Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]

Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]
Chapter 23


__ADS_3

“Nggak perlu takut. Gue cuma ingatin lo doang, Ris. Mungkin lo udah lupa apa yang terjadi di masa lalu. Gue takut kejadian waktu itu bakal terulang lagi.” Sherly menarik napasnya pelan lalu merapikan anak rambutnya. Kemudian mereka terdiam. Tanpa suara dan semuanya tenggelam pada pikiran masing-masing.


Alana masih saja belum mengerti sama sekali. Sejak tadi, ia tak mengerti apa yang terjadi di sini. Melihat reaksi Faris yang ketakutan semakin menambah keheranan pada Alana.


“Kalian berdua lagi ngerjain aku, ya?” Pertanyaan yang dilontarkan Alana tiba-tiba itu memecah keheningan yang terjadi cukup lama di sekitar mereka. Sherly menatap Alana sebentar, lalu melirik Faris dengan pandangan mencibir sekaligus tersenyum meremehkan.


Sherly mendengkus kasar. “Enaknya gue apain, ya, orang yang suka nanya macam-macam kayak gini. Sumpah, Ris! Gue pengen sumpal mulut istri lo sekarang.”


Sherly menatap kesal Alana sambil berpangku kaki. Tatapannya mendelik tak suka dengan sikap Alana yang masih seperti orang kebingungan. Faris tahu itu bukan sekadar candaan belaka. Semua yang keluar dari mulut Sherly adalah kenyataan. Apapun yang wanita itu bilang akan ia lakukan. Seperti yang Sherly bilang, dia tak pernah ragu membunuh.


“Alana, diamlah,” bentak Faris kasar dan keras.


Alana mengatup bibirnya rapat. Ucapan Faris yang penuh tekanan itu terasa menusuknya. Apalagi yang ia dapatkan malah sebuah perintah. Apa dia salah mempertanyakan situasi aneh ini?


Sherly yang melihat sikap Alana berubah membuatnya tak lagi bisa menahan senyumnya.


“Eh, lo! Alana, atau siapalah itu. Lo mau tau siapa gue, nggak? Mumpung gue lagi baik hati, nih,” tawar Sherly santai. Tak ada keraguan sama sekali di ucapannya. Namun lain halnya dengan wajahnya. Sherly tersenyum miring. Jelas sekali dia menikmati ketakutan Alana dan Faris.


Menyenangkan juga melihat orang lain ketakutan. Dan ketakutan itu disebabkan oleh dirinya sendiri.


“Jawab dong! Jangan cuma diem aja kayak patung,” teriak Sherly. Dalam hati ia tertawa terbahak-bahak menikmati semua ekspresi ketakutan dari mereka.


Sherly berdehem lalu memperbaiki cara duduknya yang kurang nyaman tadi. Ia menelengkan kepalanya. Pandangan menyelidik terarah untuk Alana.


“Woi! Lo denger apa yang gue bilang nggak! Jawab brengs*k.”


Perkataan itu semakin membuat Faris ketakutan. Pandangannya meralih menatap Sherly. “Pembicaraan kita sampai di sini saja. Bukannya kamu punya tanggung jawab pada Erika yang menangis?” Wajah Faris berubah memohon. Tatapannya penuh harap mengarah pada Sherly. Ia hanya ingin pembicaraan gila ini cepat berakhir.


Namun, Sherly rupanya tidak ingin semua berakhir dengan mudah.

__ADS_1


Ia menyilangkan tangannya di depan dada. Dagunya terangkat dengan tinggi. “Gue? Punya tanggung jawab sama Erika yang sedang menangis di sana itu? Lo ngajak bercanda sama gue?” Ia berujar tak percaya pada Faris. Bibirnya berdecak pelan.


“Bukannya lo yang harus bertanggungjawab, kan. Lo yang nampar dia, lo juga yang nuduh dia, lo juga yang nggak mau percaya dia, lo juga yang .,” Sherly menatap Faris lama dan dalam, “ … bikin dia benci sama lo,” desisnya melanjutkan ucapannya yang terjeda sebentar tadi.


Napas Faris tercekat di tenggorokan. Mulutnya terbuka saking tak percaya. Perasaannya bercampur aduk, antara marah, kesal, dan takut. Semuanya bercampur aduk di dadanya.


Napasnya berembus berat. Kepalanya menggeleng pelan lalu gumaman entah apa terus terucap tak jelas dari mulutnya. “ … nggak mungkin .,” lirihnya tak percaya.


Sherly tak mengubrisi gumaman aneh dari Faris. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan mendekati Alana. Tangannya masih setia menyilang di depan dada.


“Suami lo itu tau banyak. Coba deh, lo nanya dia. Mungkin dia bisa jawab,” ucapnya pelan setelah itu kembali ke posisi semula. Tampang Alana yang tak percaya membuatnya ingin tertawa. Namun, Sherly tahan sekuat tenaga. Jangan sampai kewibawaannya hilang hanya karena ucapan yang nggak ada lucunya itu.


“Kamu ngomong apa, sih, Erika?” tanya Alana tak percaya. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah aneh Erika yang menyebut dirinya sebagai Sherly itu.


