Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]

Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]
Chapter 24


__ADS_3

Dari sekian banyaknya hal yang harus aku pikirkan, kenapa yang terlintas di kepala malah sosok Rizky yang bertampang lempeng namun kelewat imut. Cuma dia satu-satunya yang berani masuk ke pikiranku, bahkan di saat aku sedang berhadapan dengan orang yang tak seharusnya di sini.


“Mata lo bengkak.” Dia berkomentar tiba-tiba, membuat tubuhku sedikit tersentak pelan. Lamunan tentang Rizky si penganggu pun buyar seketika—padahal aku berharap bisa menonjok Rizky, setidaknya sekali, walaupun itu hanya khayalan semata. Dia memperhatikan diriku yang terduduk di depan cermin ini dengan teliti. Sedikit risih, namun kutahan saja.


“Kenapa lo bisa ada di sini?” tanyaku tak percaya. Bagaimana mungkin dia ada di sini. Dia seharusnya sudah


menghilang dari diriku setelah aku dinyatakan sembuh oleh psikolog.


Seperti yang pernah kukatakan pada Desy, aku pernah ke psikolog. Karena itulah aku tak perlu lagi datang untuk yang kedua kalinya. Karena aku sudah ‘sembuh’.


Sherly, atau biasa kupanggil Kak Sely, dia menganggukan kepalanya pelan lalu menatap ke luar jendela melihat sinar matahari yang menembus masuk.


“Gue ada karena lo ada,” jawabnya santai tanpa beban sama sekali. Seakan itu bukanlah masalah sama sekali.


Aku mendesah pelan lalu ikut bergabung dengannya menatap ke luar jendela. Tak tahu harus berkata apa lagi. Sinar mentari yang terang begitu menusuk penglihatanku. Mataku berat dan sedikit perih. Inilah akibat dari menangis semalaman.


Kemarin itu cukup mencenangkan bagiku. Aku yang terduduk di lantai keramik yang dingin, tak menyadari bahwa yang berdiri di depanku adalah Sherly Asteria. Orang yang sudah menemaniku selama bertahun-tahun.


Kulirik dia sekilas dan tersenyum simpul. Dari samping wajahnya tampak berbinar. Mungkin sedang senang. Tanpa kusadari dia tiba-tiba balik menatapku lalu tersenyum. Senyum penuh kasih yang selalu ia bagikan untukku dulu. Sebelum dia dinyatakan ‘hilang’.


“Lo sudah sebesar ini, ya. Dulu, gue nggak pernah kepikiran akan melihat lo lagi setelah hari itu.” Ia berujar lirih.


Telapak tangannya yang hangat menyentuh wajahku dengan perasaan sayang. Rasanya hangat dan lembut. Hatiku jadi tenang dan damai. Namun ini semua semacam Deja’vu bagiku, seakan hal ini pernah terjadi. Tapi tak bisa kupastikan apa ini pernah ada secara nyata atau tidak.


“Dulu lo nggak sebesar ini. Lo juga belum punya perasaan ini. Dulu lo polos banget.” Ucapannya terkesan mencibir, namun rasanya yang dia katakan benar semua. Tapi aku tak tahu bagian mana yang benar.


Raut wajahku berubah heran. Tanganku terangkat, menghentikan tangannya yang mengusap wajahku. Aku menatapnya penuh tanya.


“Perasaan apa?” tanyaku heran. Aku terdiam, menunggu Kak Sely bicara.


Aku pun semakin dibuat heran saat dia malah terkekeh pelan. Kekehannya bertahan lama dan semakin membuatku


heran.


“Aku nggak ngerti apa maksud ucapan Kak Sely itu.” Aku berujar heran. Mataku tak lepas memandangi wajahnya itu, yang kini tengah menikmati terangnya sinar mentari. Dari pandanganku, aku bisa melihatnya


tersenyum tipis. Sangat tipis.


“Lo nggak perlu menyangkal apa-apa. lo cukup ngejalanin aja.” Dia berpaling menatapku lekat. “Sisanya biar


gue yang atur.”

__ADS_1


Oke, aku tak mengerti ucapannya sama sekali. Semuanya terlalu rumit untuk dimengerti otak kecilku ini. Perasaan apa? Ngejalanin apa? Mau mengatur apa? Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiran Kak Sely.


“Aku nggak ngerti, sumpah! Kakak bicara apa, sih. Perasaan apa .? Ngejalanin apa .? Semuanya itu maksudnya apa, Kak?”


