Oh My Savior

Oh My Savior
Bab 56 : Welcome Baby Boy


__ADS_3

Khanza telah di pindahkan ke ruang perawatan Intensif, meski transfusi darah sudah di lakukan dan masa kritisnya sudah terlewati, dia masih belum juga sadarkan diri. Nic mengintip Khanza yang masih terbaring dengan berbagai alat medis yang menghiasi tubuhnya dari kaca bundar yang tertempel di pintu masuk.


Nic memandang Khanza dengan tatapan mencelos, tidak disangka, ternyata sahabatnya itu menanggung beban seberat ini, 'Za kenapa kamu tidak bilang sebelumnya kalau kamu sedang hamil. Jujur aku bingung, sekarang.'


"Kau tidak ingin melihat bayimu?" tegur Clarisa yang juga ikut menatap ke arah pandangan Nic terpusat.


"Bayi?!" Nic malah mengulang kata-kata Clarisa dengan tatapan bingung.


"Ikuti aku." Clarisa memimpin jalan, dan Nic mengekor di belakangnya. Clarisa masuk ke sebuah ruangan bersuhu udara hangat, dengan banyaknya tabung Inkubator yang berjajar rapi, langkahnya terhenti di salah satu tabung Inkubator berisikan seorang bayi laki-laki dengan mata di tutup perban putih.


Nic menatap bayi berkulit putih kemerahan yang masih terdapat sebuah capitan di pusarnya, "Bayi-mu." Ujar Clarisa, yang melihat Nic menatap bayi itu dengan tatapan tak terbaca.


"Kenapa Nic? Kau tidak mau mengakui dia?" Clarisa menangkap gelagat Nic yang seolah tak ingin menyentuh bayi itu.


"Bukan, begitu. Aku hanya--," Nic menghela napas berat, "Khanza pernah bilang padaku, jika dia pernah melakukan hubungan suami istri dengan orang lain, sebelum denganku." Nic memalingkan wajah ke arah lain, ada sebuah rasa tak percaya yang timbul di hati Nic, membuat dia ragu hanya untuk sekedar menyentuh bayi itu sekali-pun.


"Dan kau percaya?" Clarisa menatap tak percaya. Nic hanya diam sambil menunduk menatap pipi bulat bayi mungil itu.


Clarisa menghela napas jengah, "ini mudah Nic, lakukan tes DNA antara kau dan bayi ini agar kau yakin itu milikmu atau bukan." Nic nampak menimbang usul Clarisa, lalu dia pun setuju.


Nic mencoba menyentuh pipi kemerahan itu dengan jemarinya, bayi itu menggeliat pelan, merasai sentuhan sang Ayah. Perasaannya seketika menghangat, saat bayi itu berusaha meraih jari telunjuk Nic yang berada di pipinya dengan bibir mungilnya, mungkin dia mengira jari Nic adalah ****** susu.


"Ayo keluar Nic, waktu berkunjung sudah habis. Bayi ini masih butuh perawatan Intensif dia lahir dalam keadaan prematur jadi kemungkinan akan ada masalah-masalah lain yang timbul, jadi dia butuh perawatan khusus." Nic dan Clarisa pun keluar dari ruangan itu.


"Nic aku butuh sampel DNA mu, bisa aku minta kuku atau rambutmu."


"Tentu, berapa banyak yang kau butuhkan?"

__ADS_1


"Sedikit saja." Nic menggunting beberapa helai rambutnya dan memberikannya pada Clarisa.


"Terima kasih, atas bantuan-mu Clarisa." Clarisa yang hendak berlalu, lantas menoleh kembali.


"Dia adikku, kau tak perlu mengucapkan kata terima kasih, seolah aku ini orang asing baginya." Nic tertegun mendengar jawaban Clarisa, sejak kapan hubungan Khanza dan dia membaik? Mengapa Nic tak tahu menahu soal itu?


"Kau dan Khanza bukannya--?"


"Beberapa bulan terakhir hubungan kami cukup baik." Ujar Clarisa.


Beberapa bulan terakhir? Kata ini yang Nic tangkap dari kata-kata Clarisa, jadi sebetulnya wanita ini sejak awal sudah tahu dimana Khanza berada, Nic menghela napas pasrah.


"Jadi kau tahu Khanza selama ini tinggal dimana."


"Ya, saat kita bertemu terakhir kali, aku baru pulang dari tempat Khanza. Aku tak sengaja bertemu dengannya saat jadi relawan tim medis untuk para korban banjir bandang." Nic merasa kesal sendiri, mengapa dia yang secara khusus mencari keberadaan Khanza sama sekali tak bisa menemukannya, sedang Clarisa bisa menemukannya dengan kebetulan, sungguh ajaib.


[Nic kau dimana? Ren bilang kau tidak masuk kantor hari ini, kau tahu kan Ken sudah banyak pekerjaan dia tidak mungkin mampu menghandle semuanya.] Ucap Shelia panjang kali lebar.


"Aku tahu Mam, tapi aku sedang ada urusan penting, lagi pula aku sedang berada diluar kota sekarang." Ucap Nic jujur.


[Hah, ada urusan penting apa yang membuatmu pergi keluar kota dalam keadaan begini Nic?] Shelia terdengar keheranan.


"Khanza masuk rumah sakit Mam, dan keadaannya masih kritis."


[Hah Khanza?!] Shelia memekik keras saking terkejutnya, terdengar suara Richard ikut memekik pula.


"Iya Khanza Mam, dia--," Nic menjeda ucapannya, "sulit di jelaskan Mam, kita bicara lagi nanti, dokter memanggilku." Nic mengakhiri sambungan telponnya.

__ADS_1


Sebetulnya tak ada siapa-pun yang memanggilnya, hanya saja dia masih bingung harus bagaimana menjelaskan tentang kehamilan Khanza dan anak yang telah Ia lahir-kan, bahkan anak itu pun masih belum jelas itu anak Nic atau bukan. Nic menghela napas sembari memasukan kembali ponsel ke saku celananya.


Nic menyentuh perutnya yang terasa perih, sejak kemarin perutnya tak terisi apa-pun bahkan dia lupa sama sekali bahwa dia juga butuh makan, Nic berjalan di depan ruang rawat Khanza, lagi-lagi dia menengok kedalam, berharap Khanza sudah terbangun dan menyunggingkan senyum padanya. Namun lagi-lagi bayangan itu pudar, melihat fakta bahwa Khanza masih terbaring dengan mata terpejam.


"Makanlah, kau belum makan dari kemarin kan?" Clarisa menyodorkan kotak makan plastik berwarna putih dengan sebotol air mineral pada Nic, yang langsung di tanggapi dengan senang hati oleh pria itu.


Timing nya memang tepat, sekarang Nic memang sedang kelaparan. Nic dan Clarisa lantas duduk di kursi besi yang tersedia di sana, Nic langsung memakan isi yang tersimpan dalam kotak makan itu dengan lahap, jika sedang kelaparan rasanya semua makanan terasa lebih enak.


"Kau tahu Khanza ingin mengasingkan diri, dia hanya ingin hidup berdua dengan bayinya, dia berusaha sebaik mungkin bersembunyi dari kalian." Ucapan Clarisa membuat Nic membisu.


"Kau tahu kenapa? Itu semua demi dirimu, Nicholas, dia mencintaimu. Dia ingin kau bahagia dengan wanita yang kau cintai." Tambah Clarisa.


"Maksudnya Cherry?"


"Ya siapa lagi, kapan kalian akan menikah?" tanya Clarisa.


"Hubungan kami sudah lama berakhir." Jawab Nic enteng.


"Sudah berakhir, tapi kenapa? Bukankah kalian sudah bertunangan?" Clarisa nampak tertarik dengan topik ini.


"Kami sudah tidak cocok, untuk apa terus di lanjutkan, lagi pula ada orang yang lebih mencintai Cherry di banding siapa pun." Ucap Nic sambil menaruh bekas makannya itu dan beralih menenggak air putih.


"Jadi, bagaimana sekarang, jika anak itu benar-benar anakmu apa kau akan bertanggung jawab?"


"Tentu saja, aku akan menjadi orang yang paling bahagia dan menyambut baik hal ini."


"Jika itu bukan anakmu?" tanya Clarisa lagi.

__ADS_1


Nic terdiam sambil menunduk, "jika itu bukan anakku, maka aku akan menjadi Ayah pertama untuknya, seperti Papi Daren!"


__ADS_2