Oh My Savior

Oh My Savior
Bab 55 : Masih belum sadarkan diri


__ADS_3

Suara sirine ambulance memecah jalanan kota kecil tersebut, jarak tempuh menuju rumah sakit besar di pusat kota memakan waktu sekitar lima belas menit. Namun dalam waktu lima belas menit itu terasa begitu lama bagi Khanza, dimana dia harus berjuang menahan rasa sakit dan harus tetap tersadar, darah yang keluar entah sudah berapa banyak, Khanza hanya bisa berdoa dalam hati berharap Tuhan masih memiliki belas kasih untuk dirinya dan putranya.


Di tubuh Khanza sudah di pasang alat bantu pernapasan dan juga infus, tak lama kemudian ambulance pun sampai di depan rumah sakit, Khanza langsung di bawa ke ruangan unit gawat darurat terlebih dulu untuk mendapat penanganan yang lebih tepat.


"Tuan, bisa tolong bantu aku menghubungi keluargaku?!" Khanza berucap sedikit tak jelas, hingga perawat pria itu harus mendekatkan telinganya pada Khanza.


"Baiklah Nyonya, apa kau ingat nomor telponnya?"


"Tidak, ponselku juga tertinggal di rumah. Tapi dia seorang dokter di kota xxxx namanya Clarisa Carson." Ujar Khanza.


"Baiklah, kami akan berusaha menghubunginya."


"Terima kasih." Khanza pun di bawa masuk ke dalam.


Di luar, dua orang tadi nampak duduk di atas kursi besi ruang tunggu, wajah mereka nampak pucat pasi. Dia tidak menyangka kejadiannya akan begini, mereka berdua hanya di perintahkan membawa wanita bernama Khanza ke kota XXX atas perintah bos mereka, tapi Bos-nya tidak bilang kalau wanita itu sedang hamil.


"Bagaimana ini? Apa bos akan menyalahkan kita?"


"Aku juga tidak tahu, tapi bos juga tidak bilang kalau wanita ini sedang hamil. Kalau dia bilang pasti kita akan mencoba membujuknya alih-alih memaksanya." Ucap pria itu menyesali perbuatannya.


"Kau benar, sekarang semua ini sudah terlanjur terjadi." Dia menghela napas berat.


Dering ponsel salah satu di antara mereka, mengalihkan atensi keduanya, wajah mereka semakin memucat kala melihat nama yang tertera di layar itu siapa, dia mengangkat handphone nya walau dengan perasaan takut dan tenggorokan seolah tercekat.


"Ha-halo Bos."


[Bagaimana apa kalian berhasil menemukannya?] orang yang mereka panggil Bos itu pun bertanya.


"Be-berhasil B-bos, ta-tapi--," ucapnya gugup, dia memandang temannya minta pendapat, tapi temannya sama halnya dengan dirinya dia tak punya solusi apa pun selain berkata jujur.


[Tapi apa?] desak si penelpon dari sebrang sana.


"Wanita itu hamil bos, dan kini dia berada di rumah sakit karena mengalami pendarahan." Jelasnya.


[Hah, hamil? Apa kalian tidak salah orang? Oh God.] Suara dari sebrang telpon terdengar memekik.

__ADS_1


"Kami yakin kami tidak salah orang Bos, bahkan wajahnya sama persis dengan di foto yang anda berikan." Ucapnya penuh keyakinan.


Untuk beberapa saat dia terdiam, [Baiklah rumah sakit mana, aku akan melihatnya sendiri itu benar Khanza atau bukan.]


Bos mereka pun mengakhiri panggilannya, "apa kata bos?"


"Dia bilang dia akan datang kemari."


Malam menjelang, Khanza masih dalam penanganan, kini dia masuk ke-ruangan operasi, namun mereka butuh tanda tangan keluarganya untuk melakukan prosedur ini, "apa ada di antara kalian yang suami pasien?" tanya perawat pada dia pria tadi.


"Bu-bukan, kami bukan suaminya. Kami hanya kebetulan lewat di sana." Ucapnya berbohong.


"Lalu apa ada yang tahu dimana keluarga pasien berada?"


"Aku disini, aku Kakak pasien." Seorang wanita cantik yang berseragam putih hadir di tempat itu, dia adalah Clarisa.


