka kendarai.


Dinto yang menyetir mobil tak habis pikir dengan keadaan ini. Di wajahnya hanya ada guratan kekhawatiran. Sama halnya dengan Rizky. Entah masih kaget dengan kejadian tadi atau karena mental anak ini masih belum bisa menerima yang terjadi, akhirnya Rizky hanya bisa diam dan menatap kosong ke depan. Tak mungkin Dinto bisa menyerahkan perkara nyawa pada Junior yang pikirannya nggak ada di badan ini.


Bisa-bisa mereka berdua mungkin akan berakhir seperti tadi. Dan berakhirlah dengan Dinto yang menyetir.


Dalam diam Dinto menyetir dengan sabar, tak lupa ia mengisi daya ponselnya yang sudah sekarat itu. Waktu seakan berjalan dengan lambat. Seakan-akan mereka hanya berada di tempat yang sama. Kabut kekhawatiran ini mengurung mereka dalam dilatasi waktu tak berujung.

__ADS_1


Walau begitu, gapura kampus tetap terlihat dan sampailah mereka di parkiran fakultas Teknik. Dinto turun terburu buru, tapi sebelum itu dia menoleh ke arah Rizky.


“Biar gue yang panggil Erika, lo tunggu aja di sini.”


Tak perlu menunggu jawaban lagi, karena si Rizky masih linglung jadilah Dinto tergopoh-gopoh berlari ke lab fakultas Teknik.


“DINTO! LO KE MANA AJA! DI CARIIN WARGA JURUSAN LO, TUH!”


Teriakkan entah dari mana itu tak dipedulikan Dinto. Ia hanya ingin cepat sampai ke tujuan. Ia bahkan lupa tujuan sebenarnya mencari Rizky, bahkan dia juga lupa betapa setergesanya dia pagi tadi karena mencari Rizky. Kini pikirannya hanya ada Desy yang butuh Erika.


“ERIK!”


Sosok yang sedari tadi dicari ke sana-sini itu akhirnya muncul. Tapi saat muncul, dia malah memanggil nama orang lain. Danto berdiri tergesa-gesa, namun Erika mendahuluinya.


“Bang*at! Ke mana aja lo—“


Ucapan Erika terhenti seketika saat tangan Dinto dengan kasarnya menarik paksa dia. Membuat segala umpatannya itu tertahan di dalam sana.


“Eh? Sial, lo mau bawa gue ke mana, Din!” seru Erika namun tak dihiraukan Dinto. Yang dilakukan Dinto hanyalah mengenggam sekuat tenaga pergelangan Erika.


Erika yang heran malah menoleh ke belakang, dan sialnya dia tersandung batu saat ingin melihat Danto yang tergesa-gesa. Ingin mengumpat namun ia tahan, soalnya sudah jadi bahan tontonan. Bisa-bisa dia malah dijadikan bahan gosip lagi—walau dari dulu juga gitu.


Erika ikuti saja maunya Dinto bagaimana, bahkan sampai ia harus masuk ke dalam mobil entah punya siapa, pun dia ikut. Dia hanya bisa menggerutu karena dipaksa masuk, namun lagi-lagi Dinto tak peduli. tak berselang lama Danto pun ikutan masuk.


“Jalan, Kak.”


Mata Erika sontak melotot, tubuhnya dicondongkan ke depan hingga ia bisa melihat si pemilik suara. Kaget, tentu saja Erika kaget. Danto pun sama kagetnya, karena tak menyadari ada Rizky di dalam.


“Ngapain lo ada di sini?” tanya Erika berapi-api. Namun tak diberi jawaban oleh Rizky.


“Woi, gue nanya nih! Ngapain lo ada di sini? Kita mau ke mana bareng si Rizky, sih?” sekali-lagi Erika bertanya. Namun yang disuguhkan hanya diam tanpa kata.


Danto yang melihat usaha Erika pun mengulurkan tangannya menyentuh pelan punggung Erika. Seakan paham dengan arti sentuhan itu, Erika duduk kembali dengan tenang dan membiarkan kesunyian yang ia benci menyergap mereka.


“Kak Desy\, kecelakaan. Sekarang ada di rumah sakit ****.”


“Yang benar lo,” sembur Erika dengan suara besarnya.


“Kecelakaan di mana? Parah nggak?” sosor Danto yang mulai terlihat khawatir. Erika yang menyadari bahwa seharusnya dia tak membentak Rizky akhirnya kembali diam.


“Di depan minimarket. Kelihatannya lumayan parah,” jawab Rizky pelan seperti bergumam.


“Dia nggak keguguran, kan?” tanya Erika pelan. Suaranya bergetar, tubuhnya pun bergeming di tempat.


“Aku nggak tau, Kak,” lirih Rizky.


Lirihan pelan itu menghancurkan segala ekspetasi Erika soal kecelakaan itu. Sahabat satu-satunya itu, tak apa-apa, kan? Erika harap begitu.

__ADS_1


__ADS_2