Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]

Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]
Chapter 21


__ADS_3

Erika menatap lurus ke depan. Pandangannya jatuh pada cermin besar yang tertempel di pintu lemari. Ia terduduk murung menghadap cermin itu. Di dalam sana, menampilkan bayangannya yang menunduk lesu.


Dia sungguh tak bisa mempercayai apa yang ada di pikirannya sekarang. Mana mungkin Uncle-nya menuduh dia lagi. Kini, walaupun bukan tuduhan secara langsung, tapi Erika yakin Uncle-nya itu tak mungkin memberikan pertanyaan yang terkesan menuduh seperti itu jika Uncle-nya tak menuduhnya sama sekali. Lalu apa artinya pertanyaan itu jika bukan sebuah tuduhan, bukan?


Dituduh lagi? Erika ingin menertawakan hidupnya yang sungguh miris ini. Erika hanya tersenyum kecut. Kini tak ada lagi yang memihaknya. Desy pun sudah tak ada di dekatnya. Kini Uncle-nya pun  mulai tak percaya dan menuduhnya seakan-akan dialah pelaku sebenarnya.


Gara-gara pertanyaan Faris itu, Erika jadi tak bisa tidur. Dia tak merasa marah ataupun kesal terhadap Uncle-nya. Yang ia rasakan kini hanyalah perasaan sedih karena menjadi tertuduh. Apalagi yang menuduhnya itu pamannya sendiri.


Kini, pada siapa lagi harus ia percayai? Semuanya seakan berbalik menyerangnya. Membuatnya tak bisa berkutik dan mau tak mau harus menerima apa yang terjadi.


Napasnya berembus berat. Kepalanya mengadah ke atas. Pikirannya berkelana ke kejadian beberapa jam tadi. Saat itu, ia hanya bisa terdiam menatap lurus Faris. Apa yang bisa ia jawab saat itu? Erika saja tidak tahu siapa pelaku sebenarnya.


Apa Unclenya menginginkan dia mengatakan bahwa dialah pelaku sebenarnya?


Apa itu yang diinginkan Faris sebenarnya?


Erika bingung, ia jadi kepikiran.


“Gue nggak tau apa-apa, kok malah jadi kayak tertuduh gini?” tanyanya pada entah apa. pandangannya kembali menatap ke depan, ke cermin yang memantulkan dirinya.


“Gue kan, nggak tau apa-apa. Kalo gue tau juga bakal gue kasih tau. Lah, ini gue nggak tau, malah jadi tertuduh.” Ekspresinya berubah heran lalu memukul pelipisnya pelan. Ia memutar bola matanya dengan malas, lalu menghempaskan diri ke belakang.


“Gue ada salah apa sih pada mereka. Senang banget nuduh gue kayak gini,” dumelnya kesal sambil memandang langit-langit kamarnya.


Ia masih terus mendumel. Mempertanyakan semua hal aneh sambil mencurahkan semua yang menganjal di hatinya.


“Apa gue pernah punya salah sama Uncle? Bukannya gue waktu kecil pernah sama dia, ya?”


Erika mulai memikirkan apa saja tentang Uncle-nya di masa lalu. Mungkin saja di masa itu dia pernah berbuat salah. Namun, tak ada satupun kenangan buruk yang ia rasakan pernah terjadi antara dia dengan Faris.


Namun, Erika merasakan hal yang sama seperti waktu ia memikirkan kejadian-kejadian di masa lalu waktu itu. Seakan sesuatu, atau banyak hal yang malah terlupakan. Bukan, daripada dibilang lupa dia malah merasa seperti ada yang hilang dan tersembunyi di suatu tempat.


Erika memegang kepalanya lalu menutup matanya erat hingga keningnya berkerut.


“Makin dipikirin, makin bikin gue pusing. Sial! Gini amat hidup gue.” Erika berujar kesal. Tak tahu lagi harus berbuat apa, ia pun mulai merasa akan terlelap dalam tidur. Lalu semuanya gelap dan dia tertidur dalam posisi tak nyaman—kaki yang bergelantungan di tepi kasur, bukan posisi yang bagus.


*****

__ADS_1


“Kamu sudah memikirkannya?”


Erika menatap Faris dengan pandangan heran. Baru saja ia duduk di kursi berniat untuk sarapan, namun Uncle-nya itu malah sudah mengawali pembicaraan dengan hal yang tak ingin Erika permasalahkan.


Kenapa juga Faris penasaran dengan jawaban Erika?


Erika menggeleng pelan tanpa menjawab. Dalam diam ia menghabiskan sarapannya. Walau sebenarnya ia risih sekali dengan Faris yang menatapnya lekat.


“Kamu yakin, kamu nggak tau?” tanya Faris penuh rasa ingin tahu yang jelas sekali.


Erika ingin pergi dari sini sekarang. Jika saja dia tak peduli dengan perutnya yang kelaparan ini, ia juga tak mau duduk di sini. Faris masih setia duduk menemaninya makan. Tak seperti biasanya, duduk berdua kali ini berbeda sekali dengan yang sudah sering terjadi. Erika benci jika ditatap curiga seperti ini.


“Coba kamu pikir-pikir dulu. Mungkin kamu tau siapa pelakunya.” Faris berucap lirih penuh tuntutan.