Sungguh, di dunia ini yang tak pernah kumengerti adalah jalan pikiran Kak Sely. Dulu, dia pernah menginginkan seekor tikus. Saking inginnya dia membuatku bergadang semalaman untuk menemaninya berburu tikus. Tapi saat dia sudah menemukan tikus sebesar telapak tangan, dia malah berkata, “Tikusnya jelek,” lalu melemparkan tikus itu kembali ke tanah yang berbatu.


Tahu apa yang terjadi pada tikus itu? Dia mati. Paginya aku harus mengubur pekerjaan kotornya itu sebelum ibu mulai menyapu halaman.


Saat itu, kami masih tinggal bersama. Namun, setelah hari itu ibu terus mengawasiku. Ternyata bangkai itu


ditemukan olehnya saat ingin menanam tanaman. Mungkin dia sudah curiga denganku. Lalu hari-hari selanjutnya aku menjadi ‘tamu’ tetap seorang psikolog.


“Ngejalanin hidup lo, lah! Sisanya kalo lo ngerasa nggak sanggup lagi …,” Dia memukul dadanya pelan. Dagunya terangkat tinggi sambil menatapku pongah, “Gue siap gantiin lo.”


Kepalaku menggeleng. “Nggak. Ini hidup aku. Kakak nggak berhak ngatur ataupun mau memiliki …,” Kutatap dia dengan pandangan sendu. “ … karena Kakak nggak nyata.”


*****


“Lo nggak liat Erik?” Danto bertanya sambil kepalanya celingak-celinguk mencari sosok Erika.


Dinto mengedikkan bahunya lalu kembali melahap bakso di depannya. Beda dengan kembarnya yang sibuk celingak-celinguk ke sana kemari, Dinto malah sibuk memakan baksonya dengan lahap. Saking sibuknya mereka dengan urusan masing-masing, tanpa mereka sadari Rizky berdiri di tepi meja sambil menatap aneh mereka berdua.


“Kak Danto cari siapa?” Rizky mendudukan tubuhnya di samping Dinto. Terlihat sangat akrab karena tak mengatakan permisi sama sekali. Dinto pun dengan senang hati menggeser tubuhnya sedikit untuk memberikan ruang duduk bagi Rizky.


“A, ada apa Kak? Kok natap aku kayak gitu?” Rizky ragu-ragu melihat ekspresi Danto yang masih sama seperti tadi.


Hening. Danto tak berbicara dan hanya memperhatikan Rizky tanpa sekalipun pandangannya beralih dari sana. Aneh, itulah yang Rizky rasakan. Gugup, perasaan itu juga yang ia rasakan saat ditatap penuh makna oleh Danto.


Dinto yang sadar akan situasi aneh itu mengibaskan tangannya ke depan. Hampir saja tangannya mengenai wajah Danto jika dia tak menyingkir dari sana.


“Lo apa-apaan, sih, Din!” Danto berseru kesal. Namun, Dinto hanya bodo amat dan malah beralih menatap Rizky. “Kalo dia natap lo kayak om-om pedof*l, jangan ragu buat nonjok mukannya yang sok ganteng itu.” Dinto berucap serius pada Rizky.


“Lo apa-apaan bilang gue om-om pedo, hah!!” tukas Danto. Cowok satu itu mencak-mencak di posisinya. Tangannya bergerak-gerak di udara. Kadang mengacung tinju, kadang pula telunjuk yang mengarah pada Dinto.


“Wahhh .! Lo emang adek setan. Tukang hasut lagi,” serunya tak percaya. Perdebatan pun dimulai. Dan Rizky bingung harus bertindak seperti apa. sebenarnya dia baik-baik saja ditatap seperti itu. Walau dia tak nyaman. Namun setelah Dinto mengucapkan kata-kata yang terlarang itu, perdebatan tanpa akhir ini malah terjadi. Semuanya, lagi-lagi kerena dia.


Rizky mendesah pelan. Matanya bergerak menatap bergantian si kembar itu. “Kak Danto sama Kak Dinto, jangan debat di sini. Kalo mau debat, di fakultas Sastra ada ruangannya. Kakak bisa debat di sana tanpa menganggu orang lain. Kasihan di sekitar kita malah terganggu. Kalo Kakak mau, kita bisa ke sana sekarang. Di sana baru dilanjutin lagi debatnya.” Rizky berdiri dari duduknya. Siap membawa mereka ke ruang debat.


Danto dan Dinto terdiam. Mereka menatap takjub pada Rizky. Baru kali ini ada yang menengahi perdebatan mereka dengan perkataan halus seperti itu. Bagai sedang mendengar siraman kalbu, Danto dan Dinto terdiam. Merasa kagum dengan perkataan Rizky yang seakan menyadarkan mereka bahwa kenyataannya perdebatan mereka hanya menganggu saja.