Sherly mengedikkan bahunya tak acuh, lalu berdiri dari duduknya dan menatap Faris yang masih bengong. “Faris. Daripada lo bengong nggak guna karena menyesal atau apalah itu, lebih baik lo ngurus istri lo ini. lama-lama gue muak banget liat muka dia yang kayak orang linglung itu.” Lalu melangkah pergi dari sana. Sebelum naik ke anak tangga pertama, ia kemudian berbalik.


Namun belum sampai di atas, ia berbalik lagi. “Oh iya, Alana. Salam kenal ya. Gue Kakaknya Faris.”


Dan benar-benar pergi dari sana. Meninggalkan rasa heran yang sangat besar pada Alana. Alana tak tahu harus bertanya pada siapa. Mau bertanya pada Faris, namun pria itu malah masih bengong dengan kepala tertunduk dalam. Alana hanya bisa menelan dalam-dalam rasa penasarannya ini.


Apa artinya ini? dia tidak bisa memahami situasi yang terjadi sekarang.


*****


Di dunia ini segalanya tak akan abadi. Namun untukku, selama Erika ada aku akan tetap ada. Sebagian orang menganggap aku tak nyata. Kemunculanku memang begitu tiba-tiba. Sebenarnya aku juga tidak sadar bahwa yang terduduk di lantai yang dingin adalah aku. Dan saat aku berdiri, hatiku rasanya tersayat-sayat. Walau aku cukup senang bisa muncul di saat mereka sedang marah-marah—awalnya aku hanya mau menyimak hal ini, namun sesuatu menarikku keluar. Ah, aku tak jadi menikmati pemandangan seru ini secara tenang.


Hatiku mencelos sakit. Untuk ukuran Erika, kebencian yang begitu besar bisa membawanya pada stres berat, terutama jika rasa benci itu juga ikut bersanding bersama kemarahan. Di waktu sekarang ini, dia terlihat berbeda seperti dulu. Hatiku semakin sakit saja melihatnya yang terpuruk dengan situasinya sendiri.


“Erika kecil kenapa bisa jadi begini …?”

__ADS_1


Aku mengusap pucuk kepalanya dengan sayang. Ia tidur dengan pulas di tempat tidurnya. Matanya bengkak karena menangis semalaman. Ya, kini sudah malam. Dia melewatkan kuliah paginya karena terlalu emosi. Lalu saat aku membawanya ke kamar, dia langsung menangis tersedu-sedu. Berbeda sekali saat dia menangis di dapur. Yang kulihat hanya tangis dalam diam.


Namun, saat aku melihatnya menangis tadi aku bisa merasakan betapa kecewanya dia pada pamannya sendiri.


Semakin aku melihatnya, semakin aku merasa Erika tak perlu tahu segalanya lebih dari kenangan bahagia dan beberapa kenangan yang wajar untuk ia ingat saja.


Cukup aku saja yang menjaga kenangan buruknya agar tetap ada. Cukup aku saja yang menampung sedih dan dukanya.


Cukup aku saja yang tahu . betapa kejamnya masa lalu.


*****


“Mas, apa-apaan kejadian tadi pagi? Erika kenapa?”


Alana memberanikan diri mengajukan pertanyaan saat mereka mau bersiap untuk tidur. Ragu-ragu ia menatap Faris yang berdiri terdiam di tepi ranjang. Napas berat berembus dari mulut pria itu. Alana merasa sudah salah menanyakan perihal itu saat ini. Tapi ia harus tahu apa yang terjadi. Sejak tadi pagi ia tak bisa memahami situasi. Erika dan Sherly, bukankah mereka orang yang sama?


Faris mendudukan tubuhnya pelan di tepi ranjang, membelakangi Alana. Punggungnya tak setegap dulu. Kini punggung itu tampak lesu tak bertenaga.


“Sherly Asteria, kakak angkatku ….” Faris mengembuskan napas kasar. Ia mengusap wajahnya kasar lalu berbalik dan menatap Alana. “Dia dibunuh di depan mataku.”


Alana menutup mulutnya tak percaya. Pandangannya hanya terarah pada mata Faris yang bergetar. Air matanya luruh membasahi wajahnya yang masih kaget. Langkahnya pelan mendekati Faris. Di rengkuhnya tubuh Faris dengan tangan gemetar.


Kenapa juga Alana baru tahu perihal ini. Tak bisa Alana bayangkan bagaimana beratnya beban batin yang ditanggung Faris.


“Erika juga ada di sana . bersamaku ... berdua, menyaksikan Sherly dibunuh.”


Alana tak lagi bisa berkata-kata. Ucapan Faris yang lirih tersirat rasa menyesal yang bisa Alana rasakan. Tapi, yang menjadi pertanyaan di sini adalah, kenapa Faris merasa ketakutan saat berhadapan dengan Sherly—yang adalah Erika itu? Hal itu, mungkin belum bisa Alana dengar jawabannya saat ini.


Mungkin lain kali. Saat Faris sudah mau terbuka akan masa lalunya secara gamblang pada dia. Alana hanya bisa menunggu. Entah kapan, hanya waktu yang tahu.

__ADS_1


__ADS_2