![Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]](https://asset.asean.biz.id/oh--my-uncle---on-going-revisi-berjalan-.webp)
Konten sensitif. Berisi adegan tidak terpuji. Harap bijak dalam memilih bacaan. Bagi yang belum cukup umur atau tidak menyukai bab ini, silakan lewat saja ke bab berikut.
Author
Malam ini angin berembus dengan pelan. Membelai malam dalam keremangan cahaya bulan. Tubuh itu tampak terduduk tegak di tempat tidur sambil memandang keluar jendela. Cahaya bulan perlahan tertutup awan, membuat langit semakin redup dan gelap. Ia mengadahkan kepalanya menatap lekat langit malam yang semakin pekat.
“Gue akan akhiri semuanya secara pelan-pelan,” ucapnya lalu berdiri dan berjalan keluar.
Derap langkah kakinya yang pelan terdengar nyaring di heningnya malam. Walau malam semakin larut ia tetap tak peduli dan semakin melangkah menuju tempat dengan sinar lampu yang terang di antara ruangan lain yang gelap.
Bayangannya terlihat memanjang ke belakang, dan menampilkan sosok abstrak entah apa. Sorot matanya memindai area dapur. Ia melangkah ke segala arah sambil mencari sesuatu. Ada banyak benda di setiap kabinet yang ia buka. Namun matanya terhenti di kabinet berisi benda-benda tajam. Pisau yang panjang itu menjadi pilihannya.
Ia memandangnya dengan takjub, lalu seringai licik tersungging di bibirnya. Ia bangkit dari posisinya lalu beralih ke kulkas yang berisi banyak bahan makanan. Dilihat bagaimanapun, ia tampak merasa jijik dengan pemandangan di depannya itu.
“Ini makanan yang kami makan bersama,” ucapnya datar. Tak berselang lama ia menghancurkan isi kulkas itu dengan pandangan murka.
“Ini juga yang kami makan bersama.”
Dia semakin mengila dengan apa yang ia buat itu. Menyenangkan bisa menghancurkan apa yang mereka makan dengan baik.
Ia menghela napas panjang. Kepalanya menengok ke belakang. “Saatnya melihat pertunjukan menarik,” gumamnya. Senyumnya tampak menyeramkan. Sambil membawa pisau ia berjalan ke arah sebuah ruangan.
Ruangan itu rupanya sebuah kamar milik dua makhluk hidup yang sedang tertidur pulas itu. Semirik liciknya kembali muncul. Matanya mengerling penuh minat pada mereka berdua.
__ADS_1
Ia melangkah masuk ke dalam, dengan langkah pelan yang hati-hati. Di malam yang hening ini, suara langkah kakinya bisa terdengar sebesar dentuman genderang. Jadi ia harus berhati-hati.
Rencananya terasa sangat mulus. Apalagi pintu kamar milik dua makhluk itu tidak terkunci. Tak ada kewaspadaan sama sekali di benak mereka. Ia beruntung karena memulai semuanya di malam ini.
Dia, sosok itu, menatap wanita yang sedang tertidur pulas dengan tatapan benci.
“Lo harusnya udah mati sejak awal,” batinnya.
Ia tertawa tanpa suara. Benar juga, wanita itu seharusnya sudah ia lenyapkan sedari awal. Kemunculannya terlalu terlambat. Namun, tuhan sepertinya memberikan ia kesempatan dan kemudahan, sehingga dia bisa melaksanakan keinginannya dengan baik.
Mungkin ini saatnya ia melihat pertunjukan menarik.
Dia mendekati wanita itu. Tangannya yang memegang pisau terulur tepat di depan wajah sang wanita yang menghadap ke arahnya. Senyum iblis tampak menghiasi wajahnya. Jantungnya berdebar-debar. Menghasilkan sensasi aneh yang menyenangkan di dadanya.
Darah mulai terkumpul dan berusaha keluar dari sayatan kecil itu. Senyum senang menghiasi wajahnya. Sinar bulan kembali terlihat menyinari masuk dari sela-sela jendela. Bayangannya menutup wajah si wanita.
Ia kembali mengerakkan pisaunya, hingga goresan yang dibuat menjadi semakin dalam. Dan kini semakin banyak darah yang keluar. Tak bisa berkata-kata, ia hanya menatapnya dengan tatapan senang. Pisaunya kembali mengores lebih dalam. Menyayat kembali daging yang merah itu. Cairan kental darah semakin banyak keluar. Mengalir ke bawah mengitari leher.
Aroma darah yang amis dan seperti besi menyeruak di udara. Rintihan-rintihan kecil juga menghiasi wajah yang beberapa jam yang lalu masih bisa tersenyum senang itu.
Seharusnya, wanita itu tak boleh bahagia. Di saat satu hati tersakiti dan hati yang lain malah bahagia tak terkira. Rasa kesal, dan marah membaur jadi satu di dadanya. Ia mengeram. Tangannya meremas kuat gagang pisau. Ingin rasanya membunuh wanita itu dalam sekali tusukan.
Jika menargetkan dada sebelah kirinya dan menusuknya, ia akan mati seketika. Apalagi panjang pisau ini sangat pas untuk membunuh dengan cara seperti itu.
__ADS_1
Namun ia menahan semuanya. Setelah mendengar rintihan kecil yang menyiaratkan kesakitan itu, begitupun dengan bau amis darah yang kental. Dan jika saja lampu tak dibiarkan mati, ia mungkin bisa melihat lebih jelas betapa merahnya warna darah itu. Ia pun berubah pikiran.
Ah, mengingatnya membuat ia bahagia.
Ia menarik kembali tangannya yang memegang pisau. Pisau itu tak lagi terarah pada si wanita. Dia menatap lekat wajah si wanita yang kembali pulas. Tak merasa terganggu sama sekali dengan lehernya yang sudah tersayat besar. Tapi, itu bagus untuk dia. Semuanya berjalan seperti maunya.
Keadaan seakan mendukungnya dalam hal apapun. Padahal ini yang pertama setelah sekian lama ia tak melakukannya. Dan baginya, rasa itu masih terasa sangat nyata bermain-main di dadanya. Waktu tak bisa mengubah apapun secara keseluruhan. Walau banyak yang berubah dari hidupnya, namun rasa masa lalu tetaplah sama.
Menyenangkan, mengesalkan, tapi juga mendebarkan.
Tak perlu berpikir jauh-jauh lagi. Cukup melihat kembali kilas balik yang ia simpan
di memorinya saja sudah bisa membuatnya bertahan hidup lebih lama. Hanya cukup
dengan mengingat.
Kali ini, semuanya sampai di sini. Sebelum semuanya malah sial, ia langsung bergegas
keluar dari tempat itu. Dan kembali ke kamar. Setelah pintu tertutup pandangannya jatuh pada seseorang yang sedang tertidur pulas di tempat tidur.
“Lo nggak bisa berbuat apa-apa,” gumamnya lalu kembali ke tempatnya.
Rencana mimpi buruk apa lagi, ya, yang harus gue buat? Atau, gue langsung bunuh aja. Cukup menyenangkan tapi kayaknya terlalu cepat. Semuanya harus berjalan pelan tapi penuh rasa sakit. Agar mereka sadar, di balik rasa bahagia ada pula rasa sakit.
__ADS_1
Ia mulai menimbang-nimbang apa yang harus dia lakukan setelahnya.