Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]

Oh, My Uncle! [On Going—Revisi Berjalan]
Chapter 20


__ADS_3

“Lo punya kepribadian ganda. Dan gue yakin itu.”


Aku hanya bisa memalingkan wajahku. Rasanya ingin pergi dari hadapan Desy sekarang. Aku benar-benar tak ingin mendengar apa yang ia ucapkan itu. Walau dia adalah sahabatku—dan aku sadar itu—tapi, dia tak berhak menuduhku untuk sesuatu hal yang tak jelas seperti ini.


Aku sadar, perubahan emosi yang terjadi padaku memang sungguh aneh bagi sebagian orang. Tapi menurutku ini hal yang biasa terjadi, jika aku mengalami stres berlebih. Saat ini mungkin lebih baik. Seingatku, keadaanku dulu lebih tak terkendali dari pada sekarang. Tapi aku tak pernah ingat, seberapa sadis diriku dulu. Ibu hanya pernah bilang—saat dia masih bersama denganku—aku yang dulu dan sekarang adalah dua orang yang bebeda. Dan aku percaya itu.


Tapi yang sekarang ini berbeda dengan ‘sekarang’ yang ibu maksud. Aku kembali menjadi tidak terkendali. Merasakan perasaan bercampur aduk dan membuatku merasa seperti orang lain setiap saat. Perubahan suasana hati yang sering kali terjadi, mungkin orang-orang akan menggolongkanku pada penyakit mental seperti Bipolar—aku sudah mencarinya di internet, dan inilah hasil yang kudapatkan tentang masalahku ini. Aku nggak tahu pasti apakah itu benar atau tidak. Atau mungkin, itulah yang sedang aku alami sekarang.


Atau tidak.


Ah, perubahan emosi yang cepat membuatku tak bisa merasakan satu emosi dengan baik. Masalahnya bukan di situ saja, aku kadang tidak sadar diri dengan yang terjadi pada diriku sendiri. Hanya kata maaf yang terucap saat aku tersadar dan melihat ekspresi siapa saja yang mungkin terkejut ataupun … takut. Seperti Desy.


Untukku, ini pertama kalinya seseorang bicara terang-terangan mengenai masalah pribadi yang aku juga tak mengerti ini. Dan kini, Desy menyimpulkannya dengan sangat yakin. Seperti sedang mengatakan bahkan aku adalah apa yang ia katakan itu.


“Lo nggak tau apa-apa. lo diam aja.”


Desy menghela napasnya pelan. Kemungkinan besar dia jengah dengan sikap kasarku. Bagiku, orang yang tidak tahu sesuatu secara pasti lebih baik diam saja. Untuk apa berasumsi yang aneh-aneh tanpa bukti yang jelas. Itu tidak berguna sama sekali.


“Gue emang nggak tau apa-apa. makanya itu gue mau lo ke psikolog. Biar kita tau masalah lo itu apa. bukan malah mengada-ngada kayak gini.” Hampir saja Desy membentakku, namun bentakan itu malah tertahan dan hanya ucapan dengan nada kesal yang keluar. Dia masih sadar diri karena sedang hamil. Apalagi sebentar lagi dia akan melahirkan.


“Gue udah pernah ke psikolog,” ujarku enggan. Malas banget jika harus berbicara masalah pribadi pada orang lain. Walau orang lain itu adalah sahabatku sendiri, Desy tak pernah punya hak untuk tahu aku lebih dalam lagi. Hanya sebatasnya saja kami saling tahu satu sama lain.


“Lo kalo ada masalah, lo boleh ceritain ke gue. Gue ini sahabat lo. Orang yang paling dekat dengan lo. Apa persahabatan kita nggak ada artinya?” Desy menuntutku akan hal yang tak pernah dan tak akan pernah kulakukan. Sama halnya dengan Uncle, dia juga menuntutku hal yang sama. Menuntut agar aku mau menganggap hubungan ini lebih dari sekadar hubungan timbal-balik antar manusia. Tapi aku tak bisa, mereka tetaplah orang lain.


Mereka bukanlah siapa-siapa untukku. Mereka tak perlu tahu lebih dari takaran yang sewajarnya.


Kupalingkan wajahku ke arah lain. Tak mau menatap Desy. Aku hanya ingin pergi dari sini. Mendengarnya mencerocos tiada henti tentangku, membuatku muak dengan sikapnya itu. Apa pentingnya arti sahabat sih, bukannya sahabat itu hanya saling memahami tanpa perlu mengusik urusan pribadi. Lalu Desy, sepaham apapun dia tentangku, dia bukanlah orang yang berhak menggali lebih dalam tentang diriku.


 “Udahlah, terserah lo aja maunya gimana.”


Aku hanya menatap dalam diam kepergian Desy yang bahkan tak menoleh ke belakang sama sekali. Apa sih, yang aku harapkan dari orang yang ‘hanya’ sekadar sahabat itu. Kali ini Desy tak memahamiku, ya seharusnya dia tak perlu memahamiku. Aku saja tidak bisa memahami diriku sendiri.