Erika mencebikkan bibirnya kesal. Uncle-nya sudah berlebihan terhadap hal ini. Erika berdiri dari duduknya. Pandangan matanya menyorot Faris dengan tajam.


“Bisa diam, nggak. Aku saja nggak tau jawabannya, jangan ditanya lagi!” bentaknya kasar. Lelah menghadapi sikap Faris yang selalu penuh tuduhan dan tekanan untuk dirinya.


“Uncle kalo nggak tau apa-apa diam aja. Jangan menuduh sembarangan,” tandas Erika yang geram dengan sikap Faris.


Faris menyalakan ponselnya yang mati lalu menekan entah apa dan terakhir meletakan ponsel itu tepat di depan Erika.


“Apa ini?” tanya Erika tak percaya. Ia hanya bisa melongo melihat sesuatu yang tak pernah ia kira sebelumnya.


“Apa lagi. Itu rekaman CCTV di dapur. Kamu lihat dengan jelas itu siapa?” Faris bertanya dengan penuh tuntutan pada Erika.


Erika menggeleng. Tangannya mengambil ponsel Faris dan melihat video itu lebih dekat. Pandangannya masih saja tak percaya dengan apa yang dia lihat. Di dalam sana, jelas sekali itu dirinya. Jelas sekali dia sedang mengacaukan dapur. Jelas sekali ... yang di sana adalah dia, tapi rasanya itu bukanlah dia.


“Aku nggak merasa pernah bikin kek gini. Pasti ada yang salah di sini,” ujarnya tak percaya. Kepalanya menggeleng kuat. Ia masih tak bisa percaya dengan yang dilihatnya.


Bagaimana bisa percaya, Erika saja tak ingat pernah melakukan hal itu. Padahal apa yang ia lihat adalah dirinya yang dalam keadaan sadar membuat kekacauan.


“Apalagi yang nggak kamu percayai. Ini nyata Erika. Kenapa kamu nggak pernah jujur sama Uncle?” Faris bertanya lirih. Ia menatap Erika dengan pandangan sedih.


Apa mungkin, keponakannya yang dulu dikenalnya baik itu bisa berbuat hal mengerikan seperti itu.


Mereka sama-sama tidak percaya dengan keadaan sekarang. Di satu sisi, Erika tak percaya dia melakukan semua itu. Di sisi lain, Faris pun tak menyangka Erika bisa berbuat hal mengerikan seperti itu. Sama-sama tidak percaya.

__ADS_1


“Masih ada lagi. Kamu harus melihatnya. Sepertinya ini adalah waktu kamu menelpon seseorang di kamar kamu. Walau agak buram karena gelap.”


Erika menutup mulutnya dengan tangan saking tak percaya dengan apa yang dia lihat. “Apa lagi ini.” Faris tak menjawab dan hanya diam.


Di dalam sana menampilkan adegan berbeda. Adegan seorang perempuan yang menelpon di keremangan kamarnya sendiri.


“Yah, di video ini mungkin bisa dikira kamu sedang mengobrol sama teman kamu. Tapi, waktunya terlalu pas sama waktu Ema mulai berteriak histeris. Bukannya itu aneh?” Faris menatap lekat Erika.


“Sungguh, aku nggak pernah ingat hal kayak gini,” tegasnya pada Faris.


Erika berdiri tegas, matanya menyorot tajam pada Faris. Walau ia masih dilanda ketidakpercayaan akan hal itu, dia tidak boleh terlihat takut. Bisa saja Video itu diedit entah bagaimana. Dunia ini kan sudah modern, semuanya bisa dilakukan.


“Rika nggak pernah melakukan hal itu,” ucapnya sambil mengangkat tinggi-tinggi dagunya.


Faris dengan kasar berdiri tiba-tiba, hingga membuat kursi yang ia duduki terdorong keras ke belakang.


Plak!


Suara nyaring yang dihasilkan oleh tamparan keras itu membuat Erika bergeming. Tangan Faris melayang di udara. Matanya menatap nyalang Erika.


“Kamu masih nggak mau ngaku, hah?! Jelas-jelas itu kamu Erika,” ujarnya penuh tekanan akan amarah.


Erika memegang pipinya yang memerah sambil menatap Faris. “Sudah aku bilang, ITU BUKAN AKU YANG BUAT!”


Plak!


Satu tamparan sukses mendarat di tempat yang sama. Tubuh Erika linglung ke belakang karena hilang keseimbangan, lalu jatuh tersungkur di lantai. Kepalanya tertunduk dalam. Ia terdiam lama di posisi itu. Faris masih setia berdiri di sana. Tak ada pandangan kasihan apalagi bersalah telah melakukan itu. Ia masih dikuasai oleh amarah.


Lalu tiba-tiba Erika menjadi terdiam seribu bahasa. Dan keheningan malah menerpa mereka beberapa saat.


“Ah! Akhirnya gue bisa rasain hangatnya matahari juga,” seru Erika lega, namun nada suaranya berubah. Dan, itu membuat Faris terperangah.


Deg


Faris merasa Deja’vu dengan keadaan sekarang. Erika yang tadinya terduduk di lantai kini berdiri pongah di depannya sambil merapikan pakaiannya. Erika terlihat memperhatikan sebentar pakaiannya sendiri lalu kembali menatap Faris.


Erika tersenyum lebar, sambil tangannya melambai pelan. “Ah, lama tidak berjumpa Faris.”

__ADS_1


__ADS_2