“Ekhm, duduk Ky. Debatnya sampai di sini, jadi lo bisa duduk lagi.” Dinto memperbaiki cara duduknya setelah berucap dengan kikuk.

__ADS_1


Rizky yang tadinya berdiri bersiap mengajak mereka ke fakultas Sastra kini mengurungkan niatnya. Ia terduduk


ragu di samping Dinto.


“Sebenarnya ada yang mau gue konfirmasi sama lo. Karena itulah, gue natap lo kayak tadi.” Danto menyatakan niatnya. Dia tak mau lagi ada yang salah paham dengan tatapannya tadi—terutama adiknya.


Rizky mengangguk paham tanpa bicara. Danto yang paham situasi pun mulai melancarkan aksinya.


“Lo tau sekarang semua orang penasaran gimana perkembangan hubungan lo sama Erik, kan?” Danto bertanya serius. Tanpa mengelak sama sekali Rizky hanya mengangguk menyetujui pertanyaan Danto.


“Apa alasan lo ngejar-ngejar Erik?”


Keadaan berubah menjadi sangat serius saat pertanyaan itu terlontar dari mulut Danto. Dinto hanya menyimak tanpa suara. Membiarkan si raja gosip melancarkan aksinya.


Rizky tersenyum. Ia tahu, semua orang pasti mempertanyakan situasi yang ‘janggal’ itu. Terutama di bagian


‘nembak tiba-tiba di depan perpus’, tentunya membuat seantero kampus menjadi gempar dengan pernyataan ini. Mereka yang awalnya hanya dikenali anak satu jurusan, kini malah jadi dikenali seantero kampus.


Situasi penuh tanya seperti sekarang ini memang tak bisa dihindari lagi. Semuanya harus diperjelas. Ya, harusnya itu diperjelas dari dulu.


“Karena dia orang yang aku cari,” jawab Rizky mantap, tanpa keraguan sama sekali. Danto memandang penuh selidik pada Rizky. Mencari kebohongan di mata adik tingkatnya itu. Namun yang ia cari tak dapat ditemukan. Rizky serius dengan ucapannya itu.


“Orang yang lo cari?” tanya Dinto setelah terdiam lama. Rizky mengangguk, lagi-lagi tanpa keraguan sama sekali.


“Intinya lo suka sama dia apa nggak?” Danto bertanya tak sabar. Di pikirannya ia hanya mengharapkan jawaban memuaskan dari Rizky. Setidaknya jawaban itu bisa membuatnya berhenti sejenak memikirkan perkembangan hubungan mereka berdua ini.


“Aku … nggak tau ….” Rizky menjawab ragu lalu kepalanya tertunduk lesu. Dia yakin, kini si kembar itu merasa kecewa terhadapnya. Namun Rizky tak bisa berbuat banyak. Inilah yang dia


rasakan. Tak bisa menjabarkan perasaan sendiri. Dia bingung harus bilang apa.


Apa perasaan berdebar-debar ini hadir karena suka? Ataukah hanya karena dia


punya alasan lain.


Ah, ternyata dia gagal memperjelas situasi. Bagaimana mau memperjelas situasi, saat perasaannya sendiri saja tak jelas begini. Apanya yang mau diperjelas? Sudah seperti pengecut saja. Rizky tak tahu lagi berkata apa. Bukannya memperjelas, dia malah membuat orang-orang merasa kecewa dengan pernyataannya itu.


Apapun yang Rizky jawab, tak bisa memberikan kesan puas pada Danto. Dinto menatap Rizky sedikit kecewa, “Saat lo nggak yakin dengan perasaan lo sendiri, saat itulah lo harus milih jalan kembali. Bukan maju dan malah berakhir menyakiti satu hati,” ujarnya pelan penuh kesan kecewa, mewakili perasaan Danto. Danto tak lagi bisa berkata apa-apa. dia hanya berdiri lalu memandang lurus Dinto.


“Din, kita langsung  ke rumah Erik aja, yuk. Khawatir nih, tu anak nggak masuk tanpa keterangan.”


Rizky mendongkak melihat Danto. Mereka berlalu tanpa mengajak Rizky sama sekali. Mungkin terlalu berlebihan jika Rizky berharap ada sekadar kata pamitan dari mereka. Namun sepertinya tidak. Mereka hanya berlalu tanpa berbalik menatapnya yang kini terduduk sendiri di bangku kantin, dengan pikiran yang terus terarah pada si kembar itu.

__ADS_1


Mereka tahu rumah Kak Erika nggak, ya?


__ADS_2