![Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]](https://asset.asean.biz.id/oh--my-uncle---on-going-revisi-berjalan-.webp)
Tubuhku yang kelelahan terbaring kaku di atas ranjang. Mataku menatap langit-langit kamar tanpa minat. Pikiranku mulai berkelana ke kejadian tadi siang, di kantin fakultas.
*****
Kali ini Danto mulai menatap kami satu persatu dengan serius. Seakan sedang bersiap mengatakan hal menakutkan yang bisa membuat kami bermimpi buruk seumur hidup.
Aku geram dengan tingkahnya. Tanganku terkepal erat sambil kuangkat di depan wajahku.
“Lo mau cerita apaan, sih, lama banget. Lama-lama gue pengen nonjok lo, nih,” ujarku gusar.
Danto nyengir kuda dengan tampang tak berdosa lalu memperbaiki cara duduknya menjadi lebih formal. Dengan punggung tegak khas orang mau interview.
“Din, lo yang cerita atau gue yang cerita?” tanya Danto yang sekadar basa-basi nggak berguna.
“Dantooo! Cepetan cerita sebelum gue muak dan malah ngelempar gelas ke wajah lo,” ancamku dengan wajah penuh seringai menyeramkan. Danto menatap tanganku yang mengenggam erat gelas kosong dengan takut.
Danto, dia paling takut jika wajahnya lecet dikit aja. Itu adalah aset paling berharga katanya. Saat anak Teknik yang lain lebih memilih menjaga tangan mereka dan menjadikan tangan sebagai aset berharga, Danto adalah makhluk yang mematahkan asumsi semua orang. Tampang itu selalu nomor satu.
Dinto terkikik geli melihat tingkah Danto yang sedikit ketakutan.
“Jangan ketawa. Dasar adek setan,” ejek Danto dengan raut kesal. Ini lama-lama jadi gagal cerita pastinya.
“Oh, berarti lo kakak setan dong. Soalnya kan gue adek setan dan lo kakak gue.”
Skakmat. Danto nggak bisa bicara apa-apa lagi. Aku tertawa dalam hati melihat tingkah mereka berdua yang aneh bin ajaib itu.
“Udahlah, sekarang gue cerita, nih.”
Keseriusan langsung menerpa tempat kami mengobrol ini. Danto bercerita panjang lebar. Mengatakan beberapa spekulasi yang bisa memperkuat dugaan, lalu inti pembicarannya.
Dia lebih cocok jadi salles karena penyusunan katanya yang bagus. Dia juga bisa jadi tukang hasut. Pantas saja Rizky mau berteman dengannya, pasti anak polos itu sudah dihasut-hasut juga olehnya. Aku yakin sekali.
“Jadi intinya, Bu Alana hamil duluan sebelum nikah gitu?” tanyaku setelah Danto selesai bercerita. Sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, ia mengangguk bangga.
“Tapi itu hanya rumor, masih nggak ada buktinya. Buktinya kita bisa lihat nanti saat dia beneran lahiran lebih cepat atau nggak,” ujarnya sok tahu sambil mengedikan bahu acuh.
Sialan. Sudah buat aku penasaran dengan kebenaran ceritanya, dia malah mengatakan itu hanya rumor. Ya, memang rumor sih. Tapi dia itu kan, tukang gosip paling update situasi terkini dan kebenarannya pasti terjamin.
Tapi sekarang dia malah ragu sendiri dengan informasinya. Apa aku masih harus percaya?
“Itu aja pake cerita panjang lebar. Udah selesai, jadi gue pergi dulu.”
Lebih baik pergi aja. Menghindari tiga penganggu nggak tahu diri ini lebih baik.
__ADS_1
“Eh, mau ke mana?” tanya Danto. Dia pasti mau menahanku pergi.
“Ke mana aja yang penting nggak ada penganggu,” sindirku lalu pergi dari sana.
*****
Aku menutup mataku dengan rapat. Menikmati sensasi nyaman kasur yang beberapa hari ini tak bisa kunikmati sesuka hati. Semakin naik tingkatan semakin sulit pula tuntutan yang harus kuselesaikan.
“Gue harap bisa lulus tepat waktu,” gumamku.
“Biar gue bisa pergi dari sini.”
Aku mengangguk lalu mengubah posisi berbaringku menjadi miring. Aku meringkuk di keremangan kamar. Mataku menatap ke luar jendela kamar yang menyajikan langit tanpa bulan apalagi bintang. Hanya langit yang kelam dengan warna hitam yang pekat.
“Gue rindu masa-masa dulu. Tapi rasanya ada banyak hal yang terlewatkan.”
Aku mulai mengumam hal-hal tentang masa lalu. Sepertinya baru kusadari, semua yang terlintas di kepalaku tentang rasa masa lalu, seperti ada yang terlupakan. Ada potongan puzzle yang tidak pas dan salah tempat.
