![Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]](https://asset.asean.biz.id/oh--my-uncle---on-going-revisi-berjalan-.webp)
Langkah kaki yang lebar itu berjalan santai memasuki area kampus. Keramaian kampus langsung menyambutnya di sana. Dari jauh pandangan matanya jatuh pada seseorang yang sangat dia kenali.
Seseorang itu terlihat sedang bahagia.
Erika berhenti melangkah. Ia terdiam di tempatnya. Matanya terus menatap ke satu arah. Desy yang tertawa dengan riangnya membuat dia tak bisa berkutik. Lalu ia menggeleng dan kembali melangkah.
Erika tak sepantasnya berharap Desy bersamanya seperti dulu lagi. Bukannya Desy itu sudah tak mau lagi berteman dengannya? Pergi begitu saja saat itu, Desy pasti tak mau lagi berteman dengannya.
Gadis itu mengembuskan napas pelan dan berlalu cepat melewati fakultas Ekonomi. Tanpa dia sadari ada seseorang yang malah mendekatinya dari belakang.
“Hai, Kak Erika,” sapa Riko.
Erika spontan berpaling ke arah suara. Keningnya mengernyit tanda tak suka.
“Apa-apaan, sih!” serunya kesal. Gadis itu menatap tajam Riko yang malah tersenyum. Erika jadi teringat Rizky. Mereka seperti dua orang yang sama. Saat dibentak bukannya takut, tapi malah memasang wajah tak bersalah yang penuh dengan senyuman.
Erika mengeram pelan. Tangannya terkepal kuat. “Riko, kan? Anak DKV? Ada apa lo nyapa gue?” tanya Erika.
Riko melangkah mendahului Erika lalu berhenti dan dia kembali berbalik. “Mau liat wajah Kakak,” ucapnya sembari tersenyum lebar.
Jantung Erika berdetak kuat, tubuhnya pun bergeming di tempat. Tanpa disadari air matanya meluruh begitu saja dari mata kanannya. Dadanya seketika sesak tanpa alasan. Ia hanya menatap nanar Riko tanpa sadar.
“Kak …?”
Riko menelengkan kepalanya di depan wajah Erika. Ia menatap heran Erika yang menangis diam. Seakan tak sadar apa yang terjadi pada dirinya.
“Kak, Erika nggak pa-pa?”
Riko mendekat dan tangannya dengan sigap menghapus air mata Erika. Dan seakan baru tersadar dari apa yang
terjadi, mata Erika membulat kaget. Ia spontan menepis tangan Riko dari wajahnya.
“Apa yang lo lakuin, hah!! Brengk*k!!” bentak Erika. Tangannya dengan cepat membersihkan sisa air matanya. sebelum melangkah pergi, ia menatap lagi wajah Riko yang terheran-heran.
*****
“Tadi itu apa-apaan, sih .!”
Gadis itu mengacak rambutnya kasar. Tampang malu dan kesal senantiasa masih setia hinggap di wajahnya. Ia lalu mengusap wajahnya dengan kasar pula. Tanpa disadarinya, Danto melangkah pelan dengan perasaan heran menghampirinya dari belakang.
“Rik .?”
Tangan Danto menepuk pelan pundaknya. Erika sontak berbalik dan menatap Danto dengan wajah kagetnya. Gadis itu melengos lalu mencebikkan bibirnya kesal. Karena terlalu serius mendalami rasa malu sekaligus kesalnya itu, membuatnya menjadi tak sadar dengan situasi di sekitarnya.
“Lo ngapain berdiri di sini sambil remas rambut gitu? Udah mirip sama mahasiswa tahun terakhir aja lo.” Danto berujar heran. ia mengedarkan pandangannya lalu Erika pun melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Ah, semakin malu saja Erika. Dia tak tahu lagi harus berkata apa dan hanya bisa menunduk. Posisinya yang masih berdiri diam di anak tangga, pantas saja membuat Danto menatap heran dia. Apa yang dia lakukan ini, sih. Memalukan.
“Udah, ke kelas yuk.”
Erika berjalan duluan meninggalkan Danto yang masih terheran-heran. ia pun ikut menyusul Erika dari belakang. Danto tak bersuara lagi untuk mempertanyakan sikap Erika saat ini. ia hanya diam dan masuk ke kelas bersama Erika.
