
Nic kembali selepas mengantar Cherry pulang. Dia masuk kedalam rumah dan mendapati sang Ibu tengah hilir mudik dengan air muka khawatir.
"Mami ada apa?" tegur Nic keheranan.
Shelia seketika menoleh mendengar teguran Nic yang baru saja hadir di ruangan tersebut, "Nic, Khanza belum sampai, Mami menelpon Pak Li barusan. Dia bahkan tidak menghubungi Mami, sudah berulang kali Mami menelponnya, tapi ponselnya tidak aktif."
"Dia belum sampai, seharusnya sejak sore tadi pesawatnya sudah mendarat?" gumam Nic, wajahnya nampak cemas.
"Benarkan, Mami khawatir Nic. Mami takut terjadi sesuatu pada Khanza."
"Tenanglah Mami, semua pasti akan baik-baik saja. Mungkin penerbangannya di tunda, atau dia singgah di tempat lain sebelum ke rumah." Nic menenangkan Shelia, padahal hatinya sendiri pun merasakan ke khawatiran yang sama.
Nic terus mencoba menghubungi ponsel Khanza, namun hasilnya tetap sama. Dia mencoba menghubungi pihak bandara, untuk mengkonfirmasi mengenai penerbangan pesawat yang Khanza tumpangi tadi. Diluar dugaan, ternyata jawaban mereka amat mengejutkan, ternyata tak ada penumpang dengan nama dan identitas yang Nic sebutkan tadi.
__ADS_1
"Jadi dia tidak pergi kesana?" gumam Nic, menggenggam erat benda pipih tersebut.
"Kenapa Nic?" Shelia menilik ekspresi wajah Nic yang terlihat aneh.
"Dia tidak pergi ke sana Mih," ucapan Nic membuat Shelia mengerutkan dahi.
"Tidak pergi? Lalu kemana dia?" Shelia membulatkan matanya, terkejut dengan penuturan yang Nic utarakan.
"Entahlah. Mungkin dia hanya ingin pergi dari kita." Nic duduk sembari menghela napas berat.
Keesokan harinya, Nic datang ke rumah Daren untuk menemui Darius dan juga Arra, barang kali Khanza ada menghubungi mereka berdua.
"Apa Khanza ada menghubungi kalian?" Darius dan Arra menggeleng.
__ADS_1
"Tidak Kak Nic, kak Khanza tidak menghubungiku mau pun Kak Darius. Memangnya ada apa?" Arra nampak khawatir.
"Khanza, dia tidak pergi ke rumah kami yang ada di negara C, aku merasa cemas kemana dia pergi, dia tak punya siapa pun kecuali kami, lagi pun tak mungkin Khanza pulang ke rumah keluarganya." Tutur Nic.
"Apa kau sudah memeriksa penerbangan ke negara lain?" tanya Darius yang langsung di angguki oleh Nic.
"Sudah, Khanza tak naik pesawat mana pun."
"Berarti dia masih di negara ini." Ujar Darius yang seketika di angguki oleh Nic dan Arra.
"Baiklah, aku pikir ini cukup mudah jika Khanza hanya pindah kota. Kita akan mencarinya ke setiap pelosok kota ini dan kota-kota terdekat." Mereka pun memutuskan untuk sama-sama mengerahkan kemampuan mereka untuk mencari keberadaan Khanza.
'Kamu pergi untuk menghindari ku kan Za, aku tahu kamu mencintaiku, sayangnya aku terlambat menyadarinya. Kau banyak berkorban untukku, tapi aku selalu memberimu beban dan rasa sakit, aku pria bodoh dan buta yang tak bisa melihat orang yang paling mencintaiku berdiri tepat di sampingku.Tapi ku mohon kembali lah, jangan hukum dirimu karena kesalahanku, banyak orang yang menyayangimu di sini, kembalilah.'
__ADS_1
Nic memutar kemudinya menuju kantor, meski hatinya tak tenang namun dia tetap harus bekerja. Khanza selalu bilang harus bisa memisahkan antara masalah pribadi dan juga pekerjaan, Nic tanpa Khanza entah apa yang akan terjadi.