Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]

Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]
Chapter 1


__ADS_3

Lima tahun setelahnya ….


“Erika, bangun! Kamu ada kuliah pagi ini! Erika!”


Suara Uncle yang khas mengelegar dan terdengar hingga ke penjuru rumah. Ia masih saja memanggil-manggil namaku dari luar kamar. Yakin deh, pasti tampangnya bete banget. Aku yang mendengar suaranya hanya berdiam diri di kasur yang empuk tanpa berniat menyahut sama sekali.


“Erika. Tiga puluh menit lagi kamu belum berangkat ke kampus, siap-siap nilai kamu E di matkul Pak Santo!”


Aku benci kuliah pagi.


Uncle, begitu kupanggil dia, masih saja berkoar-koar di luar. Jika bukan karena ancaman aku pun tak mau bersusah payah mengeser selimut dari tubuhku. Masih dalam keadaan berbaring, kutatap langit-langit kamar yang masih sama dengan lima tahun lalu. Warnanya masih putih karena selalu dicat setiap tahun oleh Uncle. Lima tahun lalu, semuanya terasa sangat asing. Seperti baru saja terdampar ke dunia lain.


Hari-hari pertama menjalani kehidupan seorang keponakan dari Paman yang rupawan, rupanya tak seindah ekspetasi yang kubayangkan sebelum sampai kemari. Bukannya mendapat kehidupan layaknya seorang putri, aku malah merasa seperti seorang anak. Uncle mengurusku bagaikan seorang ayah. Kehadirannya membuatku lupa sejenak akan kenyataan yang pahit, bahwa aku adalah anak yatim piatu.


Namun entah kenapa, desiran-desiran aneh selalu memenuhi diriku. Awalnya aku menganggap hal itu sebagai rasa sayang yang berlebih. Namun siapa sangka, aku terlanjur menyukai Uncle.


“Rika! Ingat waktu, udah mau jam sembilan sekarang.” Uncle berteriak mengingatkan. Mau tak mau, aku pun bangun dari kasur yang nyaman itu. Mataku menatap ke arah jam dinding yang tergantung di atas pintu. Aku berdecak sebal saat melihat jarum pendek masih setia bertenger di angka delapan. Sedangkan Uncle malah sibuk berteriak mengatakan jam sembilan. Uncle selalu begitu jika urusan kuliah. Dia akan terus berkoar-koar hingga mengatakan hal tak masuk akal untuk mengusir rasa malas bangun pagiku.


“Iya, iya Uncle! Rika udah bangun,” sahutku sambil berteriak. Kuregangkan tubuhku sebentar lalu bersiap-siap membersihkan diri. Untukku, waktu bersiap-siap sebelum kuliah tidak akan memakan waktu lama. Tak perlu banyak berdandan, cukup pastikan kantung mataku tertutup bedak dan bibirku tak kering bagai lahan sawah di musim kemarau, semuanya terselesaikan.


Aku turun dari kamarku yang berada di lantai dua. Di ruang makan sudah ada Uncle yang sibuk dengan ponselnya. Sepotong roti panggang berlapis keju jadi sarapanku pagi ini. Sedangkan Uncle, dia hanya ditemani segelas kopi hitam buatan sendiri.


Uncle adalah salah satu dosen di kampusku. Lebih tepatnya, dia dosen di fakultas Ekonomi. Jauh sebelum aku masuk dan berkuliah di tempat itu, Uncle sudah menjadi seorang dosen di sana. Uncle itu cerdas, pas dengan tampangnya yang oke banget. Semacam hot teacher istilahnya.


Aku menarik kursi di depannya lalu duduk. Tatapanku jatuh pada Uncle yang serius dengan ponselnya—terlalu serius. “Chat siapa, sih. Masih pagi udah sibuk aja,” sindirku lalu melahap roti panggang itu.


“Kepo,” ucapnya pelan. Aku mendelik ke arahnya. “Ih, nggak juga kali,” ucapku.

__ADS_1


Uncle tersenyum dan menyingkirkan benda pipih itu dari pandangan. Pandangan matanya yang menyorot penuh kasih sayang yang teramat besar ke arahku. Aku berdehem pelan setelah menelan makananku. “Uncle ngajar nggak hari ini?” tanyaku mencoba memastikan sesuatu.


Sebelah keningnya terangkat. “Kenapa? Mau makan siang bareng?” goda Uncle. Ia terkekeh dengan ucapannya sendiri yang garing itu.


Aku mengeleng membuatnya berhenti terkekeh. “Memangnya Rika nggak ada kerjaan, pake ngajak Uncle maksi bersama. Rika mau nebeng ke toko buku baru kalo selesai kuliah. Boleh, kan?” Kutatap matanya penuh harap. Uncle terlihat berpikir sejenak. Entah benar sedang berpikir dan menimbang-nimbang situasi, atau hanya rekayasa semata aku tak peduli.


Ia lalu menyeruput kopinya dengan nikmat. “Cuma nebeng aja nggak perlu dijelasin panjang lebar.”


Aku tersenyum senang. Walau ucapannya tak ada kata setuju sama sekali, bagiku Uncle telah setuju akan permintaanku tadi.


“Uncle yang terbaik.” Aku memasang dua ibu jari untuknya sambil berdiri tergesa-gesa. Berbincang dengan Uncle seperti ini sungguh menyenangkan. Sebelum pergi tak lupa roti sisaku dibawa serta lalu pamit dan pergi dari sana.


Dengan bantuan angkot yang menjadi alat transportasiku, aku berhasil sampai di kampus walau waktu yang dibutuhkan lebih lama ketimbang naik ojek. Napasku tersenggal-senggal saat berlari menuju fakultas Teknik yang luar biasa jauh.