Apa aku yang terlalu banyak pikiran hingga merasa begitu?
Jika benar, berarti Danto yang harus kusalahkan. Dia yang membuatku menjadi kepikiran dengan Uncle dan Bu Alana. Sehingga aku jadi penasaran, dan malah tidak fokus jika memikirkan hal lain.
“Kayaknya gue lebih penasaran sama reaksi Danto. Gimana, ya, kalo dia tau gue keponakannya Pak Faris yang ‘ganteng’ itu?”
Aku terkikik geli memikirkan reaksi Danto. Bayangan wajahnya yang kaget setengah
Aku yakin seribu persen, dia akan marah-marah padaku karena tidak mengatakannya setelah dia mengejek habis-habisan Pak Faris itu.
Yah, biarlah ini jadi rahasia sekarang. Nanti juga dia bakal tahu.
*****
Kuembuskan napas lega saat tak melihat sosok si lintah darat di depan kelas yang akan kupakai. Rasanya damai sekali melihat tak ada pemandangan menganggu. Rasanya luar biasa bebas.
“Hai, Kak.”
Oke, aku tarik lagi kata-kataku yang mengatakan tempat ini terasa damai. Belum juga kurasakan damai yang lama, kedamaian itu malah hancur dalam hitungan detik saja.
Benar-benar mengesalkan.
Aku tak mengubrisnya sama sekali dan kembali melangkah.
“Erik, balas sapaan Rizky dikit, kek.”
__ADS_1
Langkahku terhenti seketika saat mendengar seruan Danto. Si setan satu. Aku berbalik. Dari depan pintu kelas aku menatap Rizky dengan pandangan tak suka.
“Ngapain nyapa gue? Memangnya kita kenal? Pergi sana,” usirku sarkas. Nggak ada baik-baiknya.
Ini bukan lagi penolakan secara halus. Tapi sudah tergolong kasar. Aku tak peduli. Hanya ini jalan satu-satunya membuat Rizky pergi dari hadapanku.
Maunya aku begitu. Tapi waktu dan situasi memang tak pernah dan tak akan pernah mau berpihak padaku. Aku malah berakhir dengan mereka bertiga, lagi-lagi di kantin fakultas. Sial.
Takdir, kenapa lo selalu begini pada gue. Apa ini yang namanya karma? Tapi karena apa. gue rasa hidup gue sial banget.
“Kayaknya kita ganggu, nih.” Danto berucap. Ucapannya itu malah membuatku kesal.
Aku beneran ingin pergi dari sini sekarang. Tapi, nggak jadi. Sayang kan, nasi goreng yang udah kupesan nggak jadi dimakan. Aku rugi dong.
“Makan aja dengan tenang. Mood gue sedang nggak baik, jadi diem aja sebelum mulut lo gue sumpal sama tisu,” ancamku yang ternyata berhasil juga.
Mereka terdiam dan tak lagi ada yang bersuara. Hanya dentingan alat makan yang terdengar dari kami berempat.
“Kak Erika jangan marah-marah. Nanti cantiknya malah nambah,” ucap Rizky tiba-tiba.
Buset, dah. Nih anak ngomong apaan, sih.
Cieee …!
Cieee …!
Sialan, dari tadi ternyata banyak orang yang curi dengar dengan pembicaraan kami. Rupanya aku masih jadi hot trending yang tak bisa dilupakan.
Nggak patut dibanggakan. Malah memalukan.
“Lo! Bisa diem, nggak?!”
Sendokku terangkat mengarah tepat ke wajahn Rizky. Tatapan kesal kulayangkan padanya. Tapi sialnya, sorot matanya yang tajam di wajahnya yang imut itu tidak bereaksi apa-apa.
“Sial, gue nggak suka banget diginiin. Gue mau memperjelas situasi. Jadi, lo ngapain nempelin gue terus?”
Mata kami bersitatap. Rizky tersenyum hingga menambah keimutannya dua kali lipat. Sialan, bisa-bisanya aku malah mengatakan hal itu. Tapi, itulah faktanya. Nggak bisa diabaikan kalo dia beneran tambah imut jika tersenyum.
Sadarlah Erika. Brengs*k satu ini nggak boleh sampai bikin lo terpana. Dia itu penganggu. SADARLAH!! Batinku berseru mengingatkan.
“Karena aku suka Kakak.”
Aku bengong, tak tahu lagi harus berkata apa.
__ADS_1
Perasaan apa ini?
Aku nggak merasakan hal aneh yang dinamakan berdebar-debar karena ada orang yang menyatakan suka. Tapi perasaanku lebih mengarah pada rasa tidak puas. Aku tidak puas sama sekali dengan ucapannya. Seperti ada yang kurang.