Akupun memilih pergi dari kantin. Bukan menyusul Desy, tapi aku hanya ingin pergi saja. Mungkin, aku bisa mengusir perasaan membuncahku yang datang tiba-tiba ini. dan, mengalirkan rasa senang entah untuk apa.


Saat keluar dari kantin, pandanganku jatuh pada sosok Danto yang berlari ke arahku sambil melambaikan tangan sok akrab. Saat ia sampai di depanku, aku hanya melewatinya tanpa minat sama sekali.


“Idih, main lewat gitu aja. Gue bawa berita menarik, nih,” ucapnya yang sudah berada di sampingku. Dasar makhluk nggak tahu diri. Diabaikan malah makin mendekat aja. Penganggu memang sama saja jenisnya. Tetap aja menganggu.


“Oh,” ucapku tak acuh.


“Iyah. Eh, lo tau kalo si Ema udah mulai kuliah lagi? Dia udah mulai masuk hari ini. Dan lo tau, gimana keadaannya? Dia kelihatan kurus banget.” Danto berucap semangat. Dia yang bertanya, dia sendiri yang menjawabnya. Dasar aneh.


“Lo mau liat fotonya, nggak? Tadi gue sempat foto dia sebelum kemari.” Danto merogoh saku celananya dengan semangat. Tanganku refleks bergerak menghentikan tangan Danto yang mau mengambil ponselnya itu.

__ADS_1


“Nggak usah, gue nggak tertarik,” tolakku dengan nada tak peduli sama sekali.


Kupercepat langkahku menjauh dari Danto. Untuk apa melihat fotonya. Di rumah juga bakal kulihat. Jika kami bertemu.


Akhir-akhir ini walau aku tahu dia ada di rumah, kami tetap jarang bertemu. Bahkan saat makan pun Bu Alana hanya mengantar makanannya ke kamar. Seperti sedang mengurung diri. Namun, kini dia sudah kembali kuliah. Si otak yang mengatakan aku merebut ‘pacarnya’ itu. Dialah inti masalahku.


*****


Sejauh apapun aku ingin pergi, tempat terakhir yang aku datangi hanyalah kamarku. Kamar yang kemarin tersimpan bangkai tak berbentuk itu.


Aku meletakan tasku lalu mengeluarkan ponsel dari dalam dan mematikannya.


Kubaringkan tubuhku di ranjang. Seakan sebuah kebiasaan, aku selalu memandang langit-langit kamarku jika sedang memikirkan sesuatu.


Aku teringat ucapan Desy waktu di kantin tadi. Memang tak sepantasnya aku bersikap seperti itu padanya. Tapi Desy juga tak sepantasnya begitu padaku. Bagaimana mungkin ia mengatakan hal sensitif seperti itu padaku. Jujur saja, aku tidak menyukai sikap terang-terangannya tadi.


Bagiku, permasalahan yang ada padaku cukup aku saja yang tahu. Orang lain yang tak tahu apa-apa, itu sangat tidak  perlu untuk tahu apalagi ikut campur.


Aku mengusap wajahku kasar. “Kenapa malah jadi begini, sih. Nggak ada yang beres sama sekali,” ujarku sendu. Wajahku yang tertutup oleh telapak tangan, membuatku hanya mengintip dari sela-sela jari yang sengaja kubuka.


“Gue yakin. Dia, ah tidak! Orang itu pasti yang melakukan semua ini. Gimana ya caranya bicara sama dia? Aarrghhh, gue harus gimana?”


Aku mulai mempertanyakan segalanya. Semuanya tentangku, tentang yang terjadi padaku, terutama masa laluku. Aku yakin, hal ini ada kaitannya dengan masa laluku. Dan semua masalah ini membuatku yakin bahwa masalahnya ada pada diriku sendiri.


Hah, dari awal yang bermasalah di sini hanyalah aku. Sebagian besar masalah terjadi karena diriku. Dan semua itu karena rasa benciku terhadap apapun yang sangat besar. Terutama kebencianku pada diriku sendiri.


Hal yang paling ingin kubunuh hanyalah diriku sendiri. Namun setiap kali keinginan mati mulai terbesit di kepala, ucapan ibu saat aku terpuruk pun akan menutupi keinginanku itu. Dia pernah bilang seperti ini padaku.


“Jika kamu sayang sama orang-orang di sekitar kamu. Maka berubahlah. Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Ibu ada di sini. Bersamamu.”


Kata-kata yang menurutku klise dan sedikit tidak bermutu, namun malah selalu bisa membuatku kembali mengingat betapa berharganya hidupku sendiri.


“Ah, kata-katanya nggak bermutu, pake diingat segala lagi,” cibirku pada diriku sendiri yang malah tetap mengingatnya. Walau tahu kata-kata itu tak pernah kuanggap bermutu.


Kututup mataku dengan erat, hingga yang terlihat hanyalah kegelapan. Aku berusaha mengusir  pikiran tentang ibu, dan beralih memikirkan hal lain yang menyenangkan. Seperti … Rizky … Rizky?!


