![Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]](https://asset.asean.biz.id/oh--my-uncle---on-going-revisi-berjalan-.webp)
Keesokan harinya aku bangun dalam keadaan berantakan. Hampir saja aku terlambat masuk kelas jika saja Desy tak menelponku. Untungnya, ponselku tak berada dalam mode senyap. Sangat-sangat beruntung sekali. Jika saja aku terlambat masuk kelas, bayangkan saja bagaimana harus mengulang matkul yang sama semester depan bersama para Junior.
Kata Desy, dia tahu aku belum datang dari suaminya, yang tak lain tak bukan adalah Seniorku sendiri. Karena itulah, dia bergegas menelponku bahkan berulang-ulang, hingga aku tersadar bahwa ada banyak panggilan tak terjawab darinya. Aku benar-benar tertidur dengan pulas. Dering telpon menyelamatkanku dari kata terlambat.
Untungnya aku tak diceramahin panjang lebar dari Desy. Dia malah menyuruhku untuk bergegas ke kampus dalam waktu kurang dari tiga puluh menit.
Itu mana cukup!
Walau aku berpikir begitu, namun herannya aku bisa sampai di kampus seperti apa yang Desy katakan. Itu jelas cepat bagiku. Aku bahkan tak sempat sarapan. Hanya mencuci muka tanpa mandi dan segera berganti pakaian dengan setelan yang pantas. Biarpun tak mandi, jangan lupa menyemprotkan banyak parfum. Itu akan menyelamatkanmu.
Tergopoh-gopoh aku menghampiri Desy yang sedang berdiri bersama suaminya di depan gedung fakultas Teknik. “Des, thanks, ya!” ucapku masih dengan napas tersenggal-senggal.
“Ngapain lo masih di sini. Masuk sana. Makasihnya nanti aja.” Desy mendorongku pergi. Tak perlu berkata apa-apa lagi aku langsung bergegas pergi dari sana.
Hari ini aku lagi-lagi dibuat mengerti oleh keadaan. Bukan dibuat mengerti saat menghadapi matkul. Bukan!
Tapi lebih kepada arti keberadaan dan kegunaan. Dari Desy aku mengerti satu hal, bahwa sahabat itu bukanlah orang yang hanya sekadar bersandar pada kita. Tapi sahabat itu, orang yang akan selalu membantu kita dalam keadaan apapun. Kadang-kadang, sahabat itu bisa berguna juga.
Aku memang terdengar seperti orang yang beranggapan bahwa bersahabat hanya untuk saling memanfaatkan. Tapi bukannya itu benar. Itu adalah hukum alam, di mana manusia diciptakan untuk saling membantu. Jadi, aku sama sekali tidak menyalahkan jalan pikiranku ini. Biar saja orang menganggapku aneh karena melihat sesuatu seperti ini dengan pandangan remeh. Toh, aku tidak peduli. Ini kan, jalan hidupku sendiri. Memangnya mereka siapa. Bukan siapa-siapa juga.
Seremeh apapun aku memandang sebuah hubungan, bagiku jika yang diajak berteman mau bersungguh-sungguh aku tak mungkin menolaknya. Sikapku memang buruk dari lahir, jika tidak suka jangan berteman. Mudah, kan.
Awal mula aku bertemu Desy adalah ketika masa pendaftaran untuk masuk ke kampus ini. Gadis itu hanya berdiri terdiam di depan gapura yang ramai oleh lalu-lalang manusia dan kendaraan. Aku hanya menyapanya sekilas, dan mengajaknya ke dalam. Miris juga melihat masih ada makhluk teracuhkan di muka bumi ini.
Waktu itu, aku baru tahu betapa pemalunya Desy.
Kutemani dia mendaftar, dan menemaninya mengurus adimistrasi untuk mendaftar hingga selesai. Begitu selesai, yang ada dia bukannya memilih berpisah denganku dan malah berniat untuk menemaniku. Jadi kuajak saja dia. Lagi pula, tak ada yang kukenal di sini.
__ADS_1
Waktu-waktu bersama Desy terasa sangat berat untukku. Seperti sedang memikul beban berat di punggungku. Desy selalu mengikutiku ke mana-mana. Berceloteh panjang lebar hingga lelah sendiri. Hah, awalnya kukira dia pemalu, yang jarang berbicara. Namun semakin lama bersamanya, ia mulai menunjukan sikap aslinya. Cerewet dan senang bergosip. Wajar sih, cewek suka gosip. Tapi ini Desy, loh, cewek yang kukenal sebagai pribadi yang pemalu.
Lupakan soal sikapnya itu, karena aku akan lelah jika terus-terusan memikirkannya. Namun, ada satu hal yang begitu kusesali, yang membuatku tersadar Desy bukanlah sebuah beban. Saat di mana aku berjalan di kampus sendirian, tanpa teman dan kenalan. Rasanya sepi dan hampa.
Aku akui, kehadiran Desy sudah mulai mengubah beberapa hal pada diriku. Terasa ada yang kurang saat dia tak masuk. Hari itu aku berdiam diri di perpustakaan fakultas. Meninggalkan matkul siang itu dan malah sibuk membalas chat Desy. Lama-lama asik juga mengobrol di room chat seperti ini. Dia mengatakan alasannya tak masuk dan itu membuat hatiku mencelos. Walau disusul kata lupa, tapi aku seakan tidak dianggap sama sekali.
