
Khanza di suruh beristirahat di kamarnya, sedang Baby Ivan, Richard sama sekali tak ingin melepas bayi itu dari gendongannya, dia bilang dia ingat Nic sewaktu kecil jadi ia ingin bernostalgia.
"Beli susu dengan merek terbaik di kota, beli juga baju, sepatu, mainan semuanya pokonya harus yang terbaik." Perintah Richard pada bawahannya, membuat Shelia geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya.
"Richard, sini gantian gendong Baby nya." Pinta Shelia, sejak tadi Baby Ivan dikuasai oleh Richard seorang diri.
"Jangan sayang, dia lagi dalam posisi nyamannya, nanti dia bangun lagi." Richard tak ingin mengalihkan pandangannya dari cucu kecilnya itu.
"Richard, kalau dia tidur terus nanti kehausan, dia belum minum susu sejak tadi." Shelia berujar, membuat Richard tampak panik dan langsung menghampirinya.
"Bagaimana cara membangunkannya?"
Shelia mengambil alih Baby Ivan dari pangkuan Richard, "biarkan saja nanti juga bangun sendiri!"
"Sayang kau curang." Pekik Richard saat mengetahui jika Shelia hanya memperdayainya untuk mengambil Ivan dari gendongannya.
Shelia tertawa melihat wajah suaminya yang nampak kesal, "habis kau serakah, Ivan cucuku juga kau hanya ingin menguasainya seorang diri."
Nic ikut duduk bergabung bersama mereka, "Nic apa nama kepanjangan Baby Ivan?" tanya Shelia penasaran, pasalnya dia belum tahu nama lengkap bayi ini.
"Namanya Ivander Haedar Nelson Mam." Shelia manggut-manggut.
"Nama yang bagus, Ivander kau sangat tampan, wajahnya mirip kau waktu bayi Nic," Ucap Shelia, "tapi bibirnya mirip bibir Khanza."
Kehadiran Baby Ivan dalam keluarga Nelson, membawa kehangatan, dia menjadi pengobat segala luka, Khanza perlahan pulih dan Richard dia tampak sudah pulih sepenuhnya.
"Kapan kalian akan berencana menikah?" tanya Shelia pada Khanza dan Nic, Khanza hanya diam membiarkan Nic yang menjawab.
"Mungkin bulan depan Mam, setelah Khanza benar-benar pulih dan Ivan sudah lebih besar." Jawaban Nic membuat Khanza tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu kita punya cukup waktu untuk mempersiapkan segalanya." Ucap Shelia sambil mengajak ngobrol Baby Ivan yang sama sekali belum bisa merespon dirinya.
__ADS_1
"Mami, aku hanya ingin pernikahan yang sederhana." Khanza mengutarakan keinginannya.
"Tidak bisa, menantu keluarga Nelson harus di sambut dengan meriah, pernikahannya tidak boleh sederhana, apa lagi Nic anak kami satu-satunya." Richard buka suara.
"Richard benar Khanza, serahkan saja pada kami. Kami yang akan mengaturnya." Khanza hanya bisa pasrah, dan membalas calon mertuanya dengan senyuman.
~*~
Di tempat lain Cherry, setelah dia terbebas hidupnya dari belenggu Martin Nelson, dia memulai kehidupan baru di sebuah rumah sederhana yang terletak di pinggiran kota, dia membuka sebuah toko Desert untuk menyambung hidupnya. Setelah kejadian itu, dia memilih untuk berhenti menjadi seorang model, dia membawa serta adiknya dan juga David. Pria itu enggan meninggalkan Cherry meski Cherry menyuruhnya kembali.
David membantu Cherry mengelola toko Desert nya, "David, kau tahu aku sudah tak mampu menggajimu seperti dulu lagi. Jika kau ingin bekerja di tempat lain, aku tidak keberatan, kau punya potensi kau seorang manager yang hebat." Ucap Cherry. Seperti biasa pria itu selalu diam, dingin dan tanpa ekspresi.
"Vid!" Cherry merasa kesal karena selalu tak di respon oleh pria itu.
"Berapa gram tepungnya? Apa segini cukup? Tambahkan telur, gula dan pengembang!" ucapnya, lagi-lagi Cherry hanya bisa menelan kembali kata-katanya.