Selama pelajaran Erika hanya termenung memikirkan perasaan tak biasa tadi. Kenapa air matanya bisa jatuh?
Apa dia sedih tadi? Tapi tadi dia sedang kesal bukan? Lalu kenapa? Erika bertanya-tanya pada dirinya sendiri. tak mengerti lagi dengan dirinya.
Perasaan yang aneh, sampai tak bisa dia jabarkan dengan kata-kata. Ah, gadis itu bingung. Perasaan apa yang sedang dia rasakan tadi. Tadi itu kejadian tak terduga. Air mata yang jatuh tiba-tiba dan tubuh yang seakan membeku, juga otak yang seakan tak lagi bekerja, membuat dia seakan berada di dunia lain. Apa ini efek karena terlalu banyak merasa kesal?
Ah, tidak mungkin.
Erika menggelengkan kepalanya kuat.
“Kenapa menggeleng Erika? Apa penjelasan saya kurang jelas?”
Erika menatap spontan ke arah Pak Syamsul yang sedang menatapnya tajam. Tubuhnya membeku melihat betapa killer-nya tatapan sang dosen. Ia bahkan tak sanggup untuk berkata, sehingga hanya bisa diam dalam keterkejutannya.
“Kalo masih sibuk mikirin hubungan kamu dengan adik tingkat kamu itu, silakan keluar dari kelas saya. Saya tidak akan melarang jika itu yang kamu mau.” Perkataan Pak Syamsul membuat Erika tak berkutik. Dia yakin, semua orang yang ada di kelas sedang menatapnya kasihan.
Mereka tak bisa berbuat apa-apa pada Erika. Mau membantu tapi mereka sadar, bantuan mereka malah akan semakin memberatkan Erika. Jadi mereka hanya terdiam dan memperhatikan situasi.
“Maaf, saya salah, Pak.”
Erika tak mau mengulang matkul yang sama di semester depan. Setiap kali ada yang mengulang matkul yang sama pada semester mendatang, yakin dan percaya orang itu akan disiksa oleh para dosen. Memberatkan dengan segala tuntutan dan membuat orang yang mengulang itu harus punya mental baja. Dalam hidupnya, ia tak punya rencana menunda kelulusannya.
Malahan, dia ingin lulus tepat waktu atau lebih cepat jika bisa.
*****
“Riko ini siapa? Lo tau riwayat hidupnya nggak?”
Danto terkejut mendengar pertanyaan Erika yang tiba-tiba itu. Ia menyeruput minumannya dengan keras lalu menatap Erika yang santai sambil memainkan ponsel.
“Ngapain lo nanya riwayat hidup tuh anak? Lo mau stalk dia?”
Erika melirik sejenak Danto dengan datar lalu kembali menatap layar ponselnya.
“Lo pikir gue nggak sibuk apa sampai ngurusin hidup orang.” tukas Erika datar.
“Lah, kan lo sendiri yang nanya begituan. Kalo lo nanya riwayat hidup orang itu berarti lo lagi berencana mau stalk dia, atau lo mau jadi profiler. Atau mungkin ..….”
Seperti kebiasannya yang sudah melekat pada dirinya, Danto mulai menjeda lama kalimat yang mau diucapkannya.
__ADS_1
Embusan napas kasar terdengar dari Erika. Danto mengulum bibirnya pelan. Seharusnya dia tidak melakukan hal
itu. Erika paling benci jika dia menjeda ucapannya di bagian penting atau di intinya.
“Apa yang udah lo mulai, harusnya lo selesain dengan cepat. Atau, dari pada terus ditunda seperti ini, bagaimana jika gue aja yang nyumpal mulut lo dengan tisu? Biar sekalian nggak usah ngomong. Mau bicara aja lama banget.” Erika menggerutu dengan nada datar dan tanpa ekspresi. Kata-kata tanpa nada itu membuat Danto terdiam kaku.
“Rik, santai aja kali. Lo ngancem gue terus bakal lemah nih mental gue. Lo jangan kesal melulu, Rik. Gue kan cuma mau bikin suasana jadi hidup,” lirih Danto dengan tampang memelas.