Bukan aku yang tidak dianggap. Tapi Desy yang tak kuanggap teman. Sejak saat itu kami berteman dekat sampai sekarang.
Wah! Kisah yang panjang.
*****
Kantin yang terlalu ramai membuatku berakhir di perpustakaan dan melewatkan makan siang. Di sini sepi, hanya ada beberapa manusia di dalamnya. Tak banyak, tapi masih bisa menghasilkan suasana hidup di sini. Setidaknya, mereka tak membiarkan perpustakaan sebagus ini kosong. Yah, walaupun itu bukan alasan sebenarnya, tapi biarlah aku beranggapan seperti itu. Lebih baik buat diriku.
Kubuka salah satu buku yang kuambil acak sebelum duduk tadi. Isinya sama sekali tak menarik perhatianku. Lembaran-lembaran itu hanya kubuka tanpa minat.
Bisa ditebak apa yang kulihat? Tentunya bukan hantu. Tapi seseorang yang semalam tak pulang dan bermalam entah di mana. Oh, jangan lupa bagaimana pakaiannya yang sudah berganti baru. Tanpa sadar aku malah terkikik geli. Mereka bermalam bersama, kan. Dan aku, ditinggalkan sendirian di Rumah. Biasanya Uncle selalu pulang, selarut apapun itu. Bahkan jika matahari baru saja menampakan dirinya pun, ia akan tetap pulang.
Namun semalam itu berbeda dengan malam-malam sebelumnya.
Sudahlah. Memikirkan hal yang terjadi semalam itu membuatku makin sakit hati. Miris lagi. Menyedihkan. Tapi, kenapa aku tak bisa berhenti menyukai manusia bodoh itu? Pesonanya menarikku terlalu dalam. Apa yang harus kulakukan untuk keluar dari situasi ini, aku pun tak tahu.
Oke, sudah cukup bagiku untuk mengingat hal yang semakin membuatku merasa menyedihkan. Aku kan, Erika Ristiana. Aku tak perlu merasa menyedihkan. Lebih baik aku mengerjakan tugasku yang tak pernah selesai ini.
Buku bacaan yang tak menarik tadi tak lagi kubuka. Kini aku beralih pada tasku dan mengeluarkan semua benda yang kuperlukan. Serasa makanan sehari-hari tugas ini. Ada yang tak pernah selesai karena salah terus, ada pula yang baru diberikan dan harus dikumpulkan segera. Jika salah, ya buat lagi. Sampai benar. Rumitnya masa kuliahku.
Saat kenyamanan dan kedamaian yang kubangun susah payah, kini hancur seketika karena ada tamu tak diundang.
__ADS_1
“Hai, Kak,” sapa Rizky dengan wajah cerah berhias senyum yang menurutku cukup manis. Ia melangkah mendekatiku.
Sapaannya tak kubalas sama sekali. Setelah mendongak sebentar untuk melihat wajahnya, aku kembali memfokuskan pandanganku pada tugas. Kursi yang ditarik tepat di depanku membuat aku jadi tak suka. Memang siapa saja boleh duduk di depanku. Tapi kenapa harus ni anak yang duduk. Nasib-nasib.
Tak perlu banyak bicara lagi aku berdiri dengan kasar, sehingga bunyi kursi kayu yang terangkat sedikit lalu terpukul ke lantai menimbulkan suara yang cukup bisa mengagetkan orang di sekitar. Aku tak peduli lagi dengan keadaan. Yang ada di pikiranku saat ini hanyalah cepat-cepat pergi dari hadapan makhluk tak diundang ini.
Tubuh Rizky malah bergeming. Mungkin sedang memperhatikanku.
“Kak Erika mau ke mana? Aku kan, baru datang. Apa Kakak nggak suka aku?” tanyanya dengan nada memelas.
Sabar. Tahan. Jangan berkata kasar padanya.
Aku mengeram. Tanpa perlu disembunyikan lagi aku malah terang-terangan memasang wajah kesal. Bodo amat dengan reaksinya, aku tidak peduli dan melangkah pergi dari sana.
“Kak Erika mau ke mana?” tanyanya lagi.
Langkahku terhenti. Aku berbalik dan menatapnya penuh rasa kesal. “Gue mau ke mana itu bukan urusan lo. Jangan ganggu gue,” ucapku tegas dibarengi nada tak suka.
Raut wajah Rizky berubah total saat mendengar ucapan itu keluar dari mulutku. Suasana berubah menjadi seperti aku sedang membully Rizky. Wajahnya yang kelewat imut itu terlihat sendu menatapku. Tiba-tiba semacam perasaan bersalah hinggap di lubuk hatiku yang paling dalam. Dalam banget, sampai nggak keliatan ujungnya.
“Aku kan, cuma ingin dekat sama Kakak,” ujarnya lirih layaknya seorang korban pembully-an. Lengkap sudah adegan ‘pembullyan’ ini.
Aku menatapnya dengan perasaan semakin kesal saja. “Heh, Junior! Nggak usah sok dekat sama gue. Mau gue suka lo atau nggak, itu bukan urusan lo. Pergi sana, jangan ganggu gue!” ucapku hampir seperti berteriak. Aku benar-benar geram dengan situasi sekarang.
Aku pergi dari sana. Berjalan keluar dengan tampang dongkol plus jutek. Nggak bakal enak dipandang. Namun belum juga melangkah jauh dari depan perpus, suara setan-pun terdengar lantang mengudara.
“Kak Erika! Mau nggak jadi pacar aku?!”
__ADS_1
What the—