“Hah! Gue mikir apa sih. Malah wajah si penganggu yang muncul lagi. Aish!” Kugelengkan kepalaku kuat untuk melepaskan wajah Rizky yang masih setia bertengger di pikiranku.


Aku mulai merasakan keinginan untuk marah-marah yang sangat kuat. Mengingatnya saja sudah bikin hatiku menghangat. Eh, bukan! Kepalaku terasa panas maksudnya.


Sepertinya ada yang salah dengan otakku.


Sekian lama waktuku berlalu, pernah terlintas di pikiranku sebuah pertanyaan seperti ini, “Apa alasan Rizky dekati gue?” Namun tak ada satupun jawaban yang pernah kupikirkan bisa menjawab pertanyaan ini dan membuatku puas.

__ADS_1


Apa dia menyukaiku karena aku cantik? Aku ini cewek pas-pasan—muka pas-pasan, tinggi pas-pasan, otak pas-pasan, semuanya serba pas-pasan. Ini bukanlah jawaban yang tepat, karena di luar sana ada banyak cewek yang ‘lebih’ dariku. Aku juga bukan cewek baik-baik, jadi pasti bukan itu jawabannya.


Lalu apa?


Apa aku harus menanyakan hal ini padanya?


Oh, tidak akan! Memangnya aku sudah gila ke sana menanyakan hal ini pada dia! bisa-bisa orang mengira aku menyukainya. Bisa ge-er si Rizky.


Bodo amatlah dengan alasannya. Dipikirin sebanyak apapun juga nggak bakal nemu jawabannya. Yang tahu jawabannya cuma Rizky, dan Tuhan.


*****


Percaya atau tidak. Sosok itu selalu ada di setiap tidurku. Setiap bangun aku akan merasakan ada hal yang terlupakan, dan tersembuyi di suatu tempat entah di mana dan tak bisa kuingat. Yang kuingat sebelum bangun hanyalah bayangan. Bayangan yang jika kudekati, dia malah menjauh. Aneh.


Sudahlah, memikirkan hal tak nyata itu hanya membuang-buang waktuku. Masalahku sudah banyak, ditambah memikirkan hal yang lebih mirip ilusi semu itu, tak akan berguna sama sekali untukku.


Kini waktu menunjukan sudah hampir pukul 9 malam saat aku melangkah turun dari kamar. Malam ini setenang malam-malam sebelumnya. Namun Uncle bilang setiap lewat tengah malam—dini hari gitu—Ema malah sering berteriak entah karena apa. Syukurnya, saat ia berulah aku malah tidur dengan nyenyak tanpa terganggu sama sekali. Dan saat pagi tiba—saat aku sudah bangun—Uncle akan menyuruhku duduk di ruang tamu bersamanya dan membicarakan perihal masalah yang  terjadi.


Aku tak mengerti kenapa dia menceritakannya padaku. Namun, yang aku pikirkan adalah, dia ingin aku tahu apa yang sedang terjadi.


Atau mungkin, mereka ingin menuduhku lagi.


“Erika.” Terdengar suara Uncle menyapaku saat tak sengaja bertemu ketika ia baru saja keluar dari kamar. Atau karena suara langkah kakiku yang terdengar nyaring ini yang membuatnya keluar.


Aku hanya mengangguk tanpa menjawab. Dia pun mengikutiku dari belakang. Bahkan saat aku sedang memanaskan makanan sisa, dia tetap duduk diam tanpa suara di kursi meja makan.


Kami saling mendiamkan, hingga aku selesai memanaskan makan malam. Seperti kataku waktu itu, tak akan ada lagi pembicaraan kedua.


“Akhirnya kamu keluar kamar juga.” Terlihat dari pandanganku Uncle bernapas lega. Sejujurnya aku juga tidak mau keluar, tapi perutku yang keroncongan ini minta diisi.


Aku hanya diam, tak ada niatan sama sekali mau membalas ucapannya. Dan malah makan dalam diam.


“Uncle tau kamu nggak mau bicara lagi sama Uncle.”


Tau tapi pura-pura nggak tau, cibirku dalam hati.


“Kali ini Uncle mau bicara serius sama kamu.” Dia menatapku serius. “Kamu tau siapa yang melakukan semua ini?”


Keningku berkerut. Apa-apaan pertanyaan itu. Mereka saja tak tahu siapa yang melakukan ini, apalagi aku. Memangnya aku tahu apa. Masalahku saja belum ada yang beres. Kenapa juga aku harus memikirkan masalah orang lain.


Aku menggeleng cepat dan tegas menjawab pertanyaan anehnya, lalu kembali melanjutkan makanku yang terhenti sejenak tadi.


“Menurut kamu, siapa yang melakukan hal ini?”

__ADS_1


Entah hanya perasaanku saja, aku pikir pertanyaan ini mengarah padaku. Cara Uncle bertanya seperti seorang polisi yang mengiterogasi tersangkanya—yang ketahuan datang ke TKP untuk menghilangkan jejak bukti—benar-benar mengangguku. Seakan-akan akulah tersangka yang datang ke TKP itu sendiri.


Uncle menuduhku. Aku yakin itu.


__ADS_2