Oh My Savior

Oh My Savior
Bonus Chapter dan Promosi Novel baru


__ADS_3

Khanza duduk di antara rerumputan, dengan Nic tidur di pangkuannya. Mereka tengah menikmati masa bulan madu, "Ivan, sayang apa kau merindukan Mommy dan Daddy?" ujar Nic pada ponsel yang menampakan bayi kecil itu yang bahkan belum bisa merespon perkataannya.


"Ivan tidak merindukan Mommy dan Daddy ya, Ivan anak baik, dia sama sekali tidak merengek. Jadi kalian tidak usah khawatir tinggal-lah lebih lama disana, hadirkan adik untuk Ivan." Shelia yang menjawab.


"Mami Ivan masih kecil, mana mungkin aku punya anak lagi secepat itu." Komentar Khanza.


"Ivan kan ada Mami, sepenuhnya Ivan Mami yang urus." Shelia tak mau kalah, perkataan itu di dukung oleh Richard pula.


Khanza menghela napas pasrah, "sudahlah sayang kita tidak akan menang melawan keinginan orang tua, sebaiknya kita berusaha lebih keras lagi."


Perkataan Nic seketika mendapat pelototan dari Khanza, mau berusaha bagaimana lagi, bahkan selama satu Minggu ini dia tak pernah absen satu hari pun dalam menjamah tubuh sang istri.


Nic mengulum senyum sembari kembali berbincang lewat panggilan video tersebut. Khanza memberengut kesal, di mengabaikan Nic yang terus saja memainkan rambutnya, "ada apa? Apa kau marah karena Mami ingin kita segera punya anak lagi?"


"Apa kau ingin secepat itu punya anak lagi Nic?"


"Apa kau tidak ingin kita punya anak lagi?" Nic balik bertanya.


"Tentu saja aku mau, tapi Ivan masih bayi, tidak bisakah kita menundanya terlebih dahulu Nic?"


Nic bangkit dia memposisikan diri duduk menghadap Khanza, "sayang, aku mengatakan itu hanya agar Mami diam. Selama kita bersama, soal Anak meskipun kita hanya memiliki Ivan dalam hidup kita, aku tidak akan mempermasalahkannya Khanza, asal kau selalu berada di sampingku selamanya, itu sudah cukup bagiku. Mulai sekarang kau yang memutuskan soal anak, sepenuhnya hak itu milikmu." Nic mencium kedua telapak tangan Khanza.

__ADS_1


Khanza menatap Nic penuh haru, "terima kasih Nic, aku berjanji aku tidak akan pernah membuat-mu kecewa, aku hanya butuh sedikit waktu, setidaknya sampai Ivan bisa berjalan." Khanza mencium pucuk kepala Nic penuh kelembutan.


Apa yang Khanza lakukan sukses membuat hasrat Nic bangkit, dia langsung menerkam bibir Khanza dengan ganas, dia meregup rasa manis di bibir mungil itu, lidahnya bermain di rongga mulut Khanza, membuat hasrat keduanya kian memburu. Nic beralih menciumi leher Khanza dan sesekali menggigitnya pelan membuat wanita itu mengeluarkan erangan dari bibirnya.


"Nic jangan disini." Khanza berujar dengan suara pelan, matanya separuh terbuka di iringi ******* pelan.


"Baiklah, sesuai keinginanmu Nyonya Nicholas Nelson." Nic menggendong Khanza masuk kedalam rumah kaca tempat mereka menikmati masa-masa indahnya bulan madu.


~*~


Dua Minggu berlalu, Nic dan Khanza memutuskan untuk kembali, selain mereka merindukan putra mereka, pekerjaan Nic pun sudah menanti. Jemari Nic dan Khanza saling bertautan meski kini Nic tengah mengendarai mobil menuju rumah keluarga-nya.


"Aku benar-benar merindukan Ivan, dua Minggu tanpanya, terasa lebih dari setahun." Ucap Khanza, di benaknya bayangan putra kecil mereka sudah menari-nari di pelupuk mata.


Deg...! tiba-tiba langkah Khanza terhenti, kala melihat sosok yang tak asing dimatanya, dan kini Ivan berada dalam gendongannya tertidur pulas dalam kenyamanan.


"Ma-mamah." Ujar Khanza pelan, tatapannya menyiratkan kesedihan, perasaan haru dan rasa tak percaya.


Sarah tersenyum lembut, "Khanza."


Khanza mendekat perlahan, dia berjuang untuk menahan air matanya agar tidak luruh, dia tidak menyangka setelah puluhan tahun, namanya kembali keluar dari mulut sang Ibu, "apa aku tidak salah lihat? Nic, apa dia benar Mamah?" Khanza masih menganggap ini sebagai halusi Nasi.

__ADS_1


"Itu benar Mamah Sarah, dia datang kesini untuk memberkati anak kita sayang!" Ujar Nic sambil mencium kepala Khanza.


Seketika Khanza menghambur memeluk Sarah, air matanya tumpah sudah. Dia bahagia sangat-sangat bahagia, akhirnya momen yang selama ini Ia tunggu-tunggu akhirnya terjadi juga.


"Maafkan Mamah, Khanza, maafkan Mamah." Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Sarah di sela-sela Isak tangisnya.


"Tidak ada yang perlu di maafkan Mah, Mamah tidak melakukan kesalahan. Tak ada satu pun wanita di dunia ini yang mau dirinya di khianati, apa lagi jika sampai harus mengasuh putri dari selingkuhan suaminya. Mamah adalah satu dari seribu wanita yang sanggup menahan pengkhianatan, aku bangga menjadi putrimu Mah, bagiku hanya Mamah lah Ibu-ku satu-satunya."


Sarah menghapus air mata di pipi Khanza, "aku juga bangga memiliki putri berhati besar sepertimu, aku yang dulu amat bodoh telah menyia-nyiakan harta berharga seperti dirimu, sayang. Kau putriku, hanya putriku, bukan anak orang lain." Sarah menangis pilu.


Suasana di rumah ini, seperti dalam pribahasa, habis gelap terbitlah terang, setelah menangis terbitlah senyuman, setelah kesedihan hadirlah kebahagiaan.


"Tetaplah bahagia selamanya!" Sarah mengusap lembut rambut Khanza.


"Mamah juga!"


"Apa aku tidak boleh bahagia juga?" Clarisa ikut bergabung, dia memeluk Ibu beserta adiknya itu.


"Tentu saja kita semua, akan bahagia bersama!"


~*~

__ADS_1


Hola gaes👋 ketemu lagi sama othor😚 othor mau promosi novel baru wkwk, barangkali ada yang berkenan mampir😊 Terima kasih🙏



__ADS_2