Dengan mengorbankan segala ketampanannya dia memohon pada Erika untuk tak mengancamnya terus. Walau Danto adalah cowok, dan Erika adalah Cewek, perbandingan antara mereka itu seperti 2:1. Erika 2, dan Danto 1. Erika menguasai beberapa ilmu beladiri karena beberapa semester yang lalu mereka punya pelajaran tentang ilmu beladiri. Di antara mahasiswa yang ingin melanjutkan sesi latihan, Erika salah satunya. Tapi, Danto Tidak.
Itulah mengapa Danto tak berani mengusik Erika melebihi batas. Namun, sekarang ini mungkin sudah kelewatan.
“Menuda sesuatu yang penting itu nggak baik. Bikin orang penasaran itu ngeselin. Jangan pikir banyak orang suka sama gosip yang lo bawa itu karena lo bikin mereka penasaran. Sebenarnya di antara mereka ada yang kesal, kayak gue, tapi mereka nggak nunjukin hal itu ke lo. Lo tau kenapa?”
Danto menggeleng.
“Karena mereka nggak ingin nyakitin hati lo, atau karena mereka ingin lo tetap jadi seperti yang mereka mau—tukang gosip yang selalu update. Makanya itu, mereka menyembunyikan rasa kesal itu di balik senyum palsu mereka. Lo pikir tawa mereka itu asli? Nggak sama sekali. Lo pikir rasa memuja mereka ke lo itu nyata? Nggak, itu hanya ilusi semata. Lo cuma diperlakukan seperti itu karena lo berguna. Saat lo nggak berguna, maka lo akan dibuang. Semua yang terbuang adalah sampah.”
Danto tercengang mendengar penuturan Erika. Gadis yang ia kenal bertampang jutek dan selalu kesal, malah berkata seperti seorang yang ahli dalam kehidupan dan hubungan. Danto tak bisa berkata-kata lagi. Dia terdiam sambil matanya menatap bangga pada Erika. baru kali ini dia mendapat siraman kalbu dari Erika.
“Kalo sakit hati sama ucapan gue tadi, bilang aja terus terang. Gue nggak suka dibicarain di belakang soalnya,” ucap Erika santai.
Danto menggeleng. “Kata-kata lo keren banget. Lo kaya motivator tau!” ujar Danto berapi-api.
Erika menggaruk tenguknya yang tak gatal. Kikuk dengan pujian yang ia dengar.
“Gue nggak bermaksud ngasih lo motivasi, tapi gue bermaksud nyadarin lo tentang kesalahan yang lo buat itu. Kenapa bisa jadi motivasi, sih.”
Erika berdecak sebal. Namun Danto tersenyum melihat reaksi Erika yang tak mengakui kata-kata itu sebagai kata-kata motivasi.
“Lo mungkin suka sama Riko, ya?”
Erika membelalak kaget dengan pertanyaan Danto. Kesimpulan dari mana yang diambil Danto ini. Ini sungguh tidak benar.
“Atas dasar apa gue suka dia, brengs*k!” seru Erika.
“Untuk apa lo nanya riwayat hidup orang lain, yang baru lo kenal itu kalo bukan karena rasa tertarik yang sebenarnya mencakup rasa suka pada lawan jenis itu?”
Erika tak habis pikir dengan jalan pikiran Danto, yang menganggapnya menyukai Riko.
“Gue nggak suka dia. Gue cuma—“
“Cuma apa? cuma tertarik gitu?”
Gadis itu menggeram. Tangannya terkepal di atas meja. Erika berdiri kasar dari duduknya dan berjalan cepat menghampiri Danto. Gerakan cepat Erika bahkan membuat Danto tercengang kedua kalinya. Erika berdiri di belakangnya, tangannya memegang pundak Danto dan menekannya dengan kuat.
__ADS_1
“Gue tunggu sampai besok buat lo ngirim riwayat hidupnya ke gue. Gue tau lo sanggup dapat hal begituan dengan mudah. Jadi, gue tunggu. Oke, gue pergi sekarang.”
Danto speechless dan kini terdiam di tempatnya bahkan setelah Erika pergi dari posisinya. Erika memang pandai memahami situasi yang menguntungkan baginya. Apalagi dia juga tahu bagaimana luasnya koneksi Danto. Mencari riwayat hidup orang seperti Riko adalah hal yang mudah baginya.