![Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]](https://asset.asean.biz.id/oh--my-uncle---on-going-revisi-berjalan-.webp)
Pagi ini, kami dibuat berkumpul di ruang tamu. Masih dengan tampang mengantuk aku diharuskan untuk tetap duduk di sini. Benar-benar menganggu tidurku saja.
“Mama nggak pa-pa?”
Ini Viena Trisya, anaknya Bu Alana. Biasanya dia dipanggil, Ema. Nama lengkap sama nama panggilannya beda, kan? Iyalah, beda. Aneh lagi. Cocok buat jadi bahan ejekan. Tapi aku sadar diri, usiaku tak lagi dianggap normal buat main ejek-ejekan nama. Cukup dengan menertawakannya dalam hati saja.
Aku terdiam memandang Ema yang terus-terusan mengusap matanya. Positif thinking aja, mungkin dia kelilipan.
“Mama nggak pa-pa. Jangan nangis lagi. Malu sama Kak Erika yang nggak nangis,” ucap Bu Alana yang langsung didengarkan Ema. Dia mengusap matanya kasar lalu menatap kembali Bu Alana.
“Nggak nangis lagi. Janji,” serunya manja.
Ingin muntah rasanya. Manja banget cewek satu ini. Walau sudah mengucapkan janji, air matanya tetap aja jatuh.
Kuedarkan pandanganku menatap semua wajah-wajah khawatir dan sedih. “Kenapa leher Bu Alana bisa begitu?” tanyaku tiba-tiba karena penasaran.
“Nggak tau, baru bangun langsung udah begini,” ujarnya sedih. Walau sedih ia masih bisa tersenyum tipis pada Uncle yang sedang mengobati lehernya. Terlihat Uncle juga membalas senyum Bu Alana dengan penuh sayang.
Ah, aku hanya bisa memandang miris ke arah mereka berdua. “Kita obati dulu lukanya, sayang. Kamu jangan banyak gerak.” Uncle mengingatkan.
Kupalingkan wajahku dari mereka dan memandang ke arah lain. Miris, sedih dan menyedihkan, itulah aku. Kuarahkan pandanganku ke arah lain dan berakhir malah jatuh pada sosok Ema, yang lagi-lagi masih mengusap matanya seperti orang kelilipan.
Risih banget liat cewek manja. Masalah gini aja nggak perlu sampai ditangisi juga. Nggak ada guna jika hanya menangis tanpa bisa mencari solusi. Kusandarkan tubuhku yang terasa berat di sandaran kursi. Rasa kantuk yang kutahan sedari tadi membuat mataku mulai tertutup pelan.
“Erika.”
Mendengar namaku dipanggil mataku sontak terbuka lebar. “Ya!” seruku. Uncle yang memanggilku tadi kini tersenyum geli melihatku yang terkantuk-kantuk.
“Jangan tidur, bukannya kamu mau kuliah?”
Aku hanya mengangguk lalu mengusap wajahku.
Pandanganku kembali jatuh pada Uncle yang masih saja setia melingkarkan perban pada leher Bu Alana. Bayangkan saja bagaimana perasaan Uncle saat melihat leher jenjang itu. Kasihan sekali Uncle, malam pertamanya gagal total. Dan kini, ia tidak bisa berbuat apa-apa pada leher wanita yang baru menjadi istrinya beberapa jam yang lalu itu. Poor Uncle.
Kini pandanganku beralih ke Ema. Tubuh yang sedari tadi tertunduk sambil terlihat bergetar pelan itu sungguh kasihan. Ah, semua yang ada di sini sungguh kasihan. Ada yang dikasihani karena lehernya terluka, ada yang dikasihani karena gagal di malam pertama, ada pula yang dikasihani karena terus-terusan menangis, dan ada yang dikasihani karena sakit hati. Dan, yang sakit hati itulah aku.
Sakit banget pas lihat Uncle memeluk sayang Bu Alana. Dan Bu Alana juga terlihat menikmatinya.
__ADS_1
Seharusnya gue yang direngkuh penuh sayang. Harusnya gue yang menikmati pelukan itu. Harusnya itu gue, bukan dia.
Kugelengkan kepalaku mengusir pikiran-pikiran jahat yang malah membuatku semakin menyedihkan saja.
“Mau gue peluk nggak?” tanyaku tiba-tiba pada Ema. Ia mendongak menatapku dengan mata sembabnya. Aku hanya tersenyum kecil.
“Emang boleh?” tanyanya dengan suara kecil. Kuanggukan kepalaku pasti. Aku yakin banget buat meluknya. Soalnya kasihan, dia kelihatan yang paling menyedihkan di sini. Karena sama-sama orang yang menyedihkan jadi kupeluk saja dia.
