Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]

Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]
Chapter 9


__ADS_3

"Hai,” sapa seseorang dari kegelapan. Suaranya tak asing, namun juga tak bisa kukenali.


Aku ingin sekali menjawab sapannya, namun mulutku tak mau terbuka. Walau sekuat apapun aku berusaha membuka mulut, tetap tak bisa. Seakan mulutku sudah diberi lem super yang merekatkan kedua bibirku.


“Lo nggak perlu tau lo ada di mana sekarang," ucapnya seakan tahu apa yang ingin aku tanyakan.


Mataku mencoba terus fokus ke bayangan hitam yang kontras itu.


“Lo bisa kembali sekarang.”


Bayangan itu berucap lalu semua yang ada di sana seakan bergerak bebas dan lepas dari pandanganku.


*****


Mataku terbuka tiba-tiba. Tak berselang lama mataku menyipit karena cahaya yang masuk terasa menusuk penglihatanku. Aku mengerjap berulang kali. Mencoba untuk memfokuskan pandanganku yang kabur.


Saat pandanganku mulai tak kabur lagi semuanya mulai jelas di mataku. Wajah-wajah tak asing menatapku serius.


“Gimana perasaan lo? Masih sakit?” tanya Desy khawatir. Tangannya yang menggenggam tanganku terasa dingin dan lembab.


Kuanggukan kepalaku pelan. Desy tersenyum lalu pandangannya beralih pada seseorang yang seharusnya sedang ada di acara nikahannya.


Uncle memandangku tak kalah serius dari Desy. “Udah baikan? Atau masih ada yang sakit lagi? Mau Uncle antar ke rumah sakit?” tanya Uncle bertubi-tubi. Tak tahu harus menjawab yang mana jadi aku diam saja.


“Rika baik-baik aja. Uhm, boleh kalian ninggalin kami berdua?”

__ADS_1


Aku menatap lekat Desy. Kuremas tangannya yang menggenggam tanganku. Menahannya agar tak pergi. Sisanya mereka pergi. Pandanganku terarah terus ke punggung Uncle sampai ia berbalik dan menatapku khawatir lalu menghilang di balik pintu yang tertutup.


Aku beralih ke Desy yang menatapku lekat. “Apa yang terjadi sama lo tadi?” tanyanya langsung pada inti masalah.


Kepalaku menggeleng pelan lalu berkata, “Gue juga nggak ngerti apa yang barusan terjadi. Tapi yang gue ingat kepala gue sakit banget tadi.”


"Barusan apanya. Lo udah pingsan selama dua jam.”


Aku melongo menatap Desy. “Masa, sih, selama itu. Gue rasa nggak terlalu lama kok,” ucapku yakin.


Desy mengangkat tangan kanannya dan menampar udara. “lo asik tidur makanya nggak sadar. Lah, gue sama paman dan bibi baru lo itu udah hampir lumutan nungguin lo bangun.”


“Dua jam nggak sampai bikin lumutan kali.” Aku mencibir, sedangkan Desy malah berdecak sebal.


"Gue nggak yakin lo sebaik itu. Tadi aja keadaan lo kayak orang yang sedang kena azab aja. Keliatan sakit banget wajah lo tadi,” ucap Desy serius.


Aku terdiam melihat keseriusan yang ada pada sorot matanya.


"Gue baik-baik aja, Des. Lo nggak usah khawatir,” ucapku berusaha meyakinkan dia.


"Uhm, Des. Boleh minta tolong ambilin gue air? Gue haus,” pintaku yang langsung disetujui Desy. Tanpa bertanya lagi Desy langsung berjalan keluar dari kamar. Setelah kurasakan Desy sudah pergi jauh, akhirnya aku bisa merilekaskan pikiranku sejenak.


Sedari tadi yang ada di pikiranku hanyalah pertanyaan-pertanyaan. Sepertinya ada yang hilang, sehingga sesuatu menjadi kurang pas. Seperti kepinggan puzzle yang tersusun pada tempat yang salah.


Apa, ya …?

__ADS_1


Keadaan ini tidak membuatku merasa senang sama sekali. Aku seakan melewatkan sesuatu yang penting, yang seharusnya tidak kulewatkan. Rasa tak nyaman karena ada yang hilang begitu menguasai diriku.


Inginnya aku mencak-mencak di sini karena tak tahu apa yang terlewatkan. Apa yang kulupakan? Itulah pertanyannya. Ada yang terlupakan, tapi aku beneran nggak tahu hal yang kulupakan. Seperti orang bingung yang baru terdampar ke dunia lain dan melupakan segalanya.


Aku jadi bingung sendiri dengan diriku.


Kepalaku sontak terangkat saat Desy masuk mendadak. Seakan baru saja ketahuan berbuat sesuatu yang aneh, Desy menatapku terheran-heran. Aku hanya nyengir lalu mengubah ekspresiku secepatnya.


"Ngambil air minum lama banget,” ucapku terdengar seperti orang yang tidak mau ditinggal lama-lama. Padahal dalam hati aku bersyukur jika Desy malah pergi lebih lama lagi. Setidaknya dia tak mencecarku dengan pertanyaan lagi.


"Perasaan gue cuma pergi beberapa menit, deh. Segitunya lo rindu sama gue, ya.”


Ekspresiku langsung berubah seperti orang yang mau muntah. “Pede banget.”


Desy tertawa sambil memberikan air yang ia bawa entah dari mana itu. Air itu tandas dalam sekali minum. Air dingin yang mengalir melewati tenggorokanku terasa sangat nikmat. Aku tersenyum lebar lalu memberikan gelas kosong pada Desy.


“Gue harus pulang sekarang. Lo yang baik-baik, ya, di sini. Kalo ada apa-apa, telpon gue jika Uncle lo itu nggak ngeladenin lo.”


Desy memang paham banget dengan keadaanku sekarang. Kuanggukan kepalaku semangat. “Sip. Lo nggak usah khawatir. Khawatirin aja keponakan gue di dalam sana. Lo nggak boleh stres. Santai aja, ya.”


Desy tersenyum lalu mengangguk sebelum ia pergi dan keluar dari kamar ini.


Aku pun kembali mengarungi jalan pikiranku untuk mencari hal yang hilang. Bayangkan saja, aku mencarinya ke sana kemari tapi tak ada yang terpikirkan sama sekali. Seakan otakku juga ikut berkomplot untuk menyembunyikan sesuatu.


Dan, sesuatu itu adalah hal yang tak bisa kuingat lagi. Entah ada di mana hal yang hilang itu.

__ADS_1


__ADS_2