"Oh syukurlah, anda seorang dokter Nona?" Clarisa mengangguk.


"Biaklah, silahkan tanda tangani berkas ini, agar kami bisa memulai operasi pada pasien." Tanpa pikir panjang Clarisa menanda tangani nya, sebelum masuk dia melirik dua orang tadi dengan tatapan menusuk, apa mungkin dia sudah tahu semuanya? batin dua orang itu bergumam.


"Di ruang operasi bos, barusan Kakaknya datang." Nic terdiam.


'Apa benar itu Khanza? Tapi bagaimana dia bisa hamil? Siapa yang berani menghamilinya, sialan!'


Pintu ruang operasi pun terbuka, seorang wanita muncul dari sana. Nic tertegun menatapnya, "dasar brengsek, kau yang menyuruh mereka menculik adikku!" Plak satu tamparan mendarat mulus di pipi Nic.


"Bagaimana Nona ini bisa tahu?" Bisik dua orang tadi.


"Entahlah."


"Clarisa?! Jadi wanita itu benar-benar Khanza? Tapi mereka bilang dia sedang--."


"Hamil! Ya Khanza hamil!" Perkataan Clarisa membuat Nic makin terkejut.


"Tapi bagaimana bisa? Siapa yang melakukan itu padanya?"

__ADS_1


Clarisa tertawa sinis "mengapa kau bertanya padaku, seharusnya kau tanyakan pada dirimu sendiri."


Nic mengerutkan kening, "apa maksudnya?" Dia hendak kembali bertanya pada Clarisa, namun wanita itu telah berlalu lebih dulu.


Keadaan ini membuat Nic semakin bingung, sebetulnya siapa yang membuat Khanza hamil? Apa mungkin karena kejadian waktu itu? Hanya Khanza yang bisa menjawab.


Nic duduk bergabung dengan dua orang bawahannya tadi, "bos, apa wajah bos baik-baik saja?" dia menatap prihatin.


"Aku baik-baik saja. Dengan siapa Khanza tinggal?"


"Sepertinya hanya sendirian bos."


Clarisa kembali berjalan melewati Nic, dia lantas masuk ke ruang operasi, hanya Clarisa yang nampaknya tahu lebih banyak tentang Khanza.


Jam sebelas malam, lampu operasi pun padam. Tanda acara di dalam sana telah usai. Nic menatap pintu itu berharap seseorang keluar dan memberinya kabar baik. Menghapus rasa risau, menyingkirkan rasa cemas dan memberinya sebuah jawaban atas pertanyaan yang berkecamuk dalam otaknya.


Clarisa keluar dengan seorang dokter wanita paruh baya yang menangani Khanza, "terima kasih untuk kerja kerasnya Dokter." Ujar Clarisa.


"Sama-sama Dokter Clarisa, semoga adik anda lekas sadar, bayinya sangat membutuhkan Ibunya."


"Semoga saja." Dokter wanita itu pun berlalu.


Nic bangkit dan mendekati Clarisa, "bagaimana keadaannya?" Clarisa tak menjawab dia hanya melempar pandang tajam pada Nic.


"Clarisa tolong jawab, bagaimana keadaannya?" Desak Nic tak sabar.


"Dia masih belum sadar, dia kehilangan terlalu banyak darah, darahku tak cukup untuk membantunya. Stok darah di rumah sakit pun tidak cukup, jadi kita harus mencari pendonor dari luar." Ujar Clarisa.


"Berapa banyak yang di butuhkan, aku akan berusaha membantu mencarikannya?"


"Tanyakan langsung pada dokternya." Jawab Clarisa, dia merasa lemas karena darahnya di ambil terlalu banyak dan dia butuh istirahat karena lelah membantu tindakan operasi tadi.


Selepas mengetahui jumlah kantong darah yang di butuhkan, Nic pun mengerahkan semua bawahannya untuk menyebar mencari orang dengan golongan darah yang sama, yang mau mendonorkan darahnya pada Khanza, dan tentu saja dengan imbalan yang tidak sedikit.


Dalam waktu satu hari Nic mampu mengumpulkan puluhan kantong darah melebihi yang di butuhkan, dan sisanya dia memberikan itu sebagai sumbangan pada rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2