Tanganku mengusap punggungnya. Tubuhnya terasa bergetar dan tangisnya pun sesegukan. Terdengar lirih dan sedih.
Uncle yang melihat itupun tersenyum padaku. Senyumnya sangat manis, apalagi tatapannya yang magis. Seakan membawaku dalam pusaran rasa tak terjabarkan. Ah, hanya pandangan mata dan seulas senyum saja aku sudah berdebar-debar. Bagaimana mau move on. Sialan.
*****
Kesal itulah perasaanku sekarang. Dan yang membuatku kesal adalah si lintah darat yang selalu menempeliku ke mana-mana.
Aku menatapnya nyalang, penuh aura ketidaksukaan. Kucondongkan tubuhku hingga mengenai ujung meja. “Heh, lo ngapain di sini? Nggak ada matkul, apa. belajar sana, biar lo pinter,” ucapku penuh tekanan di setiap katanya. Rizky tersenyum.
Ya, hanya tersenyum.
Mataku mendelik ke arahnya. Bisa-bisanya dia tersenyum di saat aku malah merasa ingin memukulnya sekarang.
Tampangnya yang kelewat imut nggak berdosa itu membuat orang nggak bisa berpikir bahwa orang seimut itu akan sangat menganggu.
“Nggak ada Kak.” Ia tersenyum lebar sambil berucap. Aku pun ikut tersenyum. Terpaksa, biar orang nggak lihat aku dengan pribadi yang buruk lagi.
“Kak Erika cantik kalo tersenyum.”
Senyumku memudar seketika mendengar kalimat itu malah keluar dari mulut orang yang ingin kuusir saat ini. Wajahku kembali datar dan menatapnya lurus-lurus.
“Cari mati, ya,” tukasku horor.
Yang kukesalkan sekarang ini bukan hanya karena keberadaannya, tapi juga karena ia yang selalu terlihat tidak bersalah. Itu sangat mengesalkan bagiku. Kuharap aku kuat mengahadapi si lintah darat tidak tahu diri ini, sebelum aku malah membuatnya mati di sini.
Sabar Erika ….
Napasku berembus berat keluar dari mulut. Lama-lama lelah juga menghadapinya dengan baik-baik. Tapi kalo pake cara kasar juga nggak baik, jadi mari bertahan dengan cara yang berat bagiku ini.
__ADS_1
“Kak Erika kenapa?”
Mulutnya ingin kusumpal dengan gelas sekarang.
Mencoba menahan sabar yang sudah di ujung akal sehat, aku menatapnya enggan. Aku mencondongkan badanku hingga hampir seperti setengah berdiri.
“Eh, lo bisa diam nggak sih! DUDUK-DENGAN-TENANG-BRENGS*K.”
Setiap kata kutekan dengan dalam, tak lupa dengan hiasan tampang menyeramkan khas pembunuh berdarah dingin.
Rizky benar-benar mendengarkanku dengan baik. Kini aku bisa duduk dengan tenang. Walau masih rada kesal sih, soalnya si lintah darat masih ada di sini.
Namun ketenangan itu tak bertahan lama. Kembar setan malah datang dan menyapaku serta si lintah darat dengan santai.
“Berduaan aja lo pada,” ujar Danto si tukang gosip yang selalu update berita.
“Nggak liat gue lagi sendirian?” tanyaku acuh tak acuh pada situasi.
Danto mencebikkan bibirnya. “Tega lo nganggep Rizky nggak ada. Jahat banget sih, lo.”
Aku mengedikkan bahu tak acuh. “Emang gue peduli,” ucapku yang bodo amat dengan perasaan siapa saja.
Danto berjalan menghampiri Rizky. Aku memperhatikan terus gerak-gerik Danto yang mencurigakan. Dia mulai bisik-bisik setan pada Rizky lalu terakhir menepuk bahu Rizky. Seperti sedang memberinya semangat.
“Ada yang mau dengar gosip nggak? Gue bawa gosip menarik soalnya.”
Ah, aku paham situasi sekarang. Dia nggak ada teman bergosip makanya dia kemari hanya untuk mengajak bergosip.
“Nggak. Gue nggak tertarik,” tolakku.
“Mau, Kak,” seru Rizky. Mataku melotot ke arahnya. Apaan sih, si lintah darat ini. Cari gara-gara banget.
“Gue juga mau.” Dinto ikut nimbrung.
Aku bergegas ingin berdiri. Namun tiba-tiba bahuku sudah ditahan oleh seseorang.
“Bagus Dinto! Lo kalah suara, Erik.” Danto mengacungkan jempolnya pada Dinto, yang masih setia menekan pundakku.
__ADS_1
Aku kalah dari situasi ini. Pada akhirnya aku tetap mendengarkan apa yang diucapkan Danto. Dan, aku menyesal sudah ikut mendengarkan.