
Deg...Deg...Deg...!
'Hamil? Hah.'
Khanza menutup wajah dengan sebelah tangannya, apa? Apa yang harus dia lakukan sekarang?
"Nona, kau baik-baik saja?" Teguran sang Dokter membuat Khanza seketika kembali sadar dari lamunannya.
"A-aku baik Dok, tapi Aku harap Dokter merahasiakan tentang kehamilan saya. Do-dokter pasti mengerti kan." Dokter itu mengangguk.
"Terima kasih Dokter." Dokter itu pun pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Gugurkan atau biarkan? Gugurkan atau biarkan? Kini pertanyaan itu berputar dalam kepala Khanza. Anak, dia bahkan tidak pernah memikirkan untuk memilikinya, apa lagi anak dari Nic, yang jelas-jelas telah memiliki kekasih saat ini.
"Khanza!" Panggilan itu membuat Khanza seketika mendongak. Dia tak menyadari kapan Nic kembali.
"Hem?" Khanza menatap dengan pandangan kosong.
"Kenapa kamu melamun?" Nic meletakan kantong plastik yang dibawanya di atas nakas.
"Hem?" Otak Khanza masih belum sinkron hingga dia telat menjawab pertanyaan Nic, "ehem, tidak ada apa-apa hanya memikirkan pekerjaan saja."
"Apa? Kamu masih sempat-sempatnya mikirin kerjaan, padahal kamu terbaring di ranjang rumah sakit," ucap Nic kesal, "Khanza, apa kau pikir aku senang kamu kerja sekeras ini. Jika Mami tahu kalau kamu jatuh sakit karena aku, aku akan dimarahi habis-habisan." Gerutu Nic terus menerus. Membuat Khanza mengulum senyum, senang rasanya di perhatikan. Entah kapan terakhir kalinya ada orang yang peduli akan dirinya.
Sedari kecil, Khanza terbiasa memendam lukanya sendiri. Saat dia terjatuh dan lututnya berdarah pun dia diam. Saat dia demam tinggi sama sekali tak ada yang peduli, dia mengompres dirinya sendiri dengan air dingin di malam hari. Tapi sekarang ada Nic bersamanya, dia sungguh tak rela jika harus kehilangan Nic.
'Apa aku katakan saja pada Nic kalau aku hamil anaknya.' Khanza berpikir sembari menatap Nic yang tengah mengatakan petuah-petuahnya, namun tak satu pun mampu masuk ke telinga Khanza.
'Maukah dia menerimanya?' Khanza menyentuh lembut perut ratanya.
'Akankah Nic menerima aku juga? Atau sebaliknya?' pikiran-pikiran tersebut berputar dalam kepala Khanza.
"Khanza!" Tegur Nic, yang membuat Khanza terlonjak saking kagetnya.
__ADS_1
"Ya!" Khanza melebarkan matanya.
"Kamu denger aku ngomong gak?! Dari tadi kamu ngelamun terus!"
"Aku denger ko, kamu gak usah bentak-bentak gitu lah," keluh Khanza.
"Sepertinya kamu memang butuh istirahat. Dari mulai besok hingga satu Minggu kedepan kamu dilarang datang ke kantor. Istirahat di rumah dan pulihkan diri dulu."
"Lalu siapa yang mengatur jadwal kamu Nic?"
"Tenang saja, karyawan ku bukan cuma kamu aja." Tegasnya.
Entah kenapa saat kata-kata itu keluar dari mulut Nic membuat Khanza tak senang, padahal dia sendiri pernah mengatakan itu sebelumnya.
"Baiklah." Ujar Khanza.
Nic menyiapkan makanan yang Ia beli di atas meja kecil dan menaruhnya di hadapan Khanza, "makanlah, kau bilang ingin makan ini."
Khanza menyendok makanan tersebut dengan perasaan takut, perutnya lapar tapi juga tak bisa di isi. Semua makanan yang sebelumnya Ia makan pun selalu Ia muntah kan kembali, seolah anak dalam perutnya tak ingin makan apa pun.
"Nic." Ucap Khanza ragu.