Chelsea datang sembari mendekap boneka beruang di dadanya, "Aku juga ingin membantu Kak!" Ujarnya sambil menaruh bonekanya di atas lemari pendingin.
"Kalian mengabaikan ku?"
"Oh Cherry, sejak kapan kau disana?" David pura-pura terkejut.
"Benar sejak kapan Kakak disana, aku bahkan juga tak melihat dirimu Kak." Chelsea menyetujui.
"Kalian berdua!" Cherry menggeram kesal, David dan Chelsea tersenyum jahil.
Malam hari saat toko yang Ia buka telah sepi pengunjung, Cherry berdiri diluar dengan pandangan menatap langit malam, dia menatap awan gelap yang berak dan bintang yang seolah berkedip ke-arahnya, Cherry tak menyangka hidupnya akan kembali normal seperti dulu.
"Masuklah, diluar dingin." Ujar David dari ambang pintu.
"Kenapa kau ingin tetap bersamaku David? Kau bisa berkembang diluar sana, kau bisa menjadi orang yang sukses, tapi kau malah menyia-nyiakan waktumu bersamaku di toko kecil ini."
__ADS_1
"Kau ingin tahu jawabanku? Bukankah semua sudah jelas Cherry, aku mencintaimu!" Jawaban David membuat Cherry tertegun, dia menatap David dengan tubuh mematung.
David mendekat, dia mengangkat dagu Cherry dengan jemarinya, menatap manik mata berwarna hitam kecoklatan tersebut, "mengapa David? Kau tahu aku bukan wanita yang baik, kau yang paling tahu seperti apa diriku, tapi kau tetap ingin bersamaku?"
"Jawabannya hanya satu, Cinta Cherry. Aku tidak peduli apa yang terjadi sebelumnya aku tidak peduli kau wanita baik atau bukan, yang pasti aku tetap mencintaimu itu saja."
"Alasannya?"
"Cinta tak butuh alasan, hanya butuh keikhlasan. Aku menerima kamu apa adanya, dirimu masa-lalu mu, semuanya!"
Cherry menghambur memeluk David, dia tak menyangka David adalah orang yang seperti itu, dia bahkan tak mempermasalahkan dirinya yang pernah menjadi budak *** dari Martin Nelson, yang tentu saja David tahu segalanya.
"Maukah kau menikah denganku?" Tanya David pada Cherry yang tangannya masih melingkar di lehernya.
Bukan jawaban yang David terima, namun sebuah ciuman lembut dari bibir tipis se-merah buah Cherry.
Sesuai namanya, Cherry! Orang tuanya berharap dengan memberikannya nama Cherry kehidupan Cherry akan semanis buah itu, namun nyatanya semua itu hanya keinginan dari orang tuanya saja, faktanya kehidupan Cherry lebih pahit dari pada empedu.
"Jadi, apakah ciuman ini bisa aku simpulkan dengan kata, ya?" Cherry tersenyum sambil mengangguk, menandakan apa yang David ucapkan adalah benar.
Tanpa ragu lagi David menyergap bibir mungil Cherry, menciumnya penuh hasrat menyesap rasa manis dari benda kenyal tersebut.
~*~
Hola gaes👋 ketemu lagi sama othor hehe😁 othor mau menginformasikan, ehem-ehem beberapa fart lagi ke nya novel ini bakalan tamat deh.
"Ko bisa sih Thor udah tamat aja?"
Ehem, gini ya gaes othor bingung mau buat cerita mereka ke gimana lagi, konflik? Udah, pisah? udah. Nanti kalau kebanyakan masalah mungkin kalian akan bosen juga, jadi ya udahlah kasian mereka, biarin mereka merasakan kebahagian, ya gak? wkwk
So, makasih buat kalian semua yang udah kasih jempol, komen, rate, sama vote juga flower, kalian buat novel abal-abal othor ini. Othor ucapakan terima kasih sebesar-besarnya atas penghargaan kalian, buat karya othor, yang jauh dari kata sempurna ini🙏😽
__ADS_1
Jangan bosen-bosen sama cerita othor ya gaes, sampai jumpa lagi papay👋