Langkah kakiku terhenti di depan pintu kelas. Sembari menormalkan detak jantung yang tidak beraturan, aku pun melangkah masuk. Kelas yang kumasuki ini hampir sepenuhnya sudah terisi. Pertanda sebentar lagi sang dosen akan masuk. Tak berselang lama setelah aku masuk, Pak Santo juga akhirnya menampakkan dirinya. Dan, kuliah pun dimulai.


*****


Bisa dibilang, kantin ini adalah base camp  bagi kami anak Teknik.


Saat aku sedang mencari tempat yang pas, tak henti-hentinya para adik tingkat terus-terusan menyapaku. Aku hanya membalas seadanya. Entah hanya mengangguk atau malah tersenyum paksa. Pandanganku jatuh pada tempat kosong di pojok kantin. Tanpa ragu lagi aku langsung bergegas ke sana. Dari tempat ini aku bisa melihat seisi kantin yang mulai terisi penuh dengan anak-anak Teknik.


“Hai, Kak. Boleh aku duduk di sini? Soalnya tempat yang kosong cuma ini,” jelas seorang cowok yang melangkah mendekati tempatku.


Aku mengangguk. Melihat dia yang sedang membawa makanannya membuatku mau saja menerima permintaannya. “ Duduk aja,” ucapku tak acuh.


Dia itu Rizky, salah satu adik tingkatku. Makhluk paling sok akrab denganku. Awalnya  hanya pembicaraan biasa mengenai pekerjaan dan proyek-proyek yang dilaksanakan, tapi entah bagaimana ia mulai SKSD denganku.

__ADS_1


“Kak Erika senang, ya, punya banyak teman yang sayang sama Kakak,” ujarnya sok tahu.


Aku hanya diam, tak berniat membalas ucapannya itu. Keadaan berubah kikuk di antara kami. Dan aku juga sadar akan hal itu. Tanggapanku yang buruk dan mungkin tak sesuai dengan ekspetasinya, membuat dia hanya bisa terdiam. Beberapa kali aku mendapatinya sedang menatapku. Bukannya aku ge-er atau gimana. Tapi tatapan matanya begitu menyuarakan rasa sukanya padaku. Bahkan jika dia ketahuan menatapku dan kami saling bersitatap, dia tak akan memutuskan kontak mata sebelum aku memutuskannya. Karena itulah aku tidak pernah nyaman akan kehadiran Rizky beberapa waktu ini. Dia seakan ingin merengut semua kenyamanan dan kedamaian dalam hidupku.


Aku selalu kesal jika keadaan menjadi seperti ini.


Ingin makan siang dengan tenang, malah berakhir dengan cowok SKSD. Dia lebih mirip parasit ketimbang manusia. Risih juga. Aku cepat-cepat menghabiskan makananku secepat yang aku bisa. Lalu ngacir dari sana sebelum ditanya-tanya hal tak berguna lagi oleh Rizky.


Tempat yang kutuju adalah fakultas Ekonomi. Bagiku, ini tempat teraman kedua selain fakultas Teknik. Di sini aku bagaikan seonggok debu yang terbawa ke tempat ini. Tak ada yang meladeniku, kecuali satu orang. Dia adalah Desy Amaliya. Sahabatku tentunya.


Aku duduk di kursi yang disediakan di tempat itu. Sambil menunggu Desy aku juga melakukan hal biasa yang sudah menjadi keseharianku ketika berada di sini.


Memperhatikan Uncle. Lucu memang, karena aku yang selalu bertemu dengannya di rumah, malah harus diam-diam melihatnya dari jauh saat di kampus.


“Ka! Ngelamun apa, sih.” Aku tersentak kaget ketika Desy malah muncul dari arah belakang.


“Hampir lumutan, nih, gue nunggu lo keluar,” elakku berusaha mengalihkan pembicaraan. Desy malah tertawa mendengar apa yang aku bilang. Jujur aja, dia juga tahu aku berbohong.


“Lo nggak pandai bohong, Ka,” ujarnya lalu tertawa terbahak-bahak.


Aku mendengkus, menatapnya dengan pandangan kesal. “Iya, gue tau. Nggak perlu diingatin lagi.” Tawa Desy perlahan memelan. Kini dia sudah menatapku seperti biasa. “Lo ke sini bukan cuma nungguin kelas gue kelar, kan.”


Tak perlu dijawab pun Desy udah tahu. Ia kembali terkikik saat sadar aku malah salah fokus dengan seseorang.


“Lo natap dia kayak udah mau nelen orangnya aja. Biasa aja kali natapnya,” cibir Desy. Cepat-cepat aku mengubah ekspresi wajahku, lalu menatap Desy yang sedari tadi tak berhenti tersenyum.


“Udah, katanya mau gue temenin ke suami lo. Pergi, yuk.”

__ADS_1


Aku berjalan melewati Desy. Dengan kakiku yang panjang dan langkah yang lebar, Desy malah kesulitan mengimbangi. Kupelankan langkahku lalu melirik sekilas pada Desy. Wajahnya tampak berbinar-binar. Bibirnya tak berhenti tersenyum. Seperti itukah orang-orang jika akan bertemu dengan orang yang mereka sayang? Jawabannya tentu saja, iya. Aku tak bisa menahan senyum miris untuk diriku sendiri. Mungkin hanya aku yang berada pada zona aneh ini.


Mencintai paman sendiri? Orang-orang pasti akan menyebutku bodoh.


__ADS_2