"Apa? Jangan banyak bicara, habiskan makananmu, jangan bersikap manja." Ujar Nic, membuat Khanza seketika kembali terdiam, dia kembali menelan kata-kata yang hendak dia lontarkan. Keberanian yang semula Ia kumpulkan kini menyurut lagi.
'Mungkin ini bukan saatnya.'
Beberapa hari kemudian, Khanza telah pulang kerumahnya, berada di rumah sakit selama beberapa hari terasa pengap, bau obat-obatan yang menusuk membuat Khanza tak betah dan ingin cepat pulang. Dia merindukan ranjang besar dan kasur empuknya, dia juga merindukan bantal guling yang selalu menemaninya dimalam hari.
"Za, kenapa kita gak pulang ke rumah aku aja," usul Nic, "kamu sedang sakit, tinggal sendirian di apartemen bagaimana kau akan mengurus dirimu."
"Gak usah Nic, aku bisa mengurus diriku sendiri." Jawab Khanza dia tak ingin merepotkan siapa pun.
"Dasar keras kepala." Geram Nic kesal. Khanza hanya diam tak ingin menjawab atau pun membantah kata-kata Nic.
__ADS_1
Khanza masuk kedalam kamarnya dan membaringkan diri, tanpa terasa dia pun terlelap.
Aroma masakan menguar di Indra penciuman Khanza, membuat Ia terbangun dari lelapnya. Aroma itu membuat perutnya terasa lapar, "siapa yang memasak?" Gumam Khanza, mungkin pelayan yang di kirim Nic, pikir Khanza.
Khanza pun turun dari ranjang dan berjalan keluar, "Nic kamu belum pulang?" Diluar dugaan ternyata yang memasak adalah Nic sendiri.
"Kamu masak?" Khanza menatap dengan heran, dia bahkan tidak tahu jika Nic bisa masak.
Hem, jawab Nic masih tetap fokus menyelesaikan masakannya yang masih dalam wajan. Khanza duduk di meja makan dan membiarkan Nic bertempur dengan alat dapur miliknya.
Setelah makanan matang Nic pun menyajikannya di atas meja, dia pun melepaskan celemek yang Ia kenakan dan melemparnya ke sembarang arah.
"Makanlah," ujarnya seraya duduk.
"Apa ini bisa dimakan?" Tanya Khanza ragu.
"Kamu meremehkan aku?" Nic menarik makanan ke hadapannya dengan pandangan kesal.
"Eh bukan begitu, hanya saja aku tidak tahu kalau kau bisa masak." Khanza meraih piring yang Nic tarik tadi, dan mencicipinya.
Wow... Diluar dugaan makanan yang Nic buat ternyata sangat lezat, makanan itu seolah meledak di lidah Khanza, membuat mata wanita itu berbinar saking senangnya. Khanza melahap makanan itu layaknya orang kelaparan.
"Hey, pelan-pelan," tegur Nic ketika melihat Khanza makan seperti orang yang habis puasa, "apa makanannya seenak itu?" Tanya Nic penasaran.
"Sawangat enyak." Ujar Khanza tak jelas karena mulutnya penuh dengan makanan. Nic menilik dengan tatapan heran, namun dia sangat senang karena Khanza menyukai masakannya, Khanza adalah orang kedua setelah Shelia yang pernah makan masakan Nic.
"Nic, kapan kamu belajar masak?" Tanya Khanza antusias.
"Aku tumbuh tanpa sosok Ayah kau pasti tahu itu kan. Aku terbiasa hidup mandiri karena Ibuku sibuk bekerja, untuk meringankan beban pekerjaannya aku sering melakukan pekerjaan rumah untuk membantunya."
"Hem, masalalu membuat kita belajar lebih dewasa, benar kan Nic? Kita bahkan tumbuh dewasa sebelum waktunya," Khanza tersenyum samar.
Tak...! Nic menyentil dahi Khanza, "jangan selalu berpikir macam-macam, apa yang sudah terjadi memang harus terjadi, lupakan segalanya. Dan cepat habiskan makananmu."
__ADS_1
Nic yang paham betul seperti apa masa lalu Khanza secepat mungkin mengalihkan perbincangan mereka.
Dering telpon mengalihkan atensi Nic. Dia tersenyum menatap nomor yang tertera disana, sudah bisa di tebak siapa yang menelpon.