
Shelia dan Nic sedikit bernapas lega, rapat kali ini misi mereka berhasil, itulah rencana mereka untuk menunda pemungutan suara sampai Richard di bebaskan.
Nic berdiri menghadap jendela, dia menyentuh layar gawai nya dan menekan sebuah nomor, namun suara operator seluler yang terdengar, 'Za, kau dimana? Kau tahu perusahaan dalam masalah, hubunganku dengan Cherry pun sudah berakhir.' Nic mengetik sebuah pesan di ponselnya dan mengirimnya pada nomor yang bertuliskan Khanza.
"Nic, bawahanku sudah menemukan lokasi adiknya Cherry!" Ken berujar membuat Nic seketika menoleh.
"Bagus Om, apa kita akan lapor polisi?"
"Jangan, melapor pada polisi terlalu beresiko. Kita akan melakukan penyelamatan sendiri, adik Cherry adalah tali pengendali wanita itu." Ken menyeringai.
"Ya, Om benar! Cherry akan menuruti kita selama adiknya berada di tangan kita."
"Malam ini kita akan bergerak!" Nic mengangguk setuju.
Sebuah mobil Jeep menerobos jalanan sepi nan gelap. Jalanan yang hanya bisa dilalui satu kendaraan dengan hutan lebat di masing-masing kiri dan kanan, tak ada satu orang pun yang bermukim di tempat ini, bahkan sebuah lampu jalanan pun tak ada.
"Om apa benar ini tempatnya?" Nic mengedarkan pandangan ke sembarang arah.
"Hem, aku yakin. Kita akan berhenti beberapa kilo dari lokasi, Nic kau tetap di dalam mobil tempat ini terlalu berbahaya. Biar aku dan yang lainnya yang pergi, aku sudah berjanji pada Shelia bahwa keselamatanmu adalah prioritas utama kami."
"Baiklah Om, aku akan mengawasi pergerakan kalian lewat Drone!" Mereka mendiskusikan rencana terlebih dahulu sebelum pergi.
Ken memberikan arahan dan strategi yang telah Ia rencanakan pada dua lusin prajurit yang akan Ia bawa, sedang dua orang lagi sengaja Ia tugaskan mengawal Nic di sampingnya.
"Ayo semuanya, mulai bergerak!" Ken dan para bawahannya menerobos rapatnya pepohonan dan rumput liar yang hampir setinggi mereka. Pekatnya malam dan dinginnya udara tak menyurutkan langkah mereka, Drone yang di kendalikan Nic berdengung pelan di atas kepala mengawasi pergerakan sekitar.
"Prajurit 1, arah jam dua belas ada dua orang penjaga dengan senapan lengkap." Nic memberitahu Ken lewat interkom yang mereka bawa, masing-masing di bekali satu Interkom agar bisa saling terhubung satu sama lain.
__ADS_1
"Terus awasi, ganti." Ken memberi arahan dengan jemarinya agar menyebar. Semua orang telah berdiri pada posisi masing-masing, kini mereka di hadapkan pada sebuah dinding yang tingginya dua kali lipat tinggi badan pria dewasa dengan kawat beraliran listrik yang mengelilingi di atasnya.
"Geko, kami sudah pada posisi, mulai." Ken berujar pada Interkom nya, seketika listrik di tempat itu padam.
"Sialan, pasti ada penyusup. Perketat pengamanan!" Teriak penjaga tadi memberi komando.
Ken dan pasukannya masuk kedalam dengan bantuan Pria bernama Geko, mereka mulai menyisir lokasi dengan mengendap-ngendap.
"Dimana tepatnya lokasi target?" Ken kembali bergumam pelan pada Interkom nya.
"Lantai dua, seorang anak perempuan berpakaian merah muda dengan pita merah di tangannya." Balas Geko pada Interkom nya.
"Om, hati-hati arah jam 3!" Dor...Dor... Suara tembakan mulai terdengar, membuat para hewan seketika menjauh burung-burung beterbangan tak tentu arah. Suara tembakan semakin banyak, saling bersahutan dari segala arah.
"Kalian yang tangani disini, aku akan naik!"
Ken pun meninggalkan dua orang bawahannya yang tengah melawan satu orang yang menembakinya. Ken berjalan mengendap-ngendap dengan dua orang bawahan lagi yang mengikutinya, mereka selalu siaga dengan senapan yang terarah ke udara.
Dor...! Ugh, salah satu dari mereka terkena tembakan di bagian lengan kiri, seketika baku tembak pun tak dapat di hindarkan, namun seperti pada rencana awal yang telah tersusun rapi, Ken akan menjauh dan orang yang tersisa akan melindunginya.
Ketika Ken hendak naik, dari arah tangga ada salah seorang dari mereka yang turun, dan tanpa menunggu waktu Ken langsung menembakan senjata api nya tepat ke dada orang itu, hingga orang itu seketika tewas di tempat dengan tubuh menggelinding kebawah bersimbah darah.
Ken pun naik, menuju lantai dua. Disana mereka sudah di suguhi sekitar lima orang penjaga dengan senjata api di masing-masing tangan mereka. Baku tembak kembali terjadi, keadaan semakin sulit, Ken dan bawahannya tertekan dengan jumlah orang yang semakin sedikit. Ken sembunyi di balik lemari buku, sambil sesekali mengarahkan tembakannya pada orang-orang tersebut.
Di saat itulah, bom asap di ledakan di tengah-tengah ruangan membuat pandangan mereka terhalang seketika oleh gumpalan asap yang mengepul ke berbagai penjuru. Ken yang sudah tahu ini akan terjadi, seketika berlari menuju lokasi adiknya Cherry tengah di sekap.
Ken berusaha memutar gagang pintu agar terbuka, namun sialnya pintu itu terkunci rapat. Namun karena waktu mereka tak banyak, Ken dan sisa satu orang bawahannya menendang pintu itu dengan keras, hingga pintu itu rusak parah. Ken mengedarkan pandangan, mencari sosok anak kecil yang ciri-cirinya di sebutkan Geko tadi.
__ADS_1
Di kolong tempat tidur muncul pergerakan, membuat Ken yakin anak itu berada disana, "Nak, ikutlah bersamaku. Aku datang kesini atas perintah Kakak mu Cherry! Aku datang untuk menyelamatkanmu." Ujar Ken sambil berjongkok.
Anak itu melongokkan kepalanya, "Kakak ku, ada disini?" tanyanya seraya mengedarkan pandangan menjelajah sekitar.
"Kakak mu tidak ada disini, tapi dia sudah menunggumu di suatu tempat, jadi ikutlah bersamaku." Anak itu pun mengangguk, Ken mengarahkan anak itu agar naik ke punggungnya.
"Tutup matamu, dan berpegangan erat di pundak ku. Ingat, apa pun yang kau dengar, jangan teriak, jangan panik, tetap tutup matamu!"
"Baik!" ucap gadis kecil itu sembari menaiki punggung Ken.
"Jack, lindungi aku!"
"Baik Bos, percayakan padaku!"
Ken dan Jack berjalan setengah berlari keluar dari kamar itu, namun pergerakan Ken tak secepat sebelumnya karena dia membawa beban di punggungnya. Dor...Dor...! Sebuah tembakan kembali mengarah pada mereka.
"Bos, pergilah! Biar aku yang menanganinya!" Tanpa harus mendengar perintah untuk yang kedua kalinya Ken berlalu.
"Om, suara apa tadi?" gumam gadis itu pelan.
"Bukan, apa-apa. Tetap pejamkan matamu!" Ken menyahut dengan pandangan tak henti-hentinya mengawasi sekitar.
Ken pun berhasil keluar dari rumah tersebut, namun tanpa di duga salah satu dari mereka sudah menunggunya di luar.
Dor...! Lengan sebelah kanan Ken terkena tembakan, yang meleset. Tadinya orang itu akan mengarahkan tembakan ke dada Ken namun dengan cepat Ken menghindar, namun tetap saja tembakan itu tetap mengenai tubuh Ken.
Tak ingin tinggal diam Ken pun membalas tembakan tersebut yang langsung mengenai lengan pria itu pula, membuat dia limbung. Satu tembakan lagi, mengenai betis Ken membuat pria itu ambruk ke tanah dan gadis kecil yang mendiami punggungnya ikut jatuh tersungkur